
"Di situ Pak, di belakang map warna kuning." Raisya menunjuk ke arah map kuning di atas rak. Wajahnya masih terlihat pias karena ketakutan.
William melangkah menuju ke arah yang di tunjuk Raisya, sentara Raisya mengikuti William dari belakang. Ia berlindung di belakang punggung William.
William menarik map kuning dari atas rak. Ia lalu mengibas - ngibaskan map itu.
"Tidak ada kecoa nya." William lalu membuka - buka jejeran map yang ada di rak itu.
"Hati - hati Pak, kecoa bisa terbang." Ucap Raisya dari balik punggung William.
"Ha ha ha... Tenanglah Raisya, kecoa hanya lah serangga kecil tak berbisa. ia tak bisa menggigitmu apalagi membunuhmu."
William terus membuka deretan buku dan map di atas rak, tapi tetap saja, ia tak menemukan seekor pun kecoa di sana.
"Hmm... Mungkin kecoanya sudah pergi. Sudahlah, kau tak perlu takut lagi Raisya. Nanti beritahu kepala OB, untuk mensterilkan lagi ruangan ini." William mencoba menenangkan Raisya agar tak takut lagi.
"Baik Pak. Sekali lagi maafkan saya atas kejadian tadi." Raisya terlihat menyesal.
"Its okay Raisya. Tak perlu meminta maaf berkali - kali. Sekarang keluarlah, dan panggilkan Romi ke ruanganku."
"Baik Pak." Raisya membungkuk lalu berjalan menuju pintu, dan keluar dari ruangan William.
Begitu tiba di luar pintu, Raisya pura - pura merapikan kerah kemejanya, lalu ia mengibaskan rambutnya.
Luna dan Diana yang memperhatikan hal itu, serta merta mencibir dalam hati.
Dasar Penggoda. Nenek sihir durjana !
Raisya menuju meja kerjanya, lalu duduk di kursinya dan menyapa Romi.
"Hai Rom."
"Hai Raisya..."
"Pak William memanggilmu."
"Oke, siaaap !" Romi mengangkat telapak tangannya di atas kening, seolah - olah memberi hormat kepada Raisya.
Romi bergegas menuju ruangan William, sementara Raisya terus memainkan sandiwara di depan kedua rekan kerjanya, Luna dan Diana.
"Hmm... Aku lelah sekali..." Raisya mengusap bibir bawahnya dengan jemarinya, lalu ia berpura - pura memijit belakang lehernya. "sepertinya aku butuh minuman. Aku mau ke pantry sebentar, apakah kalian mau sekalian ku ambilkan minuman?" Tanya Raisya sambil memilin rambutnya dengan jari telunjuknya.
"Tak perlu !" Ucap Luna.
"Bagaimana denganmu Diana?"
"Terimaksih, tapi aku tidak haus." Sahut Diana.
"Baiklah kawan, aku hanya berusaha bersikap baik kepada kalian. Walau bagaimana pun juga, kita satu team." Raisya berdiri dari kursinya, lalu berjalan menuju pantry.
***
Romi masuk ke ruangan William dan langsung duduk di sofa.
William berdiri dari kursi kerjanya, dan ikut duduk di sofa.
"Bagaimana dengan Billboard Group?"
"Everything is okay Boss. Raisya mengambil peran besar di sana."
"Maksudmu?"
__ADS_1
"Raisya menjadi bintang, karena ia berdansa semalaman dengan Tuan Subandono, Boss Billboard Group itu."
"Woow... Amazing. Sepertinya Raisya benar - benar smart, menggunakan seluruh potensi yang ada pada dirinya."
"Sang penggoda. Kau cukup menyingkatnya seperti itu. Ha ha ha..." Romi tertawa terbahak - bahak.
"Sang penggoda..." William mengangguk - anggukan kepalanya.
"Aku lihat, dia mulai menggodamu Will?"
"Apa? Ha ha ha... Siapa saja berhak menggodaku Rom... Karena aku tidak bisa mencegah ketampananku memikat mereka. Bukan begitu?"
"Ya ya ya... Aku tahu, kamu berhak untuk sombong Will. Tapi... Ngomong - ngomong, bagaimana dengan kencanmu?"
"Kencan? Itu bukan kencan Rom." William menggaruk kepalanya.
"Maksudmu, kau gagal mengejar gadismu?"
"Bukan seperti itu. Ini sesuatu yang agak rumit untuk di jelaskan."
"Baiklah, terserah kau saja Will. Aku mendukungmu 1000 %. Jika kau butuh bunga lagi, dengan senang hati aku akan mencarikannya untukmu." Romi tersenyum, dia teringat dengan Natasya, si gadis penjual bunga.
"Malam ini sepertinya aku harus lembur. Aku harus menyelesaikan laporanku sebelum rapat bersama para pemegang saham pekan depan."
"Maafkan aku Will. Aku tidak bisa ikut lembur. Aku sudah janji dengan ibuku, mengajaknya nonton di bioskop malam ini."
"Aku tidak akan menghalangimu untuk berbakti pada ibumu. Sampaikan salamku pada Bibi."
