AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Dawai Kerinduan


__ADS_3

Annisa tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia meletakkan cangkir-cangkir yang di bawanya ke atas meja.


"Silahkan di minum" Ucap Annisa, lalu ia kembali ke dalam.


"Annisa baru saja mengkhatamkan hafalan 30 juz nya, sekarang kuliah ambil jurusan Sains Qur'an di Wonosobo" Papar Kyai Chozin tentang Annisa, putrinya.


"Masya Allah, calon madrasah terbaik untuk anak-anaknya kelak" Sahut Kyai Ghazali sambil melirik penuh arti ke arah Hamzah.


Hamzah pura-pura tidak melihat tatapan abahnya


"Amiiin. Itu yang di harapkan setiap orang tua kepada putrinya. Sebenarnya Annisa meminta izin untuk kuliah ke Madinah, tapi saya merasa berat Kyai"


"Berat bagaimana Kyai ? Utlubul Ngilmi Walau Bissyin. Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Syin. Kenapa mesti melarangnya Kyai ?" Tanya Kyai Ghazali.


"Karena Annisa perempuan. Saya tidak mau melepasnya tanpa seorang mahrom. Saya mengizinkan Annisa ke Madinah, jika dia sudah memiliki mahrom. Memiliki suami. Saya berniat menikahkan Annisa lebih dulu, baru melepasnya jauh. Tapi ternyata, Annisa memang benar-benar haus untuk menimba ilmu, sehingga ia memutuskan untuk kuliah saja di Wonosobo"


"Ya,... Memang beda Kyai. Anak perempuan dengan anak laki-laki memang berbeda" Ucap Kyai Ghazali sambil mengelus-elus jenggotnya yang mulai memutih.


"Tapi saya tetap akan menepati janji saya. Jika datang jodohnya Annisa, dan Annisa masih menginginkan kuliah ke Madinah, dan suaminya ridho serta bersedia mendampingi, maka akan saya berangkatkan, Insya Allah"


"Assalamualaikum"


Ummi Salamah masuk, di ikuti Laila dan Hindun.


"Walaikumsalam"


"Abah"


Laila dan Hindun segera menyalami Abahnya, bergantian. Kemudian beralih menyalami kakaknya, Hamzah.


"Gimana kabar kalian ?" Hamzah mengelus-elus kepala adiknya.


"Alhamdulillah, baik Mas" Sahut Laila.


"Laila dan Hindun hafalannya termasuk cepat. Laila sudah juz 23, sedangkan Hindun juz 19" Ucap Kyai Chozin.


"Semua itu karena bimbingan Kyai. Matur suwon, jazakillah khoiron katsiron Kyai" Sahut Kyai Ghazali.


"Semua itu tak lepas karena ridho dan doa kedua orang tuanya. Monggo Kyai, kita ke masjid, Insya Allah, sebentar lagi, acara akan di mulai" Ucap Kyai Chozin.


Waktu memang sudah menunjukkan pukul 09.45. Lima belas menit lagi, acara milad pesantren Nurul Huda akan di mulai.


***


Sepulang dari pesantren Nurul Huda.


"Gimana Gus ? Kyai Chozin sepertinya memberikan lampu hijau. Putrinya siap untuk di pinang ?" Ucap Kyai Ghazali kepada Hamzah.


"Abah...!" Ummi Salamah menegur suaminya sedikit di tekan.


"Annisa, putri Kyai Ghazali itu, sudah khatam hafalan Qur'an nya 30 juz. Abah yakin, dia akan menjadi istri sholeha, dan bisa menjadi madrasah yang baik untuk anak-anaknya kelak" Ucap Kyai Ghazali tanpa mempedulikan teguran istrinya tadi.


"Abah, nuwon sewu. Saya akan memberitahu abah jika saya sudah siap" Ucap Hamzah kepada Abahnya.


"Apa ada seorang gadis yang kamu sukai ?" Tanya Kyai Ghazali menyelidik.


"Ini bukan tentang perasaan Abah, ini tentang kesiapan. Saya ingin menjadi imam yang baik untuk keluarga saya kelak. Jadi saya ingin mempersiapkan diri lebih matang lagi"

__ADS_1


"Allahu Akbar Allahu Akbar"


Terdengar Azan berkumandang dari pengeras masjid Al Fallah.


"Abah, sudah Adzan Isya. Ayo kita siap-siap ke masjid"


Hamzah berdiri, dan keluar rumah, menuju masjid.


"Bocah itu" Kyai Ghazali menggeleng-gelengkan kepalanya, lagi-lagi sambil mengelus jenggotnya.


"Dia itu anak laki-laki Bah, teman-temannya juga belum ada yang nikah"


"Kalo begitu, apa Laila atau Hindun saja yang abah carikan jodoh ya ?"


Kyai Ghazali terlihat berpikir sejenak.


"Hafalannya Laila dan Hindun belum ada yang tuntas Bah,..."


"Abah rasanya ingin nimang bayi, mendengar celotehan anak-anak kecil. Apa ummi saja yang hamil lagi ya mi ?"


"Sudah, abah jangan berpikir yang aneh-aneh. Insya Allah, akan ada waktunya kita menimang cucu Bah,... Sekarang abah segera ke masjid"


Kyai Ghazali berdiri, mengambil tasbihnya yang tergantung di dinding, kemudian melangkah keluar, menuju masjid.


Ummi Salamah menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menatap suaminya.


***


Malam ini hamzah sedikit gelisah. Ia memikirkan percakapannya siang tadi dengan abahnya. Percakapan tentang jodoh.


Jika iya, siapakah yang akan menjadi jodohku ?


Apakah Annisa ? Putri Kyai Chozin itu memang sangat memenuhi kriteria sebagai calon istri yang sholeha. Agamanya bagus, Ahlaknya bagus, keturunanya bagus, dan dia juga cukup cantik parasnya.


Tapi aku tak memiliki perasaan apa pun terhadapnya, bahkan setelah tadi melihatnya.


Berbagai pertanyaan yang menggelisahkan terus saja berkecamuk di dalam hati Hamzah.


Haruskah aku beristikhoroh sekarang ?


Ah, rasanya belum waktunya. Biarlah aku mengabdikan diri untuk anak-anak santri dulu. Mengamalkan ilmu yang telah jauh-jauh ku timba dari negeri pyramida.


"Pyramida" Hamzah menggumang perlahan.


Sebuah memori tentang Pyramida, mengingatkannya pada kejadian di masa kecilnya dahulu.


Seraut wajahpun tiba-tiba saja melintas di benaknya.


Aisyah.


Ya, Aisyah. Wajah gadis itu tiba-tiba saja melintas di benak Hamzah.


Entah dari mana datangnya, tapi seraut wajah itu, tiba-tiba saja menggetarkan sebuah dawai kerinduan. Jauh di relung hati Hamzah.


Senyumnya. Suaranya. Mata bulatnya. Semua hal tentang gadis itu. Aisyah, gadis yang sudah di kenalnya dari masa kecil dulu.


Inikah yang di namakan cinta ? Cinta seorang pria kepada lawan jenisnya ?

__ADS_1


Malam ini, Hamzah semakin menyadari, bahwa ternyata Aisyah telah memiliki tempatnya tersendiri, di hatinya.


Seperti sebuah Pyramida. Tegak berdiri nan kokoh. Menancap kuat di jiwanya.


Mungkinkah ? Diakah ?


Tapi,....


"Astaghfirullahaladzim" Hamzah beristighfar.


Ini tidak benar, ini tidak bisa di biarkan. Angan tak boleh menang melebihi akal.


Hamzah bangkit dari pembaringannya, dan melangkah menuju kamar mandi.


Ia berwudhu, lalu bersiap untuk tidur.


Sebait doa, setitik asa. Menumbuhkan ghirah di dalam dada. Aku tak ingin mendahului takdir. Biarlah Allah yang menentukan jodohku.


Tugasku hanya satu, memperbaiki hati, memantaskan diri.


Hamzah pun terlelap.


Mungkin saja, dawai kerinduan itu pun menghadirkan sebuah mimpi dalam tidurnya.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.


 


❤️Rohana Kadirman❤️

__ADS_1


__ADS_2