AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Good Luck


__ADS_3

Musik mengalun pelan di taman rumah keluarga Ballard.


Pesta ulang tahun Julia sudah usai, makan malam pun sudah selesai.


Para pelayan mulai membereskan meja makan, dan kami berpindah duduk di kursi-kursi dekat kolam yang sudah di sediakan


Teman-teman Julia, masih yg asyik mengobrol. Ada juga yang sudah pulang, yaitu Yana. Aku tadi sempat berkenalan juga dengannya, Yana sedikit flue, jadi dia cepat pulang.


Sementara Julia sendiri, ia terlihat asyik berdansa dengan Mr. Ballard, ayahnya.


Julia terlihat sangat bahagia, karena akhirnya ayahnya mengizinkan dirinya untuk memiliki mobil. Ya, tentu saja, itu berkat usaha keras William, untuk meyakinkan ayahnya.


Ibu Nadira dan Ny. Ballard asyik mengobrol dan tertawa-tawa. Dua wanita yang ternyata kakak beradik itu terlihat sangat akrab dan menyayangi satu sama lainnya.


Aku mengambil segelas jus melon dari meja, lalu meminumnya perlahan.


William, kakak Julia, yang tadi masuk ke dalam rumah, keluar kembali dengan membawa satu rak soft drink. Ia menghampiri teman-teman Julia.


"Soft drink. Mungkin kalian suka." Ucap William sambil meletakkan rak soft drink itu di atas meja mereka.


"Hmm... Ku pikir kau akan membawa beberapa botol anggur atau wine kesini." Ucap Kimmy.


"Hai Kimmy, alcohol hanya akan merugikanmu. Kau akan mabuk, hilang kendali, dan... You know lah, apa yang mungkin bisa menimpa gadis secantik dirimu." Sahut William.


"Kau ini pernah tinggal di Canada, tapi pemikiranmu ternyata sangat kolot sekali." Kimmy menggerutu.


"Ayolah William, ini hari spesial, patut untuk di rayakan. Beberapa botol wine pun cukup lah. Jika kau tak mau memberikannya, aku akan memesannya sendiri." Julio ikut menimpali.


"Oh. No... No... No!" Sahut William cepat. "Kau lihat wanita cantik yang memakai gaun merah itu disana?" William menunjuk ke arah Ny. Ballard, ibunya.


"Maksudmu, ibumu??" Kimy bertanya sambil mengerenyitkan alisnya.


"Yeah. My mom. Dia tak akan membiarkan sebotol anggur pun ada di dalam rumahnya. Haraaam..." Sahut William.


"Oh, come on!! I don't believe it!" Kimmy terlihat kesal.


"Oke begini saja." William mengeluarkan dompetnya, lalu mencabut beberapa lembar uang dari dalamnya.


"Ini untuk kalian, bersenang-senanglah. Tapi bukan di sini." William meletakkan uang itu ke atas meja.


"Woow...! Kau memang yang terbaik William." Kimmy meraup uang pemberian William dengan tangannya."Ayo, aku tahu kita harus pergi kemana." Kimmy berdiri dari kursinya.


"Siapa yang akan ikut denganku?" Kimmy bertanya.


Julio, Kevin, Tata, Sam, dan David mengangkat tangan.


"Aku disini saja." Ucap Silva.


"Dan aku juga, tentu disini saja, menemani Silva." Ucap Ruben.


"Ah, dasar kalian dua sejoli." Ucap Tata.


"Baiklah, kita sebaiknya pergi sekarang." Julio berdiri dari kursinya.


"Hai, Julia!" Kimmy melambaikan tangan kepada Julia.


Julia menyudahi dansanya dengan ayahnya, lalu berjalan menghampiri teman-temannya. "Kalian, akan pulang??" Tanya Julia kepada teman-temannya, karena di lihatnya mereka berdiri dari kursi.


"Tidak. Kami akan melanjutkan pestanya di tempat lain." Ucap Kimmy. "Sekali lagi, happy birthday Julia, wish you all the best." Kimmy memeluk Julia.

__ADS_1


"Oke thanks."


"Bye Julia... and, thanks William." Kimmy mencolek manja pipi William."


"Oke, bersenang-senanglah." William melambaikan tangannya.


"Mereka akan kemana?" Tanya Julia.


"Kau pasti tahu lah mereka akan kemana. Kau kan sangat mengenal Kimmy." Jawab Silva.


"Oh... God!" Ucap Julia. Kemudian ia duduk dan membuka sekaleng soft drink.


William berdiri, dan mengambil dua kaleng soft drink. Ia lalu berjalan, menghampiriku.


"Boleh aku duduk di sini?" William menunjuk kursi di depan mejaku.


"Tentu saja, ini adalah rumahmu."


William duduk, membuka satu kaleng soft drink, lalu menyodorkannya kepadaku.


"Soft drink, cola." Ucapnya, kemudian ia membuka lagi satu kaleng lainnya, dan langsung meminumnya.


"Trimakasih." Sahutku. Aku mengambil kaleng soft drink yang di sodorkannya, lalu meminumnya sedikit, dan meletakkanya kembali ke atas meja.


Ibu Nadira terlihat berjalan menghampiriku.


"Hai Aisyah..."


"Iya Bu..."


"Aku minta maaf, sepertinya aku tidak bisa pulang bersamamu. Aku akan menginap disini malam ini."


"Oh..."


"Oh..." Aku hanya kembali bisa bilang oh. Tak mungkin aku mencegah Bu Nadira untuk menginap di rumah adiknya sendiri.


"William. Antarkan nanti Aisyah pulang. Awas kalau kau sampai macam-macam dengannya. Kau akan berhadapan dengan bibi."


"Siap Bibi, dan aku tak mungkin macam-macam. Aku hanya satu macam." Sahut William dengan bercanda.


"Baiklah. Aisyah, aku akan masuk ke dalam sekarang. Ngobrollah dengan William."


"Ya Bu Nadira... Silahkan." Aku tersenyum dan menganggukkan kepala kepada Bu Nadira.


Bu Nadira berjalan, masuk ke dalam rumah.


"Hmm, Aisyah. Mungkin kau mau berdansa denganku?"


"Maaf, aku tidak bisa berdansa." Sahutku cepat.


"Aku bisa mengajarimu berdansa."


"Tidak! Maaf, maksudku aku tidak mungkin berdansa denganmu."


"Why?? Apa itu artinya, jika dengan orang lain kau bisa berdansa?"


"Tidak, maksudku bukan begitu. Tapi aku memang tidak akan berdansa denganmu." Aku sedikit memundurkan badanku ke belakang, karena William tadi mencondongkan badannya ke depan.


Aku merasa canggung. Tak mungkin aku menjelaskan kepada William, mengapa aku tak mau berdansa dengannya. Dan tentu saja aku tak mungkin berdansa dengannya, karena itu artinya aku harus berpegangan tangan, berdiri dengannya dalam jarak dekat, dan bahkan mungkin berpelukan. Seperti itu lah yang aku ketahui tentang dansa.

__ADS_1


Aku membetulkan lipatan jilbabku di bagian pelipis, dengan jari telunjukku.


"Oh, yeah. Of course. Kau tak bisa berdansa denganku. Sekarang aku mengerti. Haraaam bukan??"


"Ha ha ha..." Aku tertawa kecil. Karena mendengar William mengucapkan kata haram sekali lagi. Tadi aku mendengarnya mengucapkan kata haram di depan teman-teman Julia.


Aku menyingkap sedikit ujung lengan bajuku. Aku melirik jam tanganku. hampir jam 10 malam.


"Sepertinya aku pernah melihat jam tanganmu Aisyah." Ucap William. Rupanya ia memperhatikan jam tangan yang ku kenakan.


"Tentu saja. Karena ini jam murahan. Ada banyak di pasaran, jadi pasti kau pernah melihatnya."


William hanya diam. Dan lagi-lagi, ia menatapku dengan tatapannya yang membutku merasa jengah.


"Oh, ya... William. Jika kau tak keberatan, aku ingin kau mengantarkanku pulang, sekarang." Aku merasa tak perlu lagi berlama-lama di rumah ini. Acara ulang tahun Julia juga sudah selesai. Jadi aku ingin segera pulang saja ke kosan.


"Yes sure. Aku siap mengantarmu." William menenggak habis kaleng soft drink nya. "Juliaa...!" William berseru memanggil Julia.


Julia menghampiri meja kami.


"Hai Aisyah... Semoga kau menikmati pestanya." Julia menyapaku.


"Aku sangat menikmatinya. Terimakasih sudah mengundangku. Tapi aku harus pulang sekarang." Aku berdiri dan memeluk Julia.


William ikut berdiri.


"Oke, baiklah. Terimakasih Aisyah." Julia memegang tanganku. "Hei Will, hati-hati di jalan, and good luck!" Ucap Julia kemudian.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.


 

__ADS_1


❤️Rohana Kadirman❤️


__ADS_2