
Karena waktu yang sudah mulai sore, Ken mengajak Iska dan Ana untuk pulang. "Mana Ana? kita pulang sekarang?" ajak Ken.
"Itu Ana main bersama mbak." Tunjuk Ambar.
"Kalau begitu saya dan Ana pulang dulu Tante. Senang bertemu dengan Tante," ucap Iska sopan.
"Tante juga senang bertemu denganmu membuat nyaman mengobrol dan apa adanya juga." Ambar menepuk bahu Iska. "Tante juga senang sama Ana. Rumah jadi rame tidak sepi lagi."
"Iya nanti kapan-kapan Ana bisa main kesini lagi," ucap Iska.
Ken menggendong Ana dan berpamitan juga pada Mamanya. "Aku mengantar Iska dan Ana pulang dulu ya Ma."
"Kalian hati-hati di jalannya." Ambar melambaikan tangannya pada mereka bertiga yang berlalu pergi.
Hartanto hanya memperhatikannya dari jauh dan setelah pergi baru menghampiri Ambar.
"Papa kemana aja? mereka baru saja pergi," tanya Ambar.
"Papa tidak suka pada perempuan itu!" ketusnya.
"Iska anak yang sopan, ramah dan Mama ngobrol juga nyambung kok," bela Ambar.
"Seperti banyak rahasia pada dirinya!" ucap Hartanto.
"Papa udah janji, kan? kalau tidak akan mengatur urusan cinta Ken. Ken sudah memilih wanita pilihannya dan kita harus menerimanya," ucap Ambar.
"Papa akan menyelidiki dan mencari tahu tentang wanita itu!" Hartanto pergi meninggalkan Ambar.
"Pah jangan gitu Pah. Papah ...."
Hartanto terus berjalan tanpa menghiraukan Ambar yang masih bicara. Masuk ke dalam ruangan kerjanya di ikuti oleh asisten pribadinya yang bernama Tio itu.
"Tio cari tahu tentang wanita pilihan Ken itu. Saya ingin tahu semuanya tentang dia jangan sampai ada yang terlewat. Saya tidak ingin Ken sebagai putraku, pewarisku memilih wanita yang salah," perintah Hartanto pada Tio asistennya.
"Baik Tuan. Secepatnya anda akan mendapatkan informasinya," angguk Tio.
Dengan hanya menggerakan telunjuknya, Tio langsung keluar dari ruangan kerja Tuannya itu dan menunggu duduk di tempatnya biasa menunggu.
"Hah orang kaya ribet banget milih jodoh juga!" Tio mengeluarkan ponselnya dan menghubungi seseorang di balik telpon dan menyuruhnya mencari tahu tentang Iska dengan hanya bermodalkan sebuah Nama. "Aku harap akan cepat selesai!"
Ambar hanya duduk di ruang tv sendirian membaca majalah. Tidak lama kemudian datang seorang gadis cantik tinggi semampai berambut panjang bergelombang. "Hai Mama maaf aku terlambat."
"Kamu Freya kemana aja? Ken sudah pergi dari tadi," ucap Ambar.
"Aku sibuk Ma ada pemotretan lumayan biar nambah terkenal," jawab Freya.
Ya itu Freya Livy Suardji adik Ken kesayangan semua orang.
"Ya sudah sana mandi bersih-bersih dan segeralah makan." Suruh Ambar.
"Aku lagi diet Ma jangan banyak makan. Aku ke kamar ya mau mandi udah lengket." Freya pergi ke kamarnya.
__ADS_1
"Ya ampun semua orang di rumah ini sibuk dengan hidupnya masing-masing dan seakan mereka lupa punya keluarga." Gumam Ambar. Nyonya itu sepertinya kesepian di tengah kekayaannya yang melimpah itu apalagi dengan anak perempuan pertamanya yang tak kunjung mempunyai anak.
...----------------...
Ken mengajak Iska dan Ana berjalan-jalan dulu ke mall karena waktu yang masih sore.
"Daddy, Ana mau main sepuasnya ya?" pinta Ana pada Ken.
"Oke silahkan princess cantiknya Daddy ...."
"Horeee ...." Ana bersorak merasa senang.
"Padahal gak usah ke mall dulu kita langsung pulang aja pasti kamu juga cape, kan?" ucap Iska.
"Hanya berjalan-jalan sebentar saja tidak akan lama. Nanti Ana kecewa padaku kalau kita langsung pulang," jawab Ken.
"Baiklah kalau kamu tidak keberatan!" senyum Iska. "Emmmh sepertinya Papamu tidak suka padaku?" cetus Iska.
"Papa emang begitu kok tapi aslinya baik," jawab Ken. "Tenang saja Papa membebaskanku untuk memilih pendampingku sendiri."
"Baiklah kalau begitu. Mungkin hanya perasaanku saja!" jelas Iska.
Perasaanku jadi tidak enak setelah melihat Papanya Ken. Jangan berpikiran macam-macam pada keluarga Ken, mereka orang-orang baik, batin Iska.
Tring! Iska mendapatkan pesan dari Hana.
[Iska apa kamu ada waktu? kita jalan-jalan keluar yu?]
