
Ternyata, Julia adalah gadis blasteran. Ibunya asli Jakarta, sedangkan Ayahnya berkebangsaan Jerman. Pantas saja Julia kuliah di Swiss Jerman University.
Aku dan Julia sudah selesai makan, lalu kami berdua keluar.
"Aku akan menunggu angkot di situ" Aku menunjuk kursi taman di dekat trotoar.
"Angkot ?"
"Iya. Aku pulang naik angkot" Ucapku sambil tersenyum.
"Ehmm,.. Sebaiknya ku antar kau pulang"
"Tidak perlu Julia, terimakasih. Aku bisa pulang naik angkot"
"Oh,.. No. No. Kita searah,... Ku antar kau pulang"
"Kau,... Bawa kendaraan ?" Ucapku sambil menoleh kiri kanan. Mencari kendaraan Julia.
"Tidak. Andaikan saja aku punya" Ucap Julia.
"Jadi.. Kau mau mengantarku pakai apa ?"
Aku mengerenyitkan dahi.
"Wait juzt a moment" Julia mengangkat jari telunjuknya, memberiku isyarat agar menunggu sejenak.
Julia membuka ponselnya, lalu menekan beberapa tombol, lalu menempelkan ponselnya ke telinga.
"Tuuut" Terdengar nada sambung telepon di seberang.
"Hai Will,... I need your help, please,..."
"Came on Will. Aku baru saja di putuskan Dimas, kemudian aku hampir saja malu gara-gara tidak bisa membayar pesanan makananku, lalu sekarang aku mau pulang dan tidak memiliki kendaraan"
" Oh, god ! Aku sudah menelpon taksi, tapi sampai sekarang belum datang" Julia terlihat menutup mulutnya sambil tertawa.
Aku tahu, dia sedang berbohong. Dari tadi kami selalu bersama, dan tak pernah terlihat sekalipun dia menelpon taksi.
"Aku di depan KFC, jalan Sartika"
"Oke. I wait. Thank you Will"
Julia menutup ponselnya, dan memasukkannya kembali ke dalam tas.
"Beres" Ucapnya sambil tertawa.
"Kau meminta seseorang untuk menjemput kita ?" Tanyaku.
"Yups. Kakakku. Aku meminta kakakku untuk menjemputku. Apartemennya tak jauh dari sini. Dia akan segera datang"
Julia duduk di kursi. Aku mengikutinya.
"Apa kau mahasiswa dari daerah ?"
"Ya. Aku dari Jogja"
"Ow,.. Jogja. Kota yang indah. Udaranya sejuk, segar." Ucap Julia.
"Ya,.. Jogja memang indah" Sahutku.
"Apa kau pernah kesana ?" Tanyaku pada Julia.
"Baru satu kali" Jawab Julia.
"Piiiiip" Sebuah mobil Porsche warna hitam mengkilat berhenti di tepi jalan, tepat di depan tempat aku dan Julia duduk.
"Itu William. Ayo Aisyah" Julia berdiri dan menghampiri mobil itu.
Aku berdiri dan mengikuti Julia dari belakang. Aku merasa sedikit ragu. Haruskan aku naik di mobil itu ??
Mobil seseorang yang sama sekali tidak ku kenal.
"Apa kau takut Aisyah ?" Julia seperti bisa bisa menebak apa yang aku fikirkan.
"Hmm,... Aku tahu, ini Jakarta. Kau harus waspada jika seseorang yang tak di kenal menawarimu tumpangan. Benar bukan ??"
"Oh, tidak. Aku hanya,...." Aku tak bisa melanjutkan kata-kataku. Aku tak tahu harus berkata apa.
Julia membuka pintu depan mobil, lalu pintu belakangnya juga.
"Mobil ini hanya memiliki 4 kursi. Itu William, Kakakku" Julia menunjuk pria di kursi kemudi.
"Dan kursi belakang ini kosong" Julia menunjuk kursi belakang kemudi yang kosong.
"Apa kau ingin melihat bagasi juga ?"
"Tidak perlu" Ucapku sambil tersenyum, lalu menggamit lengan Julia.
Julia masuk ke mobil, aku mengikutinya.
