
Setelah membeli sarapan, Aku segera kembali ke kamar. Di lorong koridor, ada seorang bapak-bapak cleaning service yang sedang mengepel lantai.
"Permisi pak."
Aku menyapanya. Tak sopan rasanya jika hanya lewat saja di dekatnya tanpa menyapanya.
Cleaning service itu menghentikan pekerjaannya, lalu menegakkan badan.
SUMIJAN. Aku membaca tulisan nama di saku bajunya.
"Iya neng,. silahkan." Sahutnya ramah.
"Eh,. penghuni baru ya neng ?"
"Iya pak, baru semalam saya datang."
"Sudah punya kasur neng ?"
"Emm,... Belum pak. Belum sempat beli. Rencana baru mau belanja hari ini."
Aku sebenarnya merasa sedikit heran kenapa Pak Sumijan bertanya masalah kasur.
"Oh, mari neng, ikut saya ke gudang."
"Ke gudang ??"
Aku semakin meresa keheranan.
"Ngapain Pak ??" Aku mengerenyitkan dahi.
"Itu neng, di gudang banyak kasur dan ranjang. Neng lihat aja dulu. Itu gudangnya." Ucapnya sambil menunjuk ke arah ujung koridor.
"Mari neng,..." Ucapnya sambil berjalan mendahuluiku tanpa meminta persetujuanku.
"Emmm,.. Baik Pak."
Meskipun sedikit ragu, aku mengikuti Pak Sumijan dari belakang.
Tibalah di ujung koridor. Kamar paling pinggir sebelah kanan.
Pak Sumijan mengeluarkan kunci dari saku celananya. Segerombol kunci yang di satukan dengan ring besi berbentuk bulat.
Pak Sumijan memilih-milih kuncinya. Begitu Ia menemukan kunci yang di carinya, Ia segera membuka gembok yang menggantung di pintu. Sepertinya kunci pintu aslinya sudah rusak, jadi di ganti dengan gerandel rantai + gembok.
"Kreeeek"
Pintu kamar terbuka. Pak Sumijan masuk ke dalam dan menyalakan saklar lampu.
"Klik !" Lampu menyala.
Aku melangkah dan berdiri di depan pintu.
Di dalam ruangan gudang, banyak bertumpuk barang-barang tak terpakai. Tidak seperti gudang pada umumnya yang kotor dan berdebu, barang-barang di dalam gudang terlihat bersih dan tersusun rapi. lantainya juga terlihat bersih. Sepertinya ruangan gudang ini memang sering di bersihkan.
"Ini barang-barang bekas milik anak kost semua neng. Kadang mereka gak bawa saat mereka pindah. Di tinggalkan saja."
"Oh,.. gitu ya pak."
"Iya neng. Kalau yang sudah rusak, ya saya buang neng. Tapi kalau yang masih bagus, sama Bu Nadira suruh naruh di gudang. Siapa tau ada anak kost baru yang membutuhkan, bisa di pakai."
Pak Sumijan menjelaskan asal usul barang-barang yang ada di dalam gudang.
"Neng silahkan pilih saja, siapa tau ada yang mau di ambil, nanti bapak bantu bawakan di kamar."
"Oh,. iya pak, terimakasih banyak."
Aku masuk dan melihat-lihat tumpukan barang yang ada di gudang. Ada meja, kursi, lemari plastik, kasur, ranjang, dan ada juga sebuah spring bad.
Hmm,.. sepertinya meja kecil itu masih bagus. Kalo barang yang lain, lebih baik aku beli saja. Mungkin nanti ada yang lebih membutuhkan barang-barang itu di bandingkan Aku dan Nuri.
"Pak, saya mau meja kecil itu saja." Tunjukku ke arah sebuah meja kecil berbentuk bulat di sudut ruangan.
"Oh,. iya neng, biar bapak bersihkan dulu mejanya, nanti bapak bawakan. di kamar nomer berapa neng ?"
"Kamar 34 pak"
"Oke neng. Nanti bapak antarkan. Bapak mau selesaikan dulu ngepel lantainya."
"Oh, iya pak. Terimaksih banyak sebelumnya"
Aku kembali ke kamar.
"Assalamualaikum,.. Nuri."
Aku mengetuk pintu kamar.
"Walaikumsalam." Nuri membuka pintu. Terlihat dia baru saja selesai mandi.
"Dari mana sih Aishy ?"
"Dari beli sarapan di bawah." Aku mengangkat kantungan berisi dua bungkusan di tanganku.
"Oh,..."
"Ayo kita sarapan."
Aku langsung duduk melepos di lantai. Di ikuti Nuri.
