
Pada saat pulang ke rumah setelah seharian bekerja, Iska mendapati Ken sudah ada di rumahnya dan sedang bermain bersama Ana.
"Ken kamu disini?" tanya Iska.
"Iya. Aku ingin bicara denganmu!" jawab Ken.
Duduklah!" suruh Iska pada Ken. "Ana mainnya di kamar dulu ya. Ini bawalah! tadi Mama belikan mainan untuk Ana." Ana senang dan berlari menuju ke kamarnya.
"Mau bicara apa?" tanya Iska.
"Aku ingin minta penjelasan yang sejelas-jelasnya darimu. Kenapa kamu malah tidak ingin menikah denganku? kalau memang alasanmu itu masuk akal aku akan terima!" jelas Ken.
Iska membuang napas dengan lesu.
"Baiklah! aku akan bicara yang sebenarnya terjadi. Kalau aku menikah denganmu maka aku akan terhubung kembali dengan masalalu suramku!" jelas Iska.
"Apa masalalu yang mengganggumu? keluarga almarhum suamimu? atau bagaimana?" Ken makin penasaran.
Iska menguatkan hatinya dan berusaha bicara jujur pada Ken. "Aku belum pernah menikah!"
Ken kaget. "Lalu Ana?"
"Ana anakku dari mantan pacarku!" jawab Iska.
"Jadi kamu hamil tanpa menikah? lalu apa hubungannya dengan keluargaku? aku tidak masalah dengan hal itu. Aku sungguh mencintaimu dan juga Ana, aku akan menganggap Ana sebagai anakku sendiri!" tegas Ken.
"Tentu ada hubungannya! Ayahnya Ana adalah mas Janu!" tegas Iska.
Deg!
Ken sangat kaget dengan apa yang Iska bilang antara harus percaya atau bagaimana? mana mungkin Iska berbohong untuk hal sebesar ini.
"Umur Ana sekarang hampir lima tahun dan kak Lia menikah delapan tahun yang lalu? jadi kalian berselingkuh?" tebak Ken.
"Aku tidak tahu kalau mas Janu sudah menikah karena mas Janu bilang kalau dirinya masih melajang," isak Iska.
Ken mengepalkan jemari tangannya yang kekar itu merasa kesal pada Janu yang mengkhianati kakak yang di sayanginya.
"Bahkan mas Janu sudah melamarku waktu itu. Aku percaya dan sangat bodoh saat itu sampai rela menyerahkan kesucianku!" tambah Iska. Iska juga menjelaskan kejadian saat dirinya di labrak oleh Lia.
"Jadi kak Lia juga tahu?"
__ADS_1
"Iya! sampai aku pergi dari Jakarta karena aku tidak tahan dengan gunjingan orang lain yang mengataiku pelakor yang di awali oleh kakakmu menyebutku sebagai pelakor." Iska terduduk menghapus air matanya mencoba berhenti menangis.
Ken beranjak dari duduknya. "Aku tidak ingin percaya semua ini Iska. Tapi, ini sangat rumit!" Ken berlalu pergi.
"Tunggu Ken!" panggilan Iska menghentikan langkah Ken. "Jangan beritahu tentang Ana pada keluargamu apalagi pada mas Janu. Sekarang aku hanya ingin hidup tenang dengan Ana tanpa terlibat lagi dengan masalaluku."
Ken berjalan pergi masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan rumah Iska. Iska terkulai lemas di lantai memeluk lututnya dan menangis tanpa mengeluarkan suara. "Kapan kebahagiaan akan datang padaku? aku lelah."
Iska terbangun dan mencoba kuat, demi Ana. Menghapus air matanya dan menghampiri Ana yang sedang bermain di kamar.
"Bagus gak mainannya?" senyum Iska.
"Bagus Ma. Ana suka sekali," jawab Ana.
"Lanjutkan mainnya ya. Mama mau mandi habis itu kita makan." Iska meraih handuknya dan berlalu mandi setelah itu menyiapkan makan malam untuknya dan Ana.
Pikiran Iska terbagi tidak bisa berpikir dengan jernih apalagi sangat khawatir kalau Ken sampai memberitahu Janu atau Lia soal keberadaan Ana.
Saat malam tiba. Ana tertidur di pangkuannya, Iska hanya menatap keluar jendela yang gelap. Seperti kehidupannya!
"Apa kita pergi saja dari sini Ana? menjual rumah penuh kenangan ini lalu kita memulai hidup baru di luar kota. Hidup tenang tanpa terikat masalalu yang kelam," gumam Iska.
Iska menidurkan Ana menyelimutinya dan Iska juga berbaring di samping Ana. Membawa semuanya ke dalam mimpi, kebahagiaan di depan mata terpaksa hanya akan menjadi mimpi.
Iska berangkat bekerja dengan ojol yang di pesannya. Iska tahu kalau Ken tidak akan kembali lagi menemuinya, Iska tidak berharap apapun dari Ken dan mencoba ikhlas kalau Ken mundur tidak mengharapkannya lagi.
"Kamu tidak di antar Ken?" tanya Arga pada Iska yang bertemu di loby kantor.
"Tidak Pak. Lagipula sepertinya memang kita tidak bisa bersama dan mulai sekarang kita akan menjalani hidup kita masing-masing," jawab Iska. "Saya duluan Pak!"
Arga hanya terdiam dan menyayangkan hubungan mereka yang terjalin lama harus kandas begitu saja. Arga merogoh saku jasnya dan mengambil ponselnya untuk menghubungi Hana memberitahukan apa yang Iska bicarakan barusan.
Saat makan siang tiba, Hana datang ke kantor Arga dan menemui Iska mengajaknya makan siang bersama. Seperti biasanya mereka makan di restoran yang sering mereka datangi. Arga tidak ikut kali ini karena ada janji makan siang bersama client.
"Iska bagaimana? kamu sudah jujur pada Ken?" tanya Hana sambil memakan makanannya.
"Aku sudah jujur semuanya dan semalam Ken pergi tanpa bicara apapun padaku. Hari ini pun tidak menemuiku!" jawab Iska. "Tapi, mungkin inilah yang terbaik. Kita tidak bisa bersama Bu."
"Hemmm aku pikir Ken akan mengerti dan menerima semuanya," ucap Hana.
"Sudahlah Bu. Aku tidak ingin membahas ini lagi! terima kasih selama ini Bu Hana sudah selalu ada untukku dan selalu menjadi tempat curhatku." Senyum Iska.
__ADS_1
"Baiklah! aku harap ke depannya kebahagiaan akan benar-benar menghampirimu!" doa Hana.
"Aamiin Bu. Itu yang selalu aku harapkan," ucap Iska.
Hana seperti kekuatan bagi Iska. Saat terpuruk dan merasa sedih Hanalah yang selalu ada untuk Iska menguatkan dan menyemangati.
...----------------...
Setelah selesai makan siang dengan client, Arga tidak sengaja bertemu dengan Ken di restoran itu. Kemudian menghampiri Ken yang terduduk sendiri tatapannya kosong.
"Heh Ken! sendirian aja?" tanya Arga mengagetkan Ken.
"Mengagetkan saja!" jawab Ken.
"Kamu ngapain ngelamun sendirian disini? apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Arga.
"Tadi habis ketemu client!" jawab Ken.
"Aku tahu apa yang sedang kamu alami saat ini. Apa tidak bisa di perjuangkan lagi cintamu itu?" tanya Arga.
"Terlalu rumit!" jawab Ken.
"Serumit apapun pasti ada jalan keluarnya tanpa menyakiti siapapun!" ucap Arga.
Ken mencerna perkataan Arga itu. "Aku masih bingung dan belum bisa berpikir jernih! aku masih bisa terima kalau Iska selama ini berbohong padaku tentang statusnya. Tapi, aku masih belum terima tentang ayah Ana!"
"Berbohong? status? Ayah Ana?" Arga bertanya-tanya dengan heran.
"Iska belum pernah menikah. Statusnya bukan janda dan ayah Ana itu adalah kakak iparku!" jelas Ken.
"Apa? serius seperti itu keadaan sebenarnya?" kaget Arga.
"Iya!"
"Beneran rumit ternyata!" ujar Arga. "Apa kakak iparmu tahu soal Ana?"
"Belum. Iska melarangku memberitahukannya karena Iska tidak ingin berhubungan lagi dengan masalalunya," jawab Ken.
"Ken, menurutku kamu harus memperjuangkan cintamu itu. Bicarakan baik-baik dengan Iska baiknya harus seperti apa? aku yakin kalian bisa melewati ini semua. Ini ujian cinta kalian! jangan menyerah hanya karena masalalu, Ken!" nasehat Arga.
"Apa yang kamu bilang ada benarnya juga! aku akan bicara lagi dengan Iska dan meminta maaf padanya."
__ADS_1
⬇️⬇️