
Sore itu Aisyah berjalan kaki pulang dari kampus. Ia tiba di depan gerbang Asrama Nadira, dan bertemu dengan Pak Dudung, satpam yang menjaga pos security di depan gerbang asrama.
"Met sore Pak Dudung..." Sapa Aisyah sambil tersenyum ramah.
"Sore juga Neng Aisyah, baru pulang dari kampus ya Neng?"
"Iya Pak Dudung. Mari, saya masuk ke dalam dulu ya Pak Dudung."
"Eh, tunggu dulu Neng. Nama Neng bener ya, Aisyah Huriyya Atmaja?"
"Iya Pak Dudung, itu nama lengkap saya. Kenapa ya Pak Dudung?" Aisyah bertanya dengan mimil wajah sedikit heran.
"Oh, ini Neng Aisyah. Ada kiriman buat Neng." Pak Dudung masuk ke dalam pos security untuk mengambil sesuatu. Ketika keluar, di tangannya membawa sebuah amblop berwarna coklat.
"Ini Neng, ada kiriman surat buat Neng Aisyah. Tadi kurir POS yang mengantarkan kesini." Pak Dudung menyerahkan amplop surat itu kepada Aisyah.
Surat? Siapa yang mengirimiku surat?
Aisyah mengamati amplop surat itu. Benar, disitu tertulis namanya, Aisyah Huriyya Atmaja.
Aisyah lalu membalik amplop surat itu, untuk melihat siapa pengirimnya. Begitu membaca nama pengirim yang tertera di amplop surat itu...
Blaaaar...! Dada Aisyah berdegup kencang. Hamzah Alghazali, adalah nama yang tertera di alamat pengirim surat.
"Ini surat dari Mas Hamzah! Mas Hamzah mengirim surat untukku!" Hati Aisyah memekik gembira.
"Makasih ya Pak Dudung."
"Iya, sama - sama Neng Aisyah."
Aisyah mendekap amplop itu dengan tangannya. Berbagai perasaan berkecamuk di hatinya. Bahagia, penasaran, sekaligus rasa deg - deg an. Rona merah menyemburat di pipi Aisyah.
Aisyah sampai di depan pintu kamarnya.
"Tok tok tok!" Aisyah mengetuk pintu, karena Nuri ada di dalam. Hari ini Nuri pulang dari kampus lebih cepat di bandingkan Aisyah.
Nuri membuka pintu.
Aisyah membuka sepatunya, menaruhnya di rak sepatu, lalu masuk ke dalam. "Assalamualaikum."
"Walaikumsalam." Nuri kembali menutup pintu.
"Nuri... Aku bahagiaaaa..." Aisyah tiba - tiba memeluk Nuri, lalu ia berjingkrak - jingkrak kegirangan layaknya seorang anak kecil.
"Aisyah??" Nuri menatap keheranan tingkah sahabatnya itu.
"Aku bahagia pokoknya..." Aisyah tersenyum - senyum sambil terus mendekap amplop surat berwarna coklat itu di dadanya.
Nuri segera tahu apa yang membuat Aisyah seperti itu. Ia mengambil paksa amplop surat itu dari tangan Aisyah. Ia pun penasaran, apa sebenarnya yang membuat Aisyah terlihat begitu bahagia, sampai - sampai melompat kegirangan.
Nuri membaca tulisan yang tertera di amplop surat itu. Untuk : Aisyah Huriyya Atmaja.
Nuri segera membalik amplop itu, untuk melihat siapa nama pengirimnya.
"Hamzah Alghazali. Mas Hamzah??" Nuri membaca dengan bersuara, tulisan yang tertera di atas amplop itu.
"Iya Nuri. Mas Hamzah mengirimi aku surat!" Lagi - lagi, Aisyah setengah memekik kegirangan.
"Waaaah... Surat?? Tahun 2020 tapi masih ada orang yang berkirim surat? LANGKAAA...!" Nuri ikut terpekik gembira. Ia seolah ikut merasakan kegembiraan yang tengah menyelimuti diri sahabat di depannya itu.
"Ayo kita buka suratnya sekarang Nuri."
"Kita?? Enggak ah, enggak. Surat itu untuk kamu Aisyah, kamu harus membacanya sendiri."
"Hmm... Kenapa?? Kamu kan sahabatku. Gak apa apa kalau kita sama - sama baca."
"Gak boleh Aisyah... Mas Hamzah menulis surat itu untukmu. Bukan untuk kita berdua. Udah sana - sana, masuk di kamarmu."
__ADS_1
"Sebenarnya aku deg - deg an Nuri, kamu aja yang buka ya... Kamu yang bacain isi suratnya." Aisyah nyengir sambil menggigit bibir bawahnya.
"Eeh... Malah makin parah. Gak boleh di baca berdua, malah minta di bacakan pula." Nuri menggeleng - gelengkan kepalanya.
"He he he... Ya udah deh, nanti aku baca sendiri."
"Nah, gitu. Kalau sudah selesai baca, nanti baru ceritain ke aku ya, isi suratnya."
"Hilih... Di ajak baca bareng gak mau, di suruh bacain gak mau, tapi minta di ceritain isinya."
