
Eliyana mencium tangan suaminya "Aku berangkat kerja dulu ya Mas." Ucapnya.
"Maafkan aku sayang, harusnya aku yang..." Mata suaminya terlihat berkaca - kaca.
"Jangan teruskan." Eliyana memotong kalimat suaminya. "Kita pasti bisa melewati semua ini sayang. Love you." Eliyana mengecup kening suaminya.
Eliyana menghampiri Alea yang sedang asyik bermain puzzle dengan pengasuhnya. "Alea sayang, mama berangkat kerja dulu ya, Alea di rumah main sama Mbak. Jangan nakal ya sayang..." Eliyana mengusap kepala putrinya yang baru berumur 3 tahun itu.
"Aku berangkat kerja dulu ya Mbak, kalau ada apa - apa, segera telpon, kabari aku." Eliyana berpesan kepada pengasuh anaknya.
"Baik Bu." Sahut pengasuh anaknya.
Eliyana menuju garasi, dan masuk ke dalam mobilnya. Dulu di garasi itu, terparkir 4 buah mobil, namun sekarang hanya tersisa satu mobil, yaitu mobil yang di kendarainya itu.
Eliyana menikah dengan suaminya, Kevin Hendarto, 6 tahun yang lalu. Kevin adalah seorang arsitek terkenal dengan bayaran yang cukup mahal, sehingga wajar jika hal itu menjadikan kehidupan mereka sangat berkecukupan. Namun semuanya berubah sejak Kevin mengalami kecelakaan kerja setahun yang lalu. Kecelakan yang menyebabkan Kevin lumpuh kakinya dan harus duduk di kursi roda.
Eliyana mengendarai mobilnya menuju kantor tempat kerjanya, Excellent Group.
***
Eliyana sudah masuk ke dalam lift, ketika di lihatnya seorang gadis berlari berlari di koridor menuju lift. Eliyana pun menahan pintu lift dengan tangannya.
"Terimaksih, sudah menahan lift untukku." Ucap gadis itu ketika sudah berada di dalam lift.
"Sama - sama." Eliyana tersenyum manis. lalu ia menekan tombol lift, tapi ternyata gadis itu juga bersamaan dengannya juga menekan tombol lift.
"Lantai sebelas??" Ucap gadis itu dan juga Eliyana bersamaan. "Ha ha ha..." Mereka pun kembali tertawa bersamaan. Eliyana lalu memencet tombol nomer sebelas.
"Ternyata kita satu lantai." Eliyana mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, "Aku Eliyana. Pegawai baru. Hari ini hari pertamaku masuk kantor".
"Aku Aisyah, mahasiswi magang." Sahut Aisyah sambil tersenyum.
"Kuliah dimana Aisyah?"
"Kuliah di UIN Syarif Hidayatullah, Bu."
"Mbak. Panggil saja aku Mbak, biar lebih akrab terdengar."
"Oh, baiklah. Mbak Eliyana." Aisyah tersenyum. Dia ingat, seseorang yang juga mengatakan hal serupa, yaitu Mbak Sinta.
"Ting." Lift berbunyi, menandakan mereka sudah tiba di lantai sebelas, dan pintu lift pun terbuka.
"Yuuk." Eliyana mengajak Aisyah.
Aisyah mengangguk dan tersenyum. Mereka berdua berbincang sampai di ruang kantor.
"Mejaku di sana Mbak." Aisyah menunjuk jejeran meja paling belakang. "Siapa tau Mbak Eliyana butuh bantuan. Tugasku di sini bantu - bantu." Ujar Aisyah.
"Dan aku belum tau dimana mejaku." Jawab Eliyana sambil tertawa kecil.
"Aisyah...!" Luna melambaikan tangan memanggil Aisyah.
"Mbak Eliyana, aku pergi dulu ya. Luna membutuhkan bantuanku." Ucap Aisyah sambil tersenyum nyengir.
__ADS_1
"Oh iya, tentu saja. Silahkan. Lakukan apa yang harus kau lakukan."
Aisyah pergi ke mejanya untuk menaruh tasnya, kemudian ia buru - buru mendatangi Luna yang tadi memanggilnya.
"Ada apa Luna? Ada yang harus ku kerjakan?" Tanya Aisyah begitu ia mendatangi Luna.
"Tolong foto copy kan ini." Luna menyodorkan beberapa lembar kertas kepada Aisyah.
"Okey." Aisyah mengambilnya lalu pergi ke ruang foto copy.
Sementara itu, Romi yang melihat kehadiran Eliyana, segera menyambutnya.
"Wellcome Eliyana. Mejamu di sebelah sini." Romi mengantarkan Eliyana ke mejanya. Meja itu dulunya adalah bekas meja kerja Raisya.
"Terimakasih." Eliyana mengucapkan terima kasih kepada Romi. Selain Aisyah, Romi memang satu - satunya orang yang sudah dia kenal di ruangan itu. Ia mengenal Romi saat test wawancara kerja.
"Pak William belum datang. Kau bisa mempelajari dulu jadwal kerja Pak William. Semuanya sudah aku kirim ke komputermu."
"Baik, terima kasih." Eliyana duduk di kursinya, lalu mulai sibuk dengan komputer di mejanya. Ia dengan serius mempelajari jadwal kerja Pak William.
***
Aisyah sudah menyerahkan hasil foto copy an nya kepada Luna. "Ini, Luna. Sudah selesai."
"Oke, terimakasih. Sekarang turunlah ke lobby. Ada kurir yang mengantar paket untukku, tolong ambilkan ya. Ini resi paketnya, jika nanti di tanyakan." Luna menyerahkan selembar kertas kecil berisi catatan nomer resinya.
"Akan ku ambilkan untukmu." Aisyah mengambil catatan resi yang di berikan oleh Luna.
"Pak kurir, paket untuk Luna ?"
"Oh iya, benar Bu." Kurir itu lantas menyerahkan paket yang di bawanya."Silahkan tanda tangan di sini Bu."
Aisyah pun menandatangani faktur penerimaan paket milik Luna. Setelah itu ia kembali berjalan menuju lift.
Aisyah membawa paket luna dengan kedua tangannya.
Ini paketnya luna isinya apa ya? Kog berat banget sih?
"Bruuk!" Aisyah menubruk bahu seseorang.
"Auwww...!" Aisyah terpekik karena paket yang di bawanya jatuh dan menimpa kaki kirinya. Aisyah terhuyung dan nyaris saja terjatuh andaikan tubuhnya tidak di raih oleh seseorang yang barusan di tabraknya.
Aisyah menoleh dan seketika wajahnya berhadapan dengan wajah seorang pria yang di kenalinya.
"William ???!!"
"Aisyah ??"
Ucap Aisyah dan William berbarengan dengan nada sangat terkejut.
Wajah Aisyah seketika memerah menyadari tangan kiri William mencengkeram lengannya, dan tangan kanan William melingkar di pinggangnya untuk menahan tubuhnya tadi agar tidak terjatuh.
Aisyah buru - buru membebaskan diri dari William. Ia lalu berjalan tertatih - tatih dan duduk di sofa panjang yang berada tak jauh dari tempatnya jatuh tadi. Kaki Aisyah terasa sakit akibat kejatuhan paket milik Luna.
__ADS_1
William mengambil paket Aisyah yang terjatuh, ia mengerenyitkan alis ketika membaca nama yang tertera di paket itu.
"Luna? Ini kan paket milik Luna. Kenapa Aisyah yang membawakan paket milik Luna? Dan kenapa Aisyah bisa berada di sini? Di kantor ku?" Berbagai pertanyaan berkecamuk di benak William. Ia lalu membawa paket itu dan meletakkan di dekat Aisyah.
"Kau... Mau naik ke lift?" Tanya William.
"Ya. Kau ini seperti hantu Will, selalu saja tiba - tiba muncul dan mengejutkanku." Aisyah terlihat sewot, mungkin karena menahan rasa sakit di kakinya.
"Aku?? Bukankah tadi kau yang menabrakku? Harusnya kau berterimakasih padaku, karena aku cekatan menangkap tubuhmu, jika tidak, tentu kau sudah jatuh."
"Huh! Tetap saja, kau memang selalu saja muncul tiba - tiba. Jika saja kau tidak ada di depanku, tentu aku tidak akan menabrakmu."
"Ha ha ha... Okey okey, The Lady always right. So, forgive me Aisyah."
Aisyah tidak menyahuti permintaan maaf William. Jika di fikir - fikir, memang dirinya lah yang salah, karena ia yang menabrak William, bukan William yang menabrak dirinya.
"Kau ternyata bekerja di sini?" Tanya Aisyah kemudian.
"Aku?? Eh iya. Maksudku iya, aku bekerja di sini?" Jawab William kikuk. "Kau sendiri? Kenapa kau bisa ada di sini?"
"Aku magang di sini."
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman
__ADS_1