
Iska berusaha mengontrol emosinya sebisa mungkin, kecemasan terlihat jelas di wajahnya. Ia hanya mondar mandir di dalam kamar menunggu kepulangan Ken dari kantor.
"Apa ini akhir dari kebohongan aku dan Ken yang selama ini di sembunyikan? ya Tuhan. Aku sudah mulai merasakan ketenangan, tapi sekarang mas Janu malah sudah tahu dan tentu saja dia tidak akan tinggal diam."
Iska benar-benar hanya berdiam di kamar sampai akhirnya Ken pulang dari kantor.
"Sayang ... apa kamu lelah sekali? kata Mama, kamu tidak keluar-keluar dari kamar." Ken tiba-tiba datang.
Dengan tergesa-gesa, Iska menutup pintu dan menguncinya. Ken dapat melihat kalau istrinya sedang tidak baik-baik saja. "Kamu kenapa?" tanyanya sembari mendudukkan Iska di sofa.
Iska hanya menatap Ken dengan nanar dengan mata yang berkaca-kaca tanpa mampu untuk bicara.
Ken mengambil gelas berisi air mineral di atas meja, "minumlah!" ia memberi Iska minum. Meletakkan kembali gelas itu dan berusaha tenang mengorek apa yang terjadi sebenarnya pada istrinya itu.
"Iska, apa yang terjadi denganmu? aku tahu kalau kamu tidak lah sedang baik-baik saja!" tanya Ken begitu lembut.
Iska memeluk Ken dengan erat dan menangis di pelukannya. "Mas Janu ..." lirihnya.
"Ada apa dengan mas Janu?" tanyanya perlahan.
"Tadi dia datang kemari dan menunjukkan surat hasil tes DNA!"
"Tes DNA?" Ken melepaskan pelukan Iska dan menatapnya penuh tanda tanya. Iska hanya mengangguk dengan mata yang terus saja berair.
"Apa mas Janu tahu soal Ana siapa?"
"Iya!" jawabnya pelan.
Ken menunduk dan helaan napas begitu terdengar jelas keluar dari mulutnya. Ia mencoba mengontrol keadaan agar tidak terjadi hal buruk ke depannya. Ia mengangkat kepalanya sembari menatap kepada Iska yang masih saja menangis tanpa suara itu. "Kamu tenang saja, tidak akan terjadi apa-apa!"
"Bagaimana aku bisa tenang Ken? mas Janu bicara ingin haknya sebagai seorang ayah. Aku tidak ingin sampai dia merebut Ana dariku, bagaimana jika Papa tahu tentang hal ini?" tanya Iska.
Ken memeluk Iska dengan erat. "Jangan di pikirkan, kamu sedang hamil ingat itu. Aku yang akan memikirkan semuanya dan mencari jalan keluar yang terbaik. Tenanglah!" Ken menguatkan.
Apapun yang akan terjadi, Iska hanya takut kalau anak perempuan kesayangannya itu di rebut oleh Janu ayah kandungnya. Iska merasa lelah dan memilih untuk berbaring, makan malampun ia hanya di kamar di bawakan oleh Ken.
"Iska, makan dulu ya. Kasian nanti anak kita kalau sampai kamu tidak makan." Ken meletakkan nampan yang di bawanya di atas meja kemudian menghampiri Iska di tempat tidur dan membujuknya.
__ADS_1
"Aku masih kepikiran semuanya ..." lirih Iska.
"Jangan terlalu khawatir, tenang saja. Ada aku yang akan mengatasi semuanya. Sekarang makan dulu ya?" bujuknya. Iska hanya mengangguk tanda setuju.
"Apa yang akan kamu lakukan?" tanya Iska.
"Emmmh ... kita bicarakan baik-baik pada mas Janu tentang semuanya dan aku jamin Papa tidak akan tahu hal ini!" jelas Ken.
"Sesuatu yang di sembunyikan pasti suatu saat akan terbongkar juga Ken. Sepertinya aku memang harus siap tentang itu," ucap Iska sembari mengunyah makanan yang Ken suapi dengan perlahan.
"Jangan terlalu di pikirkan! apapun yang terjadi, aku akan selalu berada di sampingmu walaupun itu harus menentang ayahku sendiri!" tegas Ken.
Iska tersenyum, ia sangat beruntung mendapatkan suami yang begitu menyayanginya lebih dari segalanya. "Apa kamu makan banyak malam ini?"
"Ya, seperti biasa. Kau tahu sendiri perutku tidak bisa menampung banyak makanan," Ken tersenyum.
