
Pukul 07.00 pagi di kamar Hotel Clarion.
Aisyah menelpon ibunya.
"Assalamualaikum."
"Walaikumsalam. Kenapa Nduk?"
"Bu, ayo turun ke bawah, sarapan. perutku pagi-pagi sudah keroncongan.
"Yo gimana gak keroncongan, semalam kamu kan gak mau makan malam. Hanya makan apel dan keripik kentang opo yo kenyang." Bu Wijaya mengomeli putrinya.
"He he he, iya Bu. Makanya sekarang aku lapar. Ayok turun ke bawah sarapan Bu."
"Tapi ayahmu masih tidur tuh Nduk? Semalam dia lembur menyelesaikan laporan kantornya. Makanya tadi setelah sholat shubuh, ayahmu tidur lagi. Minta di bangunin jam 8 katanya."
"Hmm... Yo wes lah Bu, aku sarapan duluan aja ya... Ibu tunggu ayah bangun saja nanti sarapannya." Aisyah sangat tahu kebiasaan ayahnya, yang sangat priyayi soal makan. Ia tidak suka makan, jika bukan ibu yang menyiapkan makanan untuknya.
"Ho oh, yo wes Aishy duluan saja."
Aisyah menghela nafas, lalu mengambil jilbabnya dan memakainya. Bersiap untuk keluar kamar dan turun ke lantai bawah untuk sarapan.
***
William mondar mandir di depan pintu kamar. Sesekali dia terlihat mengintip keluar melalui lubang intip di pintu kamar.
"Hmm... Masih belum terbuka juga pintu kamarnya." William menggumam perlahan, lalu ia berjalan kembali dekat jendela. Ia menyibak tirai jendela selebar-lebarnya, dan membiarkan semburat cahaya matahari yang baru saja terbit menerobos masuk ke dalam kamarnya.
William duduk di tepi kasurnya, sesaat. Lalu ia berdiri di cermin, menatap pantulan dirinya di atas cermin. Ia merapikan rambutnya ke arah belakang menggunakan jari-jarinya.
Hmm... Bukankah aku terlihat cukup keren? Aku juga memiliki banyak uang. Seharusnya aku cukup percaya diri. Tapi kenapa setiap kali berhadapan dengan Aisyah, aku seolah tak bernyawa, seperti seorang pasian di hadapan sang dokter yang di tangannya memegang jarum suntik. Takluk, tak berkutik.
William kembali berjalan ke pintu, melakukan hal yang sama seperti sebelumnya.
William menempelkan daun telinganya ke pintu, lalu ia pun kembali mengintip keluar. Pucuk dicinta ulam pun tiba. Kali ini apa yang dia tunggu-tunggu pun ia temu. Pintu kamar 313 yang tepat berhadapan dengan kamarnya, yang sedari tadi di awasinya, akhirnya terbuka juga. Baru saja.
Itu dia! Akhirnya Aisyah keluar dari kamarnya!
William pun membuka pintu kamarnya, dan pura-pura tak melihat Aisyah yang sudah lebih dulu berada di luar pintu.
"Hai... William??" Aisyah menyapanya.
William menoleh kesamping, dan menatap Aisyah dengan mimik wajah pura-pura terkejut. "Ooh, Aisyah?!"
"Kau... Menginap di kamar ini?" Aisyah menunjuk pintu kamar 314, kamar yang di tempati William.
"Ya, aku menginap disini." William menarik gagang pintu kamar 314 dan menggesekkan room cardnya, untuk mengunci pintu. "Dan kau... Ternyata menginap di kamar 313?" Kata William, kembali berpura-pura bertanya kepada Aisyah.
"Ha ha ha...Ya, ini kamarku Will, dan ternyata kamar kita berhadap- hadapan." Aisyah tertawa mendapati sebuah kebetulan pertemuan antara dirinya dan William, yang seakan terus-menerus berentetan. "Dan kamar di sebelah itu, kamar ayah dan ibuku." Aisyah menunjuk kamar 311, yang berada di sebelah kamarnya.
"Ha ha ha... Sebuah kebetulan yang sangat aneh bukan? Kemarin kita bertemu di lobby, dan sekarang kita bertemu lagi di sini." Ucap William sambil menaikkan kedua alisnya, "Oh ya, aku mau turun ke bawah untuk sarapan. Apa kau mau sarapan juga Aisyah?"
__ADS_1
"Ya, aku juga mau turun ke bawah untuk sarapan."
"Kalau begitu, ayo kita ke bawah." Ajak William.
William dan Aisyah berjalan di lorong kamar, lalu masuk ke dalam lift, dan pergi ke resto.
