
Setelah dari showroom mobil, William kembali ke kantornya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan kantor.
"Siang Pak." Sapa Romi, asisstennya. Beberapa karyawan yang kebetulan ada disitu juga langsung berdiri dan membungkukkan badan kepada William.
"Siang." William masuk ke ruangannya. Romi mengikutinya dari belakang.
Begitu sampai di dalam ruang kerjanya, William segera membuka jasnya.
"Ini berkas-berkas yang harus anda tanda tangani Pak," Romi menyodorkan beberapa tumpukan map di meja kerja William.
William mengambilnya, membuka map-map itu, lalu menandatanganinya satu persatu. "Sudah ku bilang Rom, kau ini jangan memanggilku Pak, aku merasa menjadi tua di depanmu jika kau memanggilku Pak." Ujar William sambil menutup kembali map-map yang sudah di tanda tanganinya barusan.
"Sebagai bawahan, saya hanya ingin menghargai anda Pak."
"Ayolah Rom, kau ini kenapa? Kita ini kan sahabat. Janganlah kau panggil aku Pak Pak."
"Tapi Pak,..."
"Tidak ada tapi-tapian. Kalau kau memanggilku Pak lagi, kau akan ku pecat."
"Baiklah Pak, eh William."
"Nah, begitu."
"Tapi Will, aku merasa tidak enak dengan karyawan lain. Rasanya menjadi bawahan yang kurang ajar jika aku langsung memanggil namamu."
"Hemmm... Begini saja, kau boleh memanggilku Pak jika di depan karyawan lain. Selebihnya, tetap panggil aku William. Okey?."
"Hemm, okey. Baiklah Will." Romi tampak setuju dengan usulan William.
William dan Romi memang bersahabat sejak SMA. Ketika William melanjutkan study nya ke Canada, Romi tetap kuliah di Jakarta.
Saat kembali dari Canada, William kemudian memegang salah satu cabang perusahaan milih ayahnya. Ia pun langsung menghubungi sahabatnya, Romi, agar ia mau bergabung di perusahaanya, dan menjadi asisten pribadinya.
"Will, sebaiknya kamu segera mencari sekretaris, agar ada yang mengurusimu. Selama enam bulan ke depan, jadwalmu akan semakin padat."
"Aku masih bisa mengandalkanmu bukan?"
"Tentu saja bisa. Tapi, jika kau memiliki sekretaris, setidaknya ada yang menyiapkan sarapan dan kopimu di kantor. Juga, merapikan meja dan... jasmu," Romi menunjuk ke arah jas William yang tadi di bukanya, dan ia geletakkan begitu saja di atas sofa.
"Kau ini seorang presdir, dan jalan tanpa sekretaris?? Karyawan lain akan menganggapmu pelit, karena tak mau menggaji seorang secretaris." Ucap Romi kemudian.
"Kau terlalu memperdulikan hal itu."
"Sebagai bawahan, juga sebagai sahabatmu. Aku merasa perlu untuk menjaga image dan wibawamu di depan orang lain."
"Kau memang benar-benar sahabatku Rom. Baiklah, kau atur saja semuanya. Carikan sekretaris untukku."
"Oke, siap Will."
"Aku akan pulang sekarang. Malam ini aku janji untuk makan malam di rumah Mommy."
"Baik, aku akan menghandle pekerjaanmu. Jadwalmu juga kosong hari ini."
"Tidak, maksudku. Bersiap-siaplah, kau ikut makan malam juga. Mommy tentu suka jika melihatmu datang."
"Baiklah Will, aku akan ke apartemenmu setelah urusan kantor selesai."
"Kau memang bisa di andalkan kawan!" William mengacungkan jempolnya kearah Romi. Ia kemudian berdiri, dan meraih jasnya.
Romi buru-buru berdiri dan membukakan pintu untuk William, sahabatnya sekaligus bossnya itu.
"Ganteng bangeeet ya Pak William itu." Celetuk Diana, sesaat setelah William berlalu.
Romi menoleh ke arah Diana dan beberapa karyawati yang tengah kasak-kasuk itu.
"Diana, siapkan satu meja untuk karyawan baru."
__ADS_1
"Emangnya mau ada karyawan baru di tim kita Rom?" Tanya Diana. "Cewek atau cowok Rom?" Ujarnya kemudian dengan nada penasaran.
"Belum tahu. Cewek atau cowok. Tapi siapkan saja satu meja, untuk sekretaris Pak William nanti."
"Sekretaris?" Ucap Luna yang baru saja tiba dari toilet.
"Yoi. Pak William akan punya sekretaris." Sahut Romi.
"Aku harap sekretaris Pak William nanti laki-laki. Kalau sekretarisnya cewek, huh bisa berantakan misiku untuk mendekati Pak William." Ucap Luna.
"Ha ha ha, dekati saja. Setahuku Pak William memang belum punya pacar. Jadi, kesempatan untuk kalian untuk mendekatinya masih terbuka lebar." Ucap Romi, kemudian ia kembali ke meja kerjanya.
"Pak William itu memang perfect. Ganteng dan tajiiir. Dia memang idaman setiap perempuan." Ucap Diana sambil tersenyum-senyum sendiri karena membayangkan bossnya itu.
Luna yang mendengar ucapan Diana, langsung melotot dan menatap tajam kearah Diana. "Aku yang akan mendekati Pak William, kau jangan ikut-ikutan." Ucapnya kemudian.
