
Di Maldives ....
Iska dan Ken menikmati honeymoon mereka. Baru dua hari mereka pergi. "Aku sangat merindukan Ana." Tatap Iska pada Ken yang tidur di paha Iska. Di pinggir pantai yang indah.
"Lima hari lagi kita akan pulang dan kita akan bertemu dengan Ana," jawab Ken.
"Perasaanku sedikit tidak enak."
"Kamu hanya terlalu khawatir pada Ana. Tenang saja, Ana bersama Mama dan akan baik-baik saja!" Ken meyakinkan.
"Sepertinya begitu. Aku hanya terlalu khawatir, soalnya baru kali ini aku meninggalkannya lama."
Sepertinya Ambar tidak menceritakan pada Ken dan Iska kalau Ana di bawa oleh Lia dan Janu.
"Kita ke penginapan lagi yuk? sudah cukup kita menikmati pantai yang panas ini," ajak Ken.
"Baiklah ayo!"
Ken berdiri beranjak untuk kembali ke kamar mereka. Ken iseng melemparkan segenggam pasir kepada Iska.
"Kena kamu ... hahaha ... hahaha ...." Ken berlari pergi.
"Ken ... aku balas ya ...." Iska berlari mengejar Ken.
Tertawa dan bercanda bersama, berlari di atas pasir dengan suara demburan ombak.
****
Sementara itu Ana sudah dua hari juga berada di rumah Lia dan Janu. Lia begitu senang ada Ana di rumahnya, seakan kebenciannya pada Iska hilang begitu saja. Bahkan Mereka tidur bersama-sama.
Janu juga terlihat menyayangi Ana dengan membelikan begitu banyak mainan untuk Ana. Janu pulang dengan tepat waktu karena ingin menghabiskan waktu dengan Ana.
"Haiii cantik ..." sapa Janu pada Ana yang baru saja pulang kantor.
"Haiii paman."
"Ini paman bawakan mainan baru untuk Ana."
"Horeee makasih Paman baik!" Ana berlari pergi dan duduk di sofa memainkan boneka barunya itu.
Lia menyambut kedatangan Janu dengan rona yang bahagia tidak seperti biasanya.
"Haiii sayang ...." Lia memeluk Janu. "Aku senang. Ternyata dengan hadirnya Ana bisa merubahmu. Biasanya kamu lembur hampir setiap hari dan pulang malam."
"Yah mungkin nanti kalau kita punya anak sendiri aku akan seperti ini terus!" ungkap Janu. "Karena jujur, menurutku seorang anak bisa jadi perekat diantara hubungan suami istri."
"Aku jadi tidak sabar untuk hamil dan punya anak!" seru Lia.
"Iya semoga apa kata Mama bisa terjadi."
"Sana mandilah. Nanti kita makan bersama, aku dan Ana menunggumu disini."
Janu pergi ke kamarnya untuk mandi dan Lia duduk di sofa bersama Ana. "Mainan baru ya dari paman?"
"Iya Tante."
"Ana suka?"
__ADS_1
"Suka ...."
Bagaimana bisa aku tidak benci pada Ana seperti aku membenci Iska. Batin Lia.
Lia bermain bersama Ana, tidak lama Janu sudah kembali untuk makam bersama.
"Emmmh makanannya enak juga ..." puji Janu.
"Iya aku masak di bantu bibi. Aku akan selalu berusaha jadi istri yang baik!" ucap Lia.
"Aku senang setelah ada Ana kamu jadi berubah dan tidak banyak marah," ucap Janu.
Mereka menyelesaikan makannya. Setelah selesai, mereka duduk di ruang tv menemani Ana bermain. Lia dan Janu duduk bersama di sofa.
"Aku harap kamu bisa memaafkan Iska dan menerimanya sebagai adik iparmu," pinta Janu.
"Sudahlah jangan merusak hariku dengan membahas wanita itu!" ketus Lia.
"Wanita itu istri Ken. Kamu harus melupakan semuanya dia tidak sepenuhnya salah. Aku sudah sering bilang padamu kalau aku hanya mencintaimu!"
"Untuk sekarang aku belum bisa. Masih sakit hatiku kalau harus mengingat semua itu!" Lia berlalu pergi ke kamarnya.
"Lia ... Amalia ...." Panggil Janu. Lia tidak menghiraukan panggilan dari Janu dan terus berlalu ke kamarnya.
Janu tidak menyusulnya karena menunggu Ana yang masih bermain. Memperhatikannya, "Ana sepertinya mirip denganku waktu kecil!" Janu membuka dompet di sakunya. Mengeluarkan sebuah foto cetak bersama ibunya saat waktu kecil.
"Hidungnya, matanya mirip sekali denganku!" Janu jadi berpikiran yang tidak-tidak. "Tidak mungkin! Ana adalah anak Ken, mana mungkin mereka berbohong."
Ana terlihat sudah mengantuk dan Janu membawanya ke kamar. Mereka tidur satu tempat tidur dan Lia sudah tertidur lelap.
"Ana tidur ya. Ini sudah malam!"
