AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Aku Rindu...


__ADS_3

Aisyah berdiri di depan pintu kamar 311, dan menekan belnya.


Begitu pintunya terbuka.


"Assalamualaikum... Ibuuuuu..." Aisyah langsung menghambur kepelukan ibunya, seperti anak kecil yang begitu kegirangan karena berjumpa dengan ibunya.


"Walaikumsalam..." Bu Wijaya memeluk erat Aisyah, putrinya yang sangat ia cintai dan rindukan itu.


"Aisyah kangeeeen banget sama ibu." Ucap Aisyah sambil tetap menggelayut manja di lengan ibunya.


"Jadi hanya kangen sama ibu saja? Tidak kangen sama ayah juga nih? Yo wes, ayah ta pulang lagi ke Jogja aja." Ucap Pak Wijaya pura-pura marah.


"Ayaaaah... Kangen dong. Aisyah pokoknya kangeeeen sama ayah dan ibu." Aisyah menyalami dan mencium tangan ayahnya, kemudian memeluknya.


"Bagaimana kuliahmu ndok?" Pak Wijaya mengelus-elus kepala putrinya. Ditatapnya Aisyah dengan penuh rasa kasih sayang.


"Alhamdulillah, lancar ayah. Tadi Aisyah sudah selesai ujian semester, tinggal menunggu nilainya. Semoga tidak ada remedial. Setidaknya, jangan dalam waktu beberapa hari ini. Aisyah mau sama ayah dan ibu dulu."


Pak Wijaya kembali menatap Aisyah. Putrinya itu terlihat semakin dewasa.


Putriku baik-baik saja. Meskipun jauh dari orang tua, putriku yang manja ternyata mampu hidup mandiri dengan sangat baik.


"Loh kamu datang sendirian? Mana Nuri kenapa tidak di ajak juga?" Tanya Bu Wijaya.


"Nuri besok pagi ada jadwal kuliahnya Bu, jadi gak bisa ikut." Jawab Aisyah.


"Oalaah... Padahal ibunya Nuri kirim titipan juga buat Nuri. Nitip uang sama rendang. Itu rendangnya disana." Bu Wijaya menunjuk ke atas meja.


"Nuri mau kesini kog Bu. Kemarin aku kasih tau dia, suruh nyusul aku kesini kalo pulang dari kampus."


"Oh... gitu toh nduk."


"Ini sudah masuk waktu maghrib apa belum, sekarang ini?" Pak Wijaya bertanya sambil melihat jam di ponselnya. Pak Wijaya memang tak pernah memakai jam tangan, karena kulitnya mempunyai alergi terhadap logam. Jadi ia tak pernah memakai jam tangan.


Berbanding terbalik dengan ayahnya, Aisyah justru menyukai jam tangan. Bagi Aisyah, jam tangan sangat penting, agar ia selalu tepat waktu dalam segala hal.


"Sudah Yah, ini sudah masuk waktu maghrib."


"Ini, ada masjid dekat dari sini ndak? Ayah mau ke Masjid."


"Sepertinya gak ada Yah..." Jawab Aisyah.


"Iya, gak ada." Ucap Pak Wijaya sambil menatap layar ponselnya yang menyala, "Masjid terdekat jaraknya sekitar dua ratus meter dari sini." Ucap Pak Wijaya kemudian. Rupanya Pak Wijaya sedang melihat peta lokasi, mencari masjid terdekat dari hotel clarion tempatnya menginap.


"Yo wes lah Yah,.. Wong kita ini, musafir, ada ruqsoh dari Allah. Kita sholat jamaah di kamar saja." Ucap Bu Wijaya.


Pak Wijaya, Bu Wijaya dan Aisyah, mereka bertiga pun sholat maghrib berjamaah.


Selesai sholat maghrib, seperti biasa Aisyah lanjut tadarus Al-Quran sampai masuk waktu Isya.


Selepas sholat isya, orang tua dan anak yang baru saja berjumpa setelah berpisah hampir satu tahun lamanya itu, kembali bercengkerama saling melepas rindu.