"Bu Hana mengajakku pergi," ucap Iska pada Ken.
"Suruh saja menyusul ke mall biar nanti kita makan malam bersama biar aku ajak Arga sekalian," ide Ken.
"Baiklah!" Iska membalas pesan Hana sesuai apa yang Ken bilang.
Mereka sampai di mall dan yang pertama di lakukan mengantar Ana bermain sepuasnya sambil menunggu Hana dan Arga. Mereka seperti keluarga kecil yang bahagia mendampingi anaknya bermain dan tertawa bersama.
Ya ampun ini yang selama ini aku harapkan. Mempunyai keluarga kecil yang bahagia, apa mungkin ini memang takdirku? Ken takdirku? yang mau menerimaku apa adanya, batin Iska.
Iska hanya tersenyum melihat Ken yang menemani Ana bermain. Tidak lama kemudian Hana datang menghampiri Iska, "Hai ... kamu sudah nunggu lama ya?" sapa Hana pada Iska.
"Ya lumayan sambil menemani Ana bermain kok Bu," ucap Iska.
"Aaah kalian so sweet sekali. Aku senang melihat kalian apalagi kalau sampai hidup bersama membangun keluarga kecil kalian," ucap Hana.
"Ah Bu Hana bisa aja. Doain aja ya Bu biar semuanya di mudahkan," senyum Iska.
"Aku selalu mendoakanmu."
"Hai Hana ... kamu tidak bareng sama Arga?" tanya Ken yang menghampiri Iska dan Hana.
"Apaan? kamu ngajakin Arga juga?" tanya Hana.
__ADS_1
"Iya! kenapa emangnya? bukannya kalian dekat?" tanya Ken.
"Hah! Arga plin plan gak punya kepastian. Tukang ghosting!" jelas Hana. Ternyata Arga sudah berdiri di belakang Hana dan mendengarkan pembicaraan Hana itu.
"Siapa tukang ghosting?" cetus Arga.
Hana berbalik dan kaget karena Arga ada di belakangnya. "Tidak ada!"
"Aku gak plin plan aku juga bukan tukang ghosting, hanya saja wanitanya tarik ulur dan gak mau jawab-jawab," tegas Arga.
"Apa sih!" ucap Hana.
Ken dan Iska hanya tertawa kecil melihat tingkah kedua sahabatnya itu. "Kalian kaya ABG aja! inget umur bukan waktunya main-main," tegas Ken.
"Apasih Ken?" ketus Hana.
"Mending kita cari makan aja yuk. Lanjutin ngobrol sambil makan aja," ide Iska.
"Iya ayo!" Ken setuju.
"Hai Ana cantiknya uncle ...." Arga menggendong Ana.
"Hai uncle tampan dan aunty cantik ...." sapa Ana pada Hana dan Arga.
"Hai cantiknya aunty yang makin menggemaskan!" ucap Hana.
"Kalian udah cocok jadi orangtua! segeralah!" goda Ken.
Arga menatap Hana dan menggodanya. "Aku akan selalu menunggu jawabanmu itu."
"Jangan gombal terus ah!" elak Hana.
Iska tahu betul kalau Hana seperti menghindar terus dari Arga belum siap menerima Arga.
Mereka makan malam bersama dan bercerita-cerita mengobrol penuh canda tawa bercerita masalalu Ken dan Hana saat masa-masa SMA bernostalgia. Tidak terasa makan malam mereka sudah selesai dan mereka pulang. Arga sengaja tidak membawa mobilnya agar bisa pulang dengan Hana. Ken mengantarkan Iska dan Ana pualng ke rumahnya.
"Makasih ya hari ini. Aku dan Ana senang sekali sampai Ana tertidur begitu," ucap Iska.
"Sama-sama. Aku juga senang! biar aku gendong Ana saja ke dalam rumah." Ken menggendong Ana dan membawanya ke dalam rumah. Iska membukakan pintunya dan Ken menidurkan Ana di kamar.
"Makasih ya ...." Iska menyelimuti Ana.
Iska dan Ken berhadapan begitu dekat. "Aku tidak sabar untuk menikah denganmu dan memilikimu seutuhnya Iska."
Ken mendekatkan dirinya pada Iska menatapnya dengan dalam mendekatkan bibirnya pada bibir Iska. Ken ingin mencium Iska sedikit lagi lebih dekat tapi Iska mundur dan menolak malah teringat masalalunya dengan Janu. "Ah sepertinya ini sudah malam, sebaiknya kamu pulang tidak enak sama tetangga."
Ken membuang napasnya dengan lesu. "Baiklah! kamu istirahat juga ya."
"Iya. Kamu hati-hati di jalan," ucap Iska.
Ken melangkahkan kakinya keluar dari rumah Iska dan berlalu pulang dengan mobilnya. Iska menatap kepergian Ken di depan pintu sambil melambaikan tangannya pada Ken. Iska menutup pintunya dan bersih-bersih, setelah iti Iska berbaring di samping Ana yang tertidur. "Kenapa aku malah teringat masalaluku dengan mas Janu? apa karena ada ikatannya dengan Ana makanya malah teringat?"
__ADS_1
⬇️⬇️