
Ken menyelesaikan mandinya dan tersenyum melihat segala kebutuhannya sudah ada yang menyiapkan sekarang.
"Emmmh apa aku masih boleh bekerja?" tanya Iska.
"Kalau mau bekerja pindah saja ke kantorku dan keluar dari kantor Arga," jawab Ken.
Iska merapikan jas Ken. "Emmmh nanti kamu tidak pokus kalau aku selalu ada di sampingmu."
"Tapi aku akan senang bisa melihatmu dua puluh empat jam tidak hanya di rumah saja," senyum Ken. "Di rumah aja yah. Gak usah kerja, urusin Ana saja. Kasihan selama ini Ana sering kamu tinggal-tinggal."
Iska terlihat berpikir. "Emmh kamu benar juga. Selama ini aku melewatkan setiap perkembangan Ana dan tidak ada waktu dengan Ana."
"Pikir-pikirlah dengan matang. Aku tidak akan melarangmu untuk bekerja. Tapi, ada baiknya kamu lebih pokus pada Ana! toh sekarang ada aku yang menafkahimu dan Ana," jelas Ken.
"Baiklah akan aku pikirkan!" angguk Iska.
Setelah selesai, mereka keluar kamar dan sarapan bersama yang lainnya. Di ruang makan sudah ada yang lain menunggu Ken dan Iska termasuk Freya juga ikut sarapan bersama.
"Kamu akan berangkat ke kantor Ken?" tanya Ambar.
"Iya Ma. Ada pekerjaan yang harus aku selesaikan!" jawan Ken.
"Kalau sudah selesai pekerjaanmu itu, kalian pergilah berbulan madu," suruh Hartanto yang makan sambil memangku Ana.
"Ana kemari sayang. Duduk disini dekat Mama, itu Opa sedang makan jadi kesulitan karena memangkumu!" pinta Iska pada Ana.
"Ana mau sama Opa!" jawan Ana.
"Papa yang minta untuk memangku Ana. Biarkan saja!" senyum Hartanto.
Memang sekarang Hartanto terlihat berbeda dari sebelumnya yang sering cuek dan jarang tersenyum. Setelah ada Ana, senyumannya tersirat setiap waktu dan juga menjadi lebih bahagia.
Iska hanya mengangguk dan menyiapkan makanan untuk Ken.
"Untuk masalah bulan madu, aku akan pergi setelah proyekku ini selesai." Ken memakan makanannya.
"Baiklah! Papa tidak sabar mendengar tangisan bayi di rumah ini," cetus Hartanto.
Iska menatap pada Ken.
Rencana kita tinggal di apartement sepertinya tidak akan terjadi, apalagi melihat Papa begitu lengket dengan Ana. Mana mungkin aku memisahkannya, batin Iska.
"Apa Kakak ipar akan terus bekerja?" tanya Freya.
"Aku masih memikirkannya Freya ...." senyum Iska.
"Kamu harus berhenti bekerja dan pokus pada rumah tanggamu. Takdir perempuan yaitu diam di rumah dan lelaki yang bekerja. Mulailah program hamilmu pergi ke dokter," jawab Hartanto.
__ADS_1
"Perempuan bisa berkarir juga Pa!" ucap Freya.
"Tidak! karir hanya akan membuat urusan rumah tangga berantakan," jawab Hartanto. "Lihat Mamamu, menjadi ibu rumah tangga dan mengurusi suami juga anak dengan sangat baik tanpa terganggu dengan urusan karir."
"Tapi dulu Papa mengizinkan kak Lia mengurus anak perusahaan Papa?" tanya Freya.
"Dia keras kepala gak bisa di larang. Pokus berkarir mengesampingkan rumah tangga dan urusan anak. Buktinya sampai sekarang Lia belum juga hamil!" tegas Hartanto.
Sepertinya apa yang Papa bilang itu ada benarnya juga. Dulu mas Janu mencari perhatian wanita lain diluaran padahal punya isteri cantik, batin Iska.
"Karir juga sangat penting Papa!" ujar Freya.
"Ngomong-ngomong kapan kamu akan menikah? umurmu sudah dua puluh lima tahun sekarang," tanya Hartanto pada Freya.
"Aku masih muda Papa belum ingin menikah!" ketus Freya.
"Kamu harus menikah secepatnya. Nanti Papa carikan lelaki yang terbaik untukmu!" ujar Hartanto.
"Papa apaan sih? tidak ... tidak ...." Freya berlalu pergi dengan membawa tasnya.
"Freya ...." Panggilan Hartanto tidak Freya hiraukan.
"Sudahlah Pa. Jangan paksa Freya, kalau nanti dia sudah ingin menikah pasti akan menikah!" timpal Ken.
"Sudahlah kalian jangan banyak bicara terus. Kapan makannya akan selesai?" ucap Ambar.
Semua orang menyelesaikan makannya dan setelah selesai Hartanto dan Ken pergi ke kantor masing-masing. Hartanto pergi lebih dulu dengan Tio yang sudah menunggunya.
"Ah aku lupa kalau sudah menikah sekarang. Makasih sayang ... muaaachh ...." Ken mengecup kening Iska.
"Hati-hati Ken!" pesan Iska.
Ken berlalu pergi dengan mobilnya. Menyetir sendiri tanpa supir karena Hari asistennya mengawasi perusahaan di Surabaya. Iska tidak beranjak dari berdirinya dan menatap kepergian mobil Ken.
Setelah mobil Ken tidak terlihat lagi, Iska masuk ke dalam rumah dan menghampiri Ambar dan Ana yang sedang bermain.
"Sedang apa anak Mama sama Oma?" tanya Iska.
"Ana lagi main klitik sama Oma," jawab Ana polos.
"Mama senang sekali Iska, Ana ada disini. Bisa menemani Mama dan jadi gak bosen. Biasanya kalau semua orang sudah pergi, Mama hanya mengajak ngobrol tanaman atau hanya membaca buku saja!" ucap Ambar dengan bahagia.
"Aku juga senang kalau Mama senang," Iska duduk bersama Ambar dan Ana.
Akan sangat berdosa kalau aku meminta Ken untuk tinggal di apartement dan meninggalkan rumah ini. Lihatlah Mama begitu bahagia dan tidak kesepian lagi, batin Iska.
"Ana harusnya sudah bersekolah, kan?" tanya Ambar.
__ADS_1
"Iya Ma, rencanaku tahun ajaran ini Ana akan aku masukan sekolah." Angguk Iska.
"Ah itu bagus. Nanti Ana sekolah di sekolah terbaik di kota biar Mama yang antar biar Mama ada kesibukan," Ambar sangat antusis.
"Baiklah Ma!" angguk Iska.
Iska senang karena keluarga Ken bisa menerimanya dengan Ana begitu tulus. Tetapi, di hatinya masih terganjal sebuah kebohongan yang sangat besar tentang Ana. Iska tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi kalau kebenarannya terungkap.
Pukul enam sore, Ken sudah sampai rumah. Pulang dari kantor dengan tepat waktu.
"Tumben sudah pulang. Biasanya suka ngelembur?" goda Iska.
"Itukan kalau masih bujang beda lagi ceritanya kalau sudah menikah. Aku tidak sabar ingin bertemu dengan isteriku yang cantik ini!" Ken memeluk Iska.
"Iiih gombal ...." Iska melepaskan jas dan dasi yang Ken kenakan.
"Aku tidak gombal. Aku hanya mengungkapkan rasa bahagiaku ini, seharian aku membayangkan kamu menyambutku pulang kerja. Melepaskan sepatuku menyiapkan makanan untukku, ah itu sangat indah!" ujar Ken.
"Iya. Aku akan melakukan itu untukmu," senyum Iska. "Mau aku siapkan air hangat untuk mandi?"
"Iya."
Ken duduk di sofa menunggu Iska menyiapkan semuanya untuk Ken sambil pokus pada ponsel yang di pegangnya.
"Sudah siap ...."
Ken berlalu ke kamar mandi. Ken mandi begitu lama seperti kebiasaannya. Sampai membuat Iska merasa bosan menunggunya.
Tok! tok!
Iska mengetuk pintu kamar mandi.
"Ken ... apa kamu tidur di kamar mandi?" panggil Iska.
Ken keluar dengan memakai handuknya saja. "Ya aku mandilah masa iya tidur!"
"Mandi lama banget!"
"Sudah rindu lagi padaku?" goda Ken.
"Apasih? ini bajumu sudah aku siapkan. Pakailah!" suruh Iska.
Ken memakai bajunya dan Iska merapikan kerah baju Ken yang tidak rapih.
"Emmmh aku sudah memutuskan untuk tidak bekerja. Aku akan pokus mengurus suami dan anakku. Menemani Mama juga di rumah biar gak kesepian," ucap Iska dengan penuh senyuman.
Ken memeluk Iska dengan erat. "Ah isteriku emang the best! aku akan semakin ingin pulang ke rumah kalau kamu setiap hari menungguku pulang kerja!"
__ADS_1
Benar kata Papa menjadi isteri baik tidaklah sulit. Perempuan tidak harus sejajar dengan lelaki sama-sama bekerja. Tapi dengan di rumah dan menunggunya pulang itu menjadi kebahagiaan tersendiri bagi suami. Pantas dulu mas Janu mencari kebahagiaan di luaran karena mbak Lia sibuk dengan karirnya sendiri tanpa mementingkan keluarga. Suara hati Iska.
⬇️⬇️