
William menatap wajah Aisyah yang tengah meringis menahan rasa sakit di kakinya.
Mimpi apa aku semalam? Sampai aku bisa menangkap bidadari yang jatuh dari langit?
"Ehem... Sepertinya kakimu terkilir Aisyah. Apa kau butuh pertolongan medis?" William bertanya kepada Aisyah. Di dalam hati ia merasa sangat cemas, melihat raut wajah Aisyah yang nampak kesakitan.
"Pertolongan medis?? Tidak tidak, tidak perlu." Aisyah berusaha bangkit dari duduknya. Setelah berhasil berdiri, ia mencoba menggoyang- goyangkan kaki kirinya. "Kaki ku baik- baik saja. Mungkin hanya memar sedikit, aku akan mengompresnya dengan es batu nanti di pantry." Ucap Aisyah. Ia lalu meraih paket milik Luna yang masih tergeletak di sofa. Dalam waktu yang bersamaan, ternyata William juga berniat mengambil paket itu.
Alhasil, ketika tangan Aisyah memegang paketnya, tangan William justru memegang punggung tangan Aisyah.
Aisyah berpaling ke arah William dengan mata melotot, lalu ia buru - buru menarik tangannya.
Astaghfirullah! Dia memegang tanganku??!
William pun sepertinya terkejut, lalu ia buru - buru mengambil paket itu. "Biar aku saja yang bawa."
Aisyah dan William pun kemudian menuju ke lift. Tak berapa lama pintu lift pun terbuka. Beberapa orang keluar dari dalam lift.
Aisyah sedikit merasa aneh, karena semua orang yang baru saja keluar dari dalam lift, terlihat membungkukkan badan memberi hormat kepada ia dan William.
Setelah masuk ke dalam lift, Aisyah pun menekan tombol nomer 11. "Kau lantai berapa Will?" Aisyah bertanya kepada William, sementara tangannya masih menempel pada tuts tombol lift.
"Sebelas." Sahut William pendek, tanpa memperhatikan tombol lift yang memang sudah menyala merah angka sebelasnya.
"Sebelas?? Kau juga sama denganku di lantai sebelas?" Aisyah menatap William dengan alis sedikit terangkat.
"Hah? Apa?" William segera memutar lehernya dan menatap tangan Aisyah yang masih berada di tuts tombol lift. Ia melotot menatap tombol angka sebelas yang menyala warna merah.
Oh my god! Aisyah ternyata di lantai sebelas! Aku dan dia satu lantai, satu kantor, satu divisi. Kemana saja aku selama ini??
"Itu..." William mengangkat jari telunjuknya. "Maksudku dua puluh!" Ya, aku di lantai dua puluh."
Aku. Kenapa otakku tiba - tiba menjadi beku jika di dekat Aisyah. Kenapa juga aku mesti berbohong padanya? Harusnya aku jujur saja kalau aku juga di lantai 11. Tapi, kalau aku jujur dan dia tahu bahwa aku presdir di perusahaan ini, bagaimana jika justru Aisyah menjaga jarak denganku?? Ah, benar - benar membuatku bingung.
"Oh, okey." Aisyah menekan angka dua puluh. Lift pun bergerak naik ke atas.
Aisyah kembali merasa aneh, karena beberapa kali lift berhenti, tapi setiap kali pintu lift terbuka, orang - orang membatalkan diri untuk masuk ke dalam lift. Bahkan ada beberapa yang justru meminta maaf.
"Ah... Hari ini orang - orang terlihat aneh." Aisyah bergumam perlahan.
"Ting." Lift berhenti di lantai sebelas.
"Aku sudah sampai. Aku turun duluan Will." Aisyah keluar dari lift.
__ADS_1
"Nice to met you, Aisyah."
"Nice to met you too, Will."
Pintu lift tertutup, dan naik ke lantai atas.
Aisyah lalu menuju ruang kantor, tapi ketika melangkah, kakinya terasa sakit.
Sepertinya kaki ku benar - benar terkilir, atau memar. Aku harus segera mengompresnya.
Aisyah mengurungkan niatnya untuk pergi ke ruang kantor dan pergi ke pantry.
Sesampainya di pantry, ia mengambil es batu dan mulai mengompres kakinya. Punggung kakinya memar, dan terlihat mulai membiru, lebam.
Aisyah memikirkan kejadian tadi, saat dia bertemu William.
Ah, kenapa William selalu saja muncul secara tiba - tiba? Mengagetkanku saja. Tapi, sebenarnya aku merasa bersyukur juga bertemu William di sini. Setidaknya, aku jadi punya teman atau kenalan di kantor ini.
"Aisyah...??" Luna masuk di pantry karena mau minum. Tapi kedatangannya mengejutkan Aisyah.
"Luna? Ada apa?"
"Apa yang kau lakukan di sini?" Luna memperhatikan Aisyah yang sedang memgompres kakinya. "Kenapa kakimu?"
"Ya, aku baru saja ingin menanyakannya padamu. Di mana paketku? Bukankah tadi aku menyuruhmu untuk mengambilkannya di lobby??"
"Maafkan aku Luna. Paketmu tadi di bawa oleh William."
"William?? Jadi maksudmu Pak Presdir yang membawakan paketku??"
"Pak Presdir??" Aisyah menyipitkan matanya.
Benar juga. Aku baru menyadari, nama Pak Presdir adalah William. Mungkinkah William yang ku kenal adalah presdir perusahaan Excellent Group? Tapi, bukankah ruang kerja presdir ada di lantai sebelas, sementara tadi William mengatakan, ia kerja di lantai dua puluh. Ah, tidak tidak. Pasti William bukan pak presdir. Mungkin hanya nama mereka saja yang kebetulan sama.
"Bukan, bukan. Bukan pak presdir. Tapi William temanku, dia di lantai dua puluh."
"Hmm, Jadi temanmu yang membawa paketku? kalau kau keberatan mengambilkannya untukku, harusnya kau bilang saja."
"Tidak Luna, bukan seperti itu. Aku sama sekali tidak keberatan mengambilkan paketmu. Hanya saja, tadi terjadi sebuah insiden kecil, dan kaki ku sakit karena kejatuhan paketmu. Jadi William, maksudku temanku, yang membawakan paketmu. Dan tadi aku lupa memintanya saat keluar dari lift." Aisyah menjelaskan panjang lebar, ia tak ingin Luna salah paham.
"Astaga, kau menjatuhkan paketku? Untung saja isinya hanya majalah - majalah. Coba isinya kaca atau porselein, sudah hancur berkeping - keping."
"Maaf Luna, aku tidak sengaja."
__ADS_1
"Okey okey, whatever. Jadi bagaimana dengan paketku?"
"Jangan khawatir, aku akan menelpon William. Maksudku, temanku. Aku akan memintanya untuk mengantarkannya kesini."
"Okey, aku tunggu di meja kerjaku."
"Baik, Luna."
Setelah minum, Luna pun kembali ke ruang kantor.
Aisyah mengambil ponselnya untuk menelpon William.
Huh, William hampir saja membuatku dalam masalah.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
__ADS_1
~Rohana Kadirman