
Keesokan harinya ....
Iska masih belum bekerja lagi tetapi hidup harus tetap berjalan apalagi dengan membiayai Ana juga. Iska mulai mencari kerja melamar-melamar ke perusahaan-perusahaan besar, sebenarnya Ken dan Hana sudah menawari Iska bekerja di perusahaannya tapi kali ini Iska menolak karena sudah terlalu banyak kebaikan Ken dan Hana.
Ken sudah datang ke rumah Iska dan membawakan makanan untuk Iska dan Ana. "Haiii cantiknya Daddy ...."
"Hai Daddy ...." Ana memeluk Ken.
"Ini Daddy bawa sarapan untuk kita. Kita masuk yu dan sarapan di dalam." Ken masuk ke dalam rumah bersama Ana.
"Ana jangan main jauh-jauh!" teriak Iska.
"Ana di dalam rumah Ma. Ada Daddy juga!" jawab Ana.
Iska muncul dari dapur dan menghampiri Ken dan Ana. "Eh Ken sudah disini," sapa Iska.
"Iya. Aku mau berangkat ke kantor tapi aku teringat kalian dan mampir kesini bawa sarapan juga." Ken memberikan bungkusan sarapannya pada Iska.
Iska menerimanya, "padahal gak usah repot-repot."
"Sekalian aku ingin sarapan bersama kalian," ucap Ken.
"Ya sudah tunggu disini ya biar aku siapkan dulu sarapannya." Iska kembali ke dapur menyiapkan sarapannya.
Ken bermain bersama Ana di ruang tamu, Iska membawakan sarapan dan melihat Ken dan Ana kemudian tersenyum karena merasa memiliki keluarga yang utuh. "Seperti yang aku harapkan dan bayangkan. Keluarga kecil yang bahagia dan penuh canda tawa di dalamnya."
"Jangan kelitiki Daddy. Daddy merasa geli," ucap Ken yang sedang bermain dengan Ana.
"Sudah. Ini sarapannya sudah siap, sarapan dulu jangan bermain terus." Iska meletakkan sarapannya di meja.
Mereka bertiga sarapan bersama.
"Apa kamu jadi untuk bekerja?" tanya Ken.
__ADS_1
"Jadi. Aku sudah mengirimkan beberapa lamaran melalui E-mail," jawab Iska.
"Kenapa gak kerja di perusahaanku aja sih? perusahaanku juga baru dan membutuhkan banyak karyawan," ucap Ken.
"Aku hanya merasa tidak enak kalau harus bekerja di perusahaanmu atau bu Hana. Jadi biarkan saja aku mrncari di tempat lain," jawab Iska.
"Ya sudah terserah kamu saja. Aku tidak akan melarangmu selama itu hal yang baik," bijak Ken.
Mereka menyelesaikan sarapannya dan setelah selesai Ken pamit untuk pergi ke kantor. "Kalian jaga diri ya di rumah. Kalau ada apa-apa hubungi aku saja. Bye Iska ... bye cantiknya Daddy ...." Ken pergi dan melambaikan tangannya pada Iska dan Ana.
Seperti keluarga kecil yang bahagia rutinitas pagi suami berangkat bekerja seperti apa yang Iska bayangkan dan harapkan dan sebentar lagi akan terwujud.
"Ayo kita masuk sayang dan mainnya di dalam rumah aja ya." Iska membawa Ana masuk ke dalam rumah.
Saat akan menutup pintu Iska merasa tidak enak merasa sedang ada yang mengawasinya. "Ada siapa ya? seperti sedang ada yang memperhatikanku atau hanya perasaanku saja? ah mungkin hanya perasaanku saja!" Iska masuk ke dalam rumahnya.
Hari demi hari Iska lewati dan menunggu panggilan kerja juga.
Seminggu kemudian .... Iska mendapatkan panggilan kerja di sebuah perusahaan besar di kota. Pagi hari sekali Iska bersiap untuk pergi wawancara kerja dan menitipkan Ana pada Mbak Sarni. Untung Mbak Sarni tidak keberatan untuk menjaga Ana.
"Tidak Ka. Lagian Ana anaknya baik tidak nakal jadi Mbak seneng kalau jaga Ana. Anak Mbak juga seneng kalau main bersama Ana," jawab Sarni.
