AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Tatapan Mata


__ADS_3

Aku menatap bayangan diriku di cermin. Aku mengoleskan sedikit lipbalm ke bibirku agar tidak terlihat pucat. Malam ini aku akan menghadiri undangan Julia, merayakan hari ulang tahunnya. Baru beberapa saat lalu, ia menelponku, memastikan aku akan datang, dan memberitahukan bahwa sebentar lagi, kakaknya, William, akan datang menjemputku.


Julia, gadis blasteran Indo – Jerman yang secara tidak sengaja ku kenal itu, entah mengapa rasanya aku begitu


cepat merasa akrab dengannya. Mungkin karena kepribadian Julia yang sangat friendly.


“Grrrrtttt…” Ponselku bergetar.


Aku memang tidak memasang nada dering untuk ponselku, hanya nada getar saja. Ku raih ponselku yang tergeletak di atas meja. Sebuah nomer baru tertera di layar ponselku.


Dengan sedikit ragu, ku angkat panggilan itu.


“Hai,.. Umm… Assalamualaikum.” Terdengar suara laki-laki yang tidak ku kenali.


Siapa ya??


“Walaikumsalam…” Ku jawab salamnya. Karena menjawab salam itu hukumnya wajib.


“Aku William, kakaknya Julia. Julia yang memberikan nomer ponselmu padaku.”


Ternyata William, kakak Julia yang menelponku.


“Oh, iya… Iya. Julia sudah memberitahukannya padaku, bahwa kau yang akan menjemputku.”


“Baiklah, aku sudah menunggumu di bawah.”


“Oh iya, baiklah. Aku akan segera turun, sekarang.”


Ku masukkan sebuah kotak kado kecil berwarna kuning ke dalam tasku. Itu adalah kadoku untuk Julia. Aku membelikannya sebuah syal berwarna hijau muda. Ya, semoga saja Julia nanti menyukainya.


Aku keluar kamar dan tak lupa mengunci pintu, karena Nuri juga tak ada. Nuri pergi bersama Mia dan Ica, mereka pergi nonton ke bioskop. Aku berjalan di koridor, dan ketika menuruni tangga ke lantai satu, aku berjumpa Pak Sumijan.


“Mau keluar malam minngguan ya Neng?” Sapa Pak Sumijan. Dia sepertinya dari keluar beli martabak, karena aroma lezat martabak tercium dari kantong yang di bawanya.


“Hmm… Iya Pak, mau keluar dulu, ada acara di rumah teman. Mari Pak.” Sahutku.


“Iya Neng, silahkan. Bapak mah mau nonton acara dangdutan saja di TV, Neng. Ini sudah beli martabak untuk teman kopi. He he he…” Pak Sumijan mengangkat kantongan di tangannya sambil tertawa. Benar, ternyata dia memang dari keluar beli martabak.


Aku berjalan menuju rumah Ibu Nadira. Terlihat William, kakak Julia, berdiri di dekat mobilnya, dengan posisi setengah bersandar. Tidak terlihat Ibu Nadira, sepertinya ia belum keluar juga dari rumah.


Begitu melihatku datang, William menoleh dan tersenyum, lalu menyapaku.


“Hai…” William mengubah posisi berdirinya menjadi tegak, ia kemudian memasukkan ponselnya ke saku celananya.


“Hai…” Aku ikut berdiri di dekat mobil.


Kemudian kami berdua saling berdiam diri, beberapa saat.


Aku melongokan kepala kearah pintu rumah Ibu Nadira. “Ibu Nadira belum keluar?” aku berusaha memecah suasana.


“Ya, belum. Mungkin sebentar lagi.” Sahut William.


“Kreeek.” Pintu rumah Ibu Nadira terbuka.


“Ceklek,” Bu Nadira keluar dari dalam rumah, lalu menutup pintu rumahnya kembali, dan berjalan menghampiri kami.


“Ow… Kau sudah turun rupanya?” Bu Nadira menyapaku. Aku menganggukkan kepala dan tersenyum.

__ADS_1


“Maaf jika menunggu terlalu lama William.” Bu Nadira menepuk pundak William.


“Tidak Bibi, aku siap menunggu Bibi hingga seribu tahun lagi.” William menanggapi permintaan maaf bibinya dengan bercanda.


“Kau ini.” Bu Nadira menjewer telinga kanan William, “Ayo, sebaiknya kita berangkat sekarang.” Ucapnya kemudian.


William membukakan pintu mobil untuk bibinya. Bu Nadira masuk ke dalam mobil, lalu William kembali menutup pintunya.


William berjalan cepat ke sisi mobil satunya, lalu membuka pintu mobil dan menahannya dengan tangannya.


“Apa kau tidak jadi ikut?” William menatapku.


“Oh…!” Aku seperti baru tersadar, ternyata William membukakan pintu mobil untukku. Aku bergegas berjalan menghampirinya.


“Masuklah,” William melebarkan pintu mobilnya, dan menyuruhku masuk.


“Terimakasih.” Aku masuk ke dalam mobil. William kembali menutup pintu mobil. Ia kemudian berjalan ke depan, dan masuk di ke mobil.


“Aisyah, keponakanku ini sangat baik bukan? Dia sangat romantis. Dan itu semua dia dapatkan dari  ayahnya.” Bu Nadira berbicara pelan di dekatku. Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan Bu Nadira. Karena bingung harus menjawap apa.


William menyalakan mobilnya, kami pun berangkat.


***


Mobil William bergerak melambat, berbelok memasuki kawasan perumahan elite, kemudian akhirnya berhenti.