"Bu, gimana kabarnya Mas Mirza?" Aisyah menanyakan kabar kakaknya.


"Masmu itu yo... Seperti biasa. Sibuk di bengkel. Apalagi sekarang bengkelnya masmu itu, Alhamdulillah tambah rame, jadi masmu yo makin sibuk di bengkel. Makin jarang di rumah." Jawab Bu Wijaya.


"Ayo Bu, kita video call Mas Mirza sekarang." Aisyah menyalakan ponselnya, dan berusaha menghubungi kakaknya melalui panggilan video call.


Setelah mencoba beberapa saat, Aisyah meletakkan kembali ponselnya, "Gak di angkat Bu." Ucap Aisyah sambil memanyunkan bibirnya.


Aisyah merebahkan kepalanya di pangkuan ibunya, sambil bercerita ngalor ngidul tentang segala hal.


Aisyah menceritakan tentang kehidupannya di kampus. Tentang teman-temannya, dosen-dosennya, makanan kantin favoritnya, dan segala hal tentang kegiatan kampus dan mata kuliahnya.


Bu Wijaya pun tak kalah antusias, menceritakan segala hal tentang kampung halaman Aisyah, Jogja. Tentang tetangga yang meninggal, anak tetangga yang kawinan, sampai kebun melati di halaman rumah pun di ceritakan oleh Bu Wijaya.

__ADS_1


Sementara itu, Pak Wijaya terlihat sibuk dengan laptopnya, menyiapkan laporan kantor yang akan ia persentasekan besok saat rapat tugas.


"Grrrttt....!" Ponsel Aisyah tiba-tiba bergetar.


Aisyah meraih ponselnya, rupanya panggilan masuk.


"Mas Mirza nelpon Bu." Ucap Aisyah sambil menunjukkan layar ponselnya kepada ibunya.


"Video call?" Tanya bu Wijaya.


"Bukan bu, telpon biasa." Ucap Aisyah sambil mengangkat telponnya.


"Halo, Assalamualaikum mas. Video call dong mas..." Ucap Aisyah segera setelah mengangkat telponnya.


"Ha?? kenapa? Ribut banget sih disitu Mas?" Ucap Aisyah sambil mengerenyitkan alisnya.


"Oh... Yo wes mas. Oke oke. Assalamualaikum." Aisyah mematikan ponselnya.


"Kenapa masmu?"


"Mas Mirza gak bisa video call, dia lagi di acara resepsi nikahan."


"Loh, siapa yang nikah di kampung? Kog ibu kemarin-kemarin gak dapat undngan tuh?" Tanya Bu Wijaya, heran.


"Bukan di kampung Bu. Kalau gak salah, tadi Mas Mirza bilang di pesantren Nur Huda atau Nurul Huda gitu. Soalnya ribut tadi, jadi gak begitu kedengeran Mas Mirza ngomong apa."


"Oh... Mbuh lah, ibu gak tau. Soale ibu gak dapat undangan juga. Mungkin temannya masmu yang nikah."


"Iya mungkin bu." Ucap Aisyah sambil memainkan ponselnya. Ia melihat-lihat time line instagramnya.


Tiba-tiba masuk pesan whatsapp dari Mirza. Aisyah membukanya. Ternyata Mirza mengirimkan sebuah foto.


"Eh Bu, ini Mas Mirza ngirim foto nih." Aisyah menunjukkan foto kiriman Mirza kepada ibunya.


"Ha ha ha... Uh dasar Mas Mirza." Aisyah menertawakan pose kakaknya yang terlihat sangat lucu itu.


Tatapan Aisyah tiba-tiba tertuju pada sosok pria berkemeja warna abu-abu tua yang duduk di sebelah Mirza. Pria itu juga menatap ke arah kamera sambil tersenyum manis.


Aisyah menatap dengan seksama. Mata elang, hidung arab, cambang tipis di pelipis.


MAS HAMZAH. Dia adalah Mas Hamzah.


Tiba-tiba saja hati Aisyah melonjak gembira.


"Aishy, tadi sudah makan belum?"


"Hah? Apa Bu?" Pertanyaan Bu Wijaya tiba-tiba mengejutkan Aisyah.


Aisyah buru-buru menyimpan kembali ponselnya.


"Sudah makan belum tadi sebelum kemari? Mau makan malam?"


"Belum sih Bu... Tapi aku gak begitu lapar sebenarnya. Ibu juga belum makan? Ibu sama Ayah belum makan malam ya?"


"Sudah. Ibu sama Ayah sudah makan tadi sore, pesan di resto hotel. Maksud ibu, kalau Aishy lapar, ibu pesankan makanan juga."


Aisyah berdiri lalu berjalan ke arah kulkas, lalu ia membuka pintunya. Ia mengecek isi kulkasnya. Seperti dugaanya sebelumnya, kulkas itu pasti penuh buah-buahan dan cemilan milik ibunya.


"Ini, banyak makanan." Aisyah menunjuk isi kulkas di depannya. "Aisyah makan malamnya ini saja deh." Ucap Aisyah sambil mengeluarkan satu bungkus keripik kentang, satu buah pear dan beberapa tangkai anggur, lalu memasukkannya ke dalam kantung plastik.


"Gak lapar nanti tengah malam?" Tanya Bu Wijaya.


"Insya Allah gak Bu. Aisyah gam begitu lapar juga soalnya."


"Yo wes, kalau lapar nanti ya tinggal telpon saja resto hotel, minta antarkan makanan ke kamar." Ucap Bu Wijaya.

__ADS_1


"Oke Bu. Kalau gitu aku ke kamarku sekarang ya Bu. Ibu juga istirahat, pasti ibu capek kan, setelah perjalanan jauh." Ucap Aisyah sambil mencium pipi ibunya.


Aisyah keluar dari kamar ibunya, lalu pergi ke kamarnya yang tepat berada di sebelahnya.


Aisyah membuka pintu kamar 313 dan menyalakan lampunya. Aisyah membuka pakaiannya lalu masuk ke kamar mandi, membersihkan badan, sikat gigi, dan berwudhu.


Aisyah kemudian berjalan ke arah jendela, menyibak tirainya, dan menatap ke arah luar.


Dari jendela kamarnya, yang berada di lantai 8, Aisyah bisa menatap ke kejauhan.


Pekatnya malam di hiasi kerlap-kerlip lampu di kejauhan, serta lalu lalang kendaraan di jalanan kota Jakarta yang seakan tak ada habisnya.


Aisyah menghela nafas perlahan, lalu ia merebahkan diri di atas ranjang.


Tiba-tiba Aisyah teringat sesuatu. Ia duduk dan meraih tasnya yang ia letakkan di atas meja. Aisyah mengambil ponselnya, lalu kembali merebahkan diri.


Aisyah membuka ponselnya, dan membuka kembali pesan whatsapp dari kakaknya, Mirza.


Aisyah menatap foto kiriman kakaknya tadi. Aisyah menekan layarnya beberapa kali, membiarkan foto itu berada dalam tampilan zoom beberapa kali lipat.


Sekarang, wajah seorang pria memenuhi layar ponselnya. Ia menatap sosok wajah pria itu dengan lekat.


Senandung asmorondono seakan-akan seketika mengalun merdu di hatinya. Aisyah merasakan dirinya seolah-olah menjelma menjadi sosok Dewi Anjasmoro yang tengah merindukan kekasihnya, Ksatria Damar Wulan.


Rindu. Mengalun lembut di hati Aisyah. Membentangkan rasa syahdu sekaligus pilu yang memanjang. Menebar jerat yang semakin lama semakin erat.


Aisyah mematikan ponselnya, lalu memejamkan matanya, berusaha menepis bayangan Hamzah dari pelupuk matanya.


Akan tetapi, ketika mata Aisyah terpejam, rentetan memorinya tentang Hamzah justru datang memberondong ingatannya.


Mas Hamzah... Aku rindu....


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.


 


~Rohana Kadirman

__ADS_1


__ADS_2