
Janu tidak percaya begitu saja. Dia pergi ke rumah Iska yang dulu dan ingin mencari tahu disana.
Rumah itu masih terawat karena di tinggali oleh Sarni dan anak-anaknya.
"Mbak Sarni?" sapa Janu pada Sarni yang ada di halaman rumahnya.
"Ka-kamu ...." Sarni mencoba mengingat wajahnya itu. "Kamu mantan pacarnya Iska, kan?"
"Mbak masih ingat padaku, kan?"
"Iya," ketus Sarni.
"Saya kemari ada perlu dengan Mbak Sarni. Saya ingin bertanya apakah anaknya Iska-Ana adalah anak saya?" tanya Janu.
Deg.
Sarni mengingat apa yang pernah Iska bilang. Kalau Janu tidak boleh tahu tentang Ana. Dengan perasaan was-was, Sarni menjawab pertanyaan itu.
"Ana anaknya pak Ken. Kamu jangan ngada-ngada," ujar Sarni.
"Apa Mbak gak bohongin saya?"
"Untuk apa saya bohong?" Sarni meyakinkan.
"Baiklah Mbak. Saya permisi pergi dulu." Janu berlalu pergi dan membuat perasaan Sarni tenang karena Janu percaya padanya.
Janu masuk ke dalam mobilnya. Merenung di dalam mobil tanpa melajukannya.
"Hah ... mungkin aku terlalu berharap ingin memiliki anak. Sehingga aku berpikir kalau Ana adalah anak kandungku." Janu melajukan mobilnya.
...----------------...
Iska tidak keluar dari kamarnya sampai akhirnya Ken pulang.
"Ken ...." Iska berlari dan memeluk Ken.
"Kenapa sayang? apa yang terjadi?" Ken panik.
"Mas Janu. Tadi dia kemari dan bertanya soal Ana, dia tanya padaku kalau Ana adalah anaknya atau bukan. Aku takut Ken," ujar Iska.
Ken mencoba menenagkan Iska. "Sudah, jangan di pikirkan. Lalu kamu jawab apa?"
"Ya, aku bilang bukan."
"Semoga saja mas Janu percaya dan tidak mencari tahu lebih jauh lagi."
"Aku harap begitu. Tapi aku benar-benar takut banget," ucap Iska.
"Jangan sedih dan jangan di pikirkan. Ingat, kau sedang mengandung harus tetap tenang. Kalau kamu sedih akan berpengaruh pada janinnya, nanti dia juga sedih." Hibur Ken.
Iska tersenyum. "Makasih selalu bisa membuatku tenang."
"Apa Freya baik-baik saja? aku belum bertemu dengannya," tanya Ken.
__ADS_1
"Sepertinya sudah baikan. Tadi aku lihat dia keluar dari kamarnya, tapi gak keluar rumah."
"Syukurlah!"
"Freya masih tidak suka padaku!" ungkap Iska.
"Emmmh sabar aja. Dia emang orangnya kaya gitu," ucap Ken. "Aku mau mandi dulu yah sebelum makan malam gerah banget soalnya."
"Aku sediakan air hangat untuk mandimu ya?"
"Tidak usah. Kamu istirahat saja!" Ken masuk ke kamar mandi. Lima belas menit kemudian, Ken selesai mandi dan memakai baju tidur yang Iska siapkan. Lalu mereka makan malam bersama dengan yang lainnya.
"Dimana Freya?" tanya Hartanto.
"Freya di kamarnya. Seharian dia hanya di rumah tidak kemana-mana tidak enak badan katanya," jawab Ambar.
Mereka meyelesaikan makannya. Setelah selesai, Hartanto dan Ken berlanjut ngobrol di ruang tv.
"Mama akan bawa makanan itu untuk Freya?" tanya Iska pada Ambar.
"Iya. Freya belum makan malam soalnya."
"Sini Ma. Biar aku yang berikan pada Freya sekalian ke kamar juga. Mama istirahatlah!" pinta Iska.
"Baiklah! Tapi hati-hati ya," pesan Ambar.
Iska berjalan menaiki anak tangga dengan membawa nampan di tangannya menuju kamar Freya.
Tok! Tok!
"Freya ...."
Freya ternyata masih bangun dan sedang bicara dengan seseorang di ponselnya. "Kenapa masuk ke kamar orang lain sih?" ketusnya pada Iska.
"Aku tadi memanggilmu. tapi, kamu tidak menjawabnya. Aku merasa khawatir dan langsung masuk saja," jelas Iska.
Freya menghampiri Iska yang masih berdiri di dekat pintu. "Gak usah sok peduli deh. Sana keluarlah!"
"Aku mengantarkan makan malam untukmu. Kamu harus makan!" Iska meletakkan nampannya di meja samping tempat tidur.
"Udah gak ada urusan lagi, kan? sana keluar!" Freya mendorong Iska sampai keluar dari kamarnya dan menutup pintu dengan kasar.
"Ya ampun Freya kenapa sih begitu padaku? sepertinya dia sedang ada masalah dengan pacarnya. Tadi nada bicaranya saat menelpon seperti orang yang marah!" Iska berlalu pergi ke kamarnya.
Iska duduk di sofa membaca-baca buku tentang kehamilan yang Ken belikan begitu banyaknya. Walaupun ini adalah kehamilan yang kedua, tetapi rasanya begitu berbeda. Sekarang lebih gampang cape dan lelah beda dengan saat mengandung Ana dulu. Masih sanggup bekerja dan berpergian.
Tidak lama kemudian Ken datang.
"Kamu belum tidur sayang?"
"Belum ngantuk. Masih baca-baca buku," jawab Iska.
Ken berlutut dan memegangi perut Iska yang sudah mulai membesar itu. "Anak Daddy lagi apa di dalam? sehat-sehat ya sayang. Nanti kita akan segera bertemu ... muaaach."
__ADS_1
"Aamiin ... semoga selalu sehat terus sampai nanti waktunya melahirkan." Iska tersenyum.
"Sepertinya kamu harus bicara pada Freya. Tadi, saat aku mengantarkan makanan pada Freya. Dia sedang marah dengan lawan bicaranya di telpon, takutnya ada masalah besar." Iska menceritakannya.
"Iya besoklah. Aku ingin istirahat sekarang, cape banget." Ken menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur. Lalu di susul Iska yang berbaring di samping Ken. Ken memeluk Iska dengan erat dan mulai menciuminya. "Ah kalau sudah dekat begini, kantukku jadi hilang malah jadi bergairah."
"Tidurlah. Besok harus kerja, kan?"
"Mau ya ...." Pinta Ken.
"Baru juga kemarin malam. Ingat apa kata dokter, jangan terlalu sering apalagi usia kandunganku masih trimester awal. Bisa beresiko!" jelas Iska.
"Baiklah baik. Aku hanya akan memelukmu saja!" ucap Ken.
"Selamat tidur Daddy ...." Iska mengecup pipi Ken. Ken membalasnya dan tersenyum bahagia.
Keesokan harinya ....
Semua orang sarapan bersama. Kali ini Freya juga tidak ikut sarapan.
"Panggilkan Freya Ma. Papa ingin bicara padanya!" suruh Hartanto.
"Biar aku saja yang bicara pada Freya ya Pa. Papa lagi emosi gitu gak baik bicara pada Freya," ujar Ken.
"Bilang padanya, berhenti menjadi model dan bersiaplah. Papa akan carikan laki-laki untuk menjadi suami Freya." Hartanto berlalu pergi dan di ikuti oleh Tio yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Iya Pa." Angguk Ken.
Suasana terasa tidak enak kalau Hartanto sudah marah seperti itu.
"Bicara pelan-pelan ya pada Freya. Mama takut Freya akan marah dan nekat lagi," pinta Ambar.
Jangan di pikirkan. Kalian tunggu saja disini ya, biar aku saja yang ke kamar Freya dan bicara padanya." Ken berlalu pergi menaiki anak tangga menuju kamar Freya.
Freya sangat keras kepala. Melakukan segala hal sesuai keinginannya sendiri.
"Freya ...." Panggil Ken. Dia tidak kunjung membuka pintunya ataupun menjawab. Lalu Ken membuka pintunya perlahan yang ternyata tidak di kunci.
"Freya ...." Ken kaget mendapati Freya tergeletak di lantai. Ken menghampirinya dan sangat panik. "Freya kamu kenapa?"
Ken menggendong Freya dan berniat akan membawanya ke rumah sakit. Iska dan Ambar tidak kalah kaget melihat Freya tidak sadarkan diri.
"Ya ampun Freya kenapa Ken?" tanya Ambar.
"Freya pingsan Ma. Sepertinya dia tidak makan sama sekali dari kemarin. Biar aku bawa ke rumah sakit ya!" Ken berjlaan dan memasukkan Freya ke dalam mobil.
"Aku ikut bersamamu Ken." Pinta Iska.
"Baiklah ayo!" Ken setuju.
"Mama tunggu di rumah ya. Freya pasti akan baik-baik saja doakan saja yang terbaik untuknya." Ken berlalu pergi menuju rumah sakit. Sedangkan Ambar menunggu di rumah dan mencoba menghibungi Hartanto tapi tidak bisa pulang karena ada meeting penting.
"Semoga kamu tidak apa-apa ya sayang," gumam Ambar.
__ADS_1
⬇️⬇️