
Setelah Raisya keluar dari ruangan William, Romi pindah duduk ke sofa dan menyelonjor- kan kakinya. Ia menatap raut muka William yang terlihat kecut.
"Sepertinya semalam kau tidak tidur Will. Nge-gym ato party?" Tanya Romi.
"Tidak keduanya."
"Hmm... Jika begitu, berarti ada sesuatu yang salah denganmu Will."
"Aku menyukai seseorang." William meremas rambutnya dengan kedua telapak tangannya.
"So...? Apa masalahnya?"
"Masalahnya adalah, sepertinya aku bukan type nya."
"Ha ha ha..." Romi tergelak mendengar perkataan William. "Siapa yang bisa menolakmu Will? Pewaris Excellent Group."
"Dia sosok yang berbeda. Di depannya aku merasa seperti sangat kecil.You know? Like an angel vs devil."
"Hmm... Tadinya aku sempat mengira, jika kau menyukai Raisya. Tapi... Setelah kau bilang jika di dekatnya, kau merasa seperti angel vs devil. Sudah pasti dia bukan Raisya."
"Raisya...??? Ha ha ha. No no no. Big NO! Raisya sama sekali bukan type ku. Dan lagi, aku tak ingin ada asmara di antara Boss dan Bawahan. Kau tau? Semua professionalitas akan berantakan jika itu terjadi. Mempunyai hubungan asmara dengan sekretaris sendiri, sama saja bunuh diri dalam pekerjaan."
"Ya ya ya... Kalau begitu, siapa dia? Jangan lagi berteka-teki denganku Will."
"Kau tidak mengenalnya, belum." William terdiam sesaat, "Romi, sepertinya aku butuh bantuanmu malam ini." William mendapatkan sebuah ide, yaitu menyuruh Romi untuk menggantikan dirinya menghadiri undangan pesta ulang tahun, putri pemilik Perusahan Billboard Group.
"Aku siap membantumu Boss."
"Aku akan menyelesaikan semua jadwalku hari ini, tapi malam nanti hanya kau dan Raisya yang akan pergi untuk menghadiri undangan Billboard."
"Tapi Will... Undangan itu sangat penting untuk..."
"Untuk perusahaan kita." William memotong kalimat Romi dan melanjutkannya sendiri. "Aku tahu hal itu, tapi bukankah kau juga orang penting di perusahaan Excellent, tentunya setelah diriku."
"Ya ya ya... Baiklah. Lagipula ada Raisya, dia sangat lihai dalam hal membuat orang lain terkesan." Ucap Romi sambil menjentikkan jarinya. "Lalu kau sendiri, akan kemana malam ini? Kau tidak mungkin meninggalkan acara penting jika bukan untuk sesuatu yang penting juga."
"Bukankah tadi aku sudah bilang, jika aku menyukai seseorang?"
"Ya... Tentu saja. Tadi kau bilang seperti itu."
"Aku akan menemuinya malam ini. Aku akan mengejar cintaku."
"Okey, aku faham sekarang. Baiklah, malam ini aku akan berjuang bersama Raisya di pesta ulang tahun putri Billboard. Dan kau selamat berjuang untuk... Cintamu." Ucap Romi sambil mengacungkan jempolnya.
"Dan satu lagi, tugas tambahan untukmu. Pergilah ke tempat ini, dan carikan aku buket bunga mawar terbaik." William menyodorkan kartu nama bertuliskan Natsya Flower.
"Siap Boss."
***
Romi menatap toko bunga di depannya, lalu beralih menatap kartu nama di tangannya.
Natasya Flower. Sepertinya benar ini tempatnya.
Romi melangkah memasuki toko bunga Natasya. Ketia Romi melihat jejeran pot kecil berisi berbagai macam bibit bunga, ingatannya langsung melayang kepada Nita, kekasihnya. Atau lebih tepatnya mantan kekasihnya.
Nita mempunyai hobby menanam bunga. Dulu ketika Romi memberikan bunga kepada Nita, dengan jujur Nita justru mengatakan, jika ia tak suka di beri bunga, ia merasa iba melihat bunga-bunga indah itu di petik, dan di biarkan menjadi layu dalam beberapa hari saja. Lain halnya, ketika di beri hadiah bibit bunga, Nita akan sangat gembira.
__ADS_1
"Aku akan menanamnya, merawatnya, dan menjaganya agar terus tumbuh seperti cinta kita." Begitu ucapnya setiap kali Romi memberinya hadiah bibit bunga.
Romi menjalin hubungan dengan Nita, hampir 2 tahun lamanya. Tapi siapa sangka, Nita yang terlihat lembut dan manis di depan Romi itu, ternyata tega mengkhianati Romi. Dan yang lebih menyakitkan, ternyata Nita hamil dengan pria yang menjadi selingkuhannya itu, dan mereka pun sekarang sudah resmi menikah.
Meskipun merasa terpukul dan sangat kecewa, tapi Romi tetap bersyukur, karena akhirnya waktulah yang menunjukkan siapa Nita sebenarnya.
"Selamat datang di Natasya Flower. Saya Natasya, pemilik toko bunga ini. Silahkan masuk dan melihat-lihat." Natasya, menyapa Romi.
Romi sedikit terkejut, dan buyarlah lamunanya tentang Nita.
"Saya mencari, buket bunga mawar." Ucap Romi sambil tersenyum kepada Natasya yang menyapanya.
