AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Jeda Demi Jeda


__ADS_3

Aisyah masuk ke dalam toko, dan langsung duduk di salah satu kursi dengan wajah memberengut.


William masuk ke dalam toko, dan langsung menuju etalase kaca yang memajang beraneka jenis sepatu dan sendal wanita.


Seorang pegawai wanita mendekati William. "Can i help you, sir?"


William menoleh, dan tanpa berkata apa pun, dia mengambil beberapa pasang sepatu flat dan menyerahkannya kepada pegawai wanita itu. "Gadis disana itu." William menunjuk ke arah Aisyah. "Bantu dia, cari yang sesuai untuknya."


Pegawai wanita itu terbengong sesaat. Mungkin dia mengira bahwa William bule, dan tak bisa berbahasa Indonesia.


"Ba- baik." Ucap pegawai wanita itu terbata- bata. Ia segera menghampiri Aisyah dan membantunya mengenakan sepatu demi sepatu itu satu persatu.


"Ini lagi." William meletakkan lagi beberapa pasang sepatu di dekat pegawai wanita yang sedang membantu Aisyah memakai sepatu itu. Kemudian ia menarik sebuah kursi dan duduk sambil memperhatikan Aisyah.


"Hati- hati, kakinya baru saja cedera." William memberi peringatan.


"Baik Pak." Sahut pegawai wanita itu.


Beberapa saat kemudian...


"Yang ini semua cocok di kaki anda, nona." Ucap pegawai wanita itu sambil menunjuk 5 pasang sepatu flat di lantai yang sudah ia pisahkan. Total sepatu yang di teskan di kaki Aisyah ada sebelas pasang sepatu, tapi kebanyakan tidak cocok di kaki Aisyah. Ada yang kebesaran, dan ada yang kekecilan. Tentu saja, karena William hanya asal mengambilnya di etalase tanpa melihat ukuran sepatu Aisyah.


"Aku hanya butuh sepasang sepatu, dan aku ambil yang ini." Ucap Aisyah sambil langsung memakai sepatu flat berwarna krem yang di pilihnya. "Kau bisa menyimpan kembali sepatu yang lainnya." Ucap Aisyah lagi.


"Aku ambil semuanya, bungkus semuanya." Perintah William kepada pegawai itu.


"Baik pak." Pegawai itu tersenyum sumringah, dan dengan cekatan ia mengemas sepatu-sepatu itu ke dalam boxnya.


William menuju meja kasir, dan membayar lima pasang sepatu milik Aisyah. Setelah selesai, ia pun kembali ke dekat Aisyah.


"Sekarang barulah aku akan mengantarkanmu pulang." William mengulurkan tangan kanannya di depan Aisyah.


Aisyah menatap tajam dan dengan gerakan cepat ia menepis tangan William, kemudian ia berdiri dari kursi dan berjalan keluar.


"Ha ha ha...." William tertawa kecil lalu mengikuti Aisyah keluar.


Kembali, di sepanjang perjalanan, Aisyah memilih diam seribu bahasa.


Dan akhirnya, mereka pun sampai di Asrama Nadira.


"Aisyah, maafkan aku jika membuatmu kesal. Aku hanya ingin melakukan yang terbaik untukmu. Bertemu denganmu adalah anugrah, dan bisa mengenalmu adalah hal yang terindah." William menatap Aisyah dengan tatapan tajam, dingin, menusuk.


Ah, tatapan itu lagi.


Aisyah buru- buru melengos. "Kali ini ku maafkan." Ucap Aisyah kemudian. Ia merasa tak punya alasan untuk tetap marah, karena apa yang di lakukan William, memang semata- mata untuk kebaikan dirinya.


"Oh iya, satu lagi. Istirahatlah sampai kakimu sembuh. Jangan dulu masuk kantor."


"Hari ini aku bisa istirahat, besok pasti aku sudah baikan. Dokter juga sudah memberiku obat bukan..?"


"Istirahatlah, setidaknya 3 hari. Kau tetap akan dapat gaji full satu bulan, tanpa potongan."


"Aku tidak kerja magang demi uang, tapi demi nilai mata kuliahku."

__ADS_1


"Jika begitu, istirahatlah tiga hari seperti kataku. Jika tidak, kau justru akan mendapatkan resume buruk dariku, karena kau tidak mengikuti arahan seniormu."


"Kau ini seperti bossnya saja." Aisyah mencibirkan bibir atasnya.


"Percayalah, aku kenal baik dengan bossmu. Aku dan dia, kurasa kami sangat dekat. Ha ha ha...." William keluar dari dalam mobil, lalu membukakan pintu di sisi Aisyah. "Sekarang keluarlah."


Aisyah keluar dari dalam mobil, dan langsung berjalan masuk ke dalam Asrama. Namun sesaat ia berhenti, lalu menoleh ke belakang. "Will, terima kasih sudah mengantarku pulang. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam, Aisyah."


Aisyah masuk ke dalam Asrama, dan langsung naik ke kamarnya di lantai dua. Tapi belum lama ia masuk di dalam kamar, ada seseorang yang mengetuk pintu.


"Tok tok tok."


Aisyah membuka pintu kamarnya. "Pak Dudung?" Rupanya Pak Dudung, satpam asrama yang mengetuk pintu. "Ada apa pak?" Tanya Aisyah heran.


"Ini neng, di suruh antarkan ini." Pak Dudung mengangkat beberapa tas belanja di tangannya.


"Ow...." Aisyah tersenyum meringis. Ia pun menerima tas- tas itu dari pak Dudung. Tas- tas itu berisi sepatu miliknya yang tadi di belinya bersama William.


Aisyah kembali menutup pintu kamarnya, lalu ia melepas pakaiannya dan masuk ke kamar mandi untuk wudhu.


Aisyah melirik jam tangannya, jarum jam menunjuk angka sebelas lebih sedikit.


Hmm... Belum masuk waktu dzuhur.


Aisyah merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Dari mas Hamzah!


Seketika hati Aisyah memekik gembira, berbunga- bunga.


Hamzah: [Assalamualaikum. Bagaimana kabarmu hari ini Aisyah?]


Aisyah : [Walaikumsalam. Alhamdulillah baik, mas.]


Hamzah : [Semoga Allah menjagamu.]


Aisyah : [Semoga Allah menjagamu.]


Satu. Dua. Tiga. Aisyah menghitung dalam hati. Menunggu balasan pesan dari Hamzah, tapi tak ada pesan berikutnya.


"Hhhh..." Aisyah mendesah perlahan. Kemudian ia memejamkan mata, berusaha menghadirkan bayangan wajah Hamzah di pelupuk matanya.


Sabarlah Aisyah.... Sabarlah hati.... Sebentar lagi. Sesaat lagi. Semua kerinduanmu akan terobati. Saat ini, nikmatilah jeda demi jeda keterpisahanmu dengannya.


***


William kembali ke kantor.


Begitu ia masuk ke ruangannya, Romi segera menyusulnya.


"Jangan bertanya apa pun." William mengangkat jari telunjuknya.

__ADS_1


"Aku tidak akan bertanya, tapi justru menjawab pertanyaanmu tentang siapa gadis itu. Tadi sebelum pergi, kau meminta semua informasi tentang gadis magang itu bukan?"


"Ow... Itu. Baiklah, aku ingin mendengarnya."


"Gadis magang itu namanya Aisyah. Nama lengkapnya, Aisyah Huriyya Atmaja. Namanya yang lebih lengkap lagi adalah, Kanjeng Raden Ayu Aisyah Huriyya Atmaja."


"Raden Ayu??" William menyela.


"Ya, tepat sekali apa yang kau fikirkan, Will. Dia memang bergelar Kanjeng Raden Ayu. Kau tahu itu artinya apa Will? Gadis itu seorang bangsawan, darah biru."


"Memang bukan gadis sembarangan." William berbicara, seolah untuk dirinya sendiri.


"Aisyah adalah mahasiswa semester 7 dari UIN Syarif Hidayatulloh. Ia magang di kantor ini, sebagai syarat atau tugas akhir untuk kelulusannya."


William mengangguk- anggukkan kepalanya, ia mendengarkan penjelasan Romi dengan seksama.


"Untuk sementara, hanya itu informasi yang ku dapatkan tentang gadis magang itu." Ucap Romi menyudahi laporannya.


"Good! Aku terkesan."


"Sekarang, bolehkan giliranku bertanya?" Romi menyilangkan kedua tangannya di dada.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.


❤️Rohana Kadirman❤️

__ADS_1


__ADS_2