
"Monggo-monggo, silahkan duduk Kyai." Kyai Chozin mempersilahkan keluarga Kyai Ghazali untuk duduk.
"Ummi,..! Ada tamu ini ummi!" Kyai Chozin berseru kepada istrinya, Ummu Zainab.
Ummu Zainab keluar.
"Masya Allah, ada ummunya Laila dan Hindun ternyata." Ummu Zainab menyalami dan memeluk Ummu.
Setelah berbasa-basi, saling bertanya kabar dan lain sebagainya, maka Kyai Ghazali pun mulai mengeluarkan maksud dan tujuan sebenarnya ia datang bersilaturahmi ke kediaman Kyai Chozin.
"Bismillah, sebenarnya maksud kedatangan saya ke sini Kyai, yang pertama tentu saja untuk tujuan menyambung tali silaturahmi." Ucap Kyai Ghazali.
"Benar Kyai... Jazakillah atas kunjungan Kyai. Saya sangat merasa beruntung, karena di datangi jauh-jauh oleh Kyai seleluarga." Sahut Kyai Chozin.
"Selain untuk bersilaturahmi, kami sekeluarga, membawa niat khusus, dan harapan baik, untuk menjalin tali silaturahmi agar semakin erat."
"Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak berkawin dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki, dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan menjadikan mereka mampu dengan karunia-NYA..." (An-nuur : 32). Kyai Ghazali membaca sebuah kutipan ayat Al-quran.
"Hamzah, putra saya, Insya Allah sudah masuk ke dalam golongan orang-orang yang layak untuk berkawin, menikah.
Untuk itu, kami berniat untuk melamar Annisa, putri sulung Kyai. Bilamana Kyai berkenan, maka itu adalah kebahagiaan bagi kami sekeluarga." Kyai Ghazali akhirnya selesai mengutarakan maksud dan tujuan sebenarnya kedatangannya.
Sesaat ruang tamu Kyai Chozin terasa hening.
Kyai Chozin menghela nafas panjang, lalu mulai berbicara.
"Masya Allah, tentu suatu kehormatan dan kebahagiaan, serta kami sekeluarga pun merasa sangat tersanjung, atas niat Kyai sekeluarga, untuk meminang Annisa, putri saya. Orang tua mana, yang tak ingin mempunyai mantu laki-laki seperti Gus Hamzah?? Putra seorang Kyai kondang, lulusan Kairo, dan mempunyai fisik yang rupawan." Kyai Chozin memuji Hamzah.
"Akan tetapi, sungguh kami meminta maaf, beribu-ribu maaf kepada Kyai sekeluarga, karena, nampaknya Kyai datang terlambat."
"Dari Uqbah bin Amir, bahwasanya Rosululloh SAW bersabda: orang mukmin itu saudara bagi orang mukmin yang lain. Maka tidak halal baginya, menawar atas tawaran saudaranya, dan tidak boleh ia meminang atas pinangan saudaranya, sehingga saudaranya itu meningggalkan atau memberi izin kepadanya. (HR. Ahmad dan Muslim)."
"Annisa, sudah dalam pinangan orang lain. Rembuk keluarga sudah di laksanakan, dan tanggal pernikahan pun sudah di tetapkan. Insya Allah, kami hanya tinggal menanti takdir Allah. Rencana Allah."
"Masya Allah... Barokalloh. Semoga Allah mudahkan setiap urusan dalam persiapan pernikahan Annisa. Tak ada alasan bagi kami, untuk tidak ikut berbahagia dengan kabar ini Kyai." Ucap Kyai Ghazali.
"Benar Kyai... Kami sekeluarga benar-benar meminta maaf. Andaikan Kyai datang lebih awal, mungkin tidak akan seperti ini kisahnya. Tapi, semua ini adalah takdir Allah. Kehendak Allah, kita semua hanya mengikuti takdirnya. Mengikuti jalan-NYA." Sahut Kyai Chozin.
"Ngomong-ngomong, siapa pemuda yang beruntung itu Kyai?"
__ADS_1
"Dia... Gus Hilmi. Putranya Kyai Ma'ruf Amin, dari Jogokariyan."
"Masya Allah... Memang sudah tepat, takdir Allah lah yang terbaik. Kyai Ma'ruf Amin, adalah kyai sepuh yang yang juga jadi panutan saya. Semoga Allah memudahkan segalanya Kyai. Kami sekeluarga, ikut gembira atas pertunangan ananda Annisa dan Gus Hilmi."
"Terimakasih kami haturkan Kyai." Ucap Kyai Chozin.
