
Ahad pagi.
Kyai Ghazali menutup Kitab Riyadussalihin yang tadi di bacanya. Ia lalu meletakkannya kembali ke atas meja.
Ia membuka kacamatanya, dan menaruhnya kembali ke dalam dompet khusus kacamatanya. Ia lalu berjalan menghampiri istrinya, Ummi Salamah, yang tengah menyulam sebuah taplak meja.
"Ummi, pesan kopi pahit nya satu" Ucap Kyai Ghazali dengan nada bercanda. Ia lantas mencium ubun ubun istrinya.
"Siap Abah sayang" Ummi Salamah meletakkan kain sulamannya di atas meja. Ummi Salamah lalu berdiri.
"Assalamualaikum"
Mirza masuk ke rumah. Ia baru saja selesai mengisi kajian para santri.
"Walaikumsalam" Jawab Kyai Ghalazi dan Ummi Salamah berbarengan.
"Mau ummi buatkan kopi Gus ?" Tanya Ummi Salamah kepada putranya.
"Inggeh, boleh Mi" Jawab Hamzah.
Ummi Salamah berjalan masuk ke dapur. Tak lama kemudian ia keluar kembali sambil membawa sebuah nampan, berisi dua cangkir kopi, satu cangkir teh, dan sepiring pisang goreng.
"Ini Bik Ijah ternyata sudah bikin pisang goreng, masih panas panasnya" Ucap Ummi Salamah sambil meletakkan nampan yang di bawanya ke atas meja.
Hamzah segera mendekat dan langsung mencomot sepotong pisang goreng.
"Hari ini kita ke Pesantren Nurul Huda. Acara Miladnya Nurul Huda, sekalian jenguk Laila dan Hindun juga" Ucap Kyai Ghazali.
Laila dan Hindun, adik kembar Hamzah itu memang mondok di pesantren Nurul Huda. Seperti sudah menjadi adat tradisi di dunia pesantren, putra putri Kyai pemilik pesantren tidak akan sekolah di pesantren orang tuanya sendiri, melainkan akan di pondokkan di pesantren lain. Kalau mondok di pesantren sendiri, istilahnya bukan mondok. Mondok itu harus jauh dari orang tua. Begitulah kira kira.
"Oh, hari ini kah Bah ? Ummi kira kog Ahad depan" Ucap Ummi Salamah.
"Hari ini Ummii, tanggal 16 ini. Kita berangkat ke Nurul Huda jam delapan pagi. Acaranya di mulai jam 10 pagi ini." Jawab Kyai Ghazali.
"Ummi sudah mulai pikun sepertinya" Ucap Ummi Salamah seraya menyeruput tehnya.
"Jangan dong Ummi. Jangan pikun dulu, kan Ummi belum nimang cucu" Ucap Kyai Ghazali.
"Gimana Gus ??" Tanya Kyai Ghazali kemudian. Pertanyaan itu di tujukan kepada Hamzah, putranya.
"Gimana apanya Bah ?" Hamzah tak mengerti.
"Ya gimana, itu Ummi mu sudah ingin nimang cucu. Supaya rumah ini tidak sepi. Abah juga rindu tawa anak anak kecil" Ucap Kyai Ghazali.
"Hamzah baru pulang dari menuntut ilmu abah, biar Hamzah amalkan dulu ilmu yang Hamzah dapatkan"
"Menikah tidak akan menghalangimu langkahmu. Justru akan membngkitkan semangat juangmu, karena kehadiran seorang istri, akan menberikan ghirah tersendiri dalam Islam mu. Setengah Dien mu" Ucap Kyai Hamzah bersungguh sungguh.
"Hamzah akan memberi tahu abah jika Hamzah sudah siap" Ucap Hamzah, menjawab perkataan abah nya.
"Jangan lama lama nunggu siapnya"
"Kyai Khozin itu punya tiga anak perempuan. Insya Allah, Kyai Khozin tak akan menolak jika kita meminang salah satu putrinya. Abah dan Kyai Khozin kan juga bersahabat sudah cukup lama. Kalau kamu menikahi salah satu putrinya, maka jalinan silaturahmi akan semakin erat" Ucap Kyai Ghazali.
Kyai Khozin adalah pemilik Pondok Pesantren Nurul Huda, tempat Laila dan Hindun mondok.
"Insya Allah, siapa pun nantinya yang akan menjadi jodoh Hamzah, itulah yang terbaik. Tapi sekarang, biarkan Hamzah fokus membantu abah di pesantren dulu" Ucap Hamzah.
"Baiklah,... Sepertinya masih lama abah baru bisa menimang cucu" Ucap Kyai Ghazali, lantas ia pun menyomot sepotong pisang goreng.
"Bi, tapi Pak Tarno izin hari ini, ada keluarganya hajatan" Ucap Ummi Salamah.
Pak Tarno adalah sopir keluarga Kyai Ghazali.
