AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Eliyana Mohsen


__ADS_3

Aisyah berjalan di lorong kantor, ia berjalan lurus mengikuti arahan Diana.


Aisyah melewati toilet area, Musholla, Pantry, dan tibalah ia di ruang foto copy.


Ada 2 buah mesin foto copy di ruangan itu. Aisyah menyalakan salah satu mesin foto copy, dan mulai memfoto copy lembaran demi lembaran kertas yang di bawanya.


Aisyah merasa bersyukur, karena ia sering mampir ke tempat Mia untuk foto copy atau membeli keperluan ATK, bahkan pernah juga ia membantu Ica menjaga toko, ketika Mia sedang sakit. Di sanalah akhirnya Aisyah belajar menggunakan mesin foto copy.


Aisyah menarik sebuah kursi ke dekat mesin foto copy, lalu ia duduk sambil menunggu foto copy an nya selesai.


"Drrttttt" Ponsel Aisyah bergetar.


Aisyah merogoh sakunya, dan membuka ponselnya. Sebuah pesan whatsapp masuk, dan ternyata dari Hamzah.


[ Assalamualaikum Aishy. Bagaimana hari pertama magangmu? ]


Aisyah tersenyum membaca pesan itu. Pesan yang sangat biasa memang, namun di kirim oleh orang yang special untuk Aisyah.


Itu adalah pesan kedua yang di kirim oleh Hamzah untuk Aisyah. Pesan pertamanya, di kirim empat hari yang lalu. Pesan pertama Hamzah, hanya berisi ucapan terimaksih, dan bertanya kabar Aisyah. Dari situlah Hamzah tahu, bahwa Aisyah akan masuk kerja magang mulai hari ini.


Aisyah pun mengetik pesan balasan untuk Hamzah.


[ Walaikumsalam. Hari pertama magangku cukup baik. Syukron sudah menanyakannya. 🙏 ]


Aisyah menanti sesaat, ia berharap ada balasan pesan dari Hamzah.


"Drrrttt." Senyum mengembang di bibir Aisyah, harapannya terkabulkan, Hamzah mengirimkan lagi pesan. Aisyah segera membuka nya.


[ Semoga Allah menjagamu. Wassalam. ]


"Amiiin..." Ucap Aisyah lirih. Ia tersenyum, lalu memasukkan kembali ponselnya ke dalam sakunya, kemudian ia mengambil hasil foto copy an nya.


"Tit tit tiit..." Bunyi mesin foto copy di nyalakan. Aisyah menoleh ke belakang. Seorang cowok berdiri di depan mesin foto copy di belakang Aisyah. Sepertinya, karena terlalu dengan ponselnya, sampai - sampai Aisyah tak menyadari ke hadiran orang lain di ruang foto copy itu.


"Sepertinya mesin foto copy ini rusak." Ucap cowok itu sambil berusaha memencet - mencet tombol power ON di mesin foto copy.


"Oh, ka bisa menggunakan mesin foto copy yang ini." Aisyah menawarkan mesin foto copy yang sedang di pakainya.


"Apa kau sudah selesai?"


"Ya, sudah." Sahut Aisyah sambil membawa hasil foto copy an nya ke meja agar cowok itu bisa memakai mesin foto copy nya.


"Okey, baiklah." Cowok itu tersenyum lebar. "Sepertinya aku belum pernah melihatmu, kau karyawan baru di divisi keuangan?" Tanya cowok itu kemudian.


"Aku bukan karyawan baru. Aku... mahasiswi magang."


"Ow... mahasiswa magang." Cowok manggut - manggut. " Aku juga termasuk baru di sini, baru 3 bulan kerja di divisi ini. Oh iya, aku Salman, tapi bukan Salman Khan, ha ha ha." Ucap Salman sambil tertawa.


Aisyah ikut tertawa mendengar perkataan Salman. Rupanya selera humor Salman cukup tinggi. "Aku Aisyah." Jawab Aisyah. Ia sudah selesai dengan pekerjaanya, dan bersiap untuk pergi. "Baiklah Salman tapi bukan Salman Khan, aku sudah selesai. Aku duluan ya..."


"Okey Aisyah." Salman melambaikan satu tangannya kepada Aisyah.


***


Romi mendekati meja Luna dan mengetuk partisinya. "Tok tok tok."


Luna yang sedang serius di depan komputernya, terkejut dan langsung mendongakkan kepalanya. "Ah, kau ini Romi. Mengagetkanku saja."


"Boss, butuh kopi."


"Okey, akan ku siapkan segera." Luna langsung berdiri dari kursinya. Ia berjalan menuju pantry.


Sebelum tiba di pantry, Luna berpapasan dengan Aisyah.

__ADS_1


"Hei kamu, si gadis magang." Luna memanggil Aisyah.


"memanggilku??" jawab Aisyah.


