Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Gunjingan


__ADS_3

Iska terduduk di sofa. Memikirkan apa yang Janu ucapkan barusan itu benar-benar sangat mengganggu pikiran Iska.


"Bagaimana kalau yang di bilang mas Janu nanti terjadi? banyak kebohongan yang aku dan Ken sembunyikan dari orangtuanya Ken," gumam Iska.


Tok! Tok! Tok! terdengar pintu rumah Iska di ketok.


"Mas Janu ada apa lagi sih?" Iska beranjak dari duduknya dan membuka pintu. "Ada apa lagi sih?" Iska emosi.


"Ada apa Iska?" ternyata Sarni yang datang.


"Eh Mbak Sarni. Aku pikir orang lain, masuklah!" ajak Iska.


"Ini Mbak bikin puding tadi. Ini untuk Ana!" Sarni meletakkan puding yang di bawanya di meja.


Sarni melihat kalau Iska sedang tidak baik-baik saja. "Kamu kenapa Ka? apa yang mengganggu pikiranmu?" tanya Sarni.


"Tidak Mbak!" jawab Iska. "Eh iya. Mbak tahu siapa ayah kandung Ana dan tadi ada mas Janu kesini. Aku punya satu permintaan pada Mbak," ucap Iska.


"Mas Janu ayahnya Ana, kan?" tanya Sarni.


Iska hanya mengangguk.


"Permintaan apa?"


"Mbak jangan pernah beritahu siapapun kalau mas Janu adalah ayahnya Ana," Iska memohon.


"Kenapa? apa Ken tidak tahu?" tanya Sarni.


"Mas Janu adalah kakak iparnya Ken mbak," ucap Iska yang membuat Sarni terperangah kaget. "Ken sudah tahu kalau mas Janu adalah ayahnya Ana. Tapi, keluarganya tidak tahu. Jadi aku mohon Mbak jangan beritahu siapapun termasuk mas Janu."


"Baiklah Ka. Mbak mengerti betul dirimu dan perasaanmu. Tapi, seorang anak harus tahu siapa ayah kandungnya apalagi Ana perempuan."


"Aku tahu itu Mbak. Tapi, jangan sekarang. Tunggu nanti saat Ana dewasa dan sudah mengerti semuanya. Aku mohon Mbak bisa merahasiakan semuanya," pinta Iska.


Sarni mengangguk. "Iya. Yang terpenting sekarang adalah kebahagiaanmu dan Ana. Kalian berhak bahagia, Mbak akan senang sekali kalau kalian hidup bahagia. Terlalu panjang penderitaan yang kalian alami selama ini," ucap Sarni dengan terisak. Sarni menghapus airmatanya yang tak terasa mengalir.


Iska memeluk Sarni. "Jangan sedih Mbak. Aku berterima kasih atas semua apa yang Mbak lakukan padaku. Pokoknya doain aja semoga aku dan Ana akan mendapatkan kebahagiaan yang seutuhnya." Iska melepaskan pelukannya dan menghapus airmata di pipi Sarni.


"Eh iya ini ada titipan dari Ken." Iska menyerahkan sekantong penuh belanjaan kebutuhan sehari-hari.


"Sebanyak ini?" tanya Sarni.


"Iya itu semua untuk Mbak sama keluarga," senyum Iska.


"Ya ampun, Ken baik banget ya. Mbak yakin dan percaya kalau Ken akan membahagiakanmu."


Mereka mengobrol-ngobrol menceritakan tentang yang Ana lakukan seharian. Sarni sudah Iska anggap seperti kakaknya sendiri, selalu ada dan bisa menjadi teman curhat juga.


Keesokan harinya ....


Seperti biasa Iska mengantarkan Ana ke rumah Sarni, lalu Iska berangkat bekerja. Iska menunggu Ken karena Ken bilang akan menjemputnya.


"Ken lama sekali!" Iska melihat jam di tangannya.

__ADS_1


Tidak lama kemudian Ken datang.


Tid! Tid! Tid!


Ken membunyikan klaksonnya dan hanya mengeluarkan kepala dari jendela mobilnya. "Ayolah nanti terlambat."


Iska masuk ke dalam mobil Ken. "Kenapa lama? ayolah cepat. Nanti aku terlambat!"


"Santai ... Arga temanku!"


"Kan gak enak sama yang lainnya," ucap Iska.


Ken melajukan mobilnya dan sampai di kantor Arga. Iska buru-buru keluar dari mobil dan masuk ke dalam kantor.


"Hati-hati Iska ... aku juga akan ke dalam mau menemui Arga." Ken mengikuti Iska.


"Ayo jalannya cepet!" pinta Iska.


