Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Cek ke dokter


__ADS_3

Iska melakukan pekerjaannya dengan sungguh-sungguh karena Iska tidak ingin mengecewakan Hana yang sudah sangat baik membantunya.


Waktu pulang kerja tiba. Iska menunggu taxi pesanannya di depan kantor untuk sekarang dengan kondisinya yang hamil Iska lebih memilih pakai taxi online daripada ojol karena khawatir pada kehamilannya.


"Pulang dengan siapa?" tanya Ken pada Iska yang hendak pulang juga.


"Saya sudah pesan taxi online Pak. Ini lagi nungguin," jawab Iska.


"Oke baiklah! saya duluan." Ken berlalu pergi dan di susul Hari.


"Bye Iska ..." ucap Hari.


Iska melambaikan tangannya pada Hari. Iska merasa kalau Hari menyenangkan dan nyambung kalau ngobrol.


"Ya ampun bu Hana mengirimiku pesan panjang sekali." Iska membacanya.


[Iska baik-baik ya disana! jangan telat makan dan periksakan juga kehamilanmu rutin ke dokter tiap bulan. Kalau ada apa-apa bilang saja pada Ken gak usah sungkan. Oke ... kalau senggang aku akan menengokmu kesana ...] Isi pesan dari Hana.


"Bu Hana balasan apa yang pantas untuk bu Hana? bu Hana begitu baik padaku dan perhatian juga sudah seperti keluargaku sendiri. Makasih bu!" Iska menghapus air matanya.


Iska menjalani hidupnya di Surabaya seorang diri mbok Mar hanya datang 2 kali seminggu karena jarak rumahnya yang cukup jauh. Iska tidak masalah dengan hal itu karena memang di Jakarta juga Iska hidup sendiri.


Iska mendapatkan teman baru mirip sekali dengan Ayu rekan kerjanya di Jakarta Sita namanya.


"Haiii Iska haiii baby yu kita masuk," ajak Sita pada Iska.


"Tumben sekali udah ada di kantor pagi-pagi? biasanya mepet jam masuk," ucap Iska.


"Aku lagi semangat aja hari ini," jawab Sita.


Mereka berjalan bersama dan berlalu ke meja masing-masing yang berdekatan.


"Semangat bekerja Iska ..." Sita menyemangati.


"Kamu juga!" senyum Iska.


Ken yang baru datang juga membawakan Iska buah-buahan segar satu paperbag. "Ini untukmu ambillah!"


Iska mengambilnya. "Terima kasih pak."


Ken berlalu keruangannya tentu saja kejadian seperti itu jadi pertanyaan bagi Sita.


"Barusan pak Ken beri kamu apa?" tanya Sita.


Iska membukanya. "Emmmh buah-buahan,"


"Hahhh kenapa pak Ken begitu perhatian padamu? kemarin juga memberikanmu makan siang sehat, kan?" Sita penasaran.


"Emang sama yang lain gak pernah?" tanya Iska.


"Engga!"


"Aku juga gak tahu. Ah ini mungkin rezekinya anakku," ucap Iska.


"Aah debay masih dalam kandungan aja udah jadi perhatian bos tampan. Apalagi kalau udah lahir?" goda Sita.


"Sudahlah jangan di perpanjang. Sana kembali ke mejamu dan kerja lagi," suruh Iska.


"Oke ... oke ..."


Kenapa ya pak Ken baik padaku? ah gak boleh geer mungkin karena di suruh bu Hana. Karena kan bu Hana bilang kalau dia menitipkanku pada temannya. Batin Iska.


Iska membuang jauh-jauh pertanyaannya dan bersikap biasa saja seprofesional mungkin.

__ADS_1


Jam makan siang tiba. Ken menghampiri Iska yang masih di meja kerjanya. "Ini makanan sehat untuk ibu hamil jangan makan sembarangan di luar." Ken menyodorkan kotak makanan.


"Terima kasih Pak. Padahal tidak usah saya takut merepotkan Pak Ken," ucap Iska.


"Tidak apa-apa! makanlah. Saya mau makan siang di luar." Ken pergi dengan di ikuti Hari di belakangnya.


"Tidak salah kalau bu Hana mencintai pak Ken. Pak Ken tidak hanya tampan tapi juga sangat baik sekali," Iska tersenyum.


*


Di dalam mobil.


"Bos kenapa perhatian pada Iska?" tanya Hari.


"Karena Hana memintaku memperhatikannya," tegas Ken.


"Oh! bos menyukai bu Hana?" Hari penasaran.


"Tidak! kita bersahabat dari SMA dan banyak kebaikan Hana padaku dari dulu, jadi akan sangat berdosa jika Hana hanya memintaku melakukan hal yang mudah aku menolaknya." Ken pokus kembali pada ponselnya.


Hari hanya mengangguk saja dan mengerti apa yang Ken ucapkan.


Waktu pulang kerja sudah tiba. Ken menghampiri Iska dan mengajaknya pulang bersama. "Pulang saja bersama saya. Kamu tinggal di rumah Hana, kan?"


"Iya saya menempati rumah bu Hana." Angguk Iska.


"Ya sudah ayo!" Ken berlalu pergi.


"Ayo Iska!" Ajak Hari.


Iska menurut dan berjalan bersama Hari mengikuti Ken.


Iska duduk di depan di samping Hari yang menyetir.


"Kamu siapanya Hana?" tanya Ken pada Iska.


"Kenapa Hana begitu baik padamu?" tanya Ken.


"Ya mungkin karena bu Hana merasa iba dan kasihan pada hidup saya," jawab Iska.


Memangnya kenapa dengan hidup Iska sampai-sampai Hana seprotek itu pada Iska. Aku jadi penasaran. Batin ken.


"Percayalah padaku kalau Hana memang tulus baik padamu seperti itu," ucap Ken.


"Iya pak, bu Hana sangat baik sekali manusia berhati malaikat penolong saya yang luar biasa," jelas Iska.


"Dari dulu memang baik!" tegas Ken.


"Iya Pak. Pak Ken juga sama baiknya seperti bu Hana," ucap Iska.


"Aku tidak sebaik Hana," pungkas Ken.


Iska hanya tersenyum dan bisa di lihat bagaimana Ken begitu memuji Hana.


Pak Ken sepertinya memang mencintai bu Hana sama seperti bu Hana mencintai pak Ken. Pikir Iska.


Iska sudah sampai di rumahnya dan tentunya mengucapkan terimakasih. Iska mengajak Ken dan Hari untuk mampir tapi mereka menolak dan berlalu pulang.


Keesokan harinya.


Hari ini adalah hari libur dan Iska memutuskan untuk pergi ke dokter untuk memeriksakan kehamilannya. Dan Iska melaporkan semua kegiatannya pada Hana termasuk rencananya untuk ke dokter.


Iska siap berangkat dan ternyata di depan rumah sudah ada Ken yang menunggu dengan mobilnya. Ken berbeda dari biasanya yang selalu rapih berjas sekarang berpenampilan casual santai.

__ADS_1


"Pak Ken?" kaget Iska.


"Iya saya akan mengantar kamu ke dokter," ucap Ken.


"Pak Ken tahu darimana?" tanya Iska.


"Aku tahu dari Hana. Aku di tugaskan Hana untuk menjagamu disini," jawab Ken.


Kenapa aku gak kepikiran. Pasti bu Hana lah yang memberitahukan Pak Ken. Pikir Iska.


"Ayolah masuk kita pergi." Ken membukakan pintu mobil untuk Iska.


Iska masuk ke dalam mobil Ken dan mereka pun pergi ke dokter. Dokter yang Hana rekomendasikan tentunya. Di dalam mobil mereka tidak banyak bicara sampai ke tempat dokter.


Ken masuk ke dalam ruangan dokter mengikuti Iska. "Tunggu di luar saja Pak biar saya sendiri yang masuk," ucap Iska.


"Aku butuh laporan untuk Hana," jawab Ken.


Iska mempersilahkan Ken untuk ikut walaupun sedikit canggung karena pasti nanti perutku akan di buka bajunya.


"Selamat siang dokter." Iska duduk.


"Emmmh kalian baru pertama kali kesini ya?" tanya Dokternya.


"Iya dokter saya pindahan dari Jakarta," jawab Iska.


"Sepertinya kalian pasangan baru ya? gimana pak perasaannya isterinya hamil?" tanya dokter.


"Tap--"


"Saya senang sekali dok apalagi ini anak pertama." Ken menggenggam tangan Iska.


Apa-apaan ini pak Ken? Hati Iska.


"Wah apalagi kalau anak pertama." Dokter melihat buku kesehatan ibu dan anak yang Iska bawa dari Jakarta.


"Silahkan naik bu," pinta dokter.


Iska naik ke atas ranjang untuk di periksa dan melakukan USG juga. Iska merasa malu saat dokter mengangkat bajunya dan melakukan pemeriksaan karena ada Ken tapi Iska tidak bisa melakukan apapun karena Ken mengaku sebagai suaminya.


Dokter menjelaskan apa yang terlihat di layar pada Ken dan Iska. Usia kehamilan Iska menginjak usia 4 bulan.


Iska terkejut melihat reaksi Ken yang melihat layar terlihat antusias dan senang seperti benar-benar menantikan sebagai seorang ayah.


Pak Ken keren juga aktingnya ternyata. Pikir Iska.


Iska turun dari ranjang dan selesai di periksa, dokter memberikan vitamin-vitamin untuk Iska.


"Semuanya sehat ya pak, bu. Habiskan vitaminnya agar sehat selalu," pesan dokter.


"Baiklah dokter kita permisi pamit dulu," ucap Ken.


"Sampai ketemu lagi bulan berikutnya ya pak, bu."


Iska dan Ken sudah selesai dan mereka berlalu pulang.


Mungkin begini rasanya kalau mas Janu ada di sampingku. Menemaniku periksa kehamilan dan melihat antusiasnya akan menjadi ayah. Tapi itu tidak akan pernah terjadi! Pikir Iska.


"Kau tahu Iska? aku sangat kagum sekali saat melihat bayi di dalam perut ternyata seperti itu. Ah lucu sekali anakmu!" ucap Ken terlihat senang.


"Emmmh tapi kenapa Pak Ken malah mengaku sebagai suami saya?" tanya Iska.


"Nanti dokter akan banyak bertanya kalau aku bilang bukan suamimu," tegas Ken.

__ADS_1


Iska hanya diam dan mereka menjadi canggung. Mereka tidak bicara lagi sampai ke rumah Iska.


⬇️⬇️


__ADS_2