
Julia melajukan mobilnya dengan sedikit kencang, menuju apartemen William.
Sesampainya di apartemen William, Julia menekan bel. "Ting tung!"
Seorang gadis dengan rambut tergerai sebahu, memakai kemeja warna pink fuchia, membukakan pintu.
Julia merasa cukup terkejut karena baru kali ini ia melihat ada seorang wanita di apartemen William.
"Silahkan masuk." Ucap gadis itu.
Julia masuk, dan melihat di ruang tamu tak ada William.
Siapa gadis ini? Kenapa ia ada di rumah William. Sendirian.
"Mana William?" Tanya Julia.
"Pak William sedang di atas, silahkan menunggu disini." Gadis itu menunjuk sofa di ruang tamu William.
Julia melirik gadis itu dengan tatapan tidak suka. Ia lalu menaiki tangga, menuju kamar William di atas.
"Maaf, anda di larang ke atas, silahkan menunggu disini." Gadis itu mengejar Julia dari belakang, namun Julia tak menggubrisnya dan tetap menaiki anak tangga.
"Tok tok tok! Will?" Julia mengetuk pintu kamar William, dan langsung membuka pintunya yang memang tidak terkunci.
"Hei...!" William berteriak terkejut karena Julia menerobos masuk.
Ternyata William baru saja selesai mandi, dan baru memakai celana pendek, tanpa memakai baju.
"Ku kira kau tak ada di dalam." Ucap Julia.
William meraih kaus oblong dan segera mengenakannya.
Sementara itu, gadis berkemeja fuchia tadi akhirnya berhasil juga menyusul Julia, dan tiba di depan kamar William.
"Maaf pak, saya tadi sudah berusaha mencegahnya, agar ia menunggu bapak di bawah saja." Ucapnya sambil membungkukkan badan, meminta maaf kepada William.
Julia menoleh ke arah gadis itu, lalu menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Kau ini..." Belum sempat Julia menyelesaikan kalimatnya, William sudah memotong ucapannya.
"Its okay Raisya... Dia boleh masuk ke kamarku." Ucap William kepada gadis itu, yang ternyata bernama Raisya.
"Oh... Baik pak, maaf saya tidak tahu." Sahut Raisya sambil kembali membungkukkan badan kepada William.
Julia menatap Raisya sekilas, lalu menutup pintu kamar William dengan sedikit keras.
Raisya mematung di depan pintu kamar William, tangannya mengepal keras.
Tunggu saja William, aku pasti akan membuatmu bertekuk lutut padaku. Tak peduli, jika kau sudah memiliki kekasih sekalipun. Aku pasti akan menyingkirkannya dari hidupmu!
Raisya menuruni anak tangga dengan perasaan kesal.
Raisya (Ilustrasi Visual)
***
"Ow... Ternyata kau membawa gadis ke apartemenmu Will, aku cukup terkejut. Jika saja aku tau, aku tak akan mampir kemari." Ucap Julia segera, setelah menutup pintu kamar William.
"Oh my god! Itu tidak seperti apa yang kau pikirkan Julia. Ha ha ha..." William tertawa. "Dia Raisya, sekretarisku."
"Kau membawa sekretarismu pulang ke apartemen?" Tanya Julia dengan nada menyelidik. Entah mengapa, setelah mengenal Aisyah, Julia merasa tidak suka jika William dekat dengan wanita lain. Ia merasa, Aisyah lah yang cocok menjadi kekasih William. Julia kagum dengan sosok dan kepribadian Aisyah.
"Aku dari meeting dengan klien, aku malas kembali ke kantor, jadi langsung pulang ke apartemen. Aku menyuruh Romi untuk menjemput Raisya, mungkin dia sudah di jalan sekarang."
__ADS_1
"Hmm, ku pikir sekretarismu itu kekasihmu."
"Memangnya kenapa kalau dia kekasihku? Bukankah kau yang selalu menyuruhku untuk mencari pacar? Kau selalu mengolokku karena tak mempunyai kekasih."
"Entahlah, aku merasa tidak suka padanya. Aku merasa dia tidak cocok untukmu."
"Kau ini Julia, seperti cenayang saja."
"Pokoknya aku tidak suka. Jika kau memacari gadis lain, maka berhentilah mendekati Aisyah!"
"Impossible! Aku terlanjur jatuh hati pada Aisyah."
"Ku peringatkan kau, jangan dekati Aisyah jika tujuanmu hanya untuk mempermainkannya. Aisyah terlalu baik untuk di sakiti."
"Memangnya siapa yang ingin menyakitinya?? Menyentuh tangannya pun aku belum pernah."
"Baguslah jika begitu. Aku hanya memperingatimu Will." Julia menatap tajam William.
"Okey boss. Jangankan untuk menyakiti, untuk mendekatinya saja aku merasa sangat kesulitan. Dia seperti seorang bidadari, yang tempatnya terlalu tinggi untuk ku datangi."
"Oh, ya Will. Aku punya sebuah informasi bagus untukmu. Ini tentang Aisyah."
"Apa itu?" William menukas dengan cepat.
"Aku tadi tak sengaja bertemu dengannya di depan kampusnya. Jadi aku mengantarnya pulang ke rumah bibi Nadira."
"Lalu? Apa dia berbicara sesuatu tentangku?" William semakin merasa penasaran.
"Jangan terlalu GR dulu." Julia mencibir William karena terlalu merasa percaya diri. "Ayah dan Ibunya Aisyah datang kesini, dan malam ini mereka akan menginap di hotel."
"Lalu??" William masih belum mengerti ke arah mana pembicaraan Julia.
"Julia juga akan menginap di hotel. Kurasa kau bisa menggunakan kesempatan ini. Julia akan menyusul ayah dan ibunya ke hotel clarion. Bukankah hotel itu dekat dengan kantormu?"
"Right!" William menjentikkan ibu jari dan telunjuknya, "I have an idea! Malam ini aku akan menginap juga di hotel clarion."
Julia dan William keluar dari kamar, dan turun ke lantai bawah. Di lantai bawah, nampak Raisya duduk di sofa.
Raisya berdiri begitu melihat William dan Julia.
"Ting tung." bel pintu tiba-tiba berbunyi.
"Mungkin itu Romi." William menunjuk ke arah pintu.
Raisya bergegas membuka pintu, dan benar saja, Romi berdiri di depan pintu.
"Maaf boss, aku terlambat. Jalanan kota Jakarta selalu macet di sore hari." Ucap Romi begitu masuk ke dalam.
"Romi, antarkan Raisya pulang." Ucap William kepada Romi.
"Siap boss!" Romi mengangkat tangan kanannya, memberi hormat tangan kepada William. "Ayo Raisya, ku antar kau pulang." Ucapnya kemudian kepada Raisya.
Raisya membungkuk kembali kearah William. "Saya pergi dulu pak." Ucapnya. Sekilas Raisya melirik ke arah Julia yang berdiri di sisi William.
"Okay." Sahut William singkat.
Romi dan Raisya keluar pintu.
"Aku juga pulang sekarang. Sebaiknya kau pun bersiap-siap untuk malam ini Will. Semoga berhasil."
"Thanks Julia."
***
__ADS_1
Sesampainya di kosan, Aisyah segera mandi dan berganti pakaian.
"Nuri, ayah dan ibuku sudah tiba di Jakarta. Malam ini aku akan menginap di hotel, bersama ayah dan ibu. Kamu ikut juga ya..." Ucap Aisyah kepada Nuri.
"Tapi besok aku ada jadwal di kampus."
"Hmm... Kalo gitu pulang dari kampus, kamu nyusul ke hotel ya. Di hotel clarion, nanti aku share lokasinya. Kamu naik grab aja. Ibu pasti minta di temani jalan-jalan selama di Jakarta."
"Oke deh, besok Insya Allah aku nyusul, kalau malam ini gak bisa, karena besok ada jadwal kuliah."
"Yo wes lah Nuri. Aku pergi sekarang ya... Gak sabar pengen ketemu ibu."
"Assalamualaikum." Aisyah keluar kamar.
"Walaikumsalam." Jawab Nuri.
Aisyah berjalan keluar asrama, dan menunggu mobil grab yang sudah di pesannya.
Tak berapa lama, mobil grab yang di tunggunya datang.
"Selamat malam, sesuai pesanan tujuannya ke hotel clarion ya mbak?" Tanya sopir grab begitu Aisyah masuk ke dalam mobil.
"Iya pak, betul."
Mobil pun mulai bergerak, melaju dengan kecepatan sedang, membelah keramaian jalanan kota Jakarta.
"Lewat tol saja ya mbak, karena kalau jam segini, jalanan benar-benar macet."
"Iya pak, lewat tol saja."
"Tarif toll di tanggung penumpang ya mbak."
"Iya pak, baik."
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
__ADS_1
❤️Rohana Kadirman❤️