"Hamzah, sepertinya kamu harus lebih memantaskan diri dan merayu Allah lebih mesra lagi. Bunga yang indah, tentu kumbang pun banyak yang datang menghampiri. Demikianlah yang terjadi pada diri Annisa. Bunga terindah di taman Nurul Huda." Ucap Kyai Ghazali kepada Hamzah.
"Ha ha ha. Kyai Ghazali nampaknya terlalu menyanjung putri saya. Gus Hamzah, adalah pemuda sholeh. Dengan latar belakang keluarga dan pendidikannya, tentu tak kan sulit bagi Gus Hamzah untuk mendapatakan gadis yang lain. Saya masih punya dua anak perempuan lagi, adiknya Annisa. Hanya sayang, mereka masih kecil. Masih sekolah." Ucap Kyai Chozin.
"Monggo Kyai, ayo sambil di minum airnya dan di cicipi hidangannya." Ummu Zainab mempersilahkan tamunya.
Suasana kembali mencair, setelah tegukan demi tegukan teh, dan di selingi aneka cemilan yang terhidang di meja.
Baik Kyai Ghazali, maupun Kyai Chozin, di dalam hati mereka terbersit sebuah penyesalan masing-masing. Kyai Ghazali menyesal karena terlambat untuk datang meminang, andaikan ia datang seminggu sebelumnya, mungkin kesempatan untuk berbesan dengan Kyai Chozin masih ada.
Sementara Kyai Chozin, juga merasa menyesal karena terlalu cepat menerima pinangan, andaikan dia berinisiatif untuk menunggu seminggu lagi, mungkin kesempatan untuk berbesan dengan sahabatnya itu masih ada.
Namun demikian, baik Kyai Chozin maupun Kyai Ghazali, mereka berdua sama-sama berusaha legowo, berbesar hati. Yakin bahwa ketentuan Allah, itulah yang terbaik.
Setelah selesai mengutarakan hajat serta niat melamar, dan juga setelah menjenguk Laila dan Hindun di asrama, Kyai Ghazali dan keluargnya pamit untuk pulang.
"Abah... Sudah jangan kecewa. Hamzah sudah menuruti Abah, bersedia untuk melamar putrinya Kyai Chozin. Menantu yang abah idam-idamkan. Tapi qodarullah, Allah berkehendak lain. Insya Allah pasti ada hikmahnya. Mungkin, jodoh terbaik Hamzah memang bukan Annisa." Ummu Salamah mencoba menghibur suaminya.
"Abah tidak kecewa... Hanya saja, sangat di sayangkan, karena kita terlambat."
"Ya itu namanya kecewa abah." Ucap Ummu Salamah sambil tersenyum.
"Wong Hamzah yang batal melamar dia baik-baik saja, kog malah abah yang di rundung nestapa. Opo gak kebalik namanya itu. Apa abah yang jatuh hati sama Annisa? Hi hi hi." Ummu Salamah mencandai suaminya lagi.
"Iya itu abah, gimana toh abah. Wong saya saja nyantai loh bah. He he he." Hamzah ikut-ikutan menggodai Kyai Ghazali.
"PR buatmu!" Kyai Ghazali yang duduk di kursi depan, di samping Pak Tarno yang sedang menyetir, menoleh kebelakang sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah Hamzah. "PR buatmu ya. Segera carikan calon menantu lain untuk abah. Kali ini, abah serahkan padamu. Terserah pilihanmu."
"Insya Allah abah, menikah itu sunnahnya memang di untuk di segerakan. Tapi tidak juga di buru-buru kan." Jawab Hamzah.
"Apa gini aja bah. Abah mau gak, kalau ummi carikan saja adik madu?." Ucap Ummu Salamah sejurus kemudian.
"Ngomong apa toh ummi ini. Saya ini mau cari mantu, bukan cari madu! Sudah aki-aki waktunya nimang cucu, bukan nimang istri baru!" Ucap Kyai Ghazali yang di sambut gelak tawa Ummu Salamah dan Hamzah.
__ADS_1
"Astaghfirullahaladzim..." Kyai Ghazali nampak bersungut-sungut, lalu beristighfar dan mulai memutar tasbih di tangannya.
"Nuwon sewu Kyai, ini mau terus pulang ke Al Fallah, atau ada tempat lain yang mau di tuju lagi?" Pak Tarno yang sedari tadi diam dan fokus mengemudikan mobil, tiba-tiba bertanya.
"Langsung pulang!" Jawab Kyai Ghazali.
"Inggeh, siap Kyai." Sahut Pak Tarno dengan cepat.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
__ADS_1
❤️Rohana Kadirman❤️