"Buket bunga mawar di sebelah sini kakak, mari ikuti saya." Natasya melangkah ke dalam tokonya, dan Romi mengikutinya. Sekilas Romi mencuri pandang kearah Natasnya.
Hmm... Gadis penjual bunga ini manis juga.
"Ini kakak." Natasya menunjuk berbagai macam buket bunga mawar yang ada di depannya. "Silahkan pilih yang di inginkan."
"He he he, sebenarnya aku tak bisa memilih. Menurutku semuanya terlihat sama saja." Ucap Romi sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Oh, kalau begitu biar saya pilihkan. Kalau boleh tahu, bunganya untuk di berikan kepada siapa? teman, kekasih, atau siapa??" Natasya bertanya dengan ramah kepada Romi.
"Hmm... Begini. Sebenarnya, bossku yang menyuruhku membeli bunga mawar ini. Bossku itu, sedang mengejar seorang gadis. Jadi, berikan saja buket mawar terbaikmu. Pilihkan saja."
"Oh, baiklah. Ternyata ini untuk pacarnya Bossmu. Oke, mungkin sebaiknya aku rangkai kan saja buket yang baru." Ucap Natasya sambil tersenyum ramah. "Ririn...!" Natasya memanggil seorang karyawan perempuannya.
Seorang gadis berambut ikal, dengan memakai seragam yang sama, yang seperti di kenakan oleh Natasya, berjalan menghampiri Natasya dan Romi.
Natasya membuka sebuah album berisi gambar-gambar rangkaian bunga, lalu ia menunjuk salah satu gambarnya. "Rangkaikan bunga mawar seperti ini."
"Baik, kak Natasya." Sahut Ririn.
"Oh, iya iya. Tentu saja, tidak apa-apa." Romi sangat terkesan dengan keramahan Natasya.
Natasya melepas seragam celemek yang di kenakannya. "Rin, aku pulang sekarang." Ucapnya sambil menepuk pundak Ririn yang sedang sibuk merangkai bunga.
"Baik, kak Natasya." Sahut Ririn.
Natasya keluar dari tokonya. Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti di depannya. Sopirnya segera turun dan membukakan pintu untuk Natasya.
Natasya masuk ke dalam mobil. Ia melirik jam tangannya. Lalu ia mengeluarkan ponselnya dari dalam tasnya. Tepat saat itu juga, ponselnya berdering. Ada sebuah panggilan masuk.
"Hmm... Papa." Natasya mendesah perlahan. Ia lalu segera mengangkat ponselnya.
"Iya, Pap..."
"Iya... Iya. Ini Natasya udah di jalan kog Pap."
"Oke Pap... Daaaah." Natasya mematikan ponselnya. Ia menyandarkan kepalanya, lalu memejamkan mata, berusaha untuk tidur.
***
Romi menyetir mobilnya, sementara Raisya duduk di kursi sebelahnya. Raisya terlihat sangat seksi dengan gaun merah menyala berbelahan dada rendah.
Raisya sebenarnya merasa sangat kesal, ia mempersiapkan dandananya malam itu agar terlihat oleh William. Tapi ternyata, William justru memutuskan untuk tidak pergi, dan hanya mengutus dirinya bersama Romi untuk menghadiri undangan pesta ulang tahun putri pemilik perusahaan Billboard Group.
"Kau tahu kenapa Pak William memutuskan untuk tidak pergi ke pesta ini? Padahal pesta ini merupakan acara yang cukup penting untuk Excellent Group." Ucap Raisya kepada Romi.
__ADS_1
"Pak William mempunyai acaranya sendiri, dan kurasa itu juga cukup penting untuknya."
"Huh, pasti ini ulah kekasih bule Pak William itu!"
"Kekasih bule? Jadi kau sudah melihat wanita incaran Pak William?"
"Omong kosong apa kau ini Romi?! Bukankah kau juga sudah mengenal kekasih Pak William?"
"Tunggu tunggu. Aku tidak paham apa maksudmu Raisya. Siapa gadis bule kekasih Pak William yang kau maksudkan?"
"Gadis bule yang waktu itu datang ke apartement pak William. Bukankah saat menjemputku disana, kau juga bertemu dengan kekasih pak William itu. Kau bahkan juga menyapanya. Itu artinya kau mengenalnya. Jangan pura-pura pikun kau ini!" Raisya merasa semakin kesal.
"Oh, maksudmu Julia?? Ha ha ha..." Romi tertawa terpingkal-pingkal.
"Kenapa kau tertawa? Bukankah gadis bule itu, Julia, adalah kekasih Pak William? Mustahil bukan kekasihnya. Ia menerobos begitu saja ke dalam kamar Pak William."
"Ha ha ha... Sepertinya kau salah faham Raisya."
"Maksudmu?? Salah faham apa?? Aku tak mengerti."
"Julia bukan kekasih Pak William. Dia adalah adik Pak William. Tentu saja ia bebas masuk di apartement kakaknya."
"Apa?? Jadi maksudmu, gadis bule itu. Maksudku Julia, bukan kekasih pak William, tapi adiknya Pak William?" Tanya Raisya berusaha untuk meyakinkan.
"Yess. Julia adalah adiknya Pak William. Adik Kandungnya Pak William." Sahut Romi.
Mendengar hal itu, Raisya tersenyum tipis, senang. Ia merasa semakin memiliki peluang besar untuk mendekati William.
Aku pasti akan mendapatkanmu William.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
__ADS_1
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman