
Sesampainya di rumah sakit ....
Freya langsung mendapatkan penanganan. Entah apa yang terjadi dengan Freya yang sebenarnya.
Ken dan Iska menunggu di luar ruangan. "Semalam aku mendengar Freya seperti sedang marah saat menelpon," ungkap Iska.
"Apa kamu mendengar apa yang dia bicarakan?"
"Tidak jelas sih. Pas aku datang dia langsung berhenti bicara," jawab Iska.
"Kita tunggu saja dokter menyelesaikan pemeriksaan Freya." Ken duduk di samping Iska.
Tidak lama kemudian, dokter keluar.
"Bagaimana keadaan adik saya dokter?" tanya Ken.
"Sepertinya hanya kekurangan cairan. Tapi, saya sudah ambil darahnya untuk di cek. Jadi, tunggu saja ya. Sambil menunggu adiknya sadar juga," jelas dokter. "Saya permisi ...."
"Terima kasih dok,"
Ken dan Iska masuk ke dalam ruangan Freya. Ken menggenggam tangan Freya, "bangun dong Freya. Kamu sebenarnya kenapa?"
Freya menggerakkan jarinya dan kemudian matanya terbuka. "Ah aku dimana?"
"Kamu sedang di rumah sakit. Tadi kamu pingsan, syukurlah kalau kamu sudah sadar," ujar Ken.
Freya mengingat kalau semalam muntah-muntah dan akhirnya pingsan.
"Apa yang terjadi?" tanya Ken.
"Tidak ada apa-apa!" jawabnya lemas.
Freya berbaring menatap langit-langit rumah sakit membayangkan apa yang akan terjadi kalau semua tahu tentang keadaan yang sebenarnya. Tidak lama kemudian dokter membawa hasil pemeriksaan darah Freya.
"Hasilnya sudah keluar Pak. Adik anda sedang hamil, mungkin itu yang membuat kondisinya sangat lemah. Itu sering terjadi pada sebagian ibu hamil."
Iska dan Ken saling bersitatap, tidak percaya dengan apa yang dokter katakan karena Freya belum menikah.
"Saya permisi ya. Mungkin adik anda di rawat dulu disini semalam atau dua malam nanti suster akan rutin mengecek keadaannya." Dokter pun pergi.
Ken menghampiri Freya, ingin sekali marah. Tetapi, keadaannya tidak memungkinkan. Freya memalingkan wajahnya dari Ken dan airmata mengalir dari matanya itu. Iska mencoba menguatkan Ken memegangi bahunya.
"Bilang padaku siapa yang melakukannya?" tanya Ken.
Freya tidak menjawabnya dan hanya menangis.
"Jawab Freya!" Ken menaikan nada bicaranya.
"Ken sabar. Ini tidak akan mudah bagi Freya, jangan memarahinya. Sabar ...." Iska tahu betul apa yang Freya rasakan. Toh dulu Iska mengalaminya dan putus asa sampai ingin mati.
__ADS_1
"Freya lihat aku ...." Ken bicara dengan lembut. "Freya ... beritahu siapa yang melakukannya? aku akan menemuinya dan memintanya untuk bertanggung jawab."
"Dia tidak ingin bertanggung jawab! dia kabur! hiks ... hiks ..." isak Freya.
Ken mengepalkan tangannya merasa marah dan gagal sebagai kakak. "Maafkan Kakak Freya. Kakak gagal melindungimu, tidak bisa menjagamu!" Ken berlari keluar dari ruangan Freya. Iska menyusulnya dan coba menenagkan Ken.
"Ken, saat ini kita jangan memojokkan Freya seperti itu. Yang Freya butuhkan sekarang adalah dukungan, itu sangat penting. Saat-saat seperti ini hanya mati yang terlintas di pikiran."
Ken memeluk Iska. "Dulu, itu yang kamu rasakan?"
Iska melepaskan pelukan Ken. "ya, dan itu sangat berat. Bu Hana lah yang selalu mendukungku dan akhirnya aku bangkit kembali."
"Tapi aku harus tetap mencari siapa lelaki itu dan membuatnya bertanggung jawab," ujar Ken.
"Bertanggung jawab untuk apa?" Suara berat di belakang mereka membuat mereka sangat terkejut. Tentu mereka tahu dari pemilik suara itu.
"Papa ..." ucap Ken.
"Jawab pertanyaan Papa," pinta Hartanto yang datang bersama dengan Ambar juga Tio.
"Bagaimana keadaan Freya, ken?" Ambar terlihat sangat khawatir.
"Ayo kita ke dalam saja dan lihat keadaan Freya." Ken berjalan lebih dulu dan di ikuti yang lainnya.
Freya masih menangis dan kaget melihat Papanya ada disini. Akan menjadi masalah besar kalau Papanya sampai tahu masalah ini. Freya menatap Ken dan menggelengkan kepalanya memberi kode kalau jangan bilang apa-apa.
"Sayang, sebenarnya kamu kenapa?" tanya Ambar.
"Freya, Mamamu bertanya padamu. Apa yang terjadi?" Sentak Hartanto.
Iska melirik pada Ken. "Bicaralah Ken."
Ken mengangguk dan mengumpulkan tenaga untuk bicara yang sebenarnya dan harus siap dengan segala resikonya.
"Freya tidak apa-apa. Hanya dehidrasi saja," Ken tidak mengungkapkan kebenarannya.
Kenapa kamu berbohong Ken? semuanya akan semakin sulit, batin Iska.
"Syukurlah kalau kamu baik-baik saja sayang." Ambar sedikit tenang.
Makasih Kak Ken. Tidak memberitahu Papa yang sebenarnya. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi kalau Papa sampai tahu. Pasti akan sangat marah besar, batin Freya.
"Tapi kenapa kamu malah menangis? ya sudahlah. Papa akan kembali ke kantor, masih banyak urusan yang harus Papa selesaikan." Hartanto berlalu pergi dengan Tio di belakangnya.
Iska menarik Ken keluar dari ruangan Freya. "Apa yang kau lakukan? kenapa malah berbohong? itu akan semakin menambah masalah saja," ungkap Iska.
"Aku bingung harus bicara apa? pasti Papa akan marah kalau tahu yang sebenarnya. Aku akan cari lelaki itu dan membuatnya bertanggung jawab, maka urusannya tidak akan panjang," jelas Ken.
"Darimana kamu akan tahu tentang lelaki itu, sedangkan Freya tidak bilang?"
__ADS_1
"Aku juga bingung harus mulai darimana?"
"Gini aja, kamu kembali ke rumah dan cari tahu di ponselnya Freya. Pasti ada lah tentang pacarnya itu atau kontaknya," saran Iska.
"Itu ide yang bagus. Kamu tungguin Freya sama Mama disini ya, aku pergi dulu. Kalau ada sesuatu, langsung hubungi aku." Pinta Ken. "Muaaach ...." Ken mengecup kening Iska dan berlalu pergi.
"Hati-hati Ken ...."
Iska kembali masuk ke ruangan Freya.
"Dimana Ken?" tanya Ambar.
"Ken ada urusan sebentar katanya. Nanti kesini lagi," jawab Iska. Kemudian duduk di sofa yang ada di ruangan itu. Ia memperhatikan Freya yang bengong dengan tatapannya yang kosong. Tentu ia tahu betul bagaimana perasaan Freya saat ini sebab Iska pernah mengalaminya. Saat seperti itu, Freya hanya perlu kekuatan dari orang-orang sekitar.
Semoga Ken berhasil menemukan lelaki itu, karena lambat laun semua orang akan mengetahuinya, batin Iska.
Seorang perawat mengantarkan makanan untuk pasien. Ambar mencoba membuat Freya makan, tapi tidak berhasil. Freya terdiam seribu bahasa.
"Makanlah sayang ..." bujuk Ambar.
"Biar aku saja yang menyuapi Freya, Ma." Pinta Iska.
"Ya sudah ini." Ambar setuju. "Jagain sebentar ya, Mama mau ke toilet dulu." Ambar berlalu pergi.
Hanya tinggal berdua di ruangan itu. Freya masih tetap tidak inhin makan ataupun bicara.
"Makanlah Freya ..." bujuk Iska.
"Aku tiak lapar!" lirih Freya.
"Aku mengerti betul seperti apa perasaanmu sekarang. Aku pernah di posisimu. Sekarang kakakmu sedang mencari lelaki itu dan akan membuatnya bertanggung jawab. Kamu jangan khawatir ya, Ken sudah mengatur semuanya agar Papa tidak tahu sampai kalian menikah." Iska menjelaskan semuanya.
"Kau tidak mengerti ... Alex tidak ingin bertanggung jawab apalagi menikahiku, hiks ... hiks ...." Ungkap Freya.
"Alex orang yang menghamilimu?" tanya Iska.
"Iya. Aku harus bagaimana? aku mendingan mati saja daripada harus menanggung malu!" cetus Freya.
Iska bangkit dari duduknya dan kemudian memeluk Freya. "Jangan bicara seperti itu Freya. Aku mohon, jangan berpikiran seperti itu. Semua orang sangat menyayangimu, percayalah padaku. Kalau mereka akan menerimamu dengan terbuka dan tidak akan mengucilkanmu!"
"Aku takut ... hiks ... hiks ..."
"Jangan takut Freya, kamu harus kuat." Iska mencoba menenangkannya.
"Kau tahu sendiri bagaimana Papaku, kan? bisa-bisa dia menendangku dari rumah kalau tahu semuanya," ujar Freya.
"Kakakmu sedang berusaha demi dirimu Freya, jadi aku mohon kamu jangan pernah berpikiran apapun. Kau percaya pada Kakakmu, kan?"
Freya hanya mengangguk. Menggatungkan harapannya kepada sang Kakak. Berharap Ken bisa membawa Alex dan mau bertanggung jawab.
__ADS_1
⬇️⬇️