
3 hari kemudian Iska mendapatkan telpon kalau dirinya di terima kerja di perusahaan milik Arga. Iska sangat senang tentunya.
Saat Iska bekerja, Ana akan di asuh oleh Sarni dengan di bayar tentunya sekalian Iska membantu keluarga Sarni yang hidupnya pas-pasan.
"Bye sayang ... jangan nakal ya main sama kakak Jihan nanti Mama pulang sore," ucap Iska.
"Iya Mama."
"Daddy berangkat ya sama Mama. Ana baik-baik sama Mbak Sarni dan jangan nakal." Pamit Ken pada Ana.
Iska dan Ken berlalu pergi.
"Aku tidak menyangka kalau aku bekerja di kantor pak Arga ternyata," ucap Iska.
"Iya bagus setidaknya Arga bisa membantuku mengawasimu," goda Ken.
"Apa sih?" senyum Iska.
"Lagi pula Arga lebih sering mengurusi perusahaannya sendiri di Surabaya," ucap Ken.
"Tapi kamu gak nyuruh pak Arga untuk menerimaku, kan?" tanya Iska.
"Tidak! aku tidak bicara apa-apa ketemu juga tidak," jawab Ken. "Kamu berpengalaman dan kerjamu juga bagus tidak perlu di rekomendasikan."
"Emmmh bisa aja!" ucap Iska.
Mereka sampai di kantor Arga. "Kenapa ikut turun?" tanya Iska.
"Aku ingin bertemu dengan Arga sebentar," ucap Ken.
Ken meraih tangan Iska dan bergandengan berjalan menuju ke dalam kantor tapi Iska melepaskannya. "Tidak enak sama karyawan lain Ken."
"Oke baiklah!"
Iska menemui HRD dan Iska di antar ke meja kerjanya dan Ken menunggu Arga di ruangannya karena Arga masih belum datang. "Hah Arga lama sekali!"
Ken keluar dari ruangan Arga dan berpapasan dengan Arga di loby kantor. "Hai Ken ngapain kamu disini?"
"Habis mengantar Iska. Iska mulai bekerja hari ini," ucap Ken.
"Iya aku tahu. Aku yang menyuruh HRD menerimanya," jelas Arga.
"Aku pikir kau tidak melakukan itu," ujar Ken.
"Ya sebenarnya HRD juga akan menerima Iska tanpa aku suruh. Tapi, biar lebih cepat aja apalagi Hana yang minta," senyum Arga.
"Emmmh okelah. Aku titip Iska ya jangan sampai ada yang gangguin," pinta Ken.
__ADS_1
"Dasar bucin! tenang saja itu tidak akan terjadi," ucap Arga.
Ken dan Arga bersahabat saat SMP jadi mereka begitu dekat dan saling dalam hal apapun. Ken pergi dari kantor Arga dan Arga pun masuk ke dalam ruangannya.
Saat sore hari tiba saatnya jam kantor bubar. Ken sudah menunggu Iska dengan mobil mewahnya. Iska melihat Ken dan menghampirinya. "Aku bisa naik ojol gak udah di jemput padahal."
"Emmmh aku menjemputmu karena kita akan makan malam bersama dengan keluarga lengkapku. Aku susah payah mengumpulkan mereka semua dan malam ini kita makan bersama," jelas Ken.
"Baiklah aku setuju," angguk Iska. "Aku akan hubungi mbak Sarni dulu kalau aku akan pulang terlambat."
"Iya silahkan!"
Iska setuju untuk makan malam bersama dengan keluarga lengkapnya dan mereka pergi ke kediaman keluarga Ken.
"Aku merasa tidak enak hati," ucap Iska.
"Santai saja mereka semua baik kok," bujuk Ken.
Iska menarik napas panjang dengan berat serasa akan menghadapi perang.
"Itu mobil kakakku juga sudah ada," ujar Ken.
Iska berjalan dengan perlahan memasuki rumah mewah itu. Ini bukan kali pertama Iska menginjakkan kaki di rumah Ken. Tapi, rasanya sekarang berbeda hatinya seperti berat.
"Hai Iska ayo ikut Tante kita siapkan makan malam." Ajak Ambar.
"Dimana kakak Ma? aku sudah melihat mobilnya di luar," tanya Ken.
"Kalian duluan saja. Aku ingin bertemu kakak dulu." Ken berlalu pergi dan Iska pun pergi mengikuti Ambar.
Ambar begitu baik dan ramah pada Iska sehingga membuat Iska sedikit merasa tenang.
Ken menemui kakak dan kakak iparnya di ruang keluarga. "Kak Lia aku sangat merindukanmu." Ken memeluk kakaknya dan ternyata itu adalah Amalia Maharani isteri Janu.
"Aku juga sangat merindukanmu."
"Hai Mas Janu apa kabarmu?" sapa Ken pada Janu.
"Aku baik Ken." Janu juga memeluk Ken.
"Duduklah! mana calon isterimu itu? apa benar dia janda beranak satu? apa sudah tidak ada lagi gadis sampai harus menikahi seorang janda?" Lia mengintrogasi.
"Lagi bersama Mama di dapur," jawab Ken. "Memangnya kenapa kalau janda? ini pilihan hatiku aku mencintainya dan aku sangat nyaman dekat dengannya. Anaknya juga sangat dekat denganku," tegas Ken.
"Tapi Ken--"
"Sudahlah Kak Lia. Kakak ingin aku bahagia, kan? jadi biarkan aku menikahinya," tegas Ken.
__ADS_1
"Kamu gak bisa di bilangin Ken!" ujar Lia.
"Sudahlah Lia kita harus mendukung Ken demi kebahagiaannya," bijak Janu.
Janu belum tahu saja kalau calon isteri Ken adalah mantan selingkuhannya. Bagaimana Janu kalau tahu nantinya? dan bagaimana juga keluarga Ken kalau sampai tahu?
"Ya sudah terserah kamu. Tapi, kalau kamu menyesal jangan salahkan orang lain," ujar Lia.
"Tenang saja Kak pilihanku yang terbaik," ucap Ken.
Tidak lama kemudian Ambar menghampiri mereka semua karena makan malam sudah siap. "Ayo pindah ke ruang makan. Semuanya sudah siap, pasti kalian juga ingin bertemu dengan calon isteri Ken, kan?"
"Baiklah Ma." Lia mengikuti Ambar di ikuti Janu dan Ken.
Iska sudah duduk di kursi makan bersama Hartanto juga yang sudah duduk disana.
"Ayolah semuanya duduk kita makan," ucap Ambar. "Ini kenalin Mariska calon isterinya Ken."
Deg!
Iska menatap pada Janu dan Lia jantungnya berdebar kencang hatinya tidak karuan.
Kenapa masalalu malah datang di saat aku akan menyambut kebahagiaanku? batin Iska.
Raut wajah Lia berubah menjadi muram penuh amarah. "Wanita itu!"
Janu tidak kalah terkejut melihat Iska ada di hadapannya. Janu melirik Lia dan sudah sadar kalau Lia sangat marah, sebelum terjadi yang tidak di inginkan Janu menarik tangan Lia keluar rumah. "Ah Pah, Mah aku mau ambil sesuatu dulu di mobil."
Saat di luar.
"Lepasin Mas." Lia mengibaskan tangan Janu. "Apa? kamu senang melihat wanita jalang itu lagi?"
"Cukup Lia. Ini sudah hampir 5 tahun dan kita tidak pernah bertemu jadi lupakan saja. Aku juga sudah tidak ada rasa pada Iska biarkan saja kalau dia mau menikah dengan Ken," jelas Janu.
"Aku tidak sudi punya adik ipar wanita jalang itu!" Lia masih tidak terima.
"Lia lihatlah aku. Aku hanya mencintaimu sekarang, aku akui dulu aku memang salah telah membagi cintaku ini. Biarkan Iska menikah dengan Ken," rayu Janu.
"Akan aku bongkar kelakuan wanita itu!" Lia berlalu pergi. Tapi, Janu meraih tangan Lia dan menariknya ke dalam pelukan Janu.
"Lia sudahlah! aku mohon padamu jangan bicara apapun di hadapan keluargamu. Apa kau tega merusak kebahagiaan Ken?" bujuk Janu.
"Baiklah aku tidak akan bicara apapun. Tapi ingat kalau sampai kamu bicara ataupun dekat dengan Iska aku tidak akan segan-segan membongkar semuanya!" Lia kembali keruang makan dan di ikuti oleh Janu.
Lia dengan wajahnya yang masih penuh amarah duduk di kursi makan bergabung bersama yang lainnya. Di ikuti Janu yang duduk di samping Lia kemudian meraih tangan Lia dan menggenggamnya mencoba menenangkannya.
Iska hanya terdiam dan sesekali menjawab pertanyaan yang di lontarkan padanya.
__ADS_1
Bagaimana ini, aku tidak ingin kembali lagi ke masalalu. Tapi, sekarang masalaluku ada di hadapanku. Aku tahu betul kalau isteri Mas Janu sangat marah padaku dengan caranya melihatku. Aku akan pasrah saja kalau sampai isteri Mas Janu membahas masalalu. Yang aku pikirkan sekarang adalah Ana. Batin Iska.
⬇️⬇️