
Iska tidak makan banyak, pikirannya entah kemana perasaannya tidak karuan.
"Emmmh saya permisi ke toilet dulu ya." Iska berlalu pergi.
Lia yang melihat itu langsung menyusul Iska. "Aku juga ingin mencuci tanganku!"
Janu tidak bisa menghentikan Lia karena sedang berbicara dengan mertuanya membicarakan bisnis yang Janu jalani.
Aku harap Lia tidak melakukan apapun pada Iska, batin Janu. Sedangkan Ken bersikap biasa saja karena memang Ken tidak tahu soal itu.
Lia berdiri di depan pintu toilet menunggu Iska keluar. Tidak lama kemudian Iska keluar dan di sambut oleh Lia.
"Hah kamu masih hidup rupanya. Aku pikir kamu sudah mati bunuh diri," ejek Lia.
"Permisi Mbak saya mau lewat," ucap Iska datar.
"Heh inget ya jangan pernah deketin mas Janu lagi. Sebenarnya aku ingin sekali membongkar masalalumu yang bejat itu. Tapi, aku pikir akan seberani apa kamu mengakuinya pada Ken?" ujar Lia.
"Sudah Mbak. Aku tidak ingin terhubung lagi dengan masalalu, jadi Mbak jangan ikut campur urusanku!" tegas Iska.
"Awas ya kalau sampai aku melihatmu mendekati mas Janu atau genit sama mas Janu aku tidak akan segan-segan bongkar semuanya di hadapan Papa," ancam Lia.
"Mbak harus tahu ya aku gak sudi dekat dengan lelaki seperti itu. Hanya melihatnya saja aku sudah muak!" tegas Iska.
"Ya bagus kalau gitu. Tapi, sekali pelakor tetap selamanya akan jadi pelakor!" Lia pergi.
Iska membuang nafasnya dengan berat merasa kalau kebahagiaan yang selama ini di bayangkannya musnah. Iska tidak ingin terhubung lagi dengan masalalunya karena takut berakibat pada Ana.
Aku harap Ken tidak membahas Ana di hadapan mas Janu. Aku tidak ingin mas Janu tahu kalau mas Janu punya anak dariku. Batin iska.
Tiba-tiba Tio muncul. "Kamu kenal sama Mbak Lia? kelihatannya ngobrol akrab?" tanyanya pada Iska.
"Ah tidak! Hanya sedikit mengobrol saja, saya duluan Pak." Iska berlalu pergi.
Iska kembali bergabung bersama yang lainnya di meja makan. Ternyata disana sudah ada Freya yang baru saja pulang. "Kamu?" kaget Iska.
"Hah siapa ya?" tanya Freya.
"Kita pernah bertemu di supermarket tempo hari. Aku yang menemukan dompetmu waktu itu," ucap Iska. Iska mengulurkan tangannya pada Freya.
"Emmmh ya aku sedikit lupa," ucap Freya tanpa menghiraukan Iska yang mengajaknya bersalaman.
Iska menarik kembali tangannya dan kembali duduk.
"Aku ke kamar ya. Aku lagi diet gak makan malam!" Freya pergi ke kamarnya.
"Dia adikku Freya. Dia memang begitu tapi dia orangnya baik kok. Mungkin karena belum kenal," ucap Ken.
__ADS_1
Iska hanya tersenyum dan menyimak orang-orang mengobrol. Walaupun sebenarnya Iska merasa tidak nyaman berada disana.
"Papa keruangan kerja Papa ya." Hartanto pergi di ikuti oleh Tio.
"Kita lanjut ngobrol di ruang tamu saja Mas," ajak Ken pada Janu.
"Baiklah!" Ken, Janu dan Lia berlalu pergi ke ruang tamu.
"Ayo Iska," ajak Ken.
"Aku disini saja menemani Tante dan mengobrol bersama Tante," ucap Iska. "Jangan terlalu malam ya kita pulangnya kasihan Ana pasti menungguku."
"Oh ya oke sebentar lagi ya ...." Ken berlalu ke ruang tamu. Sedangkan Iska tetap disana mengobrol bersama Ambar.
"Ah ini sudah waktunya Tante tidur. Kamu bergabung saja dengan yang lainnya, Tante mau ke kamar istirahat." Ambar berdiri dari duduknya.
"Iya Tante silahkan. Selamat malam Tante selamat istirahat ...."
Iska berjalan menuju ruang tamu dengan langkah yang berat dengan pikirannya yang tidak karuan.
"Nona, Tuan besar ingin bicara denganmu!" ucap Tio yang berdiri di hadapan Iska.