"Aku hanya ingin membalas kebaikanmu. Karena tadi kau sudah mentraktirku makan. Jadi, setidaknya biar ku beri kau tumpangan pulang" Ucap Julia.
"Kita akan kemana ?" Kakak Julia yang sedari tadi diam di belakang setir, bicara dengan nada dingin.
"Pulang Will" Sahut Julia.
"Lalu temanmu ? Apa dia ikut pulang bersama kita ?"
"Dia searah dengan kita. Jalankan saja mobilmu" Perintah Julia.
Kakak Julia menyalakan mobilnya, lalu perlahan kami mulai bergerak, meninggalkan jalan Sartika.
Mobil melaju cepat, membelah keruwetan jalanan kota Jakarta.
Dua puluh menit kemudian, aku tiba di depan lorong jalan Asrama Nadira.
"Aku berhenti di sini saja" Ucapku.
Kakak Julia menepikan mobilnya di pinggir jalan.
__ADS_1
Julia menurunkan kaca mobil.
"Kau tinggal di sini ? Rumah yang mana tempatmu menyewa kamar ?" Tanya Julia padaku.
"Aku menyewa kamar di Asrama Nadira. Tempatnya di lorong depan. Tapi aku bisa jalan berjalan kaki dari sini."
"Terimakasih atas tumpangannya"
Aku baru saja berniat membuka pintu mobil, ketika tiba-tiba Kakak Julia kembali menyalakan mobilnya.
"Aku akan mengantarmu sampai depan rumah" Ucap Kakak Julia.
"Ya,... Tentu saja. Bukankah ini benar-benar suatu kebetulan. Ha ha ha." Ucap Julia sambil tertawa.
Aku tidak mengerti apa yang di maksud kebetulan oleh Julia, tapi aku memilih diam saja.
Begitu tiba di depan Asrama Nadira, Kakak Julia segera menghentikan mobilnya.
Aku turun dari mobil, dan mengucapkan terimakasih pada Julia.
Begitu mobil porsche hitam itu pergi, aku segera masuk ke dalam.
"Baru pulang Neng Aisyah ?" Sapa Pak Dudung dari dalam pos security.
"Iya Pak Dudung." Sahutku.
"Mari Pak,... Saya masuk dulu"
"Iya Neng, silahkan"
***
Aku masuk kamar, dan segera berganti pakaian lalu berwudhu. Aku belum sholat Dzuhur.
Setelah selesai, aku merebahkan diri di tempat tidur. Sudah lewat jam dua siang, tapi rasanya aku ingin tidur siang sejenak.
"Ping !" Bunyi pesan whatsapp masuk di ponselku.
Aku meraih tasku di atas meja, lalu mengambil ponsel.
Tirto : [Assalamualaikum]
Ternyata pesan whatsapp dari Tirto. Segera ku ketik pesan balasan.
Aku : [Walaikumsalam]
Tirto : [Lagi sibuk gak ?]
Aku : [Gak. Lagi tiduran aja]
Tirto : [Hah, tiduran ? di mana? di musholla ?]
Aku : [Ha ha ha. Gak, aku di kosan, dah balik dari kampus]
Tirto : [Oh, kirain masih di kampus. Ini aku bawakan buku yang kamu minta tempo hari]
Aku : [Alhamdulillah, dah ketemu bukunya ?]
Aku : [Ha ha ha. Dasar anak kosan. Btw, tolong titipin aja bukunya sama Nuri ya]
Tirto : [Nuri masih di kampus ?]
Aku : [Iya, dia masih di kampus]
Tirto : [Oke]
Aku : [Thanks]
Aku menutup ponselku, lalu meletakkannya di dekat bantal.
Baru saja aku memejamkan mata sejenak, tiba-tiba dering nada panggilan ponselku kembali berbunyi.
Aku meraih ponsel dengan malas. Ku intip nomer siapa yang ada di layar panggilan.
[Home Sweet Home] memanggil....
Ternyata telpon dari rumah. Mungkin Ibu yang menelpon.
"Halo Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Terdengar suara Ibu di ujung telepon.
"Piye kabarmu Nduk ?"
"Alhamdulillah, baik Bu."
"Itu, kemarin ibu ngirim paket. Ada juga rendang titipan dari ibunya Nuri"
"Alhamdulillah,.. Asyiiik"
"Gimana kuliahmu, lancar ?"
