
Semua orang yang ada di ruangan itu, bengong menatap tingkah William yang sangat aneh siang itu. Tak biasanya boss Excellent Group itu murka. Namun siang itu terjadi pemandangan yang sangat berbeda, yaitu kemarahan William tanpa sebab yang jelas.
"Ada apa dengan Pak Presdir?" Tanya Diana kepada Romi begitu William menghilang dari pandangan.
Romi mengangkat kedua bahunya ke atas. "Entahlah, aku sendiri bingung." Romi masih belum bisa mencerna apa yang baru saja terjadi dengan William. Kenapa William pergi ke lantai dua puluh, kemudian datang membawa sebuah paket dan melemparkannya ke meja Luna dengan muka padam.
"Mungkinkah Aisyah itu keluarga Pak Presdir? Kenapa dia semarah itu?"
"Kau ini bodoh atau apa Diana? Jika Aisyah itu anggota keluarga Pak William, tentu Pak William sudah mengetahui sejak awal jika Aisyah magang disini." Ucap Luna ketus, sementara tangannya mulai sibuk membuka paketnya yang tadi di bawakan oleh William.
"Jika bukan anggota keluarga Pak Presdir, mungkin Aisyah adalah pacar Pak Presdir??" Diana kembali menebak- nebak.
"Jleep!" Tiba- tiba luna menancapkan dengan kuat, gunting ke kotak kardus paketnya. Kotak kardus itupun bolong dan tumpukan majalah di dalamnya pun ada beberapa yang ikut terkoyak.
"Luna! Kau ini kenapa?!" Diana yang terkejut tanpa sadar membentak Luna dengan suara keras.
"Aku kesal!" Sahut Luna. Dalam hati Luna mulai menerka - nerka ada hubungan apa antara William dan Aisyah. Luna masih ingat dengan jelas, ketika di pantry tadi, Aisyah mengatakan bahwa paketnya di bawa oleh temannya yang bernama William. Dan menurut kata Aisyah, William temannya itu bukanlah Pak William sang presdir perusahaan.
Mungkinkah Aisyah benar- benar tidak tahu bahwa William adalah sang presdir perusahaan tempatnya magang? Atau, mungkinkah gadis magang itu berbohong?
"Huh...! Mengagetkanku saja." Diana kembali duduk di kursinya.
Romi yang sedari tadi berdiri mematung, dia pun kembali ke mejanya.
Ada apa dengan William? Kenapa dia terlihat sangat marah? Kenapa bisa dia yang membawakan paket milik Luna? Untuk apa dia pergi ke lantai dua puluh? Dan ada hubungan apa antara William dan gadis magang itu?
Berbagai macam pertanyaan bermunculan di kepala Romi. "Aaaarghh!" Romi mengacak- acak rambutnya dengan kedua tangannya. Untuk pertama kalinya ia merasa bingung menghadapi sikap Boss sekaligus sahabatnya itu.
Di antara semua orang yang ada di ruangan itu, hanya Eliyana yang terlihat tetap tenang. Ia justru tersenyum melihat tingkah William, boss barunya yang bahkan belum pernah di temuinya secara langsung itu. Eliyana tahu, jika kemarahan sang presdir perusahaan itu hanya di picu oleh satu hal, yaitu cinta.
Eliyana mengambil ponselnya, dan menatap wallpaper di layar ponselnya. Potret dirinya dan Kevin, suaminya, saat tengah liburan di Belanda. Ia tertawa lebar di atas gendongan punggung kevin, sementara di belakang mereka nampak kincir angin raksasa sebagai latar belakangnya. Eliyana tersenyum mengingat kenangannya itu.
Eliyana mengusap layar ponselnya, lalu mengetik sebuah pesan untuk Kevin.
[ Hai sayang, apa yang sedang kau lakukan sekarang? Apa kau sedang bermain dengan Alea? Jangan lupa istirahat dan minum obat di jam yang tepat. I love you Dav ❤️ ]
***
William melangkah cepat menuju pantry. Tapi begitu ia tiba di depan pintu pantry, ia justru berpapasan dengan Aisyah yang hendak keluar. Hampir saja mereka berdua bertabrakan.
"William! astaga kau mengejutkanku saja. Mana paket milik Luna?"
"Kau mau kemana? Tadi bukannya aku sudah bilang, jangan kemana- mana sampai kakimu benar- benar membaik!" Bukannya menjawab pertanyaan Aisyah, William justru memarahinya.
"Kau ini kenapa? Kenapa kau marah- marah padaku? Aku tidak mungkin berdiam diri terus di dalam pantry." Aisyah menatap William keheranan.
"Itu, itu kan tas milikku. Kenapa kau bawa tasku?" Aisyah menunjuk tasnya yang di bawa oleh William.
"Ini, ambil tasmu. Ku antar kau pulang sekarang."
"Apa?? Pulang?? Yang benar saja kau ini Will. Ini masih jam kerja, aku belum bisa pulang sekarang. Kau juga belum bisa pulang, bukan??"