"Hei,...? Easy Luna. Apa kau tadi tidak dengar kata-kata Romi? Dia bilang kesempatan untuk mendekati Pak William masih terbuka lebar. Artinya, kesempatan itu bukan hanya untuk dirimu saja!" Sahut Diana tak mau kalah.
"Luna, Diana! Kalian berdua sudahlah, jangan bertengkar. Kalian berdua miliki kesempatan yang sama. Bersaing saja secara fair." Ucap Romi.
"Okey!" Jawab Luna dan Diana bersamaan. Mereka berdua saling menatap tajam, lalu sama-sama melengos dan kembali ke mejanya masing-masing.
Romi geleng-geleng kepala melihat tingkah dua orang wanita rekan kerjanya itu.
Belum tentu juga kalian akan mendapatkan hati William, batin Romi.
***
Malam harinya.
"Ku kira kau tidak jadi datang," ucap William begitu melihat Romi. "Ini, bawa mobilku saja, kau yang menyetir." William melemparkan kunci mobilnya kepada Romi.
"Okey, Boss." Romi menangkap kunci mobil William, dan langsung menuju garasi dan mengeluarkan mobil William.
Mereka berdua lalu berkendara menuju rumah orang tua William, Mr. Ballard.
"Kreek" Seorang pelayan membukakan pintu. "Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya menunggu di ruang makan." Ucap pelayan itu kemudian.
William langsung menuju ruang makan.
"Hai Mom, Dad." William menyapa ayah dan ibunya.
"Hai sayang,..." Nyonya Mariam memeluk putranya itu.
"Aku datang bersama seseorang." Ucap William berteka-teki.
"Siapa?" Tanya Nyonya Mariam penasaran.
"Masuklah Rom." William berseru kepada Romi, yang memang belum masuk ke ruang makan.
"Selamat malam Tuan, Nyonya." Romi masuk kemudian menyapa Mr. Ballard dan Nyonya Mariam.
"Astaga,... Tunggu-tunggu. Aku seperti mengingatmu. Kau Romi kan?? teman SMA William?"
"Benar nyonya, saya Romi. Terimakasih karena nyonya masih mengingat saya."
"Tentu saja aku masih mengingatmu. Kau kan dulu sering menginap di rumah ini."
"Duduklah, kita masih menunggu Julia, dia belum turun dari kamarnya." Mr. Ballard mempersilahkan William dan Romi untuk duduk.
"Nyonya, apa perlu saya panggil lagi nona Julia?" Tanya pelayan yang sedari tadi berdiri di ruang makan itu.
"Tidak perlu Surti, sebentar lagi Julia pasti akan turun." Ny. Mariam menyahut.
Benar saja, tak lama kemudian Julia datang.
"Oh, ternyata kau sudah datang Will," ucap Julia begitu melihat William yang sudah duduk di kursi. "Maaf, aku sedikit terlambat," ujarnya kemudian sembari menarik satu kursi di samping ibunya.
__ADS_1
"Baiklah, semuanya sudah datang, jadi mari kita mulai makan." Ucap Ny. Mariam.
Setiap orang di meja makan itu kemudian membuka piringnya, dan mengisinya dengan berbagai menu makanan yang di inginkan.
"Will, makanlah ini. Ini ikan gurame goreng kesukaanmu." Ny. Mariam menaruh sepotong slice daging ikan gurame ke piring William.
"Thanks Mom"
"Ayo, makanlah Romi. Jangan sungkan-sungkan."
"Baik Nyonya, terimakasih." Sahut Romi.
"Bagaimana kerjaanmu di kantor? Are you bisa handle semua?" Tanya Mr. Ballard kepada William.
"Yes, Dad. Sejauh ini semuanya bisa aku handle dengan baik. Tentu saja, karena ada Romi juga yang membantuku."
"Ya ya ya. Daddy percaya padamu Will. Perusahaan itu sekarang milikmu. Maka, miliki dia dengan hatimu. Your heart. Perusahaan itu ibarat seorang wanita, seorang ratu. Kau harus menjaganya dengan sepenuh jiwamu."
"Kau memang yang terbaik sayangku." Ny. Mariam memuji suaminya.
"Ngomong-ngomong soal wanita. Besok akan ada wanita yang special datang bersama William." Julia mengerling ke arah William.
"Benarkah?? Siapa gadis itu?" Ny. Mariam terlihat sangat terkejut, namun raut wajahnya berseri-seri.
"Tomorrow night, mommy akan melihatnya sendiri. Akhirnya William jatuh cinta. Jadi mommy tak perlu khawatir lagi. Ha ha ha." Julia tertawa.
"Mommy tak sabar ingin segera berjumpa dengannya. Akhirnya Willy-ku mempunyai pacar. Dan pacarnya adalah wanita, bukan pria." Ny. Ballard terlihat sangat bahagia. "Kau tahu Willy, tadi mommy sempat khawatir saat melihat Romi datang bersamamu. Mommy pikir, dia tadi pacarmu."
"Uhuk uhuk." Mendengar perkataan Ny. Mariam, Romi yang sedang minum tiba-tiba saja tersedak. Ia tak menyangka jika Ny. Mariam ternyata berprasangka seperti itu padanya.
"Ha ha ha."
Semua yang ada di ruang makan justru tertawa melihat Romi sampai tersedak gara-gara mendengar ucapan Ny. Mariam.
"Saya sudah mempunyai pacar Nyonya, dan pacar saya perempuan." Ucap Romi setelah ia berhasil meredakan batuknya.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
__ADS_1
❤️Rohana Kadirman❤️