Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Permintaan


__ADS_3

Hari baru dimana Freya sudah lebih baik dan kembali pulang ke rumah. Ken yang menjemputnya dari rumah sakit, Hartanto masih marah. Tidak peduli dengan kesehatan Freya, yang di pedulikan hanya nama baiknya saja.


Tiba di rumah, Hartanto sudah menunggunya di ruang keluarga. Dengan wajah muramnya tanpa menatap pada Freya sedikitpun. Semua orang di panggil termasuk Lia dan Janu. Tegang dan cemas terlihat dari wajah mereka bertanya-tanya apa yang akan terjadi sebenarnya? karena ini bukanlah masalah sepele.


"Kita semua sudah berkumpul disini. Pasti kalian juga tahu apa yang akan aku bahas disini! Ini suatu hal yang sangat memalukan," jelas Hartanto.


"Cepatlah berikan keputusan apa yang akan Papa ambil," ketus Lia bersikap tidak sopan pada Hartanto.


"Jangan seperti itu pada Papamu sayang," timpal Ambar.


"Papa tidak bisa membiarkan Freya melahirkan tanpa ada suami di sisinya."


"Maaf Pa, aku sudah menyuruh Tio dan yang lainnya untuk mencari Alex," ujar Ken. "Bagaimana Tio apa yang kau dapatkan?" tanyanya pada Tio.


"Maafkan saya Tuan Ken, saya tidak berhasil mmbawanya kesini. Sepertinya Alex memang sudah kabur tidak ada lagi di Jakarta," jawabnya sesuai dengan yang Hartanto minta.


Freya terlihat semakin frustasi dan tidak bisa lagi menahan tangisnya itu. "Biarkan aku mati saja ... hiks ... hiks ...."


"Jangan bilang begitu Freya. Tenanglah, semuanya akan baik-baik saja." Iska mencoba menenangkannya.


"Papa sudah punya keputusan yang terbaik. Kau akan menikah! dan harus menerima dengan siapapun kau akan menikah."


"Aku tidak mau Pa. Biarkan saja aku mati," ujar Freya.


"Diam!" teriak Hartanto. "Tio, sudah berapa lama kau bekerja dengan saya?"


"Sudah hampir sepuluh tahun Tuan!"


"Kau ingat bagaimana saya menjadikanmu menjadi seperti ini? dulu kau bukan siapa-siapa!" ujar Hartanto.


"Saya selalu mengingatnya Tuan. Semua kebaikan Tuan tidak akan pernah saya lupakan. Bahkan saya akan bekerja dengan Tuan sampai Tuan menyuruhku berhenti," jawab Tio.


Semua orang merasa heran dengan apa yang Hartanto bicarakan. Tapi, tidak berani untuk bertanya.


"Berhentilah bekerja denganku mulai sekarang!"


"Maksud Tuan saya di pecat?" Tio merasa bingung.


"Nikahi lah Freya!"


Deg.


Tio tertegun dengan apa yang Hartanto putuskan. Tidak hanya Tio, semua orang disana juga merasa kaget dengan apa yang mereka dengar.


"Papa apa-apaan? kenapa harus dia yang harus menikahiku?" Freya akhirnya bicara.


"Memangnya siapa yang akan menikahimu? pacarmu kabur. Kalau pun Papa jodohkan dengan anak kolega-kolega Papa, mereka tidak akan sudi dan hanya akan membuat malu dan mencoreng muka Papa!"

__ADS_1


"Tapi Tuan, saya tidak bisa melakukannya ..." Tio menolaknya.


"Jadi ini balasan kebaikan saya selama sepuluh tahun ini? saya hanya minta satu permintaan dan kamu menolaknya?" Hartanto marah.


"Harga diri! Papa malu! itu saja yang Papa pikirkan. Coba lihat aku. Disini aku yang jadi korban, Papa tidak pernah memikirkanku sedikitpun!" Freya berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya dan di ikuti oleh Iska. "Freya tunggu ...."


"Freya ... mau kemana kamu? kembali! semuanya belum selesai!" Hartanto berteriak.


Lia berdiri beranjak dari duduknya. "Aku pulang! keluarga ini terlalu banyak drama. Aku pusing mendengarnya, ayo Mas kita pulang!" Lia menarik tangan Janu dan mereka berdua berlalu pulang.


Hening.


Semua orang terdiam.


Ken memikirkan keadaan Freya, ide Hartanto tidaklah buruk. Toh Tio orang yang baik dan selalu membantunya juga.


"Tio, aku memohon padamu. Nikahi Freya ...." Ken bicara pada Tio.


"Jangan begini Tuan. Hmmm baiklah saya akan menikahi Non Freya. Saya setuju," ucap Tio dengan mulutnya yang gemetar.


"Terima kasih Tio." Ken memeluk Tio.


"Satu masalah sudah selesai," ujar Hartanto. "Besok bawa keluargamu kemari."


"Baik Tuan." Angguk Tio.


"Sekarang tugasmu bujuklah Freya. Mau tidak mau dia harus menikah dengan Tio, ini adalah yang terbaik untuk Freya!" tegas Hartanto pada Ambar. Lalu kemudian berlalu pergi.