Romi memang sangt menyayangi ibunya. Karena tinggal ibunya lah satu - satunya orang tua yang ia miliki. Ayah Romi sudah meninggal beberapa tahun yang lalu.
"Aku akan menyampaikannya nanti."
***
"Pak, ini berkas yang Anda minta." Raisya meletakkan setumpuk berkas di atas meja kerja William.
"Hoaaam..." William menguap keras. Ia sepertinya mengantuk.
"Saya akan membuat kopi Pak." Raisya berinisiatif untuk membuat kopi.
Raisya keluar dari ruangan William, dan sebelum ke pantry, ia pergi dulu ke meja kerjanya. Ia mengambil sesuatu dari dalam lacinya, dan memasukkan sesuatu itu ke saku nya.
Sesampainya di pantry, Raisya pun lalu membuat kopi expresso untuk William, dan menyeduh coklat panas untuk dirinya sendiri.
Namun ada sesuatu yang janggal, setelah selesai menyeduh kopi expresso milik William, Raisya nampak merogoh sakunya, dan mengeluarkan sebuah botol kaca kecil dari dalam sakunya. Ia meneteskan cairan dari dalam botol kecil itu ke dalam kopi milik William. Setelah selesai, Raisya mengambil tissu, membungkus botol kaca kecil itu, lalu ia menginjaknya sampai botol kaca itu hancur berkeping - keping. Raisya lalu membuangnya ke tempat sampah.
Raisya mengangkat nampan yang berisi kopi dan caklat panas miliknya, lalu kembali ke ruangan William.
"Ini kopi anda Pak," Raisya meletakkan cangkir kopi William ke atas meja.
"Terimakasih Raisya." William menyeruput sedikit kopinya, lalu kembali melanjutkan pekerjaanya.
Raisya duduk di sofa sambil menikmati coklat panasnya. Sesekali ia terlihat menatap William dengan lekat.
"Hoaaam...!" William menguap lagi. Ia lalu berdiri dan membawa gelas kopinya, lalu ia duduk di sofa di seberang Raisya.
"Ini belum jam 9 malam, tapi rasanya aku terlalu mengantuk untuk melanjutkan pekerjaan." William menatap arloji di pergelangan tangannya, lalu ia menyeruput kembali kopinya. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
"Bersiap - siaplah, aku akan mengantarkanmu pulang, besok saja kita lanjutkan lagi pekerjaan ini." Ucap William. Sesaat kemudian, ia nampak memijit pelipisnya, tiba - tiba ia merasa pusing. Dan sensasi aneh mulai menjalari perasaanya.
"Pak, Anda baik - baik saja?" Raisya mendekati William, lalu duduk di depan William.
__ADS_1
"Aku... Entahlah. Tidak, aku baik - baik saja." William merasakan dadanya berdebar - debar. Ia menatap Raisya yang duduk di depannya. Sebuah dorongan kuat dalam diri William mulai mengambil peran.
"Raisya, tenyata kau begitu cantik." William mendekati Raisya.
Raisya tersenyum penuh kemenangan. "Aku mencintaimu Pak, beri aku kesempatan." Ucapnya setengah berbisik.
William mendekatkan wajahnya ke wajah Risya. Dengan penuh nafsu, William pun melum*t bibir Raisya. William seakan tak bisa mengontrol dirinya.
"Aahhh..." Raisya mendesah perlahan. Ia meraih tangan William dan melingkarkannya di pinggangnya.
Tepat saat itu, tiba - tiba pintu ruangan di ketuk dari luar.
"Tok tok tok !"
William tersentak, ia serta merta melepaskan dirinya dari pelukan Raisya.
"Klek !" Pintu terbuka, dan Romi muncul sambil menenteng dua kantung di tangannya. "Kejutan...! Aku bawa makanan untuk kalian." Romi mengangkat kedua kantungan di tangannya.
Romi melangkah mendekati sofa, menghampiri William dan Raisya, namun sedetik kemudian, ia segera menyadari sesuatu. "Maaf, sepertinya aku mengganggu kalian berdua. Ini, aku letakkan makananya di meja, dan aku akan pergi sekarang."
Raisya menatap tajam ke arah Romi. Ia benar - benar merasa kesal.
"Tidak tidak. Jangan pergi." William memijit kembali kepalanya. Ia berusaha keras mencerna apa yang baru saja terjadi di antara dirinya dan Raisya.
Any something wrong! Ya, aku yakin sekali. Ada sesuatu yang salah.
"Romi, antarkan Raisya pulang, setelah itu kembali lah kesini." Ucap William dengan cepat.
"Oh, baiklah Pak." Romi mengerenyitkan alisnya. Ia tahu, ada sesuatu yang baru saja terjadi antara William dan Raisya, namun ia memilih diam saja, dan mematuhi perintah sahabat sekaligus bossnya itu.
"Ayo, Raisya. Ku antar kau pulang."
Raisya mendengus perlahan. Ia berdiri dari sofa, mengambil tasnya lalu berjalan keluar pintu mendului Romi.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
__ADS_1
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman