AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Si Gadis Magang


__ADS_3

"Wellcome to my paradise. Wellcome di divisi keuangan." Ucap Romi sambil mempersilahkan Mbak Sinta dan Aisyah keluar duluan dari dalam lift. Ia menahan pintu lift dengan sebelah tangannya. Setelah Mbak Sinta dan Aisyah keluar, Romi pun menyusul keluar.


Romi mengantar Mbak Sinta dan Aisyah ke meja Diana.


"Hai Diana, aku bawa tamu untukmu."


Diana mendongak, dan begitu melihat Mbak Sinta, ia langsung tersenyum lebar. "Hai, Mbak Sinta... Miss you so much."


"Miss you too Diana."


"Sorry gak bisa cipika cipiki, aku lagi flue, takut virusnya nyebar." Ucap Diana. Tiba - tiba Diana buru - buru mengambil tissue di mejanya, lalu menutup mulut dan hidungnya dengan tissue. "Haatchim !" Diana bersin.


"Nah kan... Aku bilang apa. Aku flue." Ucap Diana sambil tersenyum nyengir. Ia membuang tissue yang tadi di pakainya untuk menutup mulut dan hidungnya saat bersin tadi, lalu ia mengambil tissue baru untuk mengelap tangannya. Kemudian ia mengambil masker dari dalam tasnya. "Sebaiknya aku pakai masker saja."


"Oke Mbak Sinta, aku harus segera ke ruangan Boss." Romi yang sedari tadi masih berdiri di dekat meja Diana, pamit kepada Mbak Diana.


"Oke Romi, bye." Mbak Diana melambaikan tangannya.


Romi berjalan, dan masuk ke ruangan William.


"Oh iya Mbak Sinta, mencariku?? Ada perlu apa?"


"Dia Aisyah, mahasiswi magang." Mbak Sinta menepuk pundak Aisyah. "Dia di tempatkan di divisimu. Aku sudah mengirim CV nya kepada Mira, Aku tak tahu ternyata Mira sudah mengambil cuti."


"Oh, iya. Aku sudah membacanya sekilas CV nya di file Mira. Aku tak tahu, ternyata hari ini mulai masuk kerja nya." Diana menatap Aisyah, lalu ia mengerenyitkan dahinya. "Sepertinya aku sudah bertemu dengannya tadi, di dalam lift. Benar bukan?" Diana bertanya kepada Aisyah.


Aisyah menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Baiklah Aisyah." Mbak Sinta menatap Aisyah. "Jadi ini Diana." Mbak Sinta menolehkan dagunya ke arah Diana. " Dia yang akan menjadi mentormu selama kau magang di sini. Selamat belajar, dan selamat bekerja."


"Baik Mbak Sinta, terimakasih." Ucap Aisyah.


"Oke Diana, aku harus segera kembali ke ruanganku."


"Sip Mbak Sinta." Diana menautkan jari telunjuknya dengan jempol membentuk huruf O.


Mbak Sinta pun berdiri dan pergi.


Diana menatap Aisyah, lalu tersenyum.


"Sebaiknya kita berkenalan dulu. Aku Diana." Diana mengulurkan tangannya.


"Aisyah." Aisyah menyambut uluran tangan Diana.


"Kau tak perlu terlalu tegang Aisyah. Hari pertama magang tak seperti hari pertama OSPEK. Aku sudah pernah melaluinya." Diana seperti bisa menangkap ketegangan dan rasa gugup Aisyah.


"Baik..." Aisyah berfikir sejenak, bingung harus bagaimana memanggil Diana.


"Diana ! just call me Diana."


"Oh, baik Diana."


"Di ruangan ini, ada aku, Diana, dan cowok yang tadi itu namanya Romi, lalu ada Luna." Diana menunjuk meja Luna. "Hanya saja, Luna sedang pergi ke toilet. Kemudian ada Lukman, tapi dia sedang cuti menikah, dan ada Mira, dia sedang cuti melahirkan. Yang lainnya, kau bisa mengenalnya nanti."


"Baik, Diana."


"Oke, sekarang ku antar kau ke mejamu." Diana berdiri dari kursinya, dan berjalan menuju barisan meja di belakangnya.


"Ini meja kerjamu sekarang."

__ADS_1


"Terimakasih Diana." Aisyah menatap meja kerjanya. Meja kerja berbentuk huruf L dengan partisi berwarna orange muda. Di atas meja, ada sebuah komputer, printer dan pesawat telephone. Di bagian samping meja, ada 4 laci yang berfungsi sebagai loker.


Meja inilah yang akan membantuku memperoleh nilai akhir untuk kuliahku.


"Jadi, apa yang bisa ku kerjakan sekarang?" Aisyah bertanya kepada Diana.


"Woow... Aku terkesan dengan semangatmu Aisyah. Baiklah, kau bisa mulai membantuku dengan..." Diana nampak berfikir sesaat. "Oh, iya. Apa kau bisa menggunakan mesin foto copy?"


"Insya Allah, bisa."


"Okey, tunggu sebentar." Diana berjalan ke meja kerjanya, lalu kembali dengan membawa beberapa map yang berisi lembaran - lembaran kertas di dalamnya. "Foto copy semuanya, masing - masing menjadi 10 rangkap." Diana menyerahkan map - map yang di bawanya kepada Aisyah.


"Ruang foto copy ada di sebelah sana, tepat di belakang pantry. Kamu hanya perlu berjalan lurus saja ke sana." Diana menunjuk koridor di sebelah kanan.


"Baik." Aisyah membawa map yang harus dia foto copy, dan berjalan menuju ruang foto copy seperti arahan Diana.


Luna baru kembali dari toilet, dan sempat melihat Aisyah yang sedang berjalan ke ruang foto copy.


"Siapa itu?" Luna bertanya kepada Diana.


"Mahasiswi magang, di tempatkan di divisi kita. Lumayan lah, ada yang kita suruh - suruh, secara team kita lagi kekurangan personil banget."


"Oh... Mahasiswi magang. Kaya pernah lihat baju yang dia pakai." Luna berusaha mengingat - ingat.


"Yup !" Diana menjentikkan tangannya. "Dia gadis berjilbab yang pagi tadi sama - sama kita di dalam lift."


"Hmm... Pantasan, aku merasa familiar, meskipun hanya sekilas tadi melihatnya."


"Namanya Aisyah." Diana memberitahukan nama Aisyah kepada Luna.


"Hmm... Baiklah, aku akan mengingatnya. Aisyah si gadis magang."


Di dalam ruang kerja William.


"Romi, bagaimana dengan tugasmu?"


"Beres Will, aku sudah mengurusnya. Sudah ada beberapa pelamar kerja yang mengirimkan CV nya. Aku pastikan, minggu depan sudah bisa melakukan wawancara untuk calon sekretaris barumu."


"Carikan aku sekretaris yang biasa saja..."


"Jika cuma sekretaris yang biasa saja, kau bisa memilih antara Luna atau Diana saja."


"Jangan, mereka berdua sudah sangat kompeten dengan pekerjaan mereka masing - masing. Jika aku mengambil salah satu dari mereka untuk menjadi sekretarisku, maka team kalian akan semakin kekurangan personil. sama saja repotnya."


"Kalau begitu, sekretaris seperti apa yang kau inginkan? Atau sebaiknya kau sendiri yang memilih mereka nanti saat test wawancara."


"Ah... Aku percayakan saja padamu. Yang jelas aku tak ingin sekretaris seperti Raisya."


"Aku bukan cenayang Will, mana tahu alu kalau si Raisya itu akan meracunimu dengan racun libido. Hua ha ha ha." Romi tertawa terbahak - bahak mengingat kejadian itu.


"Sialan kau Rom."


"Aku tak bisa membayangkan jika malam itu tak datang. Mungkin saat ini kau sudah menikahi Raisya. Ha ha ha..."


"Oh God ! Jangan sampai hal itu terjadi. Itu sama saja dengan kutukan." William meremas kertas lalu melemparnya ke keranjang sampah.


"Rom... Kau ini kan orang taat. Aku ingin bertanya padamu. Ada seorang gadis berjilbab, dia tak mau berjabat tangan denganku. Apakah berjabat tangan itu haram?"


"Hmm... Haram??" Romi menggaruk kepalanya, dia bingung harus menjelaskan bagaimana kepada William. "Ya, haram." Ucap Romi kemudian.

__ADS_1


"Hah!?? Berarti kau juga haram berjabat tangan denganku??" William membelalakkan matanya, terkejut.


"Tentu saja tidak, karena kita sama - sama laki - laki. Kita tidak haram berjabat tangan. Yang haram itu, jika berjabat tangan antara laki - laki dan perempuan."


"Itu artinya, aku tak boleh mencium tangan ibuku, atau pun menggandeng tangan adik perempuanku??"


"Oh, bukan - bukan. Bukan seperti itu. Yang haram itu, jika berjabat tangan antara laki - laki dan perempuan yang bukan mahram."


"Mahram?? apa itu mahram?"


"Mahram adalah semua orang yang haram untuk di nikahi, karena sebab keturunan, persusuan dan pernikahan dalam syariat Islam."


"Hmm... Aku masih belum mengerti." william menggelengkan kepalanya.


"Begini Will. Jika gadis yang kau kejar adalah gadis berjilbab yang tak mau berjabat tangan denganmu, maka sebaiknya kau mulai belajar Islam."


"Ayolah... Kau mulai lagi memceramahiku."


"Aku bukan menceramahimu. Tapi aku sedang membantumu mendapatkan peluang untuk mendekati gadismu. Gadis berjilbab bukan?"


"Darimana kau tahu?"


"Ha ha ha... Ayolah Will, itu mudah sekali ku tebak. Kau baru saja bertanya mengapa gadis berjilbab tak mau berjabat tangan denganmu bukan? Tak mungkin kau tanyakan hal itu jika itu bukan hal penting untukmu."


"Benar juga." William tersenyum nyengir. "Sepertinya sekarang aku butuh kopi."


"Akan ku siapkan." Romi berdiri dari sofa dan keluar dari ruang kerja William.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.


~Rohana Kadirman

__ADS_1


__ADS_2