
Pagi hari.
Usai sholat subuh, Annisa lanjut mengaji dan memurojaah hafalan qur'an nya. Setelah selesai, ia menggelar matras, dan melakukan yoga ringan di kamarnya.
Annisa memang menyukai yoga. Ia belajar sendiri melalui video tutorial, dan buku-buku yoga.
setelah 45 menit melakukan yoga, Annisa mandi, dan berganti pakaian. Ia keluar dari kamar dan menuju dapur. Di dapur di lihatnya Bi Lastri sedang sibuk menyiapkan sarapan di atas meja.
"Eh, Neng Annisa. Mau sarapan sekarang Neng?" Tanya Bi Lastri ketika Annisa datang.
"Bi Lastri bikin sarapan apa? ada yang bisa saya bantu Bi?" Tanya Annisa.
"Saya bikin sup jagung Neng, kemarin saya ke pasar dan dapat jagung muda yang masih segar, jadi bikin sup jagung saja pagi ini." Ucap Bi Lastri.
Annisa menuju meja makan, dan mengambil satu mangkuk sup jangung.
"Mau saya bikinkan teh Neng Nisa?" Bi Lastri menawari Annisa untuk membuatkan teh.
"Gak usah Bi. saya minum air putih saja." Ucap Annisa. Ia menikmati sarapan sup jagungnya dengan perlahan.
"Ummi mana Bi? Ummi sudah sarapan belum?" Tanya Annisa.
"Mungkin sedang sarapan juga sekarang. Tadi Nyai bawa ubi rebus dan sambel terasi ke depan. Dari kemarin kan Kyai sarapan ubi rebus terus Neng..."
"Oh..."
Annisa menyeruput sendokan terakhir sup jagungnya, lalu minum segelas air. Setelah selesai sarapan, ia menuju ruang keluarga.
Di ruang keluarga, Kyai Chozin tengah membaca sebuah kitab berbahasa arab. Di meja, masih ada beberapa potong ubi rebus, dan sedikit sisa sambal terasi di piring. Sedangkan dua cangkir teh di atas nampan, terlihat sudah kosong isinya. Sepertinya abah dan umminya sudah selesai sarapan.
"Sudah selesai sarapannya abi dan ummi?" Tanya Annisa sambil membereskan meja.
"Sudah Nisa. Kamu juga sudah sarapan belum?" Tanya Ummu Zainab.
"Sudah Ummi." Nisa mengangkat nampan berisi piring ubi dan cangkir teh bekas sarapan kedua orang tuanya."Nisa bawa ini ke dalam dulu ya ummi."
Nisa masuk ke dalam dengan membawa nampan di tangannya. Ia mengembalikannya di dapur.
Tak lama kemudian, ia kembali ke ruang keluarga, dan duduk di depan Kyai Chozin, abahnya.
"Abah... Nisa semalam sudah sholat istikhoroh." Annisa memulai pembicaraan.
Kyai Chozin menatap Annisa. Kemudian ia menutup kitab di tangannya, dan membuka kacamata bacanya. "Ini kembalikan." Kyai Chozin memberikan kitab dan kacamatanya kepada Ummu Zainab, yang duduk di sebelahnya.
Ummu Zainab berdiri dan meletakkan kitab serta kacamata baca Kyai Chozin di rak buku, lalu kembali duduk di tempatnya semula, di samping Kyai Chozin.
"Sudah mendapat jawaban?"
"Insya Allah, sudah abah."
__ADS_1
"Jadi... Siapa yang menjadi jawaban istikorohmu Nisa? Ustadz Jalal atau Gus Hilmi?"
"Saya memilih keduanya abah, dengan sebuah syarat."
"Maksudmu bagaimana Nisa?"
"Abah... Seperti yang abah tahu, bahwa Nisa masih ingin melanjutkan kuliah. Nisa ingin pergi ke Madinah."
"Lalu?" Kyai Chozin mengejar putrinya dengan pertanyaan.
"Seperti yang abah katakan, bahwa baik Ustadz Jalal maupun Gus Hilmi, keduanya adalah orang sholeh. Maka bagi Nisa, menjadi istri siapa pun dari mereka berdua, tentu adalah pilihan tepat."
"Jika menikah dengan Ustadz Jalal, peluangku untuk beramal di jalan Allah dengan menggunakan harta dari suamiku, terbuka luas di depanku. Sekalipun harus menjadi istri kedua, itu bukan masalah bagiku, karena dalam Islam, syariat poligami di bolehkan."
"Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi: dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, mak nikahilah seorang saja. (Qs. Annisa: 3)." Annisa mengutip sebuah ayat dari Al-quran.
"Jika menikah dengan Gus Hilmi. Mungkin harta berlimpah tak ku dapatkan. Tapi, usia kami berdua yang masih sama sama muda, akan menjadikan kami bisa berjalan beriringan dengan penuh ghirah dalam dakwah. Dan peluang untuk menyecap perjuangan dari nol, sungguh indah ku bayangkan."
"Lalu, syarat apa yang kau maksudkan tadi? Syarat apa yang ingin kau berikan kepada mereka berdua?" Tanya Kyai Chozin kepada putrinya.
"Syarat yang saya ajukan adalah, siapa pun di antara mereka berdua, yang bersedia mendampingiku, melanjutkan kuliah di Madinah. Maka dialah yang aku pilih." Ucap Annisa mantap.
Kyai Chozin terlihat berfikir sejenak, kemudian manggut manggut. Dia sangat faham akan keinginan putrinya itu.
"Baiklah Annisa." Kyai Chozin menghela nafas panjang. "Jika itu yang menjadi keinginanmu, maka akan abah sampaikan segera, kepada Ustadz Jalal dan Gus Hilmi."
***
Dan sebuah jawaban pun di dapatkan. Ustadz Jalal memilih untuk mundur. Karena ia tak mungkin meninggalkan Indonesia untuk mendampingi Annisa kuliah di Madinah, karena ia tak bisa meninggalkan keluarganya, yaitu anak dan istri pertamanya.
Sedangkan untuk Gus Hilmi, sepertinya gayung bersambut. Ia menyanggupi persyaratan yang di ajukan oleh Annisa, bahkan ia pun memutuskan untuk melanjutkan kuliah juga, bersama-sama Annisa nanti setelah mereka menikah.
Maka, rembuk keluarga pun di lakukan. Keluarga Gus Hilmi datang kembali ke rumah Kyai Chozin, dan pertunangan antara Gus Hilmi dan Annisa pun di laksanakan. Tanggal pernikahan pun telah di tetapkan, sebulan kemudian.
***
Sementara itu, di pesantren Al Fallah, di kediaman Kyai Ghazali, juga terjadi rembukan keluarga yang cukup serius. Tak lain dan tak bukan, adalah tentang jodoh untuk Hamzah.
Karena desakan dari Kyai Ghazali, akhirnya Hamzah pun menuruti harapan ayahnya tersebut. Yaitu, segera meminang gadis, untuk di jadikan sebagai istri.
Setelah melalui diskusi panjang dengan abahnya, juga melalui istikhorohnya, Hamzah memantapkan hati untuk melangkah.
Ya, Annisa adalah gadis yang tepat, calon istri ideal yang sempurna untuknya.
Pilihan telah di jatuhkan, dan tanggal untuk menyampaikan maksud kepada Kyai Chozin untuk melamar putrinya pun telah di tetapkan, yaitu hari ini.
Hari ini, hari ahad di bulan rajab, Kyai Chozin, Ummu Salamah, dan Hamzah, pergi ke pesantren Nurul Huda.
Kali ini, Hamzah tidak menyupiri mobilnya, karena ada pak Tarno, sopir keluarganya.
__ADS_1
***
"Tok tok tok."
"Assalamualaikum." Kyai Ghazali mengetuk pintu rumah kediaman Kyai Chozin.
"Walaikumsalam." Kyai Chozin sendiri yang membukakan pintu.
"Masya Allah!" Kyai Chozin nampak cukup terkejut melihat keluarga Kyai Ghazali yang datang.
"Monggo-monggo silahkan masuk Kyai." Kyai Chozin membuka lebar pintu rumahnya, dan mempersilahkan Kyai Ghazali dan keluarganya untuk masuk.
Kyai Ghazali masuk, di ikuti Ummu Salamah, lalu Hamzah.
Kyai Chozin saling berjabat tangan dan berpelukan dengan Kyai Ghazali, sedangkan Hamzah, hanya bersalaman lalu dengan takdzim mencium punggung tangan Kyai Chozin.
"Monggo-monggo, silahkan duduk Kyai." Kyai Chozin mempersilahkan keluarga Kyai Ghazali untuk duduk.
"Ummi,..! Ada tamu ini ummi!" Kyai Chozin berseru kepada istrinya, Ummu Zainab.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
__ADS_1
❤️Rohana Kadirman❤️