
Pernikahan Freya dan Tio berjalan dengan lancar walaupun tidak tersirat di wajah Freya kebahagiaan sedikitpun. Hanya di hadiri keluarga inti saja.
Semua orang yang hadir menyaksikan memberikan selamat pada pengantin. Setelah itu makan bersama setelah itu acara selesai dan keluarga Tio kembali pulang.
Hartanto menyuruh semua orang untuk berkumpul termasuk Freya dan Tio.
"Freya dan Tio sudah menikah. Jadi Tio akan membawa Freya pergi dari rumah ini, untuk pindah ikut bersama Tio. Saya akan memberikan modal usaha pada Tio dan mulai sekarang dia tidak lagi menjadi asisten saya," jelas Hartanto.
Freya berdiri, "Papa mengusirku? menyerahkanku pada Dia begitu saja?" ia merasa kecewa dengan Papanya.
"Papa kenapa seperti itu? biarkan saja Freya tinggal disini bersama kita," timpal Ambar.
"Ini sudah menjadi keputusan final Papa. Jangan ada yang berani menentangnya!"
Freya menangis di pelukan Ambar.
"Apa tidak sebaiknya Papa pikirkan lagi keputusan Papa itu?" tanya Ken.
"Memang seharusnya seperti itu, kan. Ken? setelah menikah ya harus ikut suami," ujar Lia semakin memperkeruh suasana.
"Semuanya berhenti bicara! hanya Papa yang berhak memutuskan disini," tegas Hartanto. "Freya akan ikut Tio dan tinggal bersamanya. Papa akan berikan modal usaha pada Tio agar bisa menghidupi Freya."
"Papa tega dan jahat padaku!"
"Ini sebagai salah satu hukuman untukmu. Karena telah Mencemarkan nama baik dan membuat keluarga malu," sambung Hartanto dan berlalu pergi.
Freya hanya bisa menangis. Para pelayan sudah menyiapkan semua barang-barang Freya yang akan di bawanya. Ia harus pergi malam ini juga.
"Freya, percayalah padaku. Tio orang yang sangat baik dan akan sangat bertanggung jawab padamu, kamu akan baik-baik saja bersamanya." Ken memeluk Freya.
Freya tidak bicara sama sekali hanya menangis saja.
"Tio, aku titip Freya padamu. Aku tahu kalau kamu orang yang baik dan sangat bertanggung jawab." Ken berujar dengan memeluk Tio.
Semua orang mengantarkan Freya ke mobil Tio termasuk Lia dan Janu. Yang merasa puas karena Freya mendapatkan hukuman yang sepantasnya keluar dari rumah dan jauh dari kelaurga Suardji.
"Hukuman yang sangat pantas untukmu!" ujar Lia.
"Sudahlah Lia. Dia adikmu sendiri, jangan seperti itu padanya!" tegur Janu.
"Freya, kamu jangan sedih ya. Aku dan Ken akan selalu ada untukmu. Kalau ada apa-apa hubungi kami ya." Iska berujar sembari mengelus perut Freya. "Jaga dia ya."
__ADS_1
Freya masuk ke mobil tanpa bicara apapun lagi.
"Aku pamit pulang!" Tio membungkukan badannya dan berlalu pergi.
Ambar tidak hentinya menangis tidak bisa berbuat apa-apa mencegah kepergian Freya. Lia dan Janu berlalu pergi untuk pulang. Iska memapah Ambar untuk kembali ke rumah. Rumah menjadi sepi kembali setelah sebelumnya ramai orang pada pernikahan Freya.
Iska dan Ken berlalu ke kamarnya membersihkan diri dan berganti pakaian.
"Semoga Freya bisa bahagia di rumah barunya," ujar Iska.
"Aku juga berharap begitu. Tenang saja, Tio orang yang baik. Dia pasti akan menjaga Freya dan juga membimbingnya," jawab Ken. "Istirahatlah! pasti kamu sangat lelah setelah berhari-hari sibuk."
Iska mengangguk dan berbaring di tempat tidur. Menatap langit-langit kamar sembari mengelus perutnya yang semakin membesar.
"Semoga Tio bisa bertanggung jawab seperti Ken yang bertanggung jawab padaku walaupun aku bukan mengandung anaknya."
Hari demi hari berlalu begitu cepat. Rumah semakin sepi, apalagi kalau Ana pergi bersekolah.
Saat makan malam bersama di meja makan ....
"Apa kalian sudah melakukan USG pada kandungan Iska?" tanya Hartanto.
"Baru satu kali Pa," jawab Ken.
"Kami belum tahu Pa karena belum terlihat. Mungkin nanti saat USG yang kedua, kami bisa mengetahuinya" jawab Ken.