"Ya, tentu saja memanggilmu. Maaf aku lupa siapa tadi namamu."


"Aku Aisyah."


"Ya ya... Aisyah. Aku Luna."


"Luna." Aisyah tersenyum dan mengganggukkan kepala.


"Aisyah, setelah kau serahkan itu kepada Diana, susul aku ke pantry. Okay..."


"Baik, Luna."


Luna masuk ke pantry, dan Aisyah pun melanjutkan jalannya kembali ke ruang kerja.


Sesampainya di ruang kerja, Aisyah pun menyerahkan hasil foto copy an nya kepada Diana.


"Diana, aku aku tadi bertemu Luna di koridor. Dia memintaku menyusulnya ke pantry."


"Ow... Okay. Kau juga perlu mengenal pantry."


Aisyah kembali berjalan, menuju pantry. Sesampainya di pantry, di lihatnya Luna sedang duduk di pinggir meja, menunggunya.


"Masuklah, Aisyah." Luna melambaikan tangannya, menyuruh Aisyah masuk.


"Ini ruangan pantry. Kau bisa membuat teh, kopi, atau coklat." Ucap Luna.


Aisyah hanya mengangguk - anggukkan kepala.


"Dan sekarang aku punya tugas untukmu. Buatkan satu cup kopi expresso. Itu adalah kopi favorit boss kita yang ganteng." Luna menyatukan jari jemarinya sambil menyipitkan mata saat mengucapkan kata ganteng.


"Baik, Luna."


"Tentu saja bisa." Sahut Aisyah.


"Okey, silahkan kerjakan. Aku tunggu di ruang kerja." Luna melangkah keluar.


Aisyah membuat kopi expresso dengan hati - hati. Ia tak ingin melakukan kesalahan sedikitpun di hari pertama kerjanya. Setelah selesai, ia pun membawanya ke ruang kerja, dan menghampiri Luna.


"Ini kopi expressonya, haru ku antarkan kemana?" Tanya Aisyah.


"Ow ow... Cukup sampai di sini. Aku yang akan mengantarkannya ke ruangan Pak Boss." Luna mengambil nampan dari tangan Aisyah, lalu membawanya ke ruangan William.


Aisyah kembali ke meja kerjanya, dan mengerjakan beberapa hal yang di minta oleh Diana.


Tanpa terasa, sudah tiba waktunya jam istirahat. Aisyah beranjak dari meja kerjanya, dan bergegas menuju musholla untuk melaksanakan sholat Dzuhur. Selesai sholat, Aisyah kembali ke meja kerjanya, dan di lihatnya ada Salman disana.


"Hai, Aisyah." Salman berdiri dan menyapa Aisyah.


"Salman? Ngapain disini?"


"He he... Tidak, hanya ingin mengajakmu makan ke kantin. Kau belum makan siang kan?"


Aisyah menggelengkan kepala.


"Ayo kita ke kantin sekarang."


Aisyah merasa tidak punya pilihan lain, ia pun mengikuti Salman, pergi ke kantin yang terletak di lantai dasar.


***

__ADS_1


Seminggu kemudian.


Romi masuk ke ruangan William dengan membawa sebuah map.


"Ini sekretaris barumu." Romi menyodorkan map yang di bawanya ke meja William.


William membuka map itu, dan langsung melihat foto seorang perempuan berjilbab yang tersenyum manis menatap ke arah kamera. "Eliyana Mohsen." Ucapnya, membaca nama yang tertera di lembaran CV itu.


"Eliyana Mohsen. Ibu satu anak yang sekarang harus menjadi tulang pungggung keluarga. Suaminya lumpuh kakinya akibat kecelakaan kerja." Romi menjelaskan siapa wanita yang bernama Eliyana Mohsen itu tanpa di minta.


"Jadi kau memilih dia sebagai sekretarisku karena faktor rasa kasihan?"


"Eliyana Mohsen, lulusan Cambridge University, Inggris. Dia lulus dengan predikat cum laude di jurusan secretary. "


"Good!" William mengacungkan jempolnya.


"Eliyana hanya meminta satu syarat jika ia di terima bekerja."


"Syarat?"


"Ya. Eliyana tidak mau kerja lembur di akhir pekan, karena itu waktunya dia untuk family time. Begitu katanya. Itu syarat yang dia ajukan."


"Oh, i see." William mengangguk - anggukkan kepalanya. Ia mengerti, mengapa calon sekretaris barunya itu tidak bersedia lembur di akhir pekan.


"Baiklah. Kapan dia bisa masuk kerja?"


"Minggu depan."


"Okey. Good job Romi." Lagi - lagi William mengacungkan jempolnya ke atas.



Eliyana Mohsen (Ilustrasi Visual)


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.

__ADS_1


~Rohana Kadirman


__ADS_2