
"Aku sudah bilang jangan bertanya apa pun."
"Ho ho ho.... Kau benar- benar aneh hari ini Will."
"Biar ku permudah. Saat pesta ulang tahun putri tuan Subandono, aku tak bisa datang dan justru memintamu untuk membeli bunga mawar bukan?"
"Hmm... Ya. Aku tak bisa melupakan hari itu." Romi tersenyum tipis, bayangan wajah Natasya Subandono berkelebat di matanya.
"Aisyah, gadis itulah yang menerima bunga mawar dariku."
"A- Apa?? Jadi maksudmu, Aisyah adalah cintamu yang selama ini kau kejar dan sampai sekarang belum kau dapatkan?" Romi terbelalak kaget.
"Seperti itulah." William menyandarkan punggungnya ke kursi.
"Kau tidak tau jika Aisyah magang di sini, dan itu artinya berarti Aisyah juga tidak tahu bahwa kau lah pemilik Excellent Group ini??"
"Aku rasa kau sangat cerdas Romi, semuanya sudan jelas, jadi aku tak perlu menjawab pertanyaanmu."
"Jika begitu, sepertinya takdir memang memihak pada anda pak presdir. Jadi apa rencanamu Will?"
"Aku tidak bisa membiarkannya jadi kacung Diana dan Luna."
"Memang seperti itulah tugas anak magang bukan?"
"Tapi tidak dengan Aisyahku. Tidak jika dia magang di kantorku."
"Lalu?"
William berfikir sejenak, lalu dengan mantap dia berkata, "Dia harus menjadi sekretaris."
"Hah?? Lalu bagaimana dengan sekretaris barumu? Hari ini dia baru masuk kerja, apa kau akan langsung memecatnya?"
"Siapa yang bilang dia harus jadi sekretarisku? Aku sudah pernah bilang, terjebak asmara dengan bawahan adalah bunuh diri dalam pekerjaan. Jadi, aku tidak mungkin menjadikan Aisyah sebagai sekretarisku."
"Lalu sekretaris siapa?"
"Tentu saja sekretarismu, Romi."
"Hah!? Sekretarisku?"
"Ya. Kenapa tidak? Dan satu lagi, aku ingin kau menyelesaikan proyek lantai 20, dalam waktu tiga hari."
"Tiga hari?? Apa aku tidak salah dengar??"
"Tidak. Kau sama sekali tidak salah dengar. Selesaikan itu, dan kau akan mendapat dobel gaji serta bonus besar bulan ini. Aku mengandalkanmu."
"Ya Allah, bantu aku." Romi mengusap wajahnya dengan telapak tangan kanannya.
"Sekarang keluarlah, dan panggilkan sekretaris baruku."
__ADS_1
"Siap boss." Romi keluar dan segera menghampiri meja Eliyana.
"Eliyana, pak Presdir memanggilmu."
"Oh, baik." Eliyana mengetuk pintu dan masuk ke ruangan William.
"Selamat siang pak presdir." Eliyana menghadap di meja William.
"Siang." Melihat penampilan Eliyana yang sederhana serta memakai jilbab, William seketika teringat Aisyah. "Aisyah..." Tanpa sadar William bergumam perlahan menyebut nama Aisyah, tapi rupanya terdengar juga oleh Eliyana.
"Aisyah...??" Ucap Eliyana sambil tersenyum. "Dia gadis yang lembut, baik, dan ramah."
"Kau mengenalnya?" Tanya William dengan bersemangat.
"Kami baru berkenalan pagi tadi."
"Oh... Ku pikir kalian berteman."
Eliyana tersenyum, ia benar- benar faham bahwa bossnya itu sedang jatuh cinta. "Saya baru saja selesai menyusun jurnal kerja anda pak presdir."
"Berikan padaku."
Eliyana meyerahkan jurnal yang sudah di susunnya kepada William.
"Eliyana, kau perempuan berhijab, sama seperti Aisyah. Apa yang harus aku lakukan, untuk menaklukkan hati seorang perempuan berhijab?"
"Nah, itu dia. Bagian jangan sentuh. Romi pernah mengatakan juga hal itu, tapi aku justru semakin bingung. Aku tidak bisa membedakan mana yang termasuk muhrim dan mana yang bukan muhrim"
"Bukan muhrim pak, tapi mahrom. Muhrim adalah orang yang mengenakan pakaian ihram, sedangkan mahrom adalah semua orang yang haram untuk di nikahi, karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam."
"Apa harus serumit itu?"
Eliyana tersenyum, ia mengerti bahwa William kesulitan mencerna. Eliyana tahu, bossnya itu adalah orang Islam. Terlahir sebagai orang Islam, dan ber- KTP Islam. Tapi dalam segi kehidupan, sangat jauh dari nilai- nilai Islam. "Pak, suami saya adalah seorang mualaf. Tapi, dia mampu menghafal sepuluh ayat surah At- Taubah sebagai mahar pernikahan."
"Suamimu seorang mualaf?" William seakan tak percaya, jika perempuan berhijab di depannya itu ternyata menikah dengan seorang mualaf.
Jika seorang mualaf bisa beristri perempuan berhijab, berarti aku pun memiliki peluang yang besar untuk memiliki Aisyah, karena aku seorang muslim. Rasa percaya diri William kembali muncul.
***
Eliyana kembali ke meja kerjanya.
"Hai Romi." Eliyana menyapa Romi sebelum duduk di kursinya. Meja kerja Romi dan Eliyana memang berdekatan.
"Hai Eliyana." Romi mendorongkan kakinya ke meja, sehingga kursi yang di dudukinya pun tersorong ke belakang. "Arrghhhh...!" Romi memijit kepalanya. Ia di buat pusing dengan tugas yang baru saja di berikan William padanya.
"Astaghfirullah, istighfar Romi, biarkan Allah yang meringankan bebanmu." Eliyana yang terkejut mendengar erangan Romi, langsung memberikan nasehat.
"Eliyana, coba bayangkan, pak presdir memberiku tugas untuk menyelesaikan lantai dua puluh dalam waktu tiga hari. Tiga hari saja! Bahkan desainnya pun belum ada. Bayangkan itu. Aku benar- benar pusing di buatnya. Aku sedang berusaha menghubungi beberapa arsitek untuk itu."
__ADS_1
"Apa kau baru saja menyebut arsitek?"
"Ya, apa kau punya koneksi yang bisa di hubungi?"
"Ya, punya. Sangat punya." Ucap Eliyana sambil tersenyum. Terbayang wajah Kevin yang pasti bakal gembira karena mendapatkan job. Selama Kevin sakit dan harus berada di kursi roda, ia bukannya tak pernah berusaha untuk mendapat pekerjaan. Hanya saja, ia selalu kalah tender, karena kebanyakan para pengusaha selalu mendiskreditkan kondisinya. Ia di ragukan kemampuannya dalam menghandle pekerjaanya. Karena pekerjaan arsitek, tak hanya sebatas gambar atau desain saja, tapi juga harus terjun langsung di lapangan.
"Benarkah? Kau bisa pertemukan aku dengannya sekarang?"
Eliyana melirik jam tangannya. "Tidak sekarang. Aku harus sholat dulu. Setelah itu aku akan menemanimu bertemu dengannya, sekaligus makan siang bersama, bagaimana? Kau setuju?"
"Oke, deal." Romi mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan Eliyana.
"Aku masih punya wudhu, Romi. Jadi maaf, aku tidak akan menjabat tanganmu." Ucap Eliyana sambil tersenyum.
"Oh, iya. Oke oke. Aku mengerti."
***
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
❤️Rohana Kadirman❤️
__ADS_1