AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Raisya di Pecat


__ADS_3

Keesokan harinya, sebelum ke kantor, Romi kembali menemui Vina di laboratoriumnya.


"Kopi yang kau bawa semalam, positiv mengandung sildenafil." Ucap Vina.


"Apa itu sildenafil?"


"Sildenfil adalah zat atau obat yang di gunakan untuk therapi disfungsi ereksi dan hipertensi arteri paru - paru."


"Kau harus mempermudahnya untukku, Vina."


"Hmm... Kau tahu viagra, Romi?"


"Meski tak pernah memakainya, tapi tentu saja aku tahu apa itu viagra."


"Jadi, sildenafil adalah kandungan yang ada dalam viagra, revatio dan berbagai obat sejenisnya."


"Oke, baiklah. Aku mengerti. Terimaksih banyak atas bantuanmu Vina."


Setelah dari tempat Vina, Romi segera memacu mobilnya menuju kantor. Ada hal yang harus segera ia lakukan.


Sesampainya di kantor, Romi bergegas menemui petugas di ruang cctv untuk mengecek sesuatu.


Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Romi tersenyum lega.


***


Seperti biasa, hari ini Raisya masuk ke kantor dengan penampilan terbaiknya. Kali ini, Raisya memakai setelah kemeja berwarna toska, di padukan dengan rok skirt selutut.


Raisya masuk dan duduk di kursi kerjanya dengan penuh percaya diri.


"Pagi Luna, Diana..." Raisya menyapa Luna dan Diana yang sudah lebih dulu tiba.


"Pagi Raisya..." Sahut Diana. Sementara Luna diam saja.


Melihat Luna tak menanggapi sapaanya, Raisya merasa jengkel dan mulai melancarkan serangannya. "Sepertinya disini ada yang kekurangan vitamin C, sehingga menyebabkan bibirnya sariawan dan susah untuk bicara."


Luna yang merasa di sindir serta merta mendelikkan matanya garang. " Kau ini !"


"Kriiiing...!" Pesawat telephone di meja Raisya berdering.


"Sssstttt !" Raisya menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya. Memberi isyarat agar luna diam.


Raisya mengangkat gagang telphone dan mendekatkanya ke telinga, "Halo."


"Ke ruanganku sekarang."


"Baik, Pak." Raisya kembali meletakkan gagang telephone ke meja.


"Sayang sekali, tugas memanggil. Kita lanjutkan nanti ya Luna, aku punya rekomendasi vitamin C yang sangat bagus untukmu." Raisya berdiri dan berjalan ke ruangan William.


Ternyata di dalam ruangan William, ada juga Romi.


"Bapak memanggil saya?"

__ADS_1


"Duduklah Raisya."


Raisya duduk di kursi depan meja William.


Setelah Raisya duduk, William menyodorkan selembar kertas kepada William.


"Apa ini, Pak?"


"Baca saja sendiri, Raisya."


Raisya membaca kertas di depannya, sesaat kemudian ia nampak terkejut. "Surat pengunduran diri?"


"Ya. Aku sudah menyiapkannya untukmu, kau hanya tinggal menandatanganinya saja."


"Apa maksud Bapak?"


"Kita persingkat saja Raisya. Kemarin malam, ada seseorang yang memasukkan sesuatu ke dalam minumanku. Dan aku tidak ingin hal itu terulang lagi. Maka, aku ingin orang itu, segera menyingkir dariku."


Mendengar hal itu, Raisya terdiam. Otaknya berfikir cepat mencari solusi. Ia tahu, kedoknya telah terbongkar, tapi ia tak rela jika semua usaha yang telah dia lakukan selama ini hanya menjadi sia - sia belaka.


"Anda tidak punya bukti, jika pelakunya adalah saya."


"Kau ingin bukti Raisya? Baiklah." William mengambil selembar kertas lagi, dan menyodorkannya kepada Raisya. Kertas itu adalah hasil lab yang di bawa oleh Romi.


