AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
My Angel My Poison


__ADS_3

"Hah!! Apartemenmu!? Untuk apa kau membawaku ke apartemenmu??"


William tak menjawab pertanyaan Aisyah. Ia justru turun dari mobil, lalu membuka pintu mobil di sisi Aisyah. "Turunlah." Perintahnya kepada Aisyah.


"Aku tidak mau! Jika kau memaksa, aku akan berteriak." Ancam Aisyah.


"Oh god! Kau ini kenapa suka sekali mengancam akan berteriak?"


"Kalau begitu antar aku pulang sekarang. Aku tidak akan masuk ke apartemenmu."


William yang tadi setengah membungkuk di depan pintu mobil, lalu berdiri tegak sambil menggaruk kepalanya. Ia terlihat sedikit bingung.


"Kalau kau tidak mau mengantarku pulang sekarang, aku akan menelpon taksi saja." Aisyah membuka tasnya dan mengambil Ponselnya.


"Tunggu sebentar." William memberi isyarat kepada Aisyah agar mengurungkan niatnya untuk menelpon taksi. Ia kemudian justru merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya.


William menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo dokter Han, keluarlah sebentar."


Tak berapa lama, seorang pria paruh baya berkacamata, keluar dari pintu apartemen William. Ia tersenyum, kemudian sedikit membungkukkan badan.


"Aisyah, kau lihat laki- laki yang berdiri di depan pintu apartemenku itu?" William menunjuk ke arah dokter Han.


Aisyah mengikuti arah telunjuk William.


"Dia adalah dokter Han. Dokter pribadi keluarga kami. Aku menyuruhnya datang kemari agar dia bisa memeriksa kakimu. Setelah kakimu di obati, aku akan mengantarkanmu pulang." Ucap William berusaha meyakinkan Aisyah.


"Oh, sorry. Ku pikir kenapa kau membawaku ke apartemenmu." Aisyah tersenyum nyengir. Ia merasa bersalah karena sudah menaruh curiga kepada William.


"Apa... Apa tadi kau berfikiran hal bukan- bukan?"


"Tentu saja aku berfikiran buruk. Kau tiba- tiba saja membawaku ke apartemenmu." Aisyah membela diri.


"Ha ha ha, Aisyah... Aisyah. Sekarang turunlah, atau kau akan ku gendong."


"Aku bisa berjalan sendiri. Minggir!" Aisyah sewot.


William menyingkir dari depan pintu mobil, lalu Aisyah turun. Mereka berdua pun masuk ke apartemen.


Setelah masuk ke dalam apartemen, dokter Han pun langsung memeriksa kaki Aisyah, sementara William langsung ke dapur dan mengambil softdrink.


"Berbaringlah nona, atau bersandarlah." Ucap dr. Han kepada Aisyah. Aisyah pun lalu berbaring dengan menyandarkan kepala di lengan sofa, dan kakinya ia selonjorkan.


Dokter Han pun mulai memeriksa kami Aisyah.


"Apa, kakinya baik- baik saja, dokter Han?" William menarik sebuah kursi plastik lalu mendudukinya.


"Kakinya terkilir, ada urat di bawah mata kaki yg sedikit bergeser. Jika di biarkan, kakinya akan bengkak." Papar dokter Han.


"Nona, tahan sebentar ya, ini akan sedikit sakit." Dokter Han menekan dan menarik pergelangan kaki Aisyah.


"Auwww!!" Aisyah terpekik menahan sakit di kakinya.

__ADS_1


"Oke sudah. Tolong setelah ini jangan dulu terlalu banyak beraktivitas." Dokter Han melirik high hills yang di kenakan Aisyah. "Dan jangan dulu memakai high hills untuk sementara waktu, nona."


"Baiklah dokter."


"Aku sudah bilang bukan?" William menatap Aisyah, seolah- olah ia ingin mengingatkan Aisyah bahwa tadi dia sudah menegur Aisyah karena memakai sepatu high hills.


"Baiklah nona, anda sekarang boleh duduk." Ucap dokter Han. Ia kemudian mengambil beberapa obat dari dalam tasnya, dan menuliskan resep untuk Aisyah.


"Ini obat anti nyeri, minum 2 kali sehari. Ini antibiotik, minum 3 kali sehari. Dan yang ini, paracetamol. Jika nanti anda demam, minumlah. Jika tidak demam, anda tak perlu meminumnya, nona." Dokter Han menjelaskan resep obat yang dia berikan kepada Aisyah.


"Baik, terimakasih dokter."


"Sama- sama, nona."