"Ana jangan nakal ya sama Mbak Sarni sama kak Jihan. Mama mau wawancara kerja doakan supaya di terima ya," ucap Iska pada Ana.
"Baik Mama. Mama juga jangan nakal ya," ucap Ana polos.
"Anak pintar!" senyum Iska pada Ana. "Kalau begitu aku berangkat dulu ya Mbak."
Iska pergi dengan ojol yang di pesannya tanpa di antar Ken karena Ken sibuk di kantornya.
Iska sampai di sebuah perusahaan besar di kota yang lumayan terkenal. "Akhirnya sampai juga. Semoga aku di terima!"
Iska masuk ke dalam kantor dan melakukan wawancaranya. Tidak langsung di terima dan harus menunggu nanti di hubungi kembali. Saat akan pulang Iska tidak sengaja bertemu dengan Arga di loby kantor.
__ADS_1
"Pak Arga?" sapa Iska.
"Hai Iska. Ngapain kamu disini?" tanya Arga.
"Saya baru saja wawancara kerja di kantor ini," jawab Iska.
"Wah bagaimana keterima tidak?" tanya Arga.
"Masih harus menunggu. Nanti HRDnya akan menghubungi katanya," jawab Iska.
"Ya sudah kamu aku terima kerja disini. Besok mulai kerja, ini perusahaan keluargaku dan aku juga ikut mengurusinya," ucap Arga.
"Ah serius Pak ini perusahaan keluarga Pak Arga?" kaget Iska. "Tapi Pak. Maaf bukannya saya menolak biarkan saja HRD yang menentukan saya keterima atau tidaknya . Saya tidak ingin di terima kerja karena Pak Arga, jangan ya Pak."
"Oke kalau begitu inginmu. Aku tidak akan bilang apapun pada HRD," ucap Arga.
"Makasih ya Pak. Kalau begitu saya pulang dulu, saya duluan Pak." Iska berlalu pergi. Arga berpikir dan langsung memberitahukan Hana soal Iska itu. Hana menyuruh Arga untuk menerima Iska tapi Arga menceritakan apa yang Iska minta. Hana tetap kekeh untuk menerima Iska tanpa sepengetahuan Iska kalau di terimanya Iska karena Arga. Arga setuju dan langsung menuju ruang HRD dan memintanya untuk menerima Iska bekerja.
"Frans tadi perempuan yang kamu wawancarai yang bernama Mariska tolong terima dia ya soalnya dia temanku. Lagian dia berpengalaman juga dan kerjanya juga bagus," pinta Arga pada staf HRD disana.
"Baik Pak. Lagi pula saya juga sudah akan menerimanya karena pengalamannya juga bagus," jelas Frans.
"Bagus kalau gitu! lanjutkan pekerjaanmu saya keruangan saya." Arga berlalu pergi dan kemudian mengirimkan pesan pada Hana kalau semuanya sudah beres.
Saat perjalanan pulang, Iska mampir ke supermarket untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari. Iska berpapasan dengan seorang perempuan cantik dan tanpa sengaja Iska melihat kalau dompet perempuan itu terjatuh. "Ini dompet perempuan tadi." Iska mengambilnya. "Nona tunggu nona!" Iska mengejarnya.
Perempuan itu menengok pada Iska. "Ada apa ya Mbak mengikuti saya?" ternyata itu Freya.
"Ini tadi saya lihat kalau dompetnya jatuh makanya saya kejar nona." Iska menyodorkan dompetnya dan Freya mengambilnya.
"Iya benar ini dompet saya." Freya membukanya dan isinya masih utuh kemudian Freya menarik uang 100ribuan 3 lembar dan memberikannya pada Iska. "Ini ambillah karena sudah kembalikan dompet saya."
"Tidak usah nona simpan saja. Saya pergi dulu ya mau belanja soalnya, lain kali hati-hati ya." Iska berlalu pergi meninggalkan Freya. "Orang kaya hanya menilai semuanya dengan uang. Padahal hanya dengan ucapan terima kasih saja itu sudah menjadi imbalan yang cukup."
__ADS_1
Iska berbelanja kebutuhan sehari-hari untuk di rumahnya dan belanja untuk di berikan pada mbak Sarni juga. Tidak lupa makanan dan cemilan untuk Ana juga.
⬇️⬇️