AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Persaingan Luna dan Diana


__ADS_3

Selesai makan malam, William naik ke kamarnya, atau lebih tepatnya bekas kamarnya, karena sekarang kamar itu tak pernah lagi di tidurinya. Karena ia sudah tinggal di apartemennya sendiri.


Sedangkan Romi, ia masih bercakap-cakap dengan daddy dan mommy nya di bawah.


William membuka pintu kamarnya. Kamar itu nampak bersih dan rapi. Seperti kamar cowok pada umumnya, tak ada yang menarik di kamar itu. Tentu saja, selain satu buah lemari kaca khusus, yang di dalamnya berjejer piala dan medali.


William mempunyai hobby olahraga taekwondo dan renang. Jadi, piala dan medali yang berjejer itu adalah hasil dari prestasi yang di raih William. Sejak SD, ia sudah sering mengikuti berbagai kegiatan dan lomba di kedua bidang olahraga yang di gemarinya itu.


"Tok tok tok." Julia mengetuk pintu kamar William, meskipun pintunya sebenarnya terbuka.


William menoleh.


"Kau disini rupanya, aku mencarimu tadi bawah." Ujar Julia seraya masuk dan duduk di kursi belajar William. "Apa kau akan menginap?"


"Tidak, aku akan pulang ke apartemen. Aku hanya ingin melihat kamarku." William berdiri dan berniat melangkah keluar kamar.


"Hai Will, mungkin ini berguna untukmu."


"What is it?"


"Aisyah, menyukai bunga mawar." Julia pun berdiri dari kursi dan menghampiri William. "Dan ini nomer ponselnya," Julia menyodorkan handphonenya kepada William.


"Thanks Julia. Ini sangat berarti untukku." William meraih ponsel Julia, dan mengirim nomer ponsel Aisyah ke handphone miliknya, "Done!" William mengembalikan handphone Julia. Ia lalu keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.


"Sepertinya ada yang sedang reuni." William menghampiri Romi yang sedang asyik mengobrol dengan kedua orang tuanya itu.


"Kau akan menginap kan Willy?" Ny. Mariam bertanya kepada William.


"Mobil Romi ada di apartemenku mom, jadi aku tidak bisa bermalam disini."


"Romi bisa menginap juga di sini." Tukas Ny. Mariam cepat.


"Mom, besok aku harus kerja. Aku tidak bisa menginap disini. Dan Romi,... Kami bukan lagi anak SMA mom. Kami tidak mungkin menginap bersama lagi."


"Siapa bilang harus satu kamar bersama? Kau tidurlah di kamarmu, dan Romi bisa tidur di kamar tamu." Ny. Mariam tak kehabisan akalnya, agar putranya mau menginap di rumah.


"Im so sorry mom, i can't spend the night. Bukankah besok malam aku akan datang lagi??" William memeluk Ny. Mariam, kemudian melangkah keluar, di ikuti oleh Romi.


"Kami pulang dulu. Terimakasih atas makan malamnya." Romi membungkuk kepada Mr. Ballard dan Ny. Mariam.


William dan Romi kembali ke apartemen.


***


Romi memasukkan mobil ke garasi, kemudian mengembalikan kuncinya kepada William.


"Aku sebaiknya pulang sekarang."


"Ok, thanks Romi."


Romi berjalan menuju mobilnya. "Yang benar saja, sialan!" Gerutunya sesaat setelah masuk ke dalam mobil. Ia mencoba beberapa kali menstarter mobilnya, tapi tak berhasil. Mobilnya tak mau hidup.


Romi kembali membuka pintu mobilnya dan keluar.


"Aku tidak bisa memakai mobilku."


"What happened?" William yang memang belum masuk dan masih berdiri di depan pintu apartemennya bertanya keheranan.


"Aku lupa mematikan kontak mobil, dan sekarang, mobilku tidak bisa di starter."


"Kau tidak bisa membawa mobilku pulang, karena besok aku juga harus ke kantor." William nampak berpikir sejenak, "Baiklah, malam ini kau bisa menginap di apartemenku. Besok saja kau urus mobilmu itu."


Romi mengikuti William masuk ke apartemennya. Dia bisa saja pulang naik taksi, tapi tak mungkin dia meninggalkan mobilnya yang dalam keadaan rusak itu di apartemen bossnya. Jadi ia tak punya pilihan lain.


"Itu kamarmu," William menunjukkan kamar kepada Romi. "Dan disana dapurnya, jika kau butuh soft drink atau kopi, kau bisa membuatnya sendiri." William menunjukkan dapurnya kepada Romi.

__ADS_1


"Jangan khawatir Will, aku bisa tidur dimana saja, dan aku bisa mengurus diriku sendiri jika kelaparan."


"Okey, aku naik ke atas sekarang." William menaiki tangga, menuju kamarnya di lantai atas.


Romi keluar, menuju mobilnya, dan mengambil tas kerjanya dari dalam mobil, lalu kembali ke dalam.


Romi meletakkan tas kerjanya di atas meja, mengeluarkan laptopnya. Ia lalu ke dapur, membuka pintu kulkas, dan mengambil beberapa kaleng soft drink serta sebungkus kacang. Lalu ia membawanya ke atas meja.


Romi menyalakan laptopnya, dan jarinya pun mulai sibuk di atas tuts laptopnya. Siang tadi dia membuka lowongan pekerjaan via online untuk mencari sekretaris.


