
Eliyana mendorong kursi roda suaminya dari belakang. Senyum bahagia tak habis- habisnya mengembang di bibirnya. Pertemuan sekaligus makan bersama siang ini, menghasilkan sebuah kesepakatan kerja sama antara Kevin dan Romi.
Proyek 3 hari itu di sanggupi oleh Kevin. Setelah melihat lantai dua puluh, Kevin hanya membutuhkan waktu kurang dari tiga puluh menit untuk menyelesaikan desain ruangannya. Dan berkat luasnya koneksi Kevin, segala keperluan material maupun non material, bisa di selesaikan pada hari itu, sehingga proyek lantai dua puluh itu pun mulai di kerjakan pada hari itu juga.
"Mas, aku harus ke bawah. Kantorku ada di lantai sebelas. Jika mas butuh bantuanku, mas langsung telpon aku ya." Eliyana pamit kepada suaminya untuk turun ke lantai sebelas.
"Jangan khawatir sayang, turunlah." Kevin menepuk- nepuk punggung tangan Eliyana yang sedari tadi menggenggam tangannya.
"Baik, mas." Eliyana tersenyum lalu menuju lift dan turun ke lantai sebelas.
***
Tiga hari kemudian, William sudah menempati ruangan barunya di lantai dua puluh, termasuk Romi dan juga team inti divisi keuangan, semuanya pindah ke lantai dua puluh.
Pagi itu, di ruangannya William sedang memegang sebuah mushaf kecil, kira- kira seukuran telapak tangan orang dewasa. Sesekali ia membacanya, kemudian menutupnya lagi. Sesekali ia juga terlihat melafalkan sesuatu sambil menutup mata, kemudian membuka mata kembali.
"Dan janganlah kamu menikahi perempuan- perempuan yang telah di nikahi oleh ayahmu...." William membuka lagi matanya. "Telah di nikahi, berarti janda bekas istri daddy. Oke, I understud."
William kembali membuka mushafnya. "Di haramkan atas kamu, menikahi ibu- ibumu, anak- anakmu yang perempuan, saudara- saudaramu yang perempuan, saudara- saudara ayahmu yang perempuan, saudara- saudara ibumu yang perempuan, anak perempuan dari saudara- saudaramu yang laki- laki, anak perempuan dari saudara- saudaramu yang perempuan, ibu- ibumu yang menyusui kamu, saudara- saudara perempuanmu sesusuan, ibu- ibu istrimu, anak- anak perempuan dari istrimu, istri- istri anak kandungmu, dan di haramkan mengumpulkan dalam pernikahan dua perempuan yang bersaudara...."
"Tok tok tok." Suara ketukan pintu membuyarkan konstrasi William.
Eliyana masuk ke ruangan William. "Selamat siang pak presdir, Maaf jika saya mengganggu anda."
"Oh, tidak. Aku hanya, sedang membaca mushafku. Lihatlah, aku mengikuti saranmu Eliyana, untuk selalu membawa mushaf kemana pun. Dan aku tadi, sedang membaca surah An Nisa ayat 22 - 23. Aku sungguh takjub, untuk pertama kalinya aku tahu tentang siapa muhrim kita. Eh, maksudku mahrom kita. Ha ha ha, aku selalu saja salah menyebutnya."
"Semakin anda baca, semakin anda akan takjub di buatnya." Ucap Eliyana sambil tersenyum. "Oh iya pak presdir, saya ingin memberitahukan bahwa pak Kevin sudah datang. Apakah anda ingin menemuinya sekarang?"
"Oh iya, tentu saja aku akan menemuinya sekarang. Persilahkan Pak Kevin masuk."
"Baik pak presdir." Eliyana keluar ruangan, dan tak lama kemudian ia kembali masuk sambil mendorong kursi roda Kevin.
William terperanjat, ia tak menyangka jika di balik suksesnya proyek 3 hari lantai dua puluh, ternyata adalah seorang penyandang disabilitas.
"Selamat siang pak presdir."
"Selamat siang pak Kevin."
"Saya datang dan menemui pak presdir, untuk mengucapkan terimaksih, karena telah memberi kepercayaan kepada saya untuk menyelesaikan proyek lantai dua puluh."
"Harusnya saya yang berterima kasih pak Kevin, karena berkat anda lah, lantai dua puluh bisa ku tempati sekarang."
"Tidak, tidak pak presdir. Saya benar- benar ingin mengucapkan rasa terima kasih. Ini adalah proyek pertama saya selama satu tahun ini. Dan terlebih lagi, saya juga ingin berterima kasih karena telah memperkerjakan istri saya, Eliyana, sebagai sekretaris anda." Kevin membungkukkan sedikit pundaknya sebagai tanda hormat kepada William.
"Istri?? Eliyana adalah istri anda??" William bertanya seakan tak percaya. Ternyata laki- laki berkursi roda di depannya itu adalah suami dari sekretarisnya sendiri.
Eliyana menggenggam tangan suaminya, "Benar pak presdir, pak Kevin adalah suami saya." Ucap Eliyana, lalu ia menatap suaminya sambil tersenyum manis. "Terimakasih pak presdir." Eliyana berdiri dan membungkuk di hadapan William.
"Ah, sudahlah sudahlah. Tak perlu terus menerus berterima kasih seperti ini. Pak Kevin," William mengulurkan tangannya kedepan Kevin, lalu Kevin pun menjabatnya. "Senang bekerja sama dengan anda."
"Senang bekerja sama juga dengan anda, pak presdir."
__ADS_1
"Eliyana."
"Ya pak presdir?"
"Tolong antar pak Kevin pulang."
"Tapi pak presdir, ini kan masih jam kerja?"
"Aku beri kau bonus. Hari ini kau boleh pulang lebih cepat. Pulanglah bersama suamimu. Oh iya, apa kalian sudah memiliki anak?"
"Alea. Putri kami namanya Alea. Usianya tiga tahun." Sahut Kevin dengan bangga.
"Ini," William menyodorkan sebuah amplop. "Tolong belikan aku sebuah kado, dan berikan pada putrimu, Alea."
"Pak presdir..." Eliyana tercekat, ia merasa begitu terharu akan kebaikan bossnya itu.
"Ambillah. Ini bukan untuk kalian, tapi untuk Alea."
"Sekali lagi terima kasih pak presdir." Ucap Eliyana dan Kevin bersamaan.
"Ah, sudahlah sudahlah. Kalian ini memang suami istri yang begitu gemar berterima kasih rupanya." Ucap William sembari tersenyum lebar.
Eliyana kembali mendorong kursi roda suaminya, keluar dari ruang kerja William. Hati Eliyana sungguh bahagia.
"Tuhan tak pernah menguji hambanya di luar batas kemampuannya sayang..." Ucap Eliyana begitu ia dan Kevin sudah di dalam mobil.
"Terima kasih, karena kau telah membawaku mengenal Allah. Jangan pernah berhenti mengajari aku islam, Eliyana." Kevin mencium kening istrinya.
Eliyana pun menyetir mobilnya untuk pulang. Tak lupa, di jalan ia mampir dulu ke toko mainan. Ia membelikan sebuah boneka beruang besar berwarna pink untuk putrinya, Alea.
Setibanya di rumah, ia segera menemui putri kecilnya itu.
"Assalamualaikum bidadari mama..."
"Walaitumtayaam hoyeee mama puyang." Alea yang sedang di suapi makan oleh baby sitternya langsung berlari menghampiri Eliyana.
"Lihat, mama bawa apa buat Alea?" Ucap Eliyana sambil menunjukkan boneka beruang yang di bawanya.
"Beaaan beaaan!" Pekik Alea dengan senangnya. Yang di maksud Alea, bean adalah bear, beruang.
"Mataciih mama." Alea memeluk boneka beruangnya.
"Makasihnya jangan sama mama, tapi sama orang yang telah membelikan boneka ini untuk Alea."
"Emangnya ciapa yang belitan boneta bean ini mama?"
"Dia... Adalah seseorang yang berhati malaikat."
"Olang itu, sepelti papa atau sepelti mama?"
"Dia laki- laki, sama seperti papa."
__ADS_1
"Oh, sepelti papa ya ma?"
"Iya sayang."
"Belalti di panggin om ya ma?"
"Alea mau panggil dia om? boleh."
"Mataciih om mayaikat."
"Om malaikat?" Eliyana mengerenyitkan alisnya.
"Iya, om mayaikat. Mama tadi biyang, olang belhati mayaikat."
"Oh.... Ha ha ha..." Eliyana baru mengerti maksud putrinya. "Baiklah, sekarang Alea makan lagi ya... Nanti setelah selesai makan, Alea main sama boneka bearnya."
"Iya mama." Alea kembali ke kursi makannya, dan baby sitternya pun lanjut menyuapinya.
Om malaikat. Eliyana tersenyum mengingat nama panggilan yang di berikan oleh Alea untuk bossnya.
Mungkin anda memang manusia berhati malaikat, pak William.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
__ADS_1
❤️Rohana Kadirman❤️