AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Who Are You ?


__ADS_3

Di sebuah kamar apartemen.


William duduk di depan laptopnya sambil menikmati segelas coffe expresso.


Ia tengah memindahkan file kameranya ke dalam laptopnya. Beberapa kali Ia menggulirkan mouse, menatap layar demi layar hasil jepretannya selama dua minggu ini.


Dua minggu lalu, William baru saja tiba di Jakarta, setelah menyelesaikan sekolah bisnisnya selama tiga tahun di


Western Ontario, Canada.


Ia tak pulang sendirian, dua orang sahabatnya dari Canada, Mark dan Jacob ikut bersamanya. Mereka merencanakan liburan di Indonesia.


Akhirnya, pilihannya jatuh pada Bali dan Jogjakarta. Maka, selama hampir dua minggu ini, William pun mengajak mereka menjelajah seluruh penjuru Pulau Dewata, dan menikmati setiap sudut keindahan yang penuh exoticme kota Jogjakarta.


Tiba-tiba tangan william berhenti menggulirkan tombol mousse. Ia menatap layar laptopnya dengan seksama.


"Klik" William menekan tombol zoom.


Potret seorang gadis berjilbab yang tengah menyandarkan kepalanya di sisi jendela kereta, memenuhi layar laptopnya.


William menatap potret wajah gadis itu lekat-lekat.


William menyandarkan kepalanya di bantalan kursi, kedua tangannya dia gunakan untuk menopang tengkuk belakangnya.


" Who Are You ??? " William bergumam perlahan.


"Tok tok tok. Kleeek"


Pintu kamarnya terbuka. Seorang gadis berambut pirang menghambur masuk ke dalam, dan langsung menghempaskan pantatnya duduk di ranjang.


"Hai,. Will,.." Sapa Julia.


"Hai,..." William hanya melirik Adiknya itu sesaat.


Karena merasa tidak mendapat perhatian, Julia bangkit dari duduknya lalu mendekati kakaknya itu.


Julia duduk di tepi meja, lalu menoleh ke arah laptop di depan William. Dengan tangan kanannya, Ia menggeser layar laptop milik William ke arahnya.


"Wow,...!! Surprised !!" Julia menatap layar laptop dengan mata membelalak.


" Who is she ? " Julia melanjutkan pertanyaan dengan nada penasaran.


" Angel !" Sahut William.


" Her name is Angel ?"


" Hahaha,... " William tidak menjawab pertanyaan Julia, namun Ia justru tertawa terbahak-bahak.


Julia mengerenyitkan dahinya melihat reaksi William atas pertanyaanya.


"Come on Will,... Aku serius bertanya. Siapa dia ? Apakah Angel pacarmu ? "


" I don't know who she is. But,... Look Julia. Bukankah dia benar-benar terlihat seperti seorang bidadari ?? Dia begitu cantik, polos, dan,.... entahlah,.. I can't explain it "


"Huh !... Aku kira dia pacarmu. Ternyata hanya foto internet"


"No ! Aku yang memotret gadis itu. Di suatu senja. Di dalam kereta. Ketika perjalanan pulangku dari Jogja"


"Kenapa kau tidak mengajaknya berkenalan ?"


"Entahlah,.. Dia terlihat seperti, tak tersentuh."


"Lalu kapan kau akan memperkenalkan pacarmu ? Oh, No. I mean,.. Kapan kau akan punya pacar Will ?? "


"Apa aku terlihat begitu menyedihkan dengan tidak memiliki seorang pacar ?" William membalas pertanyaan Julia dengan sebuah pertanyaan pula.


"Huh,.. Dasar kau Will. Kau ini adalah William Stevan Ballard. Seorang pria dewasa, tampan, dan kaya raya. Gadis mana yang akan menolakmu ?? Tapi kenyataanya kau tak pernah memiliki seorang gadis sekalipun dalam kehidupanmu"


"Aku akan memilikinya, Julia. Percayalah. Aku hanya perlu menemukan seorang gadis yang tepat untuk ku nikahi"


"One Life-One Wife. Aku tak perlu menyia-nyiakan hidupku dengan memacari banyak wanita"


"Itu terdengar seperti sebuah alasan untukku" Julia memanyunkan mulutnya, karena kakaknya itu terus saja berkilah.


"You know Will ?? Mommy worried sama kamu. Dia pernah mengutarakan kecemasannya padaku. Dia berpikir,. jika kamu memiliki jiwa yang berbeda "

__ADS_1


"Jiwa yang berbeda ? what mean that ?"


William nampaknya tak mengerti maksud Julia.


" Yeah,... Jiwa yang berbeda. Like this."


Julia mengangkat jari tengah dan telunjuknya, kiri dan kanan, lalu memperagakan tanda kutip, yang bermakna kiasan atau isyarat sesuatu.


" Like this ? " William mengikuti gerakan jari Julia.


"I don't understand" lanjut william.


"How stupid you are ! Mommy khawatir jika kamu bukan lah pria yang sesungguhnya. Mommy khawatir jika kamu menjadi gay " Ucap Julia dengan nada jengkel.


"Gay ?? Ha ha ha" William tertawa terpingkal-terpingkal demi mendengar perkataan adiknya itu.


"Beri tahu Mommy,.. Dia tak perlu khawatir soal itu. Jika aku mau, bisa saja aku menghamili 10 gadis dalam semalam. Ha ha ha" William kembali tertawa terbahak-bahak.


"Beri tahu Mommy saja sendiri" Ucap Julia ketus.


"Oh ya Will,.. Kapan kau akan pulang ke rumah ? Mommy menyuruhmu datang malam ini, untuk makan malam keluarga"


"Bilang sama Mommy. Tidak bisa malam ini. Aku akan mengantar Mark dan Jacob ke Bandara. Penerbangan mereka malam ini" Ucap William.


"Hmm,... Baiklah, akan ku sampaikan pada Mommy"


"Oh ya Will,... Bolehkah aku meminta sesuatu padamu ?" Julia memeluk lengan kakaknya itu dengan manja.


"Sudah ku duga. Kau tidak mungkin mampir ke apartemen ku jika hanya untuk menyampaikan pesan dari Mommy"


"He he he" Julia tertawa terkikik.


"Apa yang kau inginkan kali ini ? Aku sudah tidak terbang ke mana-mana, jadi kau tidak bisa memintaku untuk membelikanmu barang-barang yang kau inginkan"


William sangat faham kebiasaan adiknya itu. Setiap kali dia akan pulang ke Indonesia, Julia pasti memesan untuk di belikan barang-barang branded di dalam bandara. Alasannya,.. barang-barang di bandara, semuanya tax free. Cukup masuk akal sebenarnya.


"Kau tidak perlu terbang kemana-kemana untuk membelikan sesuatu yang ku inginkan kali ini" Ucap Julia dengan nada penuh keyakinan.


"And,... what it is ?" William mengangkat kedua alisnya ke atas.


"Belikan aku mobil !" Sahut Julia dengan penuh antusias.


William tahu, sudah lama Julia ingin memiliki mobil, tapi Daddy tak pernah mengizinkannya. Meskipun sebenarnya Julia sudah pandai menyetir mobil bahkan sejak dia masih SMA.


William juga yang mengajari Julia cara menyetir mobil. Seringkali William mengajak adiknya itu jalan-jalan. kemudian di tengah perjalanan, Julia akan meminta untuk gantian menyetir mobil.


Tapi, semenjak William ke Canada, maka hal itu tidak pernah di lakukannya lagi. Karena Daddy benar-benar melarang Julia membawa mobil.


Seperti halnya juga perlakuan Daddy terhadap Mommy. Daddy memberikan Mommy mobil, tapi sekaligus dengan sopir pribadinya.


"Seorang wanita adalah Ratu, dan Ratu tidak menyetir mobilnya sendiri. Dia hanya perlu duduk manis, dan menikmati perjalanannya dengan anggun" Begitu ucap Daddy.


Bagi Mommy, ucapan Daddy adalah sebuah sanjungan. Bukti cinta dan perhatian. Tapi tidak bagi Julia. Menurut Julia, sikap Daddy sangat egois dan diskriminatif.


"Ayolah Will,... Tak lama lagi aku ulang tahun. Belikan aku sebuah mobil. Pleaseee William" Julia merayu kakaknya.


"Kenapa tidak mencoba untuk minta sama Daddy ? Barangkali Ia akan meluluskan permintaanmu kali ini"


"Uh,.. Impossible ! Daddy tak akan mengizinkannya !" Julia cemberut.


"Lalu,.. Jika Daddy tak mengizinkanmu memiliki mobil, apakah aku lantas akan mengizinkanmu ??" Ucap William sembari tersenyum penuh arti.


Julia semakin merasa jengkel melihat hal tersebut.


"Ini sungguh tidak adil ! Lihatlah, kau di berikan segalanya. Kau punya mobil, apartemen, dan sebentar lagi punya perusahaan sendiri. Sementara aku ? Bahkan mobil pun aku tak di beri. Aku sudah kuliah Will, tapi masih seperti anak TK yang selalu di antar sopir. Jika tak mau di antar sopir, maka aku harus naik taksi. Sungguh menyebalkan"


Julia bersungut-sungut, lalu mengambil tasnya dari atas kasur William. Ia berniat untuk pergi, karena tak berhasil merayu William untuk membelikannya mobil.


Julia berdiri, dan melangkah ke arah pintu.


"Hei, Julia. Mungkin aku bisa membelikanmu mobil" Ucap William tiba-tiba.


"Benarkah ?" Julia membalikkan badannya dengan senyum merekah.


"Of course !" Sahut William yakin.

__ADS_1


"Oh,.. I love you Will. Kau memang kakak terbaik di seluruh dunia" Julia memeluk lengan kakaknya penuh kegirangan.


"Tapi itu tidak mudah. Kau tidak akan mendapatkannya begitu saja. Ada syaratnya" Ucap William.


"Apa itu ? Apa pun syaratnya akan ku lakukan" Ucap Julia penuh percaya diri.


William nampak berfikir sejenak. Sebenarnya dia pun tidak tahu, syarat apa yang akan dia berikan untuk adiknya itu. Tiba-tiba dia teringat sesuatu,...


"Siapa nama pacarmu sekarang ?"


Julia mengerenyitkan dahinya.


"Dimas" Ucapnya kemudian dengan cepat.


"Pacarku namanya Dimas"


"Tapi kenapa kau menanyakan nama pacarku ?"


" Oke. DIMAS. Sampai akhir tahun ini, kau tidak boleh mengganti nama itu"


"Maksudnya ?" tanya Julia karena merasa tidak mengerti apa maksud William.


"Kau ini perempuan Julia. Tapi kau selalu bergonta-ganti pacar. Itu sangat tidak baik"


"Tentu saja aku berganti pacar. Jika pacarku ternyata brengsek, apa aku harus mempertahankannya? Tidak, bukan?" Julia berusaha membela diri.


"Ya. Tapi itulah syaratnya. Jika kau ingin mendapatkan sebuah mobil dariku. Maka kau tidak bisa mengganti DIMAS mu itu, setidaknya sampai akhir tahun ini. Atau kesepakatan kita batal. Dan kau tidak akan mendapatkan apa pun dariku" Ucap William dengan nada serius.


"Oke, fine. I will do it !" Sahut Julia.


"Deal ??" William mengangkat kepalan tangannya ke atas dada.


"Deal !" Julia membalas kepalan tangan William.


William dan Julia melakukan tos sebagai tanda kesepakatan.


Julia kemudian melenggang keluar pintu kamar William dengan senyum penuh kemenangan. Ia berhasil mendapatkan keingininnya dari William. Ya,.. meskipun dengan sebuah kesepakatan tentunya.


Begitu suara langkah kaki Julia menghilang, William kembali memutar kursinya menghadap meja.


Ia kembali melanjutkan pekerjaanya tadi yang terjeda. Memindahkan file dari kamera ke laptopnya.


Tatapan William kembali tertuju ke layar laptop yang menyala. Sosok gadis berjibab di sisi jendela kereta masih ada di sana.


"Bidadari. Who are you ??"


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.

__ADS_1


 


❤️Rohana Kadirman❤️


__ADS_2