__ADS_1
"Lha itu ada Hamzah, bisa nyopir. Piye toh Mi ? Punya anak lanang gagah kog masih bingung gak ada sopir"
"Biar Hamzah ikut, siapa tau nanti dia lihat putrinya Kyai Chozin, langsung mantap dan siap untuk nikah"
"Abah,... Jangan begitu. Biarlah Hamzah menentukan pilihannya sendiri. Jangan memaksakan kehendak" Ucap Ummi Salamah.
"Loh, siapa yang memaksakan kehendak ? Abah tidak memaksakan kehendak" Kyai Ghazali membela diri.
"Ya, kalau mendesak Hamzah terus menerus, itu sama saja memaksakan kehendak" Ucap Ummi Salamah.
"Abah, Ummi, Sudahi dulu pembahasan tentang jodohnya. Hamzah mau masuk ke kamar, mau mandi. kita berangkat ke Nurul Huda jam delapan kan ? sekarang sudah jam tujuh lewat. Ummi pasti belum bersiap siap kan ?" Hamzah menengahi pembicaraan Abah dan Umminya.
Hamzah lalu berdiri dan masuk ke kamarnya.
"Abah jangan memaksa Hamzah"
Ucap Ummi Salamah setelah Hamzah pergi.
"Abah sudah bilang, Abah tidak memaksa. Tapi menikah itu kan sunnahnya memang untuk di segerakan ummi. Disegerakan"
"Jangan membuat Hamzah merasa tidak nyaman. Dia laki-laki Abah"
"Lha terus kenapa kalo dia laki-laki ? Apa karena dia laki-laki, lantas kita sebagai orang tua tidak boleh mengarahkan ?"
"Mengarahkan, bukan memaksakan ! Biarkan Hamzah memilih jodohnya sendiri"
"Ummi mau masuk ke dalam, mau siap-siap. Bekal untuk Laila dan Hindun juga belum Ummi siapkan"
Ummi Salamah mengangkat cangkir-cangkir yang sudah kosong isinya ke dalam nampan, lalu membawanya kembali ke dapur.
***
Jam delapan pagi.
Perjalanan memakan waktu sekitar satu jam lebih.
Akhirnya mereka tiba di Pesantren Nurul Huda. Kyai Chozin memyambut mereka dengan ramah, dan mempersilahkan keluarga Kyai Ghazali untuk masuk ke rumah.
"Assalamualikum"
"Walaikumsalam"
"Monggo - monggo. Silahkan masuk Kyai" Ucap Kyai Chozin dengan ramah.
Kyai Chozin dan Kyai Ghazali saling berjabat tangan dan berpelukan.
Hamzah juga menyalami dan mencium tangan Kyai Chozin.
"Masya Allah, ini Hamzah ??" Ucap Kyai Chozin sambil menepuk-nepuk pundak Hamzah.
"Inggeh Kyai, saya Hamzah" Jawab Hamzah dengan santun.
"Monggo - monggo, silahkan duduk" Ummi Zainab, istri Kyai Chozin, mempersilahkan para tamunya untuk duduk.
"Gimana kabarnya Kyai ?" Tanya Kyai Chozin kepada Kyai Ghazali.
"Alhamdulillah, baik Kyai"
"Terimakasih loh Kyai, sudah jauh-jauh kesini mengahadiri undangan kami"
"Sudah di niatkan Kyai, sekalian mau nengok Laila dan Hindun. Boleh saya ketemu Laila dan Hindun sekarang ya ?" Tanya Ummi Salamah. Rupanya Ummi Salamah sudah sangat rindu dan ingin segera bertemu dengan kedua putri kembarnya itu.
"Oh,.. Inggeh, tafaddol. Mari sata antarkan ke kamar Laila dan Hindun" Jawab Ummi Zainab.
__ADS_1
Ummi Salamah dan Ummi Zainab pergi bersama-sama, menuju asrama putri Pesantren Nurul Huda.
"Saya dengar Nak Hamzah kan sekolah ke Mesir nggih Kyai ?" Tanya Kyai Chozin.
"Benar Kyai, Hamzah sekolah di Mesir, sejak kelas lima Madrasah Ibtidaiyyah. Sekarang sudah pulang" Jawab Kyai Ghazali.
"Masya Allah.... Belasan tahun tinggal di Mesir. Maka Pesantren Al Fallah akan semakin berkembang dengan hadirnya Nak Hamzah"
"Amiiin Kyai. Pesantren Nurul Huda juga saya lihat semakin berkembang. Itu di depan tadi, sudah ada pembangun baru lagi saya lihat Kyai"
"Betul. Itu pembangunan gedung baru, untuk laboratorium bahasa"
"Masya Allah" Ucap Kyai Ghazali.
"Assalamualaikum"
Seorang gadis cantik berkerudung putih masuk ke ruangan dengan membawa nampan berisi cangkir minuman.
"Walaikumsalam"
"Ini Annisa. Putri sulung saya, Kyai" Ucap Kyai Chozin memperkenalkan putrinya.
Annisa tersenyum dan menganggukkan kepala. Ia meletakkan cangkir-cangkir yang di bawanya ke atas meja.
"Silahkan di minum" Ucap Annisa, lalu ia kembali ke dalam.
*Annisa (ilustrasi visual)
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
❤️Rohana Kadirman❤️
__ADS_1