"Terima kasih Tio. Percayalah, kebaikanmu ini akan selalu kami ingat," ucap Ken.


Ambar menghampiri Tio. "Tio, selama ini Tante menganggapmu sebagai anak sendiri. Kamu anak yang baik dan penurut, mungkin ini sangat berat untukmu. Kalau memang kamu tidak menginginkannya, tolak saja. Biar Tante yang bilang pada Papa Freya. Tante tidak ingin malah menghancurkan hidupmu nantinya," Ambar bicara dengan berkaca-kaca.


"Saya menerimanya Nyonya, walaupun berat mungkin ini adalah yang terbaik. Tidak perlu khawatir," jawab Tio.


"Makasih Tio," isak Ambar.


"Kamu pulanglah sekarang, besok bawa keluargamu kesini. kami menunggumu!" suruh Ken.


"Baiklah saya pulang dulu!" Tio berlalu pergi.


Tio berusia 36 tahun, sedangkan Freya masih 25 tahun. Perbedaan yang cukup jauh.


Sementara itu di kamar Freya ....


Iska masih terus membujuknya untuk berhenti menangis.


"Freya, jangan menangis terus. Ingat dengan anak yang kamu kandung," ucap Iska.

__ADS_1


Freya tidak bicara sama sekali. Pikirannya kacau, pacar yang di cintai meninggalkannya dan tidak bertanggung jawab. sekarang di hadapkan dengan masalah baru harus menikah dengan orang yang sama sekali tidak di inginkannya.


"Freya ... apa yang salah dengan Tio?"


"Jadi kamu juga setuju kalau aku menikah dengan kacung itu?" Freya bicara dengan Nada tinggi.


"Freya bukan begitu maksudku. Aku mengerti betul bagaimana perasaanmu sekarang, aku pikir Tio orang yang sangat baik."


"Tuh, kan?"


"Freya dengarlah. Akan sangat sulit kamu menghadapi orang-orang kalau kamu melahirkan tanpa suami. Apalagi keluarga ini keluarga terpandang," ucap Iska.


"Ternyata pikiranmu sama saja dengan Papa!"


"Bukan begitu Freya ... maksudku apa kamu tidak memikirkan anakmu juga?" bujuk Iska.


"Aku akan menggugurkannya!" Freya memukul-mukul perutnya yang masih rata itu.


"Freya jangan!" Iska mencoba menghentikannya lalu memeluk Freya. "Jangan seperti itu Freya. Kamu lihat Ana sekarang? dulu aku juga berpikiran sama denganmu. Aku tidak menginginkannya. Tapi, sekarang aku tidak ingin kehilangannya!" Iska tidak berhenti membujuk Freya.


"Tapi kak Ken selalu ada untukmu, kan? beda ceritanya denganku!"


Bagaimana aku menceritakan semuanya pada Freya. Aku melihat sosok Ken pada Tio, aku sangat yakin kalau Tio bisa menjagamu. Aku tidak mungkin bicara pada Freya kalau Ana bukan anak Ken, batin Iska.


"Tio akan menjadi suami dan ayah yang baik nantinya. Percayalah padaku, kau akan merasa sedih saat orang bergunjing kalau anakmu tidak punya ayah nantinya. Pikirkanlah!" bujuk Iska.


Freya menangis di pelukan Iska sampai akhirnya lelah dan tertidur. Iska menidurkannya dengan benar dan menyelimutinya. "Kenapa nasib kita bisa sama? yang kuat Freya. Semua orang sangat menyayangimu!"


Iska keluar dari kamar Freya dan menemui Ken di ruang keluarga yang masih bicara dengan Ambar.


"Bagaimana Freya sayang?" tanya Ken.


"Dia sudah tidur. Mungkin pengaruh obat juga," jawab Iska.


Ken mendudukkan Iska di sampingnya.


"Tapi, harus ada yang menjaga Freya. Dia berniat ingin menggugurkan kandungannya," ucap Iska.


"Ya ampun Freya. Biarkan Mama saja yang menjaganya, kamu beristirahatlah jangan terlalu cape." Ambar berlalu pergi ke kamar Freya.


"Aku harus ke kantor. Kamu beristirahatlah, kalau ada apa-apa langsung hubungi aku. Muaaach ...."


Iska mengantar Ken sampai ke teras. Disana ada Janu yang baru saja datang, tapi bersembunyi karena melihat Iska dan Ken.


"Aku tidak menyangka kalau Freya mengalami hal yang sama denganku!" ucapnya. "tapi mungkin aku beruntung bisa bertemu denganmu dan sekarang Ana mempunyai ayah yang hebat ini."


"Semuanya adalah takdir! aku pergi ya, bye ...." Ken berlalu pergi dan Iska masuk ke rumah kembali.

__ADS_1


Sedangkan Janu kaget mendengar apa yang Iska ucapkan. "Jadi Ken dan Iska bertemu setelah Iska hamil? berarti benar dugaanku kalau Ana adalah anakku. Aku harus mencari tahu semuanya sendiri!" Janu berlalu pergi dan mengurungkan niatnya untuk bertemu Hartanto.


⬇️⬇️


__ADS_2