"Kau mau memaksakan untuk bekerja dengan menahan sakit?" William menatap punggung kaki Aisyah yang terlihat memar.
"Huffth." Aisyah menghela nafas dengan mulutnya.
__ADS_1
Benar juga kata William. Aku tidak mungkin memaksa tetap kerja dengan menahan rasa sakit di kakiku. Sepertinya kakiku bukan hanya sakit akibat kejatuhan paket milik Luna, tapi juga sakit akibat terkilir, karena tadi kakiku sempat tergelincir akibat memakai high hills.
"Baiklah, tapi aku harus minta izin dulu." Ucap Aisyah sambil berlalu pergi.
"Kau sudah mendapatkan izin!" William menangkap tangan Aisyah untuk menghentikannya berjalan.
Aisyah membelalakkan mata dan menatap William dengan rasa jengkel.
Berani sekali dia memegang tanganku!
"Lepaskan tanganku dan jangan berani menyentuhku lagi!" Ucap Aisyah dengan nada tajam.
"Ee e, Apa?" William menatap tangannya yang menggenggam pergelangan tangan Aisyah, kemudian ia justru tersenyum." Ha ha ha, lihatlah! Aku sama sekali tidak menyentuhmu. yang ku pegang adalah lengan bajumu, bukan begitu?"
"Ku bilang lepaskan!" Aisyah menyentakkan tangannya sehingga terlepas dari genggangan tangan William.
Aisyah pun kemudian melangkahkan kaki menuju koridor, keluar ruang kantor. Ia berjalan perlahan, dan tertatih- tatih, karena kakinya terasa sakit.
William yang melihat Aisyah berjalan dengan tertatih- tatih, hatinya menjadi sangat gusar. "Aisyah, apa perlu ku ambilkan kursi roda?" Tanya William kemudian dengan nada khawatir.
"Tak perlu, aku bisa jalan sendiri." Sahut Aisyah dengan nada ketus.
Ketika di dalam lift, William kembali memperhatikan kaki Aisyah yang lebam.
"Lain kali jangan memakai high hills." Ucap William.
"Bukan urusanmu."
"High hills sebenarnya adalah alas kaki terburuk, karena tidak bisa menopang struktur tulang kaki dengan benar."
"Aku hanya mengkhawatirkanmu."
"Berhentilah mengkhawatirkanku."
"Aku hanya..."
"Will..." Aisyah memotong kalimat William. "Bisakah kau diam? please..."
"Okey... I'll be quiet." Ucap William. Ia lalu mengambil ponselnya dan mengirim pesan pada seseorang. Setelah mengirim pesan, ia kemudian menelpon.
"Bawa mobilku kedepan, sekarang."
"Tidak perlu, aku akan menyetir sendiri." William mematikan ponselnya.
Selama di dalam lift, keluar di lobby, dan berjalan keluar gedung kantor, Aisyah terus berdiam diri meskipun sesekali William terus menanyakan tentang kakinya yang sakit.
Di dalam mobil, Aisyah juga memilih diam.
"Aisyah, apa kau mau coklat?" William mengambil coklat dari dalam laci mobilnya lalu menyodorkannya kepada Aisyah.
Aisyah mengambil coklat itu, membuka bungkusnya, lalu menggigitnya. Ketika menggigit coklat itu, Aisyah segera menyadari sesuatu. Itu adalah coklat yang sama seperti coklat yang di kirimkan oleh William, ketika ia menginap di Hotel Clarion beberapa waktu yang lalu, saat ayah dan ibunya datang ke Jakarta.
Mengingat hal itu, tiba- tiba Aisyah merasa tersipu. Ia buru- buru menyembunyikan wajahnya dengan cara memalingkan muka menatap keluar jendela mobil.
"Apa kau mengantuk? Tidurlah jika kau mengantuk." Tanya William.
__ADS_1
"Kau bilang waktu itu, jangan tidur di mobilmu jika kau yang menyetir. Karen, jika aku tidur, itu sama halnya aku menganggapmu sopir. kau mengatakan itu ketika mengantarku sepulang dari pesta ulang tahun Julia."
"Hari ini ada pengecualian. Karena kau sedang sakit, jadi kau boleh tidur."
"Ha ha ha..." Aisyah hanya tertawa dan tidak menanggapi ucapan William.
Aisyah dan William, mereka berdua akhirnya saling terdiam. William fokus menyetir, dan Aisyah lebih memilih asyik berselancar dengan ponselnya.
Sampai ketika William membelokkan mobilnya memasuki sebuah apartement.
"Hai, kenapa kita kesini? Ini bukan rumahku."
"Aku tahu, rumahmu di Jogjakarta."
"Maksudku, ini bukan rumah kost ku."
"Aku tahu ini bukan rumah kost mu. Rumah kost mu adalah rumah bibiku, jadi aku tidak mungkin lupa."
"Lalu kenapa kita berhenti di sini?"
"Karena ini apartemenku." Ucap William datar.
"Hah!! Apartemenmu!? Untuk apa kau membawaku ke apartemenmu??"
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman
__ADS_1