"Kopi yang ku minum semalam, rupanya mengandung sildenfil di dalamnya. Aneh sekali bukan?"


"Itu sama sekali tidak membuktikan jika saya adalah pelakunya." Ucap Raisya tegas.


"Prok prok prok..." William bertempuk tangan. "Ternyata kau benar - benar gigih Raisya. Ha ha ha..." William tertawa terbahak - bahak. "Ayolah Raisya. Sebenarnya aku bisa saja menuntutmu karena hal ini, tapi mengingat kinerjamu yang cukup baik selama ini, jadi ku rasa aku tidak perlu melakukannya."


"Raisya, jika kau bersikeras, Romi akan mengantarmu ke ruang CCTV. Di sana kau bisa menonton adegan seorang wanita di pantry yang menyeduh kopi kemarin malam."


Mendengar hal itu, wajah Raisya terlihat pias. Ia baru ingat, ia sama sekali tak memperhitungkan letak CCTV di pantry. Tentu saja, aksinya kemarin malam saat di pantry pasti terekam.


"Baiklah, saya mengundurkan diri sekarang!" Raisya menarik kertas yang berisi surat pengunduran dirinya itu, lalu menanda tanganinya dengan cepat.


Setelah selesai, ia segera berdiri dan berniat pergi.


"Jangan terburu - buru Raisya." William mengambil dua buah amplop dari dalam laci mejanya, dan menyodorkannya kepada Raisya. "Ini gajimu bulan ini, full tanpa potongan meskipun ini masih awal bulan. Dan amplop yang satunya ini," William menunjuk amplop yang terlihat cukup tebal. "Ini adalah pesangon untukmu. Terimakasih atas dedikasimu selama ini kepada perusahaan."


"Terimakasih." Sahut Raisya pendek. Ia mengambil kedua amplop itu, lalu melangkah menuju pintu.


"Romi, antarkan Raisya pulang." Ucap William.


"Tak perlu, aku bisa pulang sendiri!" Sahut Raisya tanpa menoleh sedikit pun.


Raisya keluar dari ruangan William, dan menuju meja kerjanya dan mengemasi barang - barangnya.


Luna dan Diana yang meihat hal itu merasa heran.


"Raisya, kenapa kau mengemasi barang - barangmu?" Diana bertanya kepada Raisya.


Tapi sayang, Raisya tak menanggapai pertanyaan Diana. Ia terus saja sibuk mengemasi barang - barangnya.

__ADS_1


Luna merasa mendapat peluang emas untuk membalas Raisya.


"Sepertinya disini ada yang kekurangan vitamin C, sehingga menyebabkan bibirnya sariawan dan susah untuk bicara." Luna menirukan ucapan Raisya tadi saat menyindir dirinya.


Dan ternyata, Raisya tetap diam seribu bahasa.


Setelah selesai mengemasi barangnya, Raisya segera pergi tanpa sepatah kata pun terucap kepada kedua rekan kerjanya itu, Luna dan Diana.


Tepat setelah Raisya pergi, Romi keluar dari ruangan William dan kembali ke meja kerjanya.


serasa pucuk di cinta ulam pun tiba, Luna dan Diana segera memberondong Romi dengan pertanyaan.


"Apa yang terjadi dengan Raisya??" Ucap Luna dan Diana bersamaan.


"Tersenyumlah para gadis - gadis... Raisya tidak lagi satu ruangan dengan kalian" Ucap Romi.


"Apa maksudmu?" Tanya Luna.


"Apakah Raisya di pindahkan ke ruangan lain?" Diana semakin penasaran.


"Raisya tidak lagi di kantor ini. Raisya di pecat Pak William."


"Hah...!! Raisya di pecat??!!" Luna dan Diana membelalakkan mata bersamaan.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.

__ADS_1


~Rohana Kadirman


__ADS_2