"Mau laki-laki atau perempuan sama saja Pa," timpal Iska.
"Harus laki-laki! untuk penerus keluarga nantinya! kalau perempuan sudah ada Ana," cetus Hartanto.
Iska menatap pada Ken dan tidak bisa menjawab lagi ucapan Papa mertuanya itu. Ken menggenggam tangan Iska dengan erat dan menggelengkan kepalanya berarti tidak usah di pikirkan.
Ucapan Papa mertuanya itu terngiang-ngiang di kepalanya. Bagaimana jika nanti anak Iska terlahir perempuan kembali? apa yang akan terjadi? apa mungkin Hartanto tidak akan menerimanya?
Seminggu berlalu ....
Janu sedang berada di rumah sakit sendirian, ternyata ia akan mengambil hasil tes DNA yang di lakukannya dua minggu terakhir.
"Ini Pak, hasil dari tes sample yang bapak berikan dua minggu yang lalu," ujar dokter.
Dengan gemetar Janu mengambil kertas itu lalu membacanya. Ia sangat terkejut saat melihat kalau kecocokan DNA Ana dan dirinya 99% cocok.
__ADS_1
"Ternyata benar Ana adalah anakku." Ia memeluk kertas itu.
Menahan tangis kebahagiaannya. Ia berlalu pergi ke kediaman mertuanya untuk menemui Ana.
Setibanya di rumah itu ....
Ia bingung bagaimana menjelaskannya kepada semua orang. Tentu saja kebenaran itu akan menghancurkan segalanya. Ia termenung di dalam mobil memikirkan apa yang sebaiknya harus di lakukan.
"Aku akan tanyakan pada Iska dan Ken tentang semua kebenarannya!" ia turun dari mobil dan masuk ke rumah. Menemui Ana di kamarnya yang sedang bermain.
"Apa boleh saya bersama Ana bermain berdua saja?" tanya Janu pada pengasuh Ana.
"Baiklah Tuan saya permisi. Sekalian saya bawakan minum untuk Tuan." Pengasuh itu pergi.
"Paman baik tidak bersama Tante cantik?" tanya Ana polos.
"Tidak, tante ada di rumah. Apa boleh Paman memelukmu?" ujar Janu yang sudah mulai berkaca-kaca.
"Boleh Paman." Ana beranjak dan memeluk Janu.
Anankku, anak kandungku, darah dagingku! maafkan ayahmu ini yang tidak mengetahui kalau kamu anak ayah. Maafkan ayah Nak, batin Janu.
Janu memeluk Ana dengan erat dengan air mata yang tidak terasa terjatuh. Tiba-tiba Iska datang dan melihat Janu sedang memeluk Ana.
"Mas Janu ... lepaskan anakku!" ujar Iska. Membuat Janu melepaskan pelukannya. "Sedang apa disini? bertemu Ana tidak izin padaku!"
"Ana tunggu disini ya, paman ingin bicara dengan Mama Ana." Janu berdiri beranjak dari duduknya menarik tangan Iska keluar dari kamar. Ia membawa Iska ke tempat yang tidak terlihat orang lain.
"Lepaskan tanganku Mas! berani-beraninya kau menyentuhku!" Iska mengibaskan tangan Janu.
Janu merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas tentang hasil tes DNA. "Ini lihatlah! hasil tes DNA Ana denganku. Disana tertulis kalau Ana memanglah anakku. Iya, kan?"
"Jangan mengada-ngada!" Dengan tangan gemetar, ia membuka kertas itu. Sangat takut kalau yang di ucapkan Janu adalah benar dan semuanya akan terbongkar.
Membaca setiap kata dari surat itu. Ternyata benar, ketakutan yang selama ini di takutkan, akhirnya terjadi juga.
"Bohong! itu tidaklah benar. Pasti Mas Janu merekayasa hasil tes itu, kan?" Iska masih saja mengelak. Ia sangat ketakutan apalagi Ken sedang tidak ada di rumah.
"Ana berhak tahu siapa ayah kandungnya dan aku juga berhak atas Ana!"
"Pergi dari sini Mas! jangan coba mengaku-ngaku lagi seperti ini. Bagaimana kalau semua orang disini dengar? apa yang akan mereka pikirkan tentang kita? Ana adalah anaknya Ken dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun!" Iska melempar kertas itu tepat di wajah Janu dan berlalu masuk ke kamar Ana mengunci pintunya.
__ADS_1
Ia memeluk Ana dengan erat. "Ana anak Mama dan Daddy. Bukan anak yang lainnya!"
Sementara itu Janu berlalu pergi dan berniat kembali saat ada Ken di rumah dan meluruskan semuanya.