Kami sarapan dengan lahap. Nasi goreng telur ceplok. Dengan tambahan sambal goreng bekalku dari rumah.
Dan,....juga rendang spesial buatan ibunya Nuri.
Ternyata Nuri juga membawa bekal dari rumahnya. Yaitu rendang daging spesial.
Alhamdulillah,.. Sungguh nikmat sarapan kami pagi ini.
***
Selesai sarapan, aku mandi dan sholat dhuha. Hari ini agendaku adalah menata kamar bersama Nuri.
__ADS_1
Setelah membeli perabotan dan perlengkapan yang kami perlukan, kami pun mulai mendekor.
Dua buah single springbad tanpa kaki, kami letakkan di masing-masing sudut ruangan bersisian.
Dua buah lemari plastik kami jejerkan, masing-masing menghadap sisi yang berlawanan. Lemari itu kami gunakan untuk tempat menyimpan pakaian, sekaligus berfungsi sebagai penyekat, antara ruangan milikku dan milik Nuri.
Terakhir, kami bentangkan tali panjang, lalu kami gantungkan tirai memanjang sebagai pengganti pintu.
Maka,. jadilah bilik kamarku dan kamar Nuri.
Meja bundar yang tadi di antarkan Pak Sumijan, aku letakkan di luar jendela kamar, di atas mini balkon. Dua buah kursi portable kecil juga ku letakkan di sana. Rencananya,. aku akan meletakkan satu pot bunga mawar di sana.
Menanam satu pot bunga mawar tentu akan menyenangkan, pikirku.
Oh iya,. tadi Pak Sumijan juga sangat membantu saat aku dan Nuri menata kamar.
Pak Sumijan yang repot mengangkat-angkat barang yang berat, juga naik ke tangga untuk memasang paku dan tali untuk penggantung tirai tadi.
"Kalau butuh bantuan, jangan sungkan-sungkan minta tolong sama bapak. Kamar bapak di bawah, paling ujung." Ucap Pak Sumijan tadi sebelum dia meninggalkan kamarku.
Saat tadi aku memberikan uang padanya, sebagai ucapan terima kasih atas bantuannya, Pak Sumijan menolaknya.
"Jangan neng,... Terimaksih banyak. Saya ikhlas membantu. Saya juga sudah di gaji sama Ibu Nadira." Ucapnya secara halus.
Pak Sumijan adalah cleaning service di Asrama Nadira ini. Dulu, sebelum menjadi cleaning service disini, kerjanya adalah sebagai pemulung.
Suatu hari, Ibu Nadira melihatnya tengah memulung sampah di depan asrama, kemudian Bu Nadira memberinya uang, tapi Pak Sumijan menolaknya.
Karena merasa terkesan, Ibu Nadira kemudian menawarinya bekerja sebagai cleaning service di asrama.
Aku bersyukur, karena setibanya di Jakarta, Allah mempertemukanku dengan orang-orang baik.
***
Sore hari.
Aku duduk di balkon sambil menikmati secangkir teh melati.
Ya,... Ibu ternyata menyelipkan satu kantung teh melati ke dalam tas bekalku.
Hmm,.. Aku jadi rindu sama ibu.
"Aku telpon ibu saja ah,.."
Aku masuk ke dalam.
Nuri yang sedang duduk di depan laptopnya menoleh ke arahku.
"Kenapa ?"
"Enggak. Mau ambil hape. Mau nelpon ibu, kangen." Sahutku.
"Oh,..."
Nuri kembali fokus menatap laptopnya.
"Harusnya kemarin kita minta nomer hape nya Tirto."
"Iya,.. padahal satu hari kemarin, dari pagi sampai ketemu pagi sama-sama Tirto terus, tapi kita kog gak kepikiran untuk minta nomer hapenya ya,..."
Aku baru ingat, ternyata baik aku ataupun Nuri, kemarin lupa untuk minta nomer hape nya Tirto.
"Besok kita cari aj dia di kampus." Ucap Nuri.
"Nyari Tirto di kampus, sama aja kayak mencari jarum di tumpukan jerami Nuri,..."
Aku melangkah kembali keluar balkon setelah mengambil hape.
Aku kemudian memencet nomer telpon rumah, untuk menelpon ibu.
***
"Kriiiing,..." Bunyi telpon berdering.
Mbok Minah tergopoh-gopoh dari dapur, bergegas mengangkat telpon.
"Halo,... Assalamualaikum. Kediaman Raden
Wijaya." Mbok Minah mengangkat gagang telponnya.
"Walaikumsalam,... Mbok, ini saya, Aishy,.. panggilkan ibu ya,..."
"Oh... Non Aisyah,... Iya iya, tunggu sebentar ya mon. Mbok Nah panggilkan ibu dulu."