Dokter Han lalu berdiri, membereskan peralatannya dan memasukkannya kembali ke dalam tas. Setelah itu ia berjalan menjauh dari Aisyah, menuju pintu keluar. William pun demikian.


"Saya sudah selesai, pak presdir. Jika ada apa- apa, hubungi saya kembali."


"Terimakasih dokter Han."


"Dengan senang hati, sudah menjadi tugas saya, pak presdir." Dokter Han membungkukkan badan, lalu keluar dari apartemen William.


"Kaki ku sudah selesai di periksa, jadi antar aku pulang sekarang." Ucap Aisyah begitu William datang.


William menatap Aisyah dan mendekatinya. Setelah dekat, ia kemudian membungkuk.


"Aa... Apa yang akan kau lakukan?!" Aisyah menyurutkan badannya kebelakang, sementara matanya melotot tajam menatap William.


Matamu sungguh indah Aisyah. Saat kau marah, matamu yang membulat justru terlihat lucu, dan wajahmu semakin menggemaskan.


William tetap dalam posisinya membungkuk, lalu tangannya terulur ke bawah. "Aku mau mengambil ini." William mengangkat tangannya. Sepasang sepatu high hills milik Aisyah kini menggantung disana.


William berdiri lalu pergi dengan tetap membawa sepatu milik Aisyah.


"Hei Will, kau mau bawa kemana sepatuku? Kembalikan sepatuku!"


William tak menggubris teriakan Aisyah, ia terus berjalan dan menuju sudut ruangan, lalu kemudian,


"Plung!" William melempar sepatu milik Aisyah ke dalam tong sampah.


"Hei...! Beraninya kau membuang sepatuku!" Teriak Aisyah dengan marah.


William tetap diam, dan sama sekali tak menanggapi teriakan Aisyah. Ia lalu menuju ke rak sepatu, dan mencari- cari sesuatu. "Ketemu!" William tersenyum senang, lalu membawa sepasang sendal selop berwarna pink dengan hiasan pompom di atasnya.


"Kau dengar kan tadi? Dokter Han melarangmu memakai high hills." William menatap Aisyah yang masih terlihat sangat marah. "Ini, pakailah untuk sementara. Ini punya Julia, mungkin cocok untukmu." William meletakkan sandal milik Julia itu di depan kaki Aisyah.


Meski dengan perasaan jengkel, Aisyah akhirnya menuruti perkataan William. Ia pun memasukkan kakinya ke sendal milik Julia. Ternyata sedikit kebesaran.


William yang melihat hal itu, berusaha menyembunyikan tawanya. Tentu saja kebesaran. Julia yang seorang gadis blasteran dengan postur tubuh tinggi, tentu ukuran kakinya pun lebih besar di bandingkan ukuran kaki Aisyah.


"Oke, not soo bad. Kita bisa pergi sekarang." Ucap William.

__ADS_1


Aisyah pun berdiri, lalu berjalan menuju pintu dan keluar dari apartement William.


Huh, akhirnya. Aku akan segera pulang. Aku sudah tidak betah berlama- lama di dekat William. Sungguh menjengkelkan, dia membuang sepatu high hillsku, padahal sepatu itu baru ku beli sebulan yang lalu.


William menatap punggung Aisyah dari belakang sambil menggeleng- gelengkan kepala.


Gadis itu benar- benar unik. Gadis lain ingin mendekatiku, dan masuk ke dalam apartemenku, tapi dia justru sebaliknya. Aisyah... My angel. My poison.


William buru- buru menyusul Aisyah keluar, dan membukakan pintu mobil untuknya. Mereka berdua kembali masuk di dalam mobil. Sepanjang perjalanan, mereka berdua memilih diam. William pun tak berusaha untuk mengajak Aisyah mengobrol, karena dia yakin, Aisyah yang sedang dalam kondisi bad mood, tak akan menyahut jika di ajak bicara.


Sampai ketika William membelokkan mobilnya memasuki halaman parkir sebuah rumah mode.


"Kenapa berhenti lagi di sini? Kita mau kemana?" Aisyah semakin jengkel karena William kembali menghentikan mobilnya sebelum ia sampai di rumah kostnya.


William kembali membisu, tak menjawab pertanyaan Aisyah. Ia turun dari mobil, lalu membukakan pintu untuk Aisyah. "Turunlah."


"Aku tidak mau turun." Sahut Aisyah tanpa menoleh sedikit pun ke arah William.


"Turunlah atau kau akan ku gendong."


Aisyah menoleh ke arah William dengan mata melotot tajam." Kau ini benar- benar menyebalkan!" Aisyah akhirnya memilih turun dari mobil.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.

__ADS_1


❤️Rohana Kadirman❤️


__ADS_2