Romi mengecek emailnya, dan ternyata sudah begitu banyak email yang masuk dari para pelamar kerja. Ia mengecek satu persatu email yang masuk itu. Ia harus memilih sepuluh orang di antara mereka, untuk datang besok di kantor, melakukan sesi wawancara.


"Hoaaam....!" Romi menguap beberapa kali. Ia kembali membuka kaleng soft drinknya. Malam ini dia harus lembur.


Aku harus menyelesaikannya malam ini juga.


***


Pagi harinya, Romi terbangun dan mendapati dirinya di ruang tamu William. Rupanya semalam ia lembur, sampai tertidur di atas sofa.


Romi bergegas masuk ke kamar dan mandi, lalu kembali mengenakan pakaiannya. Ya, tentu saja, karena ia tidak membawa pakaian ganti.


"Sialan! Lain kali aku pastikan akan selalu membawa pakaian ganti di dalam mobil." Romi menggerutu sendiri.


Setelah selesai mandi dan sedikit merapikan pakaiannya, ia keluar kamar dan menuju dapur.


Romi menyalakan mesin expresso dan membuat kopi. Ia kembali membuka kulkas, dan mencari-cari sesuatu yang bisa di makan untuk sarapan. Beruntung, dia menemukan dua lembar roti tawar dan selai kacang. Ia mengambilnya, lalu mulai makan.


Tak lama kemudian, terdengar langkah kaki William menuruni tangga. Ia sudah berpakaian rapi dan siap berangkat ke kantor.


Romi sudah selesai sarapan.


Romi memasukkan kembali laptop ke dalam tas kerjanya. Ia lalu berniat membereskan meja William.


Di atas meja memang masih berserakan kaleng soft drink dan kulit kacang.


"Tak perlu kau bereskan. Sebentar lagi akan ada pelayan yang datang membersihkan. Biasanya dia datang jam sembilan, setelah aku berangkat ke kantor."


"Atau kau mau ku buatkan dulu kopi?" Romi menawarkan diri untuk membuatkan kopi.


"Tak perlu, kita berangkat sekarang saja. Aku akan sarapan di kantor saja."


Romi kembali menyetir mobil.


"Bagaimana dengan mobilmu?" Tanya William.


"Aku sudah menghubungi montir langgananku. Dia akan datang dan memperbaikinya."


***


William dan Romi tiba di kantor.


"Pagi Pak." Sapa para karyawan.


"Pagi." Sahut William pendek.


Sementara itu, begitu melihat William dan Romi datang, Luna segera mengambil parfume kecil dari dalam tasnya, dan menyemprotkannya di pergelangan tangan serta lehernya. Ia lalu segera berdiri dan menyapa bossnya yang ganteng itu.


"Pagi pak William...." Ucap Luna dengan nada genit. Ia pagi itu sengaja memakai rok pendek, dan kemeja yang sedikit ketat.


"Pagi." Sahut William, tanpa menoleh sedikit pun ke arah Luna.


William masuk ke ruangannya dan menutup pintunya.


Romi menghampiri meja kerjanya, lalu duduk di kursinya. Meja kerja Romi bersebelahan dengan meja Luna. Begitu ia duduk, aroma parfume Luna yang tajam dan sedikit sensual menusuk hidungnya.

__ADS_1


"Hmm.... Sepertinya toko parfume sudah pindah ke ruangan ini." Ucap Romi sembari melirik Luna. Romi tadi sempat melihat Luna saat menyemprotkan parfumenya begitu melihat kedatangan William.


"Diamlah. Itu bukan urusanmu!" Ucap Luna ketus. Sebenarnya ia merasa kesal karena William sama sekali tak meliriknya barusan.


"Ha ha ha." Romi tertawa melihat raut wajah Luna yang jengkel.


"Mana Diana? apa dia belum datang?" Romi menatap meja Diana yang masih kosong.


"Dia di pantry."


"Oh, kebetulan sekali. Aku akan memintanya membuatkan kopi untuk Pak William." Romi berdiri dari kursinya.


"Tidak perlu," tukas Luna cepat. "Biar aku saja." Diana segera berdiri dan menuju pantry.


Sesampainya di pantry,...


"Hai Diana.... Belum selesai sarapannya?" Sapa Luna berbasa-basi sambil membuat kopi.


"Sedikit lagi. Kau mau sarapan juga? Ku pikir kau sudah sarapan, karena dari tadi kau datang." Sahut Diana sambil menggigit sepotong brownies.


"Tidak, aku sudah sarapan dari rumah."


"Lalu, kopi itu?"


"Kopi ini bukan untukku, tapi untuk Pak William. Pak William memintaku membuatkan kopi untuknya." Ucap Luna sambil tersenyum simpul. Ia sengaja berbohong kepada Diana.


"Bye Diana. Aku harus mengantarkan ini segera ke ruangan Pak William," Luna mengangkat nampan di tangannya, "Silahkan nikmati sarapanmu, jangan terburu-buru."


"Huh...!" Diana mendengus perlahan, Dia merasa kesal.


Luna keluar dari pantry dengan perasaan puas. Ia merasa senang karena berhasil membohongi Diana.


Ya...ya...ya. Persaingan sengit terjadi di antara Luna dan Diana. Sepertinya perang di antara mereka berdua sudah di mulai.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.


 

__ADS_1


❤️Rohana Kadirman❤️


__ADS_2