
William tiba di lantai dua puluh.
Lantai dua puluh itu sebenarnya tidak di fungsikan sebagai ruang kantor, atau lebih tepatnya belum di fungsikan. Rencananya, William akan menempati lantai dua puluh itu sebagai ruang kantornya dan juga ruang kerja untuk staf- stafnya.
William berjalan mondar mandir di ruang kosong itu, satu - satunya benda yang ada di sana hanyalah sebuah sofa panjang yang di letakkan di dekat jendela.
William sangat gelisah. Ia duduk sebentar, kemudian berdiri lagi. Ia lalu mendekati jendela dan menatap keluar.
"Aaarrghh!" William mengumpat keras. Suaranya menggema memenuhi seluruh ruang lantai dua puluh yang masih kosong itu.
Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang? Kenapa juga aku harus ke lantai dua puluh? Aku sangat merindukan Aisyah, tapi kenapa sekarang aku justru menghindarinya? Bukankah ini kesempatan yang baik untukku? Takdir baik sedang memihak padaku dengan menjumpakanku dengan Aisyah di kantorku sendiri. Bukankah aku harusnya tak menyia - nyiakan kesempatan emas ini? Oh, my angel. Oh, Aisyahku... Rasanya otakku benar - benar beku.
"Drrttttt." Ponsel William berdering.
"Oh, dame it!" William terlonjak, ia dikejutkan oleh bunyi ponselnya sendiri. Ia lalu merogoh saku celananya dan mengeluarkan ponselnya. Matanya seketika membelalak melihat nama yang tertera di layar panggilan.
Kenapa Aisyah tiba - tiba menelponku??
William segera mengangkat panggilan Aisyah.
"Ehem." William berdehem. "Assalamualaikum Aisyah."
"Walaikumsalam." Terdengar Aisyah menjawab salam dengan nada cepat.
"Kita tadi baru saja bertemu, tapi sekarang kau sudah menelponku. Apa kau rindu padaku?"
"Simpan semua kata- katamu Will. Kau hampir saja membuatku dalam masalah."
"Apa maksudmu? Aku tak mungkin membiarkanmu dalam masalah."
"Mana paket ku tadi? Eh, maksudku paket milik Luna. Tadi kau yang membawanya."
"Paket???" William mengerenyitkan alisnya, kemudian dengan tampang bodoh ia menatap tangan kirinya. Paket itu masih di sana, di pelukan tangan kirinya.
Oh god! Entah apa yang merasuki ku. Aku bahkan tidak sadar, jika sedari tadi mondar - mondir sambil membawa paket di tanganku.
"Iya, paket yang tadi. Paket milik Luna. Jangan bilang kalau kau menghilangkan paket itu?"
"Oh, tidak. Tentu saja tidak. Paketnya masih ada padaku. Maaf aku tadi lupa memberikannya padamu."
"Alhamdulillah, syukurlah. Aku pikir paketnya tercecer. Aku bisa benar- benar dalam masalah besar jika hal itu terjadi."
"Jangan khawatir Aisyah, paketnya aman."
"Okey, jika begitu, aku harap kau tak keberatan untuk mengantarkan paketnya ke lantai sebelas."
"Aku? Harus mengantar paket ini ke lantai sebelas?"
Oh god! Aku sengaja menghindar ke lantai dua puluh, tapi sekarang aku justru harus ke lantai sebelas, dan mengantarkan paket milik Luna pula.
William melongo, tampangnya terlihat sangat bodoh. Andai saja ada orang yang melihatnya.
"Kenapa? Kau keberatan Will?"
__ADS_1
"Tidak, tidak. Bukan seperti itu..."
"Aku saat ini sedang di pantry, mengompres kaki ku yang memar. Tapi jika kau keberatan mengantarkan paketnya, baiklah aku saja yang pergi ke ruanganmu di lantai dua puluh."
"Oh tidak, jangan lakukan itu! Tetaplah di tempatmu dan jangan banyak bergerak sampai kakimu benar- benar membaik. Aku tidak ingin kau kenapa- kenapa. Aku akan antarkan paketnya sekarang juga." William mendadak menjadi sangat khawatir dengan keadaan Aisyah.
