AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Curhat


__ADS_3

Aisyah menatap lukisan Taj Mahal yang ia pajang di dinding kamarnya, sementara tangannya memegang secarik kertas surat, yaitu surat dari Hamzah. Entah sudah yang keberapa kalinya Aisyah membaca surat Hamzah itu, sejak diterimanya dua minggu yang lalu.


Hati Aisyah gundah gulana. Ia masih bimbang untuk memberi jawaban surat itu. Jika membalas dengan surat, ia tak tahu bagaimana menuliskan perasaanya menjadi kata - kata. Bertemu langsung juga tak mungkin.


Meskipun dengan perasaan bimbang, akhirnya Aisyah memutuskan untuk menelpon kakaknya, Mirza.


Sebaiknya aku telpon saja Mas Mirza. Pasti Mas Mirza bisa membantuku. Mas Mirza kan temannya Mas Hamzah.


Aisyah mengambil ponselnya, dan menelpon Mirza.


"Tuuut... Tuuut... Tuuut..."


"Assalamualaikum."


"Walaikumsalam Mas..."


"Kenapa Aishy? Tumben nelpon Mas?"


"Emangnya gak boleh kalau Aishy nelpon Mas Mirza? Ya udah Aishy matiin aja deh sekarang."


"Halaah... Gitu aja mau ngambek. Ya boleh dong..."


"He he he.... Pura - pura ngambek kog Mas."


"Jadi kenapa? Uangmu habis tah? Nanti Mas kirim ya..."


"Enggak kog Mas. Uang Aishy masih ada. "


"Kuliahmu gimana?"


"Alhamdulillah, kuliahku lancar Mas. Semester depan aku sudah mulai harus magang."


"Oh... gitu..."


"Mas..."


"Hmm... Kenapa?"


"Sebenarnya Aishy nelpon, karena Aishy mau curhat sama Mas Mirza."


"Yoook... Mau curhat apa sama Mas?"


"Mas... Aku abis di kirimin surat sama Mas Hamzah..."


"Surat...???"


"Iya mas, surat."


"Hmm... Zaman sudah millenial kog yo masih ada orang yang ngirim surat."


"Mas Mirza !"


"Iya iya... Trus gimana? Apanya yang mau di curhatkan? Isi suratnya?"


"Mas Hamzah ternyata suka sama aku, mas..."


"Kalau itu aku sudah tahu."


"Hah... Tahu dari mana mas?"


"Ya... Pokoknya tahu lah. Jadi gimana, kamunya?"

__ADS_1


"Menurut Mas Mirza gimana?"


"Kalau menurut Mas Mirza, Hamzah itu laki - laki yang baik. Agamanya baik, keturunan orang baik. Dan karena mas berteman juga sama Hamzah, mas tahu Hamzah itu prilakunya juga baik. Jadi, tergantung kamu sendiri, bagaimana kamu menanggapinya."


"Aisyah juga sebenarnya suka sama Mas Hamzah..."


"Alhamdulillah. Masalah selesai. Kalian berdua saling menyukai."


"Mas... Masalahnya adalah, Mas Hamzah minta aku memberi jawaban secepatnya. Dari isi suratnya, Mas Hamzah inginnya segera nikah."


"Ya bagus kan, langsung nikah. Ngapain pacaran. Haram. Toh kalian berdua saling menyukai kan. Ya sudah, nikah saja sekalian. Mas dukung seratus persen."


"Mas... Aku masih kuliah."


"Syarat nikah gak harus lulus kuliah Aishy..."


"Iya mas, Aishy tahu. Tapi coba bayangkan mas, semester depan aku sudah mulai magang. Kuliahku sudah tinggal tinggal 2 semester lagi. Aku butuh konsentrasi untuk menyusun skripsi."


"Kalau punya suami, justru ada yang membantumu, menjagamu."


"Kalau misalkan setelah nikah, terus aku hamil, gimana?"


"Ya gak apa - apa kan. Wajar hamil, kan ada suaminya. Piye toh Aishy..."


"Maksud aku mas, kuliahku gimana? ribet kan... Sudah tingkat akhir, masa harus ambil cuti lagi."


"Hmm... Itu, tidak terpikir olehku..."


"Nah, kan... Harus di pikirkan memang sebelumnya. Trus ya mas, aku kan di Jakarta, trus Mas Hamzah di Jogja. Misalkan nih ya... Misalkan aku iyakan untuk nikah sekarang, emangnya kira - kira Mas Hamzah bakalan mau, tinggal di Jakarta juga?"


"Ya... Kemungkinan gak bisa lah Aishy... Kan Hamzah ngurus pesantren."


"Nah, jadi sama aja kan, gak ada yang jagain aku di Jakarta, meskipun aku nikah sekarang sama Mas Hamzah."


"Aku bingung juga ngomongnya Mas... Makanya aku nelpon Mas Mirza, untuk curhat."


"Ya sudah, berarti kamu tolak saja?"


"Tapi aku suka sama Mas Hamzah..."


"Oke oke. Mas ngerti. Mas nanti akan sampaikan itu sama Hamzah."


"Bener ya mas??"


"Iya, bener."


"Makasih mas ku sayang..."


"Hmm... Sudah, fokus lagi belajar."


"Oke mas. Assalamualaikum."


"Walaikumsalam."


***


Mirza meletakkan ponselnya di atas meja, lalu memainkannya dengan tangan kirinya.


Mirza baru saja menerima telpon dari adiknya, Aisyah. Ia terpekur, mengingat curhatan adiknya itu.


Sepertinya Aisyah memang belum siap menikah sekarang. Ia begitu memprioritaskan kuliahnya. Ia ingin menyelesaikan kuliahnya lebih dulu.

__ADS_1


"Tok tok tok!" Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Mirza.


"Masuk."


"Assalamualaikum Bos." Hamzah muncul di depan pintu.


"Walaikumsalam... Oh kamu Ham, masuk -masuk. " Mirza sedikit terkejut melihat Hamzah yang datang.


Aisyah baru saja selesai menelpon, sekarang gantian Hamzah yang datang. Mereka berdua seperti bisa bertelepati. Mungkan mereka berdua memang berjodoh?


Hamzah masuk dan menyalami Mirza.


"Tumben datang ke bengkel tidak bilang - bilang dulu Ham..."


"Aku kesini bawa mobil operasionalnya pesantren. Sudah minta di service."


"Oh begitu..."


Seperti biasa, Mirza pun langsung menelpon Surti untuk membawakan kopi ke ruangannya. Setelah kopi terhidang, obrolan Mirza dan Hamzah pun berlanjut.


"Sepertinya, aku di tolak sama Aisyah..." Hamzah memulai pembicaraan tentang Aisyah.


"Begitu rupanya..."


"Iya. Suratku tidak di balas."


"Ha ha ha... Hamzah, hamzah. Aku kasih kamu nomer hapenya Aisyah, kamu malah ngirim surat."


"Aku belum berani nelpon adekmu Mir. Untung gak jadi aku telpon juga, karena ujung - ujungya aku di tolak juga."


" Ha ha ha... Sekarang dengarkan aku."


Hamzah mengerenyitkan alisnya. "Dengarkan apa??"


"Sebenarnya Aisyah baru saja nelpon aku Ham."


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara

__ADS_1


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.


__ADS_2