
Hamzah terpekur di atas sajadahnya.
Setelah peristiwa hari ini, ketika niatnya untuk meminang Annisa, perempuan yang dia yakini sebagai jawaban dari istikhorohnya, ternyata tak sesuai dengan apa yang di harapkan, Hamzah kembali merenung.
Aku sudah berusaha menyenangkan hati orang tuaku, terutama abah, dengan menuruti keinginannya untuk meminang Annisa. Aku juga sudah mencari kemantapan hati dengan istikhoroh. Ku kira, inilah jawabannya. Ku kira, inilah akhir dari kegundahan yang ku risaukan. Ternyata aku salah.
Ya Robbi, isyarat apakah ini? Mungkinkah...?
Hamzah memejamkan mata. Sekelebat bayangan indah kembali hadir di pelupuk matanya. Bayangan seseorang yang ingin dia tepis sebelumnya. Seraut wajah anggun, dengan mata bulat indah, dan senyum menawan. Dialah Aisyah...
"Astaghfirullah..." Hamzah beristighfar lalu mengusap wajahnya dengan telapak tangannya.
Sebaiknya besok aku berpuasa, untuk meredam gejolak rasa yang kembali menggoda jiwa.
Hamzah bangkit dari sajadahnya, kemudian berdiri dan melanjutkan lagi sholat malamnya. Kali ini, ia melakukan sholat hajad. Ia menyampaikan semua keresahan hatinya pada Allah, ia mencari ketenangan dalam sujud-sujudnya yang panjang.
***
Di rumah kediaman Pak Wijaya pagi itu terlihat sibuk.
Mbok Minah mengeluarkan satu buah koper ke teras.
"Bekal untuk Aisyah gak ada yang ketinggalan kan Mbok Nah?" Tanya Bu Wijaya sambil memasang sepatunya.
"Beres Bu, semuanya sudah saya masukkan ke dalam koper." Jawab Mbok Minah.
"Yah...! Ayah...!" Bu Wijaya menyeru suaminya yang masih berada di dalam rumah.
"Iya, Bu...!" Pak Wijaya menyahut dari dalam rumah.
"Cepetan dong Yah..." Seru Bu Wijaya lagi.
"Iya iya." Pak Wijaya keluar dari dalam rumah. "Ayo, berangkat." Ucapnya setelah berdiri di samping istrinya.
"Mirzaaa...!" Bu Wijaya gantian berseru memanggil Mirza.
Tidak ada sahutan.
"Mirza...!" Bu Wijaya berseru sekali lagi.
Tetap tidak ada sahutan dari Mirza.
"Mbok Nah, coba lihat Mirza ke dalam." Perintah Bu Wijaya kepada Mbok Minah.
"Baik, Bu. Saya panggil dulu Den Bagus di dalam."
Mbok Minah bergegas masuk ke dalam rumah, dan menuju ke kamar Mirza.
"Tok tok tok! Den Bagus... Den..." Mbok Minah mengetuk pintu kamar Mirza.
"Sebentar...!" Seru Mirza dari dalam kamar.
Tak berapa lama, Mirza pun keluar dari dalam kamar.
"Sudah di tunggui sama ibu dan Ndoro Tuan di luar, Den..." Ucap Mbok Minah begitu Mirza keluar.
"Iya iya Mbok." Mirza bergegas keluar rumah.
"Kog lama banget toh Mirza... Seperti gadis yang lagi dandan saja." Ucap Bu Wijaya sedikit sewot.
"Aku tadi sakit perut Bu, aku ke kamar mandi lagi tadi." Sahut Mirza.
"Yo wes, ayo berangkat sekarang." Bu Wijaya berdiri dan meraih tasnya di meja.
"Mbok Nah, kami berangkat dulu ya, jaga rumah." Ucap Bu Wijaya kepada Mbok Minah.
"Inggeh Bu..." Mbok Minah membungkukkan badannya sesaat.
Pak Wijaya, Bu Wijaya dan Mirza, masuk ke dalam mobil. Mirza yang menyetir.
Hari ini, Pak Wijaya dan Bu Wijaya akan berangkat ke Jakarta. Pak Wijaya ada urusan dinas, sementara Bu Wijaya sengaja ikut, karena ingin jalan-jalan sekaligus mengunjungi Aisyah.
__ADS_1
***
"Asrama Nadira." Bu Wijaya menurunkan kaca mobil, membaca papan nama yang tertera di depan gerbang sebuah rumah asrama.
"Benar sepertinya ini ya ayah?" Ucap Bu Wijaya ingin memastikan.
"Iya benar ini bu. Kalau sesuai dengan google map, sudah benar ini kosannya Aisyah." Pak Wijaya menatap peta google map di layar ponselnya.
"Aisyah belum bisa di hubungi??"
"Belum yah... Tadi pas nelpon, katanya dia ada ujian, jadi gak bisa jemput kita."
"Oh gitu bu."
"Iya. Terus pas ibu telpon lagi, udah gak di angkat, ibu cuman di sms saja. Aisyah bilang, dia sudah masuk ruangan, mau ujian. Jadi ponselnya mau di matikan."
"Jadi gimana? Ibu mau nunggu Aisyah disini aja?? apa kita balik saja lagi ke hotel?"
"Ibu pengen ketemu Aisyah sekarang yah..."
"Ya tapi kan Aisyahnya belum pulang, masih di kampus. Besok saja kita datang lagi kesini. Ibu kan juga pasti lelah, belum sempat istirahat."
"Yo wes lah, kita balik lagi ke hotel. Ibu juga lapar ini sekarang." Ucap Bu Wijaya.
"Pak, kita kembali lagi ke hotel, ke tempat yang tadi." Ucap Pak Wijaya kepada sopir taksi yang di naikinya.
"Baik Pak." Sahut sopir taksi, kemudian ia memutar mobilnya, kembali ke arah tadi datangnya.
***
Setibanya di kamar hotel.
Pak Wijaya mendekati istrinya dari belakang.
"Ibu cantik sekali hari ini..." Pak Wijaya mengelus kepala istrinya.
"Ayah jangan mulai deh, ini masih sore."
"Memangnya kenapa kalau sore? jarang-jarang kan Bu, kita pelesiran ke hotel berdua gini." Pak Wijaya mulai mengelus-elus punggung istrinya.
"Gak usah keluar, kita pesan makanan saja. Di hotel ini juga ada restonya, kita tinggal pesan nanti makanan di antarkan ke kamar. Ibu mau makan apa?" Tanya Pak Wijaya sambil memeluk pinggang istrinya dari belakang.
"Mana daftar menunya?"
"Itu di atas meja, dekat telephone kamar."
Bu Wijaya melepaskan lengan suaminya yang melingkar di pinggangnya, kemudian ia berdiri dan berjalan ke arah meja.
Bu Wijaya mengambil kertas daftar menu resto yang tergelatak di sisi pesawat telephone kamar, ia membaca-bacanya sesaat, lalu menekan panggilan telephone untuk memesan makanan.
Setelah selesai memesan makanan, Bu Wijaya melepas jilbabnya, dan mengurai ikatan rambutnya.
"Leherku pegel, seharian duduk terus." Bu Wijaya memijat tengkuknya.
Melihat istrinya melepas jilbab, Pak Wijaya serta merta berdiri dan menghampiri istrinya.
"Sini, ayah pijitin ya bu." Pak Wijaya memijat pundak istrinya, sesaat kemudian, ia mulai menciumi tengkuk istrinya.
"Ayah... Apaan sih." Bu Wijaya menepis tangan suaminya, dan menghindar dari suaminya.
Tapi rupanya, Pak Wijaya sudah terlanjur berhasrat kepada istrinya. Ia menangkap istrinya dan membopongnya ke atas ranjang.
"Ha ha ha... Ternyata Ayah masih kuat ya..." Bu Wijaya justru tertawa, ia cukup terkejut kerena di bopong suaminya.
"Jangan remehkan tenaga ayah. Inilah hasil dari hobby gowes ayah." Ucap Pak Wijaya sambil merebahkan istrinya di atas ranjang.
"Iya iya, ayah memang hebat deh. Ayah masih kuat, masih tetap strong." Ucap Bu Wijaya sambil mencubit pinggang suaminya. Sepertinya Bu Wijaya pun mulai terpancing karena ulah suaminya.
Sesaat kemudian, pasangan suami istri itu pun hanyut dalam suasana.
"Ting tung!" Tiba-tiba bel pintu berbunyi.
__ADS_1
Pak Wijaya dan Bu Wijaya sepempak menoleh ke arah pintu.
"Ting tung!" Bel berbunyi lagi.
Pak Wijaya dan Bu Wijaya saling bertatapan.
"Pesanan makanan!" Seru Pak Wijaya dan Bu Wijaya hampir bersamaan.
Pak Wijaya menepuk jidatnya, lalu bangkit dari tempat tidur, dan memakai lagi bajunya yang tadi sudah sempat di bukanya. Lalu ia bergegas menuju pintu.
Sementara Bu Wijaya, dia cepat-cepat lari masuk ke dalam kamar mandi.
Pak Wijaya membuka pintu, dan benar saja, ternyata pesanan makanan yang datang.
"Kamar nomer 81, tadi memesan makanan ya Pak?"
"Iya."
"Baik pak, ini saya mau antarkan pesanan makanannya"
Pak Wijaya membuka lebar pintu, dan mempersilahkan pelayan masuk untuk menaruh makanan. Setelah selesai, pelayan itu pun segera keluar.
Pak Wijaya kembali mengunci pintu kamar.
"Bu, keluar. Sudah pergi pelayannya." Seru Pak Wijaya, menyuruh istrinya keluar dari kamar mandi.
Bu Wijaya membuka pintu kamar mandi, dan melongokkan kepalanya. Lalu ia pun keluar.
"Wah aromanya nikmat." Bu Wijaya mendekat ke arah meja tempat makanan.
"Aroma ibu lebih nikmat." Belum sempat Bu Wijaya sampai di dekat meja, Pak Wijaya kembali menarik istrinya ke atas ranjang.
"Makan dulu yah, lapar."
"Main dulu, ayah juga terlanjur lapar"
"Makan dulu!"
"Lanjut dulu, nanggung nih Bu..." Pak Wijaya mulai membuka kancing baju istrinya lagi satu persatu.
Bu Wijaya akhirnya pasrah, dan menyerah juga dengan ulah suaminya yang tiba-tiba begitu nakal.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
__ADS_1
❤️Rohana Kadirman❤️