AYAT CINTA AISYAH

AYAT CINTA AISYAH
Istikhoroh


__ADS_3

Sore hari di pesantren Nurul Huda.


Kyai Chozin baru saja mengantar tamunya pulang. Selama dua hari berturut-turut rupanya Kyai Chozin mendapat dua kunjungan tamu. Kunjungan yang sangat khusus, karena tamunya itu tak sekedar datang berkunjung untuk silaturahmi dengannya, melainkan datang dengan tujuan besar, yakni meminang putri sulungnya, Annisa.


Ummu Zainab membereskan gelas-gelas dari atas meja, sambil melirik suaminya.


"Abah... Mohon jangan putuskan sendiri, ajak Annisa untuk berunding. Ini bukan tentang kita, bukan pula tentang Nurul Huda. Ini tentang Annisa, hidup Annisa." Ucap ummu Zainab.


"Saya sedang berfikir Ummi." Kyai Chozin menghela nafasnya dengan berat.


"Sebenarnya, masih ada satu orang lagi yang abah tunggu..."


"Siapa Bah??"


"Kyai Alghazali. Sebenarnya abah sangat ingin berbesan dengannya."


Ummu Zainab diam saja, tidak menanggapi ucapan suaminya barusan. Dalam hati ia juga membenarkan. Sebenarnya ia pun merasakan hal yang sama. Hamzah, putra Kyai Alghazali, memang pantas menjadi mantu idaman semua orang. Putra seorang kyai, gagah, lulusan Mesir pula. Andai saja dia yang meminang Annisa, tentu tak ada keraguan untuk menerimanya.


"Tapi... Aku tak ingin menggantung jawaban terlalu lama ummi. Ustadz Jalal dan Gus Hilmi, mereka berdua juga orang-orang yang shalih. Bukan orang sembarangan. Panggilkan Annisa." Ucap Kyai Chozin kepada istrinya.


Ummu Zainab berdiri dan masuk ke dalam.


Ia mengetuk pintu kamar Annisa yang terlihat tertutup.


"Tok tok tok! Nisa..." Seru Ummu Zainab perlahan.


Tak ada Jawaban.


Ummu Zainab memutar gagang pintu, dan masuk ke kamar Annisa. Kamar Annisa kosong, Annisa tak ada di dalam. Ummu Zainab kembali menutup pintu kamar putrinya itu, lalu ia berjalan ke dapur.


"Annisa kemana Bi Lastri?" Tanya Ummu Zainab kepada Bi Lastri yang sedang mencuci piring.


"Oh... Sepertinya Neng Annisa tadi sedang menyiram bunga di taman samping Nyai." Sahut Bi Lastri. "Mau saya panggilkan Neng Annisa, Nyai??"


"Tidak usah, teruskan saja kerjaanmu Bik. Biar aku sendiri yang panggil Annisa."


"Oh, inggeh Nyai." Bi Lastri menganggukkan kepala dan kembali mencuci tumpukan piring dan gelas di depannya.


Ummu Zainab keluar rumah, dan menuju ke taman samping, yang bersebelahan dengan asrama putri.


Benar saja, di lihatnya, Annisa sedang di taman itu, dengan beberapa santri putri lainnya. Ia pun menghampiri putrinya.


"Nisa... "


Annisa menoleh.


"Iya ummi? Panggil Nisa?" Annisa menghampiri ibunya.


Ummu Zainab mengganggukkan kepala. "Nisa, kamu di panggil abahmu."


"Baik ummi, Nisa cuci tangan dulu ya."

__ADS_1


Annisa kembali ke taman, dan melepaskan sarung tangan berkebunnya. Ternyata, tadi ia tak hanya sedang menyiram bunga, tapi juga menanam bunga, di bantu beberapa santri putri lainnya.


"Teruskan ya Laila, itu yang di sebelah sana tadi belum di pupuk. Bunga lidah buaya yang di pot itu juga mau di pindah sebagian, anakannya sudah terlalu banyak, nanti malah kerdil kalo di biarkan terlalu banyak anaknya." Annisa memberi arahan kepada Laila.


"Baik Mbak Nisa, nanti saya selesaikan." Sahut Laila.


"Saya masuk dulu ya, di panggil sama abah soalnya."


"Iya Mbak Nisa, tafaddol."


Annisa masuk ke dalam rumah, menyusul ibunya yang sudah berjalan duluan di depan.


"Kenapa sih Ummi? Abah panggil Nisa??" Tanya Annisa begitu ia sudah berada di samping ibunya.


"Nanti kamu akan tahu sendiri Nisa. Ayo, abahmu nunggu di ruang tengah."


Sesampainya di ruang tengah.


"Assalamualaikum, Bah. Abah manggil Nisa?"


"Iya, Nisa. Duduklah, abah mau bicara."


Annisa duduk di samping Kyai Chozin, ayahnya. Sementara, Ummu Zainab, duduk di depan mereka berdua. Ummu Zainab menatap putrinya itu dengan tatapan welas asih.