"Alhamdulillah Bu. Doakan Aishy ya Bu"
"Selalu Nduk, Ibu mendoakanmu setiap waktu. Jaga diri baik-baik"
"Iya Bu,... Aisyah akan jaga diri"
"Yo wes ya,... Assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Aku mematikan ponsel, dan akhirnya bisa terlelap.
***
Kakak Julia melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Bahkan hampir saja tadi menyerempet kendaraan lain.
__ADS_1
Aku merasa cukup deg deg an.
Aku melirik Julia yang duduk di sebelahku. Julia terlihat santai, dan di saja. Ya, mungkin dia sudah terbiasa dengan cara menyetir Kakaknya yang seperti ini. Yang menurutku cukup ugal-ugalan.
"Aku berhenti di depan" Ucapku, agar Kakak Julia menghentikan mobilnya.
Tapi Kakak Julia diam saja, dan tetap melajukan mobilnya, seolah dia tak mendengarkan ucapanku. Lorong Asrama Nadira pun sudah terlewati.
"Julia, beri tahu Kakakmu untuk menghentikan mobilnya"
Julia juga diam saja.
"Julia" Aku menoleh ke samping. Ternyata tidak ada Julia di sebelahku. Julia tiba-tiba saja menghilang.
Aku ketakutan.
Kakak Julia akhirnya menepikan mobilnya. Di tempat yang tak aku kenal sama sekali.
Dengan cepat dia membuka pintu mobil, dan menarik tanganku keluar.
Aku berusaha melepaskan tanganku, tapi Kakak Julia memegang tanganku cukup kuat.
"Lepaskan tanganku, atau aku berteriak minta tolong." Ucapku mengancam.
Kakak Julia menatapku tajam. Dia mendekat dan mendorong tubuhku ke badan mobil. Aku terhimpit tubuhnya yang kekar.
"Kamu adalah milikku !" Ucap Kakak Julia.
Wajahnya begitu dekat denganku, hingga aku bisa merasakan hembusan nafasnya di wajahku.
Aku semakin ketakutan.
"TOLONG.....!" Akhirnya aku berteriak minta tolong.
Tapi tak ada seorangpun yang datang menolongku.
"TOLOOOONG.....!" Aku terus berteriak meminta tolong. Berharap ada yang mendengar teriakanku.
"TOLOOOONG,... !" Aku terus berteriak
"Aishy,... Aishy,... Aisyah !" Terdengar seseorang memanggil namaku.
"Aisyah,.. Bangun !" Seseorang mengguncang-guncang bahuku.
Nafasku memburu dan terengah-engah. Aku membuka mata.
Aku melihat Nuri duduk di sampingku dan sedang mengguncang bahuku.
"Astaghfirullahaladzim,..." Aku duduk dan mengucap istighfar.
"Kamu mimpi apa sih ? Sampai teriak-teriak minta tolong gitu" Tanya Nuri. Dia lalu meraih botol air mineral di atas mejaku.
"Nih minum dulu"
Aku meraih botol itu dari tangan Nuri, lalu meminum airnya.
"Aku mimpi buruk" Ucapku setelah selesai minum.
"Di kejar hantu ?"
"Bukan. Entahlah,.. Mimpi aneh. Jam berapa sekarang ?"
"Jam setengah lima tuh"
"Astaghfirullah ! Aku belum sholat Ashar" Aku segera beranjak dari kasur dan menuju kamar mandi.
"Pantesan mimpi buruk. Belum Sholat Ashar sih. Gak boleh tidur sore tau Aishy." Nuri mengomeliku. Dia benar-benar terdengar seperti Ibu jika sedang mengomel.
Aku wudhu, dan langsung sholat.
Setelah selesai, aku mengeluarkan bunga mawar yang siang tadi ku beli.
Aku membuka jendela, dan meletakkan pot bunga kecil itu di sudut balkon.
"Tumbuh subur ya mawarku,..."
Aku menyiram bunga mawarku dengan sedikit air, lalu memercikkan air di atas daun-daunnya. Seperti pesan Natasya, si gadis penjual bunga.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
__ADS_1
❤️Rohana Kadirman❤️