“Aisyah, kita sudah sampai.” Bu Nadira memberitahuku bahwa kami sudah sampai.


Pintu mobil di sisi Bu Nadira di buka dari luar. Seorang pria paruh baya yang membukakan -nya.


“Silahkan Nyonya.” Ucapnya seraya sedikit membungkukkan badan.


Pintu mobil di sisi sebelahku juga tiba-tiba di bukakan seseorang dari luar. Aku menoleh. Ternyata William yang membukakan pintu. “Ayo, Julia sudah menunggu kita di dalam.”


Aku menganggukkan kepala dan dengan cepat turun dari mobil.


“Ayo Aisyah…” Bu Nadira menggandeng tanganku. “Ini rumah adikku, Mariam. Ibunya William.”


“Iya Bu, Julia juga sudah memberitahukannya padaku, bahwa Ibu ternyata adalah bibinya Julia.” Aku melangkah di sisi Bu Nadira, sedangkan William merjalan di belakang kami.


Aku menatap rumah di hadapanku. Sebuah rumah megah bergaya klassik ala Eropa. Bercat warna putih dengan tiang-tiang besar di depannya.


Hmm… Benar seperti kata Nuri waktu itu, sepertinya Julia terlihat sudah memiliki segalanya. Dan hal itu sekarang bisa ku lihat hanya dengan sekilas melihat rumah orang tua Julia.


Seorang pelayan wanita membukakan pintu rumah untuk kami. “Selamat datang Nyonya, semua sudah menunggu di taman.” Ucapnya sambil membungkukkan badannya ke depan.


“Julia menginginkan private party di taman, di pinggir kolam.” Ucap William. Kemudian berjalan menduluiku dan Ibu Nadira.


Kami berjalan melewati ruang tamu, kemudian ruang santai outdoor, lalu berbelok di lorong-lorong atau koridor yang di penuhi dengan tanaman hias serta gemericik pancuran air di sana sini. Dan, barulah kami tiba di tempat pesta ulang tahun Julia.


Beberapa balon berbentuk hati terlihat di pasang di beberapa sudut taman. Sebuah meja panjang dengan kursi berjejer di kiri kanannya, terlihat membentang tak jauh dari tepi kolam.


Tadinya aku berpikir, bahwa pesta ulang tahun Julia akan sangat ramai dan banyak di hadiri tamu undangan. Ternyata dugaanku salah. Hanya ada sedikit sekali orang yang terlihat di pesta ini, mungkin hanya sekitar belasan orang.


Julia terlihat tengah bercakap-cakap dengan beberapa temannya, begitu melihat kami datang, dia lalu berjalan menghampiri kami.


“Halo Bibiku sayang… Ayo duduk, kami sudah menunggumu.” Julia memeluk bibinya.

__ADS_1


“Halo juga Juliaku sayang, kau cantik sekali. Selamat ulang tahun. Ini hadiah dari Bibi.” Bu Nadira memberikan sebuah paper bag kepada Julia. Paper bag itu berlogo Gucci di luarnya. Sudah bisa di pastikan itu adalah barang mahal.


“Ow… Terimakasih bibi.” Julia menerima kado dari bibinya, lalu memberikan kado itu kepada salah seorang pelayan di dekatnya. Pelayan itu mengambilnya, lalu membawanya dan meletakkan di atas meja yang di atasnya berisi tumpukan kado Julia.


Bu Nadira berjalan duluan meja, dan menyapa yang lainnya.


Aku menghampiri Julia. “Hai Julia, selamat ulang tahun. Aku menyerahkan kadoku kepada Julia.”


“Aisyah, terima kasih sudah datang. Aku pikir kau tak akan mau datang.” Julia memelukku. “ayo, ku kenalkan kau pada mommyku. Mereka juga sudah menunggumu.” Julia menggandeng tanganku. Kami melangkah menuju meja.


“Hai Mom,” Julia memanggil ibunya yang tengah bercakap-cakap Ibu Nadira. “Ini Aisyah…” Julia mengedipkan sebelah matanya ke arah ibunya, Ny. Mariam.


Ny. Mariam menatapku dengan seksama. Menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kemudian dia tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepalanya. Lalu ia berjalan menghampiriku.


“Kau memang terlihat seperti bidadari Aisyah…” Ny. Mariam memelukku dan mencium kedua pipiku. “Terimakasih sudah mau hadir. Ayo, duduklah.” Ny. Mariam menuntuntunku, aku mengikutinya di sampingnya.


Ny. Mariam menarik sebuah kursi, dan mempersilahkanku duduk. “Duduklah.” Ucapnya.


“Terimakasih Nyonya…” Aku membungkukkan badan kepada Ny. Mariam, kemudian aku duduk.


Aku meluruskan dudukku menghadap ke depan meja. Di atas meja panjang ini, berbagai macam hidangan tersaji. Aku menatap ke seberang meja…


William, kakak Julia itu ternyata yang menempati kursi di seberang mejaku. Dan.... Ternyata dia tengah menatap ke arahku. Menatap diriku.


Mata kami bertemu. Aku menganggukkan kepala ke arahnya, untuk menghargainya. Aku berharap dia pun melakukan hal yang sama, dan segera mengalihkan tatapannya dariku. Tapi sepertinya aku salah. William, kakak Julia itu, sama sekali tak mengalihkan tatapan matanya. Dia terus menerus menatapku. Tanpa berkedip.


Aku merasa jengah, dan berusaha mengalihkan perhatian ke arah lain.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.

__ADS_1


 


❤️Rohana Kadirman❤️


__ADS_2