
William berjalan menuju ruangannya.
Tapi kedatangannya, rupanya tak di sadari oleh karyawannya, ia pun menyapa duluan.
"Pagi ! Sepertinya kalian semua sedang tidur." Ucap William.
Luna, Diana, dan Raisya yang tak menyadari kedatangan bossnya itu pun terkejut dan sontak berdiri dari kursinya masing - masing.
"Pagi Pak !" Sahut mereka bersamaan.
William melirik meja kerja milik Romi yang terlihat masih kosong, lalu berlalu dan masuk ke ruangannya.
"Wajah Pak William pagi ini terlihat berseri - seri pagi ini." Ucap Luna sambil menopang dagunya dengan kedua telapak tangannya.
"Iya, wajahnya terlihat seperti orang yang tengah berbahagia. Sejak kapan coba, Pak William mau negur kita duluan?? Biasanya lewat cuek saja, boro - boro mau negur duluan, ngelirik aja kagak kan?" Diana ikut ambil suara melihat perubahan sikap boss nya pagi ini.
Raisya melirik ke arah Luna dan Diana sambil tersenyum sinis, sudut bibirnya terlihat sedikit mencuat ke atas, bermaksud mencibir mereka berdua.
"Kriiiiiing....!" Gagang telephone di meja Raisya berdering. Raisya buru - buru mengangkatnya.
"Raisya, ke ruangan saya sekarang." Terdengar suara William di ujung telephone.
"Baik Pak." Sahut Raisya cepat. Ia pun segera berdiri dari kursinya. Sebelum melangkahkan kakinya, ia mengambil parfume nya dari dalam laci meja kerjanya. Ia menyemprotkannya sedikit di pergelangan tangan tangannya, di lehernya, lalu mengoleskannya di belakang telinga.
Raisya menatap ke arah Luna dan Diana yang juga tengah menatap ke arahnya. "Kalian berdua, berhentilah bersikap seperti pungguk yang merindukan bulan." Ucap Raisya, lalu melangkah ke ruangan William.
"Apa katamu?? Kau bilang kami seperti pungguk merindukan bulan?? Dasar penyihir! Beraninya kau berkata seperti itu!" Luna berdiri dan berniat mengejar Raisya, namun segera di tahan oleh Diana.
"Udah Lun, jangan di tanggepin. Sabar ya... Sabar." Ucap Diana sambil mengganduli lengan Luna, karena jika tidak di tahan, Luna pasti benar - benar menghambur ke arah Raisya, dan mungkin akan terjadi perkelahian di antara mereka.
Tepat saat itu, Romi muncul.
Romi yang baru saja kembali dari musholla melaksanakan sholat Dhuha, terkejut melihat tingkah rekan kerjanya itu. Ia mengamati sebentar, kemudian ia segera mengerti apa yang terjadi.
Pasti persaingan para gadis - gadis lagi.
Romi bersiul - siul kecil, lalu duduk di kursinya, seolah - olah tak melihat apa yang tengah terjadi di antara Raisya, Luna dan Diana.
"Begini nasib jadi bujangan, kemana - mana, asalkan suka, tiada orang yang melarang. Hoooo.... Hati senang walaupun tak punya uang..." Romi bernyanyi kecil.
Nyanyian dan siulan Romi rupanya membuat Luna yang tengah emosi semakin merasa jengkel, lalu meluapkan rasa dongkolnya kepada Romi.
"Dasar kau Romi !" Seru Luna.
"Loh kog aku?? Kenapa aku?? Aku kan baru datang."
"Di antara banyaknya pelamar kerja, kenapa dulu kau memilih Raisya sebagai sekretaris Pak William !"
"Karena, memang dia yang paling tepat untuk menjadi sekretaris Pak William. Dia smart, berpengalaman, dan professional. Bonusnya, Raisya juga memiliki penampilan yang menarik bukan..."
__ADS_1
"Ya, tapi sikapnya sangat buruk kepada rekan kerja!" Ucap Luna berapi - api.
"Hmm... Raisya cukup baik kepadaku... Sama seperti kalian."
"Dia tidak sama seperti kami!" Kali ini Luna dan Diana menyahut bersamaan.
"Ya ya ya... Baiklah. Raisya tidak sama dengan kalian. Raisya lebih dari sisi mana pun di bandingkan dengan kalian. Ha ha ha..." Romi sengaja menggoda Luna dan Diana.
Luna yang masih emosi, dia langsung mendekati Romi dan menarik telinga Romi. "Rasakan ini !"
"Auuuw auuuuw ! Ampuuuun Luna !" Romi berteriak kesakitan.
"Aku bisa membuat telingamu putus jika kau terus bertingkah seolah kau ini kaki tangan Raisya!"
"Ha ha ha,.. Ayolah gadis gadis... Kita semua satu team, kita harus tetap solid. Okay..."
Luna melepas tangannya dari telinga Romi.
Romi mengusap - usap telinganya yang terlihat memerah.
Benar - benar, para gadis ini. Mereka semua seperti siluman rubah. Sebentar lembut, sebentar ganas.
***
Raisya merapikan rambutnya, dan melebarkan kerah bajunya, agar leher dan bahunya lebih sedikit terbuka. Ia lalu mengetuk pintu, dan masuk ke ruangan William.
"Bapak memanggil saya?"
"Baik Pak." Raisya membuka buku agenda yang di bawanya. Lalu ia membacakan jadwal kerja William selama satu minggu ke depan.
"Kenapa semakin padat jadwalku minggu ini?"
"Iya Pak, karena seminggu ini Anda sering minta di kosongkan jadwal, sehingga jadwal di alihkan untuk pekan depan. Tentu saja, minggu depan jadwal anda jadi lebih padat di banding minggu - minggu sebelumnya."
"Ya ya... Baiklah." William mengambil pulpen di atas mejanya, lalu ia memainkan pulpen itu dengan jarinya.
"Ambilkan berkas laporan tim personalia." Ucap William kemudian.
"Baik Pak." Raisya berjalan ke arah rak berkas, yang letaknya ada di sisi sebelah kanan meja kerja William.
Raisya mengambil berkas yang di minta William. Ia melirik ke arah William yang tengah duduk sambil memutar - mutar pulpen dengan jemarinya.
Sesaat kemudian...
"Auuwww...!" Raisya menjerit dan melompat ke arah William.
William yang terkejut mendengar teriakan Raisya, sontak memutar kursinya dan langsung menangkap tubuh Raisya yang melompat ke arahnya.
Raisya menjatuhkan tubuhnya ke atas pangkuan William. "Kecoa! Ada di rak berkas Anda Pak!" Raisya membelalakkan mata, dan raut wajahnya terlihat sangat ketakutan.
__ADS_1
"Kecoa?? Di ruanganku??" William mengerenyitkan alisnya.
"Saya takut kecoa Pak!" Raisya memeluk erat William. Ia sengaja menekan dadanya kearah dada William.
William menatap Raisya yang berada tepat di bawah dagunya. Kemeja Raisya yang berkerah lebar, serta posisinya yang menempel ke arahnya, membuat belahan dada Raisya tersingkap lebih terlihat. Di tambah lagi aroma parfume Raisya yang wangi exsotic. Sebagai lelaki normal, William tiba - tiba merasakan sensasi sensual.
Sebenarnya, jika di perhatikan, Raisya adalah wanita yang sangat cantik. Dadanya penuh, bibirnya merekah, matanya memiliki bulu yang lebat indah, serta postur tubuhnya yang tinggi aduhai.
Oh, apa yang ku fikirkan??
William buru - buru menepis fikiran ngawur yang tiba - tiba menghinggapi otak lelakinya.
"Oke oke. Aku akan cari kecoa nya, tapi kau harus turun dari pangkuanku lebih dulu."
"Oh!" Raisya tersentak, dan buru - buru melepas pelukannya dari tubuh William, seolah - olah ia tidak menyadari apa yang dia lakukan. "Maafkan saya Pak!" Raisya serta merta melompat turun dari pangkuan William.
"Maafkan saya." Raisya berdiri dan membungkukkan badan kepada William. "Saya tidak sadar apa yang saya lakukan."
"Ha ha ha, its okay. Aku tidak heran jika melihat cewek takut sama kecoa. Yang aku herankan, kenapa bisa ada kecoa di ruanganku. Baiklah, dimana kecoa nya?"
"Di situ Pak, di belakang map warna kuning." Raisya menunjuk ke arah map kuning di atas rak. Wajahnya masih terlihat pias karena ketakutan.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
__ADS_1
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman~