Asmara Sang Pelakor

Asmara Sang Pelakor
Tidak bisa di sembunyikan


__ADS_3

Ken kembali ke rumah dan mencari petunjuk tentang Alex di kamar Freya. Mengambil ponsel Freya yang tergeletak di tempat tidur, menghubungi kontak dengan nama Alex tapi tidak nyambung. Ken mencoba menghubunginya dengan ponsel miliknya, sama saja hasilnya.


"Aku harus cari Alex kemana?" gumam Ken.


Saat di teras rumah, Ken bertemu dengan Tio. Ia melihat Ken seperti orang yang kebingungan.


"Tuan Ken kenapa? mungkin ada yang bisa saya bantu." Tio menawarkan diri.


"Emmh apa kamu tidak sibuk sekarang?"


"Saya sedang beristirahat," jawabnya.


"Bukankah waktu malam itu kamu yang menyelamatkan Freya?" tanya Ken.


"Iya benar. Ada apa sebenarnya dengan non Freya?"


"Freya hamil! kamu jangan beritahu Papa dulu." Ungkap Ken.


Tio terlihat kaget. "Lalu apa yang perlu saya bantu?"


Sepertinya Tio bisa di andalkan. Aku harus minta bantuannya, batin Ken.


"Bantu saya cari alex. Orang yang sudah menghamili Freya ..." suruh Ken.


Apa mungkin lelaki yang waktu itu ya? batin Tio.


"Beri saya waktu sampai besok. Saya yakin besok akan menemukannya dan membuatnya bertanggung jawab." Tio setuju.


"Jangan bilang pada Papaku dulu. Pasti Papa akan marah pada Freya, sedangkan mentalnya sedang tidak sehat. Aku sangat mengandalkanmu," ucap Ken.


"Tenang saja Tuan. Saya akan selalu membantu keluarga ini," angguk Tio.


"Kalau begitu saya pergi ke kantor dulu. Kalau ada apa-apa hubungi saya." Ken berlalu pergi.


***


Di rumah sakit.


Iska dan Ambar masih menjaga Freya. Kondisinya masih belum stabil karena tidak mau makan samasekali membuat Iska dan Ambar khawatir.


"Makan ya sayang ... Mama suapin." Ambar menyendok makananya.


"Aku tidak ingin makan Ma," jawab Freya.


"Biar aku saja yang menyuapi Freya. Mama istirahatlah makan siang. Nanti giliran denganku," suruh Iska.


"Kalau gitu Mama beli makan siang dulu ya, biar nanti makannya disini aja bareng-bareng. Kamu jagain Freya ya ...." Ambar berlalu pergi.


"Bagaimana? apakah sudah ada kabar dari kak Ken?" tanya Freya lirih.

__ADS_1


"Ken masih belum menghubungiku. Jangan khawatir pasti semuanya akan baik-baik saja. Sekarang kamu harus makan, jangan menyiksa dirimu seperti ini Freya. Lihatlah Mama, ia begitu khawatir padamu." Bujuk Iska seraya meyuapi Freya. Ia membuka mulutnya dengan perlahan, memakan makanannya.


"Kenapa kamu masih baik padaku? sering kali ucapan ataupun perilakuku menyakitimu," tanya Freya.


"Tidak masalah. Mungkin karena kita belum saling kenal secara jauh saja," jawab Iska sambil terus menyuapi Freya.


"Sudah! aku tidak ingin makan lagi," ujar Freya.


"Baiklah! Tidak apa-apa. Setidaknya sudah masuk beberapa suap." Iska meletakkan piringnya di meja samping ranjang.


Freya menggenggam tangan Iska. "Aku sangat takut Iska."


"Kau harus percaya pada kakakmu semuanya akan baik-baik saja."


"Jangan bicarakan hal ini pada Papa. Dia pasti akan marah besar padaku, mungkin saja bisa membunuhku juga!" lirih Freya.


"Jangan terlalu di pikirkan. Tenanglah! itu tidak baik untuk bayi yang kau kandung."


Bugh .... Suara pintu terbuka sangat kencang. "Ternyata kamu hamil Freya? bagaimana bisa padahal kamu belum menikah?" ternyata itu Lia yang datang.


"Kak Lia ..." lirih Freya.


"Memalukan sekali!" ketus Lia.


Freya hanya terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan kakaknya itu.


"Kenapa diam saja? apa Papa tahu?" Lia terus saja bertanya.


"Apa kau membelanya? apa karena kamu punya teman yang senasib sepertimu? dia sudah mencoreng nama baik keluarga!" Lia meninggikan suaranya.


