
Iska pulang dengan taxi. Ken dan Hari juga sudah selesai berbelanja dan memasukan semua barangnya ke mobil.
"Bos apa langsung pulang aja atau mau kemana dulu?" tanya Hari.
"Langsung pulang saja!" jawab Ken.
"Oke!" Hari melajukan mobilnya.
Alfaro Ken Suardji adalah anak dari pemilik sebuah perusahaan swasta di Surabaya. Ken biasa di panggil tinggal di Surabaya hanya berdua dengan Hari asistennya karena orangtuanya di luar negeri dan kedua kakaknya di Jakarta sudah menikah ikut bersama suaminya.
Kring ....
Ken mengangkat telponnya.
("Haiii Hana") Ternyata Ken adalah temannya Hana.
("Haiii Ken. Temanku sudah di Surabaya dan sepertinya besok dia akan ke kantormu")
("Oke baiklah!")
("Aku titip dia ya. Tolong jagain juga!")
("Iya sesuai dengan apa katamu")
("Makasih Kensu")
Ken mematikan ponselnya. "Hana ada-ada saja! siapa memangnya sampai harus di jagain segala," gumam Ken.
"Siapa bos?" Hari penasaran.
"Teman Hana sudah ada di surabaya," jawab Ken.
"Emmmh cantik gak bos?" goda Hari.
"Mana ku tahu!" ketus Ken.
"Apa secantik perempuan pemilik cd pink tadi. Hahaa ... hahaa ..." ledek Hari.
"Tadi semua gara-gara kamu! aku jadi malu sama perempuan tadi," ketus Ken.
"Kenapa menyalahkanku? aku tidak tahu kalau trolinya tertukar!" ucap Hari.
"Aku harap tidak bertemu lagi dengan perempuan itu akan sangat memalukan kalau sampai bertemu lagi," ucap Ken.
"Iya gimana bos aja deh." Hari pokus menyetir.
⚘
Hari pertama yang melelahkan bagi Iska dan beristirahat lebih awal karena besok pagi sudah harus ke kantor untuk pekerjaan baru.
Iska beruntung karena di kehamilannya ini Iska tidak mengalami ngidam yang berat paling hanya kalau pagi saja merasa mual.
Saat pagi hari Iska memulai paginya dengan mual dan terkadang muntah juga, teh hangat yang jadi penyembuhnya.
Iska pergi ke kantor Ken dengan taxi yang di pesannya secara online. "Aku harap pekerjaan baruku akan lebih baik dan bertemu dengan orang-orang baik juga."
__ADS_1
Iska memasuki kantor. "Mbak saya mau bertemu dengan pak Alfaro," ucap Iska pada recepsionis disana.
"Sudah ada janji sebelumnya?" tanyanya.
"Sudah," senyum Iska.
"Oh silahkan ke lantai 15 disana ruangannya tunggu saja disana sepertinya belum datang," suruhnya.
"Oh iya terimakasih mbak." Iska pergi menuju lift.
Iska menunggu lift terbuka cukup lama. Setelah terbuka Iska masuk saat pintunya hendak tertutup ada yang menghentikannya ternyata itu Ken dan Hari yang baru datang.
Iska kaget saat melihat Ken dan menundukan kepalanya agar Ken tidak mengenalinya.
Ya ampun ternyata orang ini kerja disini juga. Ih kenapa harus ketemu lagi sih? kan malu. Semoga aja beda gak satu tujuan. Batin Iska.
Tring.
Ternyata Ken dan Hari keluar di lantai yang sama.
Hah sama ternyata aduh malu banget lah. Hati Iska.
Iska memelankan jalannya dan membiarkan Ken dan Hari pergi lebih dulu. "Hahhh untung gak liat aku." Iska mengelus dadanya dan bertanya kembali.
"Maaf Mbak saya mau bertemu pak Alfaro saya nunggunya dimana ya?" tanya Iska.
"Oh baru aja masuk keruangannya. Disana sebelah sana masuk saja." tunjuk Staffnya.
"Makasih ya Mbak." Iska menuju ruangannya.
Tok! Tok! Tok! Iska mengetuk pintu ruangan Ken.
"Masuk!" suara dari dalam ruangan.
Iska masuk ke dalam ruangan Ken dengan menundukan wajahnya tapi sepertinya itu gagal karena Ken mengenalinya.
"Kamu orang yang kemarin, kan?" tanya Ken.
Iska menarik nafas panjang. "Hmmm iya pak."
"Sudah lupakan! ada perlu apa ya?" tanya Ken.
"Saya di suruh bu Hana menemui pak Alfaro," jawab Iska.
"Iya saya sendiri. Panggil saja saya pak Ken seperti yang lainnya," suruh Ken. "Jadi kamu yang di rekomendasikan Hana?" tanya Ken.
"Iya Pak," angguk Iska.
"Mana lihat berkas-berkasmu," pinta Ken.
Iska menyodorkan berkas-berkasnya dan Ken melihat semuanya. "Ya bagus. Kamu boleh bekerja disini lagian Hana sudah merekomendasikan kamu," ucap Ken.
"Terimakasih Pak," Iska senang.
"Hari tolong kamu antarkan Mariska ke bagian HRD dan urus semuanya tempatkan dia sesuai kemampuannya," suruh Ken pada Hari.
__ADS_1
"Baik bos!" angguk Hari.
"Tapi pak tunggu dulu apa yang bu Hana beritahu pada Bapak tentang saya?" tanya Iska.
"Ya kamu membutuhkan pekerjaan karena suami kamu meninggal gitu aja," jawab Ken.
"Emmmh sebenarnya saya lagi hamil juga Pak," ucap Iska hati-hati.
"Hamil?" kaget Ken.
"Apa Bapak keberatan kalau saya bekerja disini karena hamil?" tanya Iska khawatir.
"Tidak! tapi apa kamu bisa bekerja dengan kondisimu itu? saya tidak mau loh pekerjaan ke ganggu, kuat gak?" jelas Ken.
"Bisa Pak saya bisa bekerja saya sehat dan juga kuat ko," jawab Iska.
"Ya sudah sana pergi bersama Hari. Kerja yang bener jangan karena Hana merekomendasikanmu kamu akan di perlakukan beda, akan sama saja dengan yang lainnya!" jelas Ken.
"Baik terima kasih pak." Iska membungkukan badannya dan kemudian pergi mengikuti Hari.
"Oh jadi ini alasannya kenapa Hana suruh aku menjaganya karena dia sedang hamil. Kasihan juga sih saat hamil dan suaminya meninggal," gumam Ken.
Iska dan Hari menuju ruangan HRD sepanjang berjalan mereka ngobrol-ngobrol.
"Kenalin nama saya Hari. Saya asisten pribadinya pak bos," senyum Hari.
"Nama saya Mariska panggil saja Iska," jawab Iska.
"Oh Iska. Kerja yang bener soalnya bos orangnya ferfectsionis banget. tapi tenang aja orangnya baik banget kok," ucap Hari.
Hari mengantarnya sampai ke HRD dan menemani Iska sampai selesai di wawancarai dan akhirnya Iska mendapatkan pekerjaannya. Hari mengantarkan Iska menuju ke meja kerjanya.
"Semangat ya kerjanya," ucap Hari.
"Terima kasih Pak," angguk Iska.
"Panggil aja Hari aku belum bapak-bapak," senyum Hari.
"Iya Hari. Eh tunggu emmh pak Ken teman SMAnya bu Hana, kan?" tanya Iska.
"Iya bener. Kenapa?" tanya Hari.
"Oh engga nanya aja," ucap Iska.
"Kalau gitu aku balik kerja lagi ya." Hari pergi.
Sepertinya Hari memang orang baik juga dan menyenangkan.
"Hemmm semoga hariku kedepannya selalu baik dan berkah juga di kelilingi orang-orang yang baik," doa Iska.
"Sepertinya pak Ken teman bu Hana yang di tandai love deh di buku memories SMAnya," pikir Iska.
"Mereka cocok sekali cantik dan tampan. Apa mereka pacaran ya sebenarnya? ah jangan di pikirkan aku harus pokus bekerja dan jangan ikut campur urusan pribadi mereka." Iska memulai pekerjaannya dengan senyuman di wajahnya.
Iska bersyukur bisa di pertemukan dengan orang-orang baik di perjalanan hidupnya yang tidak mudah ini. Tanpa mereka, Hana tentunya sepertinya Iska sudah mengakhiri hidupnya karena masalah yang menimpanya.
__ADS_1
⬇️⬇️