Baru saja William mematikan ponselnya dan berniat pergi, ponselnya kembali berdering.
"Siapa lagi ini yang menelponku!" Umpat William dengan kesal. Ia membuka kembali ponselnya, dan ternyata Romi yang menelponnya.
"Ada apa menelponku?"
"Aku melihat mobilmu di parkir area."
"Kau menelponku hanya untuk memberitahukanku hal itu!!??" Suara William meninggi.
"Tapi kau tidak ada di ruanganmu."
"Aku di lantai dua puluh."
"Di lantai dua puluh? Apa yang kau lakukan di lantai dua puluh Will?" Romi bertanya keheranan.
"Aku sedang..." Kalimat William terhenti.
Benar juga kata Romi. Apa yang sedang ku lakukan di sini?
"Will, apa kau baik- baik saja? Atau ada yang perlu ku lakukan untukmu?" Romi bertanya karena William terdiam cukup lama.
"Aku baik- baik saja. Aku akan segera turun ke lantai sebelas." William mematikan ponselnya lalu berjalan menuju lift.
"Brak!" William menjatuhkan paket milik Luna ke atas meja cukup keras.
Luna terkejut dan langsung berdiri seketika. Dan ketika ia melihat siapa yang baru saja membawakan paketnya itu, Luna semakin terkejut lagi.
"Paketmu cukup berat. Aku rasa beratnya lebih dari lima kilogram. Kau bisa membayangkan bagaimana rasanya jika benda seberat itu menjatuhi kakimu, HAH???!!" William membentak Luna.
"Pak, ke kenapa pa paket itu bisa ada pada anda?" Luna tergeragap bicara.
"Jangan pernah menyuruhnya lagi mengambilkan paket untukmu." William menatap Luna dengan sorot mata tajam.
"Baik pak, maafkan saya." Luna membungkukkan badan, meminta maaf.
"Dimana mejanya?!"
"Maksud bapak, meja Aisyah? Gadis magang itu?"
"Apa aku sedang membicarakan orang lain? Tentu saja dia! Dimana mejanya?!"
"Itu disana pak. Deret paling belakang, sebelah kanan." Luna menunjuk ke arah meja kerja Aisyah.
William menoleh ke arah yang di tunjuk Luna.
Rupanya Aisyah duduk di meja paling belakang, pantas saja aku tidak pernah melihatnya.
__ADS_1
William berjalan menuju meja kerja Aisyah. Setelah sampai, dia mematung di depannya. Ia menatap sebuah bingkai kecil yang di letakkan di sudut meja kerja itu. Bingkai foto itu berisi foto Aisyah dan ibunya.
Oh my god! Ternyata benar, ini meja Aisyah. Ternyata selama ini dia duduk di sini.
William mengambil bingkai foto itu, menatapnya sesaat, lalu mengembalikannya lagi di tempatnya.
"Ada apa Pak Presdir?" Romi tiba- tiba sudah berdiri di dekat William.
William menoleh dan kemudian bertanya kepada Romi. "Sejak kapan dia di sini?" William menunjuk foto Aisyah.
"Hmm... Sekitar satu bulan yang lalu. Oh, tidak. Lebih dari sebulan yang lalu."
"Kenapa kau tidak pernah memberitahuku?"
"Sejak kapan seorang presdir perlu laporan mengenai mahasiswa magang? Apakah itu hal penting?"
"Seharusnya bukan hal penting, tapi sekarang menjadi penting. Seharusnya aku tak perlu laporan, tapi sekarang kau harus melaporkan semua hal tentang gadis magang ini."
Romi mengerenyitkan alis. Ia merasa keheranan kenapa boss sekaligus sahabatnya itu tiba- tiba terlihat sangat berang. "Apa ada masalah pak?"
"Ya. Kau akan dalam masalah jika tak melakukan apa yang baru saja ku katakan."
"Baik pak." Romi membungkukkan badan.
William meraih tas milik Aisyah yang tergeletak di atas mejanya. Lalu ia berjalan menuju pantry.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
__ADS_1
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman