Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Mencari Alex


__ADS_3

Ken bergegas pergi menuju kantor Hartanto. Butuh waktu lima belas menit untuk kesana.


"Aku harap sampai kesana lebih dulu daripada kak Lia!" gumamnya seraya melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Jalanan yang macet membuat Ken terlambat sepuluh menit.


Di sisi lain. Lia sudah lebih dulu tiba di kantor Hartanto. Karena sedang meeting, Lia menunggunya di ruangan Hartanto. Melihat jam di tangannya, "Papa lama sekali sih!"


Setelah menyelesaikan meetingnya, Hartanto kembali ke ruangannya dan mendapati Lia sudah ada disana. "Kamu ada disini Lia. Mau ngapain?"


Lia berdiri beranjak dari duduknya, "aku mau bicara sesuatu hal yang penting padamu."


"Apa? duduklah!" Hartanto duduk di kursinya.


"pa, apa Papa tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Freya?"


"Freya sedang sakit dan berada di rumah sakit sekarang," jawabnya datar.


"Freya hamil ..." ungkap Lia.


Deg.


Hartanto menatap Lia dengan tajam dan berdiri beranjak dari duduknya. Menggebrak meja dengan sangat keras membuat Lia kaget. "Jangan sembarangan ngomong kamu!"


Lia beranjak dari duduknya dan mereka berdiri berhadapan terhalang meja, "semua mengetahuinya! hanya Papa yang tidak tahu."


Ken membuka pintu ruangan Hartanto dan terlambat karena Lia sudah mengatakan yang sebenarnya. Ia menghampiri Lia dan Hartanto.


"Papa ...." Tatapnya pada Hartanto dengan perasaan cemas.


"Jelaskan semuanya pada Papa, Ken! jelaskan kebenarannya!" Hartanto berbicara dengan suara tinggi.


Ken menatap Lia, menarik napasnya dengan berat. Meyakinkan diri untuk bicara yang sebenarnya dan menaggung semua resikonya.


"Iya, apa yang Kak Lia katakan adalah benar. Freya terbaring di rumah sakit karena dia hamil." Ken hanya menunduk tanpa berani menatap mata Papanya itu.


"Kurang ajar! itu anak sudah di beri kepercayaan malah mencoreng nama baikku." Hartanto emosi. "Ini semua gara-gara kamu, Ken. Kamu selalu membelanya dan mengizinkannya menjadi seorang model, lihat hasilnya sekarang!"


"Maafkan aku Papa. Aku sudah gagal menjadi Kakak, aku tidak bisa menjaganya sampai hal seperti ini bisa terjadi," ujar Ken.


"Harusnya Papa sadar diri dong! Lihat selama ini Papa selalu menuntutku untuk hamil dan punya anak. Doa Papa terkabul! anak perempuan Papa yang lainnya berhasil hamil. Dosa apa yang Papa punya sampai ketiga anak Papa berada dalam kesengsaraan seperti ini. Anak pertama Papa, gak kunjung hamil. Anak kedua Papa menghamili seorang gadis. Anak ketiga Papa di hamili!"


Plaaaak ... tangan Hartanto mendarat di pipi kanan Lia.


"Lancang kamu bicara seperti itu pada Papamu!" Hartanto marah.


"Aku sudah muak sama Papa. Aku benci kalian semua!" Lia bicara dengan memegangin pipinya yang di tampar Hartanto.

__ADS_1


"Sudah Kak Lia hentikan." Ken mecoba melerai.


Tanpa bicara lagi. Lia berlalu pergi meninggalkan ruangan Hartanto dengan sangat marah dan kesal.


"Papa, tenanglah! semuanya bisa di bicarakan baik-baik!" Ken mendudukkan Hartanto. "Aku sedang mencari lelaki yang menghamili Freya. Papa tenanglah! saat mereka menikah maka tidak akan ada masalah apa-apa lagi!"


"Kalau sampai besok kau tidak berhasil, maka kalian semua harus setuju dengan apa yang akan Papa lakukan!" ancam Hartanto.


Ken membuang napasnya dengan perlahan merasa sedikit lega, mempunyai waktu beberapa jam untuk membawa Alex ke hadapan Hartanto. "Kalau begitu, aku akan kembali ke kantor dan mencari lelaki itu lagi. Papa harus mengontrol emosi Papa, ingat akan kesehatanmu." Ken berlalu pergi.


Ken tidak tinggal diam, menyuruh dua orang lagi untuk mencari keberadaan Alex. Karena Ken tahu kalau apa yang Hartanto ucapkan tidaklah main-main.


Saat jam pulang kantor tiba, Ken langsung pergi ke rumah sakit. Menjemput Iska karena khawatir dengan kondisinya yang sedang hamil seperti itu.


"Bagaimana keadaanmu Freya?" tanya Ken.


"Aku baik. Bagaimana? ada kabar dari Alex?" lirih Freya.


"Kakak sudah mengerahkan beberapa orang untuk mencarinya, jangan terlalu di pikirkan. Semuanya akan baik-baik saja!" jelas Ken.


"Papa bagaimana? apa kak Lia memberitahu Papa yang sebenarnya?"


"Jangan khawatir, Kakak bisa menghandle semuanya!" ucap Ken. "Aku akan mengantar Iska pulang dulu. Karena kondisinya sedang hamil takutnya kecapean, nanti aku kesini lagi."


"Kalau begitu kami pulang dulu ya Ma. Mama gak apa-apa sendirian disini?" tanya Iska.


"Gak apa-apa tenang saja!"


Ken dan Iska berlalu pergi untuk pulang. Sementara itu, Freya di jaga oleh Ambar.


****


Waktu menunjukan pukul sembilan malam. Tio melakukan pencariannya di awali dengan mendatangi club yang waktu itu bertemu dengan temannya. Tio juga mengajak temannya itu-Roy untuk bertemu dan membantu mencari Alex.


"Hai bro ... tumben banget lo ngajakin gue kesini?" Roy baru saja datang.


"Gue lagi nyari seseorang! lu kenal sama yang namanya Alex yang sering kesini?" tanya Tio.


"Alex yang mana dulu? yang namanya Alex yang gue kenal banyak!" ucap Roy.


"Orangnya tinggi, ganteng juga, lalu gue liat di tangan kanannya ada tatto," Tio mendeskripsikannya.


Roy melihat sekitar, sepertinya tahu siapa Alex yang Tio maksud. "Kayanya belum kesini deh! tunggu deh bentaran. Pasti dia kesini kok. Sana lo pesen minuman dulu biar gue bayarin! gue mau happy-happy dulu."


Tio memesan sebotol soda sambil menunggu Alex datang. Ia memperhatikan setiap orang yang masuk. Orang yang di tunggu ternyata datang juga, lelaki yang waktu itu bersama Freya. Dia menghampiri Roy. "Lihatlah! itu Alex yang gue maksud." Tunjuk Tio.

__ADS_1


"Ayo kita kesana!" Roy berjalan lebih dulu.


"Hei Alex ... ada yang mau ketemu sama lo!" ucap Roy.


Tanpa basa basi Tio langsung meraih kerah baju Alex dan menyeretnya keluar dari club. Kemudian melemparnya ke lantai.


Bruuugh ....


"Woy apa-apaan lo? siapa lo berani-berani sama gue!" Alex bangkit dan mencoba membalas tapi Tio menangkisnya dan memplintir tangannya sampai Alex berteriak kesakitan.


"Lo yang hamilin Freya, kan?" tanya Tio.


"Gue gak tahu! kali aja dia maen ama banyak cowok bukan sama gue aja!" jawab Alex.


"Jangan bicara kurang ajar seperti itu lo," Tio semakin menarik tangannya itu. "Sekarang lo ikut gue ketemu sama bokapnya Freya! dia ingin ketemu sama lo!" Tio membawa Alex ke dalam mobilnya dan Roy juga ikut untuk memegangi Alex di mobil.


Tio melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi untuk menemui Hartanto di tempat yang sudah di tentukan.


Seaampainya di tempat itu, tempat yang asing dan juga sepi. Roy menyeret Alex dan melemparnya ke hadapan Hartanto.


"Suruh temanmu pergi!" ucap Hartanto pada Tio.


"Thanks bro." Tio memberikan segepok uang pada Roy.


"Okey gue pergi!" Roy berlalu pergi.


Hartanto menatap Alex dengan matanya yang tajam. "Jadi kamu yang sudah berani menodai putriku? berandalan! lelaki tidak jelas! ciiih ...."


"Apa saya hubungi Tuan Ken?" tanya Tio.


"Jangan! Buang saja lelaki ini. Saya tidak sudi menikahkan anak saya dengan berandalan seperti dia. Bilang saja pada Ken kalau kau tidak bisa menemukannya!" jelas Hartanto.


"Baik Tuan!" angguk Tio.


Hartanto berjongkok dan meraih dagu Alex. "Jangan pernah muncul lagi di hadapanku atau di hadapan putriku! kalau sampai berani, maka saya tidak akan segan-segan membunuhmu!" ancam Hartanto.


"Ampun Tuan ampun! saya tidak akan mengganggu putri anda lagi! saya janji. Tapi, lepaskan saya jangan bunuh saya." Alex memohon.


"Biarkan dia. Kita pergi dari sini sekarang!" Hartanto berlalu ke mobil di ikuti oleh Tio dan membiarkan Alex disana sendirian.


"Besok datanglah lebih pagi ke rumah saya," suruh Hartanto pada Tio.


"Baik Tuan." Angguk Tio.


"Ingat jangan beritahu Ken tentang Alex. Saya sudah merencanakan hal yang terbaik untuk Freya," ujar Hartanto.

__ADS_1


__ADS_2