Mbok Minah bergegas keluar rumah, dan memanggil Bu Wijaya yang sedang memanen bunga melati di halaman rumah.
"Bu,... Ibu ! Ada telpon dari Non Aisyah." seru Mbok Minah.
"Aisyah? Nelpon?"
"Inggeh Bu."
Bu Wijaya segera meninggalkan bunga-bunga melatinya, dan berjalan cepat masuk ke dalam rumah.
"Assalamualaikum Nduk."
"Walaikumsalam Bu." Sahut Aisyah melalui sambungan telephone.
"Piye kabarmu Nduk? "
"Alhamdulillah baik Bu. Aisyah baru saja selesai berbenah kamar. Capek."
"Uh,.. Kasihan putrinya ibu."
"Iya,. Ini kecapekan, sekarang sudah istirahat sih. Sambil minum teh melati. Jadi Aishy langsung keingat sama ibu. Kangeeen."
"Ibu juga kangen nduk,... Kangeeen banget. Rumah langsung terasa sepi."
"Ayah mana Bu?"
__ADS_1
"Ayahmu lagi gowes."
"Gowes ?? Apaan sih Bu?"
"Itu loh,... Bersepeda bareng sama teman-temannya. Ayahmu bilangnya mau gowes."
"Oh,...."
"Kalau Mas Mirza? Balum pulang ?"
"Yo belum,... Masmu masih di bengkel."
"Oh,.. iya. Ya udah ya Bu,... Aishy cuma kangen aja. Pengen dengar suara ibu."
"Iya nduk,... Ibu setiap hari juga kangen sama Aishy. Jaga diri baik-baik di Jakarta ya nduk."
"Iya Bu, Insya Allah Aisyah akan selalu jaga diri. Doakan Aishy ya Bu."
"Selalu Nduk. Setiap waktu ibu mendoakanmu."
"Ya udah. Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Bu Wijaya menutup gagang telephone nya.
Bu Wijaya kemudian melanjutkan pekerjaan yang tadi belum selesai. Yaitu memanen bunga melatinya.
***
Aku menghela nafas panjang. Setelah mendengar suara ibu, rasa kangenku sedikit terobati.
Aku mengangkat cangkir teh, menghirup aromanya dalam-dalam, lalu menyeruputnya pelan. Mengikuti cara ibu saat meminum teh melatinya.
"Masya Allah, ternyata memang nikmat teh melati buatan ibu."
"Piiip. Piiip!"
Bunyi klakson mobil di depan gerbang.
Aku melongokkan kepala.
Pak Dudung tergopoh-gopoh membuka pagar. Sebuah mobil sedan berwarna hitam memasuki halaman.
Kaca jendela mobil di turunkan.
Seseorang mengulurkan kantongan dari dalam mobil.
Pak Dudung menerima kantongan itu dengan senyum lebar. Kemudian ia membungkukkan badan sesaat. Mungkin mengucapkan terimakasih.
Mobil kembali berjalan, memasuki halaman dan menuju paviliun kecil di samping bangunan asrama. Kediaman Ibu Nadira.
Seorang wanita berpenampilan modis turun dari dalam mobil. Dia memakai kacamata hitam, menenteng tas, memakai high hils, dan gaun setinggi betis.
Ibu Nadira yang tengah menyiram bunga di taman kecil depan paviliunnya, langsung menghentikan aktivitasnya.
Ia tertawa lebar begitu melihat siapa yang datang. mereka berdua saling berpelukan, lalu kemudian masuk ke dalam rumah.
Pintu sisi kemudi mobil terbuka. Seorang cowok bertubuh jangkung, mengenakan kemeja warna putih, keluar. Lalu berjalan ke arah teras, kemudian duduk di kursi. Lalu ia mulai asyik memainkan gadget nya.
"Will,.... William,...!" Ibu Nadira memanggil dari dalam rumah dengan suara yang cukup keras.
Cowok yang di panggil William itu kemudian berdiri, dan masuk ke dalam rumah.
Tak lama, ia keluar lagi dengan membawa sebuah cangkir. Ia meletakkan cangkir itu di atas meja. Kemudian ia kembali asyik menatap layar gadget nya.
"Aishy,...! Aisyah. Coba lihat ini deh." Seru Nuri dari dalam.
Aku segera masuk ke kamar, dan duduk di dekat Nuri.
"Lihat apa?" Aku mendekat dan ikut melihat layar laptopnya Nuri.
"Ini,.. Aku dapat video-video dokumentasi masa orientasi di kampus UIN."
"Oh,..."
Aku dan Nuri akhirnya asyik menonton di depan laptop.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
❤️Rohana Kadirman❤️
__ADS_1