"Ya gak apa - apa, yang penting aku gak ikut baca suratnya. He he he..."
"Hmm... Tapi aku belum sholat Ashar nih, aku mau sholat dulu ya."
"Astaghfirullah, belum sholat? Udah buruan sana sholat Ashar dulu. Kirain kamu dah sholat di kampus."
"He he he. Belum. Oke, aku sholat sekarang."
***
Aisyah membuka amplop surat berwarna coklat itu dengan perlahan.
"Sreeeek." Aisyah merobek bagian pinggir amplopnya. Lalu ia mengeluarkan selembar kertas surat dari dalamnya.
"Mas Hamzah..." Lirih Aisyah bergumam. Di usapnya lembaran kertas yang berisi tulisan tangan Hamzah itu.
Aisyah memejamkan mata sesaat. menatap tulisan tangan Hamzah, seolah mesin teleportasi menyeretnya ke dimensi waktu yang lain. Dimensi waktu, dimana dia dan Hamzah masih kecil. Dimana ia bisa dekat dengan Hamzah, tanpa batasan norma dan kaidah, tulus, murni dan apa adanya.
Aisyah membuka matanya, dan mulai membaca isi surat Hamzah.
***
Jogja, 24 Juli 2020.
Astaghfirullahaladzim.
Asssalamualaikum Aisyah...
Semoga keselamatan senantiasa atasmu.
Aku menulis surat ini dengan sadar, bahwa mungkin saja ini adalah suatu kesalahan. Tapi apalah daya, kenaifan diriku, membuatku tak bisa lagi menahannya lebih lama, berdiam dan bersemayam di dalam dadaku tanpa tersampaikan padamu.
Aisyah...
Ketika seseorang lelaki jatuh cinta, hanya ada dua jalan baginya. Halalkan atau lepaskan.
Aku tahu, hatiku lebih cenderung pada pilihan pertama. Menghalalkanmu adalah jalan yang ku inginkan untukmu.
Ku akui, memang dihadapanmu aku malu memandangmu, tapi di hadapan - NYA aku terang - terangan meminta, agar di jodohkan denganmu Aisyah.
Aisyah...
Seorang lelaki yang baik tidak akan bermain - main dengan cinta, sebab dia tahu bahwa setiap kata cinta menuntut tanggung jawab. Dan cinta sebenarnya, dimulai setelah pernikahan.
Aku ingin menjadi lelaki yang baik, Aisyah. Aku ingin bertanggung jawab atas kata cinta yang telah terucap.Tinta telah kering, dan setiap kata pun telah tercatat.
Maka, aku butuh jawabanmu.
Jika hatiku bersambut, itu adalah harapan baik. Berikan tanganmu, dan mari langkahkan kaki menuju ridho Illahi Robbi.
Jika hatiku tak bersambut, maka aku yakin, Allah punya rencana lain. Aku akan tetap tegak menjalani takdir. Dan semoga demikian juga denganmu.
Di penghujung pena...
Anganku tiba - tiba mengembara.
Seolah menyaksikan kembali, seorang gadis kecil dengan mata bulat berkaca - kaca, yang memintaku untuk mengantarkannya melihat Taj Mahal, keajaiban dunia, perlambang cinta.
__ADS_1
Sekarang, biar ku bisikkan jawaban kepada gadis kecil itu, aku ingin mengantarkannya melihat Taj Mahal di India, dengan bergandeng tangan dalam keadaan halal.
Aisyah...
Beri aku jawaban.
Jalan mana yang harus ku tempuh.
HALALKAN atau LEPASKAN ?
Wassalamualaikum.
Hamzah.
***
Aisyah menatap lembaran surat itu, seakan masih tak percaya dengan apa yang baru saja di bacanya.
Ada letupan kebahagiaan di hatinya, karena ternyata, cintanya tak pertepuk sebelah tangan. Ternyata, Hamzah memiliki perasaan yang sama terhadapnya.
Namun, sebuah kegundahan juga menyergap bersamaan dengan letupan rasa bahagia di hati Aisyah.
Halalkan atau lepaskan? Aisyah kebingungan jika harus memilih keduanya sekarang.
Jika ia memilih halalkan, bagaimana dengan kuliahnya? Ia sudah bertekad ingin menyelesaikan kuliahnya tanpa terbebani tanggung jawab dalam sebuah pernikahan. Ia ingin menyelesaikan kuliahnya terlebih dahulu, baru memikirkan tentang pernikahan.
Jika ia memilih lepaskan, bagaimana dengan hatinya? Sanggupkah ia memenggal perasaan yang selama ini ia harapkan dalam diam? Ketika cinta belum menghampiri, ia meminta dalam sujud dan doa doa. Ketika akhirnya cinta yang ia harapakan datang menyapa, mungkinkah ia menolaknya? mungkinkan ia melepaskannya?
Aisyah menelungkupkan wajahnya di atas bantal. Dan ia pun mulai menangis terisak.
Apa arti tangisanku ini ya Robbi...
Bantu aku menggapai jawaban di hatiku sendiri ya Robbi...
Karena sesungguhnya, ENGKAU lah yang lebih tahu akan diriku. Lebih tahu akan hidup dan matiku, rezeki ku dan... Jodohku.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman
__ADS_1