AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Not Your Business!


__ADS_3

William duduk di ruang kerjanya sambil memijit keningnya. Ia masih teringat kejadian tadi pagi saat sarapan dengan Aisyah, di resto Hotel Clarion.


Kantor William memang berdekatan dengan Hotel Clarion, jadi setelah sarapan tadi pagi, William kembali ke kamarnya, dan bersiap untuk pergi ke kantornya.


William menyandarkan kepalanya sambil memejamkan mata.


"Tok tok tok." Bunyi ketukan pintu mengejutkan William, "Masuk!"


Raisya masuk dangan membawa sebuah nampan berisi kopi dan beberapa potong cake dan muffin di toples kecil. Ia lalu meletakkannya di atas meja William.


"Sarapan anda Pak."


"Hmm... Sebenarnya aku sudah sarapan Raisya."


"Oh, baiklah Pak, saya akan membawa kembali ini ke pantry." Ucap Raisya sambil mengangkat kembali nampan yang baru saja di letakkannya. Ia merasa cukup heran, karena biasanya William selalu sarapan di kantor. Dan sudah menjadi tugas Raisya, setiap pagi ia harus menyiapkan sarapan untuk bossnya itu.


"Kau boleh membawa kembali cake nya, tapi letakkan saja kopinya."


"Baik Pak." Raisya mengikuti perintah William. Ia meletakkan cangkir kopi William, dan mengangkat kembali nampannya, lalu ia berjalan keluar ruangan.


"Raisya!"


"Ya Pak?" Raisya yang baru sampai di depan pintu, menoleh kembali kebelakang.


"Setelah itu, segera kembali kesini."


"Baik Pak."


Raisya keluar dari ruang kerja William, dan menuju pantry. Di pantry, ia bertemu dengan Romi yang juga sedang sarapan.


"Boss tidak jadi sarapan??" Romi bertanya kepada Raisya, karena ia melihat Raisya kembali membawa nampan yang baru saja dia bawa dari ruang kerja William.


"Katanya Pak William sudah sarapan." Sahut Raisya sambil menaikkan kedua bahunya.


"Hmm... Tumben." Ucap Romi sambil mengunyah potongan kue browniesnya.


"Baiklah Rom, aku duluan ya. Pak William menyuruhku segera ke ruangan nya."


"Oke."


Raisya keluar dari pantry. Sebelum kembali ke ruangan William, ia ke meja kerjanya terlebih dulu. Ia mengambil buku agendanya, yang berisi berbagai catatan dan jadwal kerja William.


"Tok tok tok." Raisya mengetuk pintu dan masuk ke ruangan William. Ia langsung berdiri di depan meja William, dan membuka buku agendanya.


"Pak, siang ini ada jadwal anda makan siang dengan klien dari singapore, di lanjutkan dengan rapat bisnis, kemungkinan sampai sore. Malamnya, ada undangan ulang tahun, anak sulung dari pemilik Perusahaan Billboard."


"Skip saja yang itu. Aku butuh waktu bebas malam ini."

__ADS_1


"Tidak bisa Pak, Perusahaan Billboard baru saja taken kontrak kerja sama dengan kita, dua minggu yang lalu. Jadi kehadiran bapak nanti malam, seperti- nya cukup penting untuk menjaga hubungan kerja sama kedua belah pihak.


"Baiklah..." William terlihat pasrah. Sepertinya ia tak punya waktu malam ini.


Setelah selesai membacakan agenda kerja William, Raisya membereskan ruangan William. Merapikan rak map, dan membersih- kan meja. Raisya melihat jas William yang tergelat begitu saja di atas sofa. Ia lalu mengambilnya, dan menggantungkan jas William.


Raisya memang sudah cukup berpengalaman dalam dunia sekretaris. Sebelum bekerja untuk William, ia sudah pernah menjadi sekretaris di sebuah perusahaan di Bali.


Raisya menatap William yang memejamkan mata di atas kursi kerjanya. William terlihat begitu mempesona di mata Raisya.


Tak salah lagi. Dia memang pria incaranku. Dia tampan, wajah bule, dan tajir melintir. Jika aku mendapatkan William, maka aku hanya perlu duduk manis dan menjadi ratu di sisinya. Aku tak perlu lagi bersusah payah bekerja. Aku harus mendapatkan William, bagaimanapun caranya!