Janu mengangguk dan Ana tidur di pelukannya. Janu melihat Ana lebih dekat semakin dekat semakin mirip dengan dirinya seperti berkaca. Janu mengelus pipi Ana tak terasa airmatanya terjatuh.
Ada apa denganku? kenapa aku jadi merasa sedih saat lebih dekat dengan Ana, batin Janu.
"Muaaach ...." Janu mengecup Kening Ana dan tidur dengan memeluk Ana.
Ikatan batin diantara Ayah dan anak tidak bisa di pungkiri.
Hari-hari mereka lalui sampai akhirnya seminggu sangat cepat berlalu. Lia dan Janu sudah harus mengantarkan Ana kembali pulang karena Ken dan Iska akan pulang.
Ana sudah siap untuk pulang dengan membawa segala barang bawaannya dan hadiah-hadiah yang Janu berikan.
"Mas, aku tidak akan ikut mengantar Ana. Aku sebenarnya masih ingin Ana disini, tapi Ken akan pulang!" keluh Lia.
"Biar aku saja yang antar Ana. Kamu di rumah aja." Janu memasukkan barang Ana ke mobil.
"Ana akan sering main kesini, kan?" tanya Lia.
"Iya Tante. Nanti aku kesini sama Daddy sama Mama," jawab Ana. Lia merasa terharu harus berpisah dengan Ana.
"Kalian hati-hati ...." Lia melambaikan tangannya dan melihat kepergian mobil Janu.
Sesampainya di rumah Ken, Janu mendapati kalau Iska dan Ken juga baru sampai. Janu menurunkan barang Ana dan Ana juga turun berlari ke arah Iska dan memeluknya.
"Mamaa ...." Ana memeluk Iska.
__ADS_1
Iska kaget. "Kenapa kamu bisa bersama paman Janu?"
"Ana menginap di rumah Paman Janu," jawab Ana.
Iska melirik pada Ken dan terlihat sangat khawatir.
"Memangnya Mama tidak memberitahukan kalian kalau aku dan Lia membawa Ana menginap?" tanya Janu.
"Ah iya kami tahu. Makasih Mas udah nganterin Ana lagi!" ucap Ken. Iska membawa Ana masuk dan Ken juga berlalu masuk tanpa mempersilahkan Janu masuk.
"An--" Janu ingin berpamitan pada Ana tapi Ana terlanjur di bawa masuk oleh Iska dan kemudian berlalu pergi untuk pulang.
Saat di dalam rumah ....
"Kamu tidak apa-apa, kan. Sayang?" ucap Iska pada Ana.
"Aku baik!"
Iska memeluk Ana.
Mungkin beberapa hari terakhir perasaanku tidak enak karena Ana di bawa oleh mas Janu. Aku tidak sanggup kalau mas Janu tahu yang sebenarnya dan membawa Ana pergi, batin Iska.
Iska memeluk Ana dengan menangis.
"Mama kenapa?"
"Mama hanya merindukanmu sayang. Apa Ana juga merindukan Mama?" tanya Iska.
"Ana sangat merindukan Mama. Tapi, untungnya ada Tante Lia dan Paman Janu jadi aku tidak sedih di tinggal Mama," jelas Ana dengan gaya manjanya.
"Maafkan Mama ya sayang. Mama janji tidak akan pernah ninggalin Ana lagi." Iska memeluk Ana.
Ken menghampiri Iska dan Ana kemudian ikut berpelukan. "Daddy juga kangen sekali pada Ana ...."
"Kalian sudah sampai?" tanya Ambar.
"Iya Ma. Baru aja sampai!" jawab Ken.
"Ana juga sudah pulang. Mana paman sama tante?" tanya Ambar pada Ana.
"Paman sudah pulang Oma!"
"Ana. Ini Daddy belikan mainan untukmu, sana bawalah ke kamarmu!" Ken menyodorkan sekantong penuh mainan. Ana senang dan berlari untuk ke kamarnya.
"Kenapa Mama tidak beritahu kami kalau Ana menginap di rumah kak Lia?" tanya Ken pada Ambar.
"Maafkan Mama Ken. Mama tidak ingin mengganggu kalian. Dan Ana menginap disana0000( karena itu usul Mama, kakakmu 'kan ingin sekali punya anak. Makanya mengurus Ana sebagai pancingan agar cepat hamil walaupun hanya seminggu," jelas Ambar.
"Baiklah! lain kali Mama harus beritahu kami dulu," ucap Ken.
Iska tidak bicara pikirannya masih terganggu dengan Ana menginap di rumah Janu.
"Itu satu koper isinya oleh-oleh untuk Mama sama Papa," ucap Ken.
"Ah kalian. Makasih loh udah inget beliin oleh-oleh segala." Ambar mengambil kemudian membukanya. "Kalian sana pergilah ke kamar dan beristirahat. Kalian pasti sangat cape!"
Iska dan Ken berlalu pergi ke kamarnya. Ken menyadari kalau Iska sedang tidak baik-baik saja. Ken berjalan merangkul Iska menuju kamar dan berniat akan membahas semuanya di dalam kamar.
__ADS_1
⬇️⬇️