Suasana mulai mencair, Iska sedikit lebih tenang dan makan dengan lahap.
Keesokan harinya ....
Pagi hari sekali, Janu sudah berada di rumah Ken menunggunya di ruang kerja Ken seperti yang Ken perintahkan pada pelayan.
"Hmmm ... aku yakin kalau Iska sudah cerita semuanya padamu tentang kemarin," cetusnya.
Ken duduk di kursinya menatap Janu dengan penuh amarah di matanya. "Lalu ... apa yang kau inginkan?" tanyanya santai.
"Hanya satu inginku, berikan aku hak sebagai seorang ayah!" jawabnya.
"Apa kau yakin?"
"Maksudmu?" Janu heran.
"Apa kak Lia tahu soal status Ana?"
"Aku akan memberitahunya nanti saat Ana kembali bersamaku ke rumahku!" tegas Janu. Benar apa yang Iska pikirkan, kalau Janu ingin mengambil Ana dari tangannya.
"Apa kau pikir kak Lia akan menerimanya begitu saja? sudahlah, biarkan Ana tetap bersama kami. Kau boleh jika ingin menemuinya, tapi aku minta jangan sampai ini sampai pada telinga Papa! aku harap kau bisa mengerti dengan apa yang aku maksudkan?" jelas Ken.
__ADS_1
Janu terlihat berpikir. Apa yang Ken ucapkan ada benarnya, Lia tidak akan dengan mudah menerima itu semua dan Papa mertuanya juga bisa saja mencoret dirinya dari daftar keluarga. Tetapi, ia tetap kekeh ingin haknya utuh sebagai ayah Ana.
"Tidak! Aku akan tetap perjuangkan hakku dan Lia akan mengerti tentang semua ini. Kami sudah lama menantikan seorang anak dan ini adalah jawabannya. Tunggu saja, aku akan membawa Lia kesini untuk menjemput Ana!" Janu bangkit dari duduknya dan berlalu pergi dari ruangan kerja Ken.
Ken menundukkan kepalanya, helaan napas yang begitu berat menandakan kalau semuanya tidaklah mudah.
"Aku harap tidak akan ada masalah besar nantinya!" Ia bangkit dari duduknya dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Iska tidak tahu soal kedatangan Janu pagi ini.
Ia turun untuk sarapan bersama yang lainnya, di wajahnya sangat terlihat jelas tergambar kalau dirinya tidak baik-baik saja.
"Apa kamu sakit, sayang?" tanya Ambar.
"Ah tidak Ma, hanya sedikit lelah saja," jawabnya.
"Ya udah, jangan banyak beraktifitas ya. Banyakin istirahat, apa kita ke dokter?" tanya Ambar.
"Aku hanya butuh istirahat saja, tenang saja Ma." Iska tersenyum.
"Baiklah, kalau ada apa-apa bilang sama Mama."
Mereka hanya makan berdua karena Ken dan Hartanto sudah berangkat ke kantor. Selesai sarapan Iska kembali ke kamarnya untuk beristirahat kembali, hatinya masih belum tenang walaupun Ken selalu menguatkannya. Ana pergi sekolah di antar oleh Ambar.
"Ketakutanku selama ini terjadi juga ... aku tidak tahu apa yang akan terjadi jika Papa mertuaku tahu soal Ana. Bukan hanya satu kebohongan, tapi banyak kebohongan lainnya," gumam Iska. Ia tahu betul bagaimana Papa mertuanya itu, tidak ada yang bisa menentangnya.
Di sekolah Ana ....
Ambar selalu senang setiap mengantarkan Ana sekolah, bisa beraktifitas di luar rumah dan bertemu dengan wali murid yang lain sehingga menambah teman. Saat akan pulang sekolah, Janu sudah berada di depan sekolah Ana sedang menunggu Ana.
"Mama ..." panggil Janu.
"Eh Janu, kamu disini?" tanya Ambar.
"Iya, tadi lewat sini dan aku ingin bertemu dengan Ana. Emmmh kita makan siang yuk Ma?" ajak Janu.
"Oh ayok boleh banget ..." Ambar setuju. Mereka pergi kesebuah kafe di dekat sekolahan Ana. Janu senang karena ada kesempatan bisa bersama Ana memeluk dan menggendongnya.
"Ah Mama senang melihat kamu begitu menyayangi Ana. Semoga kamu sama Lia bisa segera mempunyai anak, itu selalu menjadi doa Mama untuk kalian."
__ADS_1
Ana anakku, makanya aku begitu menyayanginya. batin Janu.