Tapi... gadis bule yang masuk ke kamar apartemen William kemarin itu, mungkinkah dia kekasih William? Tak mungkin gadis yang berani masuk ke kamar William jika dia tak memiliki hubungan khusus dengan William. Tapi aku tak peduli! Aku akan menyingkirkan gadis itu jika perlu.


Raisya mulai mencari akal untuk menarik perhatian William. Ia berjalan mendekati William.


"Pak, apakah anda kurang sehat?"


William membuka matanya. "Kenapa?"


"Sepertinya bapak kurang sehat hari ini? Apa bapak sedang sakit? atau pusing?"


"Tidak, aku baik-baik saja. Mungkin aku sedikit kelelahan, atau kurang tidur semalam." Semalam William memang mengalami insomnia, di kamar hotel yang luas itu, ia gelisah dan tak bisa memicingkan mata sampai larut malam.


"Pak, ketika saya di Bali, saya pernah belajar teknik pijat, untuk meredakan ketegangan syaraf. Saya bisa memijat titik-titik akupuntur di kepala bapak. Jika bapak memerlukannya."


"Saya bisa melakukanya Pak, jika bapak menginginkannya."


"Baiklah, kau mungkin bisa..."


Tok tok tok!


Belum sempat William menyelesaikan kalimatnya, seseorang mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk!"


Romi membuka pintu, dan langsung berjalan dan duduk di depan meja William.


"Boss, ini laporan investasi bulan ini yang harus anda tangani. Rincian file nya sudah saya kirim ke komputer anda."


"Baiklah..." William menarik map yang tadi di sodorkan Romi. "Raisya, kau boleh kembali ke meja kerjamu sekarang." Ucap William kemudian.


"Baik Pak." Raisya yang tadi berdiri sisi meja William, berjalan keluar.


Sialan kau Romi! Harusnya kau tak kemari saat ini.


Raisya merasa cukup kesal, hampir saja ia berhasil menyentuh William jika saja Romi tidak datang.

__ADS_1


Raisya kembali ke meja kerjanya, yang tepat berada di depan ruangan William. Ia menghempaskan dirinya ke atas kursi, dan melemparkan buku agendanya ke atas meja dengan cukup keras.


Luna dan Diana yang melihat hal itu, mereka saling tatap dan mengedipkan mata.


"Sepertinya ada yang sedang kesal disini." Ucap Diana dari meja kerjanya.


Raisya yang tahu kalau dirinya yang sedang disindir, segera menoleh ke arah Diana. "Bukan urusanmu!" Ucapnya ketus.


"Wooow... Ada yang sombong disini. Ingat Raisya, aku yang lebih senior di sini jika di bandingkan denganmu."


"Oh, begitu ya. Lalu??"


"Kau jangan terlalu over confident di depan kami." Ucap Diana. Yang di maksud kami oleh Diana, adalah dirinya dan Luna. Memang, dulu Diana dan Luna selalu bersaing untuk mendapat- kan William, tapi semenjak ada Raisya yang menjadi sekretaris William, Diana dan Luna kembali kompak. Mereka tak menyukai Raisya. Menurut mereka berdua, Raisya terlalu angkuh dan over confident di depan mereka.


Tapi, bisa jadi semua itu juga karena rasa iri di hati Diana dan Luna. Mereka tak menyukai Raisya, karena setelah ada Raisya, kesempat- an mereka untuk mendekati William semakin kecil.


"Saat aku mengisi surat lamaran kerja di sini, aku tak melihat ada pernyataan yang mengharuskan aku untuk menganggap Diana dan Luna sebagai seniorku. Bahkan saat wawancara, tak pernah sekalipun nama Diana dan Luna di singgung. Jadi, kalian berdua. Urus saja diri kalian sendiri. Jangan urus yang bukan menjadi urusanmu. Not your Business!" Raisya menatap tajam ke arah Diana dan Luna. Lalu ia mulai membuka komputernya, tanpa mempedulikan Diana dan Luna yang terlihat saling berbisik dan menatap sinis ke arahnya.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.

__ADS_1


~Rohana Kadirman


__ADS_2