Tio berjalan lebih dulu dan Iska mengikutinya, sampai tiba di sebuah ruangan dengan rak penuh buku dan Hartanto terduduk di kursi kerjanya di balik meja.
"Duduklah!" suruh Tio pada Iska.
"Ambillah!" Hartanto memberikan secarik kertas pada Iska.
Iska mengambil kertas itu. sebuah kertas cek kosong yang Hartanto berikan pada Iska. "Apa ini? untuk apa?" tanya Iska heran.
"Isi sesuai yang kamu inginkan. 100juta, 200juta, 500juta atau bahkan 1 milyar?" ucap Hartanto.
"Untuk apa?" Iska heran.
"Ya untukmu. Pergi jauh dan jauhi anak saya!" tegas Hartanto.
Deg!
Apa yang Iska dengar itu membuat hatinya seperti teriris. Papa Ken menganggap kalau Iska menikah dengan Ken hanya karena harta Ken saja.
"Apa maksud Bapak sebenarnya? Bapak berpikir kalau saya mau menikah dengan Ken hanya karena uang?" tanya Iska sedikit emosi.
"Memang apalagi yang kamu mau? uang bukan?" ketus Hartanto.
"Saya tidak menyangka kalau pikiran Bapak sependek itu," jawab Iska.
"Saya tahu tentang kamu semuanya! kamu hidup tidak punya keluarga dan anakmu tidak memiliki ayah? kamu tidak pernah menikah!" tegas Hartanto.
__ADS_1
Deg!
Ternyata Hartanto tahu semuanya.
Apa Papa Ken tahu juga kalau ayah anakku adalah Janu menantunya yang di banggakan itu? batin Iska.
"Tahu semuanya?" tanya Iska hati-hati.
"Iya! itu sesuatu yang sangat mudah untukku. Kamu hanya pelakor dan melahirkan anak haram itu. Dan lebih kasihannya pacarmu itu lebih memilih isterinya, kan?" Hartanto semakin menghina Iska.
"Cukup Pak! cukup hina saya saja jangan dengan anak saya. Anak saya tidak tahu apa-apa! Bapak tidak tahu yang sebenarnya terjadi seperti apa. Saya hanya korban saya bukan pelakor juga. Kalau Bapak sudah selesai bicara biarkan saya pergi saya mau pulang," ucap Iska kesal.
"Silahkan! pintu rumah ini terbuka lebar untuk kamu keluar!" tunjuk Hartanto pada pintu. "Perlu di ingat satu hal lagi. Saya tidak akan pernah membiarkan Ken menikahimu! menikahi wanita yang salah," jelas Hartanto.
Iska keluar dari ruangan itu tanpa bicara apa-apa lagi. Tio memperhatikan Iska dan mengikutinya keluar.
"Tunggu Iska!" panggil Tio.
Iska menghentikan langkahnya dan berbalik melihat pada Tio. "Ada apa lagi?"
"Ada satu hal yang tidak aku beritahu pada Tuan. Yaitu Janu ayah anakmu!" ucap Tio.
Iska kaget ternyata Tio mengetahui semuanya. "Kamu tahu darimana?"
"Karena aku yang menyelidiki dan mencari tahu semua masalalumu," ujar Tio.
"Hahhh! masalalu hanya masalalu. Terserahlah pada kalian aku tidak peduli ...." Iska berlalu pergi meninggalkan Tio.
"Kenapa Iska? padahal maksudku baik. Malah aku tidak memberitahu Tuan besar tentang Janu. Hahhh malah aku yang pusing ..." grutu Tio.
Iska menghampiri Ken di ruang tamu yang masih mengobrol bersama Janu dan Lia. "Sepertinya ini terlalu malam Ken, aku harus pulang."
Ken melihat jam di tangannya. "Baiklah ayo kasihan Ana pasti menunggumu." Ken beranjak dari duduknya. "Aku mengantar Iska pulang dulu ya."
"Selamat malam ...." pamit Iska.
Ana? siapa Ana? bukannya Iska sebatang kara tidak punya siapa-siapa lagi? batin Janu merasa heran.
Di dalam mobil ....
Iska hanya menatap jalanan malam terdiam tanpa bicara apapun.
"Apa yang mengganggu pikiranmu Iska?" tanya Ken.
"Ah tidak ada. Aku hanya kepikiran Ana saja," jawab Iska.
Apa aku sanggup melanjutkan hubungan ini. Sikap Freya padaku tidak bersahabat, ancaman Papanya Ken dan Mas Janu apalagi Mbak Lia. Mana mungkin aku masuk ke dalam keluarga Ken? Apa aku mundur saja dan membatalkan pernikahan ini? aku tidak ingin berhunungan dengan masalalu lagi. Batin Iska.
__ADS_1
⬇️⬇️