"Annisa..." Kyai Chozin mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Ya Abah..."


"Apabila seseorang yang kalian ridhai agama dan akhlaknya datang kepada kalian untuk melamar, maka hendaknya kalian menikahkan orang tersebut. Bila kalian tidak melakukannya, niscaya akan terjadi fitnah di bumi dan kerusakan yang besar. (HR. Tirmidzi)."


"Insya Allah Nisa faham hadist itu abah..." Annisa nampak terlihat tegar.


"Bagus, abah juga yakin kamu sudah faham hadist itu Nisa."


"Jadi Nisa, hadist itu, saat ini tengah berlaku kepada diri abah. Ada dua orang shalih, yang datang kepada abah untuk meminangmu..." Kyai Chozin menatap putrinya.


"Samikna waa atokna abah." Ucap Nisa penuh takzim kepada ayahnya.


"Dua orang itu adalah, yang pertama Ustadz Jalal. Ustadz Jalal itu lelaki shalih. Seorang pengusaha handal, yang menggunakan hartanya untuk kepentingan dakwah di jalan Allah. Dia banyak memberikan sumbangan, untuk pesantren-pesantren yang ada di pulau jawa ini. Dia juga sebenarnya memiliki pondok pesantrennya sendiri, meskipun bukan dia yang mengelolanya sendiri."


"Uhuk uhuk uhuk." Kyai Chozin terbatuk-batuk.


"Minum dulu Bah..." Ummu Zainab menuangkan air mineral botolan kedalam gelas suaminya, lalu ia menyodorkannya.


Kyai Chozin pun minum, dan batuknya pun mereda.


"Memang, Ustadz Jalal itu sudah beristri. Tapi istrinya pun wanita shaliha. Bahkan, sebenarnya niat poligami itu, berawal dari permintaan istrinya Ustadz Jalal sendiri. Istrinya lah kemarin yang menemani Ustadz Jalal kesini. Sentaranya kamu menikah dengan Ustadz Jalal, maka kehidupanmu langsung berada di tahap mapan."


Annisa mengangguk-anggukkan kepala, mendengarkan semua perkataan abahnya tanpa menyela satu patah kata pun.


"Lelaki shalih yang kedua itu, adalah Gus Hilmi. Dia adalah putranya sahabat abah, Kyai Ma'ruf Amin, pemilik pondok pesantren di Jogokariyan. Gus Hilmi, pemuda yang cerdas dan berilmu, masih muda dan penuh semangat dalam dakwah. Bahkan usianya setahun lebih muda darimu, Nisa. Jika menikah dengannya, mungkin kamu akan berjuang dari awal, membina rumah tangga dari nol."

__ADS_1


"Di antara kedua lelaki sholeh yang datang meminangmu itu, dimana hatimu yang merasa lebih cenderung Nisa?" Kyai Chozin bertanya kepada putrinya.


"Abah, seperti yang tadi Nisa katakan di awal. Nisa percayakan urusan jodoh Nisa kepada abah. Nisa yakin dengan pilihan abah. Samikna waa atokna. Nisa mendengar dan taat kepada abah." Ucap Nisa mantap, tanpa keraguan sedikitpun.


"Justru karena itu, Nisa. Dua orang ini, mereka semuanya adalah orang-orang sholeh. Keduanya sama-sama baik. Untuk itu, abah menyuruhmu memilih di antara kedua orang shaleh itu. Abah sudah menjelaskan, siapa mereka berdua, agar kau bisa menimbangnya. Kemana hatimu lebih cenderung di antara mereka berdua itu. Sholat istikhoroh lah dulu. Dan berikan jawaban untuk abah."


"Baik abah, Nisa akan sholat istikhoroh lebih dahulu."


***


Di dalam kamar, di sepertiga malam.


Annisa sujud khusyuk dalam istikhorohnya. Ia berdoa, dan meminta petunjuk kepada Allah.


Dengan penuh kepasrahan dan keyakinan, Annisa berharap hanya kepada Allah. Agar Allah menunjukkan kepadanya, siapa yang terbaik untuknya. Untuk menjadi jodohnya.


Annisa sangat meyakini, bahwa urusan jodoh, rezeki, dan maut, adalah benar-benar rahasia Allah. Maka ia benar-benar menggantungkan semua harapannya hanya kepada Allah.


Selesai dari sujud panjang istikhorohnya. Annisa akhirnya memiliki kemantapan hati, tentang jawaban apa yang akan dia berikan kepada abahnya, esok hari.


_____________Bersambung____________


.


.


.


.


.


.


.


.


Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.


Ini adalah karya pertama saya,.


Baruu belajar nulis


Beri dukungannya dengan cara


LIKE dan VOTE ya,..


Tinggalkan salam juga di kolom komentar.


 

__ADS_1


❤️Rohana Kadirman❤️


__ADS_2