Iska berlalu ke meja kerjanya dan Ken masuk ke dalam ruangan Arga. Dengan keadaan orang lain sudah mulai bekerja. Iska tidak punya teman akrab di kantor karena kalau makan siang selalu dengan Ken atau Hana, pulangpun selalu di jemput Ken. Makanya orang-orang kantor menganggap kalau Iska pendiam.


"Lihatlah Iska terlambat!"


"Dia datang dengan pria temannya bos."


"Apa benar itu calon suaminya. Kabarnya Iska akan menikah?"


"Kok bisa yah menikah dengan temannya bos? dan dekat juga dengan bos?"


"Apa mereka membicarakanku ya? tatapannya seperti tidak suka walaupun mereka tersenyum padaku," gumam Iska.


Kring .... Telpon di meja Iska berdering.


"Baik pak saya keruangan pak Arga sekarang!"


Iska membawa berkas yang Arga minta keruangan Arga. Disana masih ada Ken tentunya.


"Ini Pak berkas yang di minta." Iska menyodorkan berkasnya. Ken hanya tersenyum memperhatikan Iska.


"Iya bagus. Nanti kamu tolong bimbing anak baru itu ajarkan apa yang mesti dia kerjakan," suruh Arga.


"Baik Pak!" angguk Iska.


"Kalian kaku sekali padahal saling kenal," celetuk Ken.


"Ini kantor bukan di luar," ujar Arga.


"Ya bagus. Sikap propesionalmu keren!" Ken mengacungkan jempolnya.


"Sana pergilah! memangnya tidak ada kerjaan? jam segini masih nongkrong di kantor orang lain," ketus Arga.


Ken melihat jam di tangannya. "Iya aku akan pergi sekarang. Sebentar lagi akan ada meeting!"


"Saya keluar Pak mau melanjutkan pekerjaan." Iska berlalu keluar dari ruangan Arga.

__ADS_1


"Tunggu sayang ...." Ken berlari mengejar Iska dan merangkulnya. "Kamu bekerja yang baik ya! nanti aku jemput. Bye ...."


Ken berlalu pergi dan Iska kembali duduk di meja kerjanya.


Saat makan siang tiba .... Hana datang ke kantor Arga dan mengajak Iska makan siang bersama dengan Arga juga. Mereka pergi ke restoran tempat mereka makan.


"Lihatlah Iska. Begitu akrab dengan pacarnya pak Arga?" ucap salah satu staff.


"Iya. Jalan bertiga berbarengan! aku khawatir pak Arga nanti jatuh cinta pada Iska. Iska lumayan cantik dan seksi juga," jawab staff satunya lagi.


Iska mendengar samar-samar apa yang mereka katakan. Dengan refleks Iska berjalan menjadi di belakang Arga dan Hana. Iska takut kalau orang lain salah persepsi tentang dirinya dan akan menimbulkan masalah.


Saat akan pulang Iska mendapatkan pesan dari Ken kalau dirinya tidak bisa jemput dan menyuruhnya pulang bersama Arga.


"Ah aku akan pesan ojek online aja daripada harus pulang dengan pak Arga," gumam Iska dan langsung memesan ojek online.


Tiba-tiba Arga datang. "Ken bilang tidak akan menjemputmu. Ayo pulanglah bersamaku," ajak Arga.


"Saya sudah pesan ojek online," jawab Iska sambil melihat ponselnya. "Sepertinya sudah dekat."


"Oh ya sudah hati-hati ya. Aku duluan ...." Arga berlalu pergi.


Iska berjalan dan menunggu ojol yang di pesannya di pinggir jalan raya depan kantor. Saat sedang menunggu ojek online, sebuah mobil berhenti di hadapannya dan tentunya Iska tahu mobil siapa itu.


"Hai Iska ..." ternyata itu Janu.


"Ada apa?" ketus Iska.


"Mau pulang? ayo biar aku antar!" ajak Janu membukakan pintu mobil untuk Iska.


"Tidak perlu! aku sudah pesan ojek online," jawab Iska.


"Batalkan saja!"


Ojek online yang Iska pesan sudah datang. "Mbak Iska?"


"Iya Pak. Kemarikan helmnya," pinta Iska.


Abang ojek online memberikan helmnya pada Iska. Dengan buru-buru Iska naik dan menyuruh untuk melaju lebih cepat.


"Iska ...." teriak Janu.


Janu kembali melajukan mobilnya pergi dari tempat itu.


Sontak teman kantor Iska yang berdiri di belakang Iska melihat itu dan membicarakn Iska.


"Itu lelaki siapa lagi ya?"


"Banyak banget sih yang deketin Iska? gue jomblo!"


"Begitu kali yah. Janda lebih menggoda ...."


"Hahaha ... hahaha ...."

__ADS_1


__ADS_2