"Stop Kak Lia, stop! aku sadar betul sudah mencoreng nama baik keluarga, tapi jangan memojokkanku seperti itu. Aku tidak tahan!" teriak Freya.


Lia bersikap seakan bukan kepada adiknya sendiri. Tidak menunjukkan rasa kasih sayang sedikitpun. Sepertinya darah sang Papa mengalir lebih banyak di tubuhnya.


Tidak lama kemudian, Ambar kembali dari membeli makanan.


"Kamu kesini sayang?" sapa Ambar pada Lia.


"Mama tidak memberitahuku. Aku tahu dari pelayan di rumah! apakah memang kalian semua tidak menganggapku keluarga lagi?" ketus Lia.


"Lia kamu kenapa sih?" Ambar merasa heran.


"Mama terlihat biasa saja, tidak khawatir sedangkan Freya hamil di luar nikah seperti itu," ungkap Lia.


Iska dan Freya saling tatap, kaget dengan apa yang Lia katakan.


Ambar lebih kaget lagi dan menjatuhkan kresek yang di pegang di tangannya. Lalu menghampiri Freya, "apa benar yang Kakakmu bilang itu. Jawab Freya ...." Ambar menangis.


Freya hanya menangis tidak menjawab apa yang di tanyakan Mamanya itu.

__ADS_1


"Iska, apa kamu mengetahuinya?" tatapnya pada Iska.


"Oh jadi mereka semua menyembunyikan hal sebesar ini dari Mama? keterlaluan," Lia malah memanasi Ambar.


"Maaf Ma. Kami berniat akan bicara pada Papa dan Mama saat kami sudah menemukan orang yang menghamili Freya. Sekarang Ken sedang mencarinya," jelas Iska.


Ambar terkulai lemas di lantai. Hanya bisa menangis, "kenapa Freya? kenapa bisa terjadi seperti ini? hiks ... hiks ..."


Iska membangunkan Ambar dan mendudukkannya di kursi. "Jangan menangis Ma. Kita serahkan semuanya pada Ken, pasti semuanya akan baik-baik saja."


"Jangan bilang dulu sama Papa ya. Pasti Papa akan sangat besar!" pinta Ambar.


"Jadi, Papa belum tahu? biar aku yang beritahu!" Lia berlalu pergi meninggalkan ruangan Freya.


Ambar mengejarnya. "Jangan Lia, jangan."


"Mama, jangan berlari seperti itu!" Iska juga ikut berlari. "Aw perutku!"


Ambar menghentikan langkahnya dan kembali kepada Iska dan memapahnya masuk kembali keruangan Freya.


"Apa yang kau rasakan Iska?" tanya Ambar. "Duduklah!"


"Perutku sedikit kram," jawab Iska.


"Apa perlu Mama panggilkan dokter untukmu?"


"Tidak usah Ma."


"Aduh Lia sudah pergi jauh lagi," Ambar panik. Apalagi melihat Freya yang terus-terusan menangis. Ambar menghampiri Freya, "sayang sudahlah jangan menangis!"


"Kak Lia pasti tidak bercanda dan akan memberitahu Papa," isak Freya.


Freya tahu betul kalau kakaknya adalah orang yang sangat keras kepala. Apalagi dengan keadaannya yang tidak kunjung hamil.


"Biar aku hubungi Ken, agar dia bisa mencegah kak Lia," Iska merogoh ponselnya. Menghubungi Ken, "Ken, mbak Lia tahu tentang kehamilan Freya dan dia berniat akan memberitahu Papa. Cepat susul ke kantor Papa!"


[Baiklah sayang. Jangan khawatir ya ...]


Klik!


Iska mematikan panggilannya. "Semoga saja Ken bisa mencegah mbak Lia."


"Aku tidak sanggup, aku ingin mati saja!" Freya histeris.


Ambar memeluk Freya dengan erat. "Sabar sayang sabar! jangan di pikirkan. Kasihan anakmu nanti, tenanglah!"


Sungguh malang nasibmu Freya, Kenapa kamu malah mengalami hal yang pernah aku alami dulu? aku jadi teringat kembali sakit dan sedihnya saat itu. Aku harap kamu bisa kuat melewati ini semua. Aku akan selalu mendukungmu, batin Iska.


Semua yang terjadi adalah takdir. Di balik setiap kejadiam pasti ada hikmah dan pelajaran yang bisa di ambil. Seperti dirinya sendiri kalau tidak ada kejadian itu maka tidak akan sampai menikah dengan Ken.

__ADS_1


⬇️⬇️


__ADS_2