"Selamat pagi Pak, Bu." Sapa pelayan hotel di meja reservasi, yang bertugas mencatat pengunjung hotel yang masuk ke dalam resto untuk sarapan.
"Pagi." Sahut William pendek sambil mendekat ke meja reservasi untuk menunjukkan kunci kamarnya.
"Kamar 314 ya Pak." Pelayan hotel itu mencatat nomer kamar William di buku yang ada di atas mejanya. "Silahkan Pak, Bu." Ucapnya kepada William dan Aisyah, setelah ia selesai menulis.
"Aku di kamar 313." Aisyah menyodorkan kunci kamarnya ke atas meja reservasi.
"Oh, maaf. Jadi Bapak dan Ibu bukan satu kamar??" Tanya pelayan hotel itu sambil menatap William dan Aisyah bergantian.
William dan Aisyah menggeleng bersamaan.
"Bukan." Ucap William dan Aisyah bersamaan pula.
"Oh, maafkan saya. Maafkan saya. Saya mengira anda pasangan suami istri." Pelayan itu kemudian menulis kembali di buku catatannya, dan mengembali- kan kunci kamar Aisyah dengan segera.
"Silahkan Pak, Bu. Selamat menikmati sarapan."
William dan Aisyah pun masuk ke dalam resto, dan mulai berjalan, melihat-lihat berbagai menu makanan yang tersedia untuk sarapan.
Aisyah mengambil piring, dan memilih nasi goreng untuk sarapan. Ia menam-
bahkan salad, telur setengah matang, kerupuk dan sedikit sambal matah ke atas piringnya.
Setelah selesai mengambil makanan, William dan Aisyah pun duduk dalam satu meja. Mereka duduk berhadap- hadapan, dan mulai menikmati makan- annya masing-masing.
"Daddy dan mom... Eh maksudku, ayah dan ibumu kenapa tidak turun juga untuk breakfast? Apa mereka sudah breakfast?" William bertanya kepada Aisyah.
"Tidak. Mereka juga belum sarapan. Tapi ayahku masih tidur karena semalam ia kerja lembur, jadi... Ibuku menunggui ayah bangun."
"Oh, begitu rupanya." Ucap William sambil manggut-manggut. Ia kemudian memotong sossis dengan pisau, lalu menusuk potongan sossisnya dengan garpu, dan mencelupkan- nya ke dalam saus mayo, lalu mulai memakannya.
"Kau sendiri, mana klien mu? Bukankan kemarin kau bilang ada klien yang harus kau temui di sini?" Aisyah pun mulai menyendok nasi gorengnya.
"Klien ku... Sepertinya dia juga belum bangun, entahlah... Aku tidak ingin mengganggunya di pagi hari."
"Oh iya Will, kemarin aku bertemu Julia di depan kampus, lalu aku ikut naik di mobilnya. Julia mengantarku pulang ke asrama."
"Benarkah? Julia kemarin juga menemuiku, tapi dia tak memberitahu- kan padaku hal itu." Lagi-lagi William terpaksa harus berbohong. "Forgive me God." Bathin William.
"Tentu saja, meski kau kakaknya, tak semua hal harus dia laporkan padamu bukan?" Ucap Aisyah sambil tertawa kecil. Lalu ia kembali asyik menikmati nasi gorengnya.
William menatap Aisyah yang takjub.
She is really an angel. Oh godness, help me. KAU yang menciptakan makhluk seindah dia, dan sekarang aku jatuh cinta padanya. KAU harus bertanggung jawab Tuhan. Karena aku yakin, rasa cinta ini pun KAU yang menyusupkan- nya ke dalam hatiku. Sebelum bertemu dengannya, sebelum mengenalnya, aku baik-baik saja. Tapi sekarang, semuanya berubah. Menatap wajah Aisyah, menjadi candu yang begitu nikmat untukku. Aku tak bisa menghentikan perasaan itu.
__ADS_1
Pelayan datang membawa sebuah nampan berisi gelas-gelas air minum. Pelayan itu meletakkan dua gelas air minum ke atas meja, satu gelas di depan Aisyah, dan satu gelas lagi di depan William.
"Ada yang di perlukan lagi Pak, Bu? Mungkin Anda ingin teh atau kopi?" Tanya pelayan itu kepada Aisyah dan William.
"Boleh, aku mau secangkir teh." Jawab Aisyah.
"Kalau Anda Pak? Tanya pelayan itu kepada William."
"Saya mau secangkir cinta." Sahut William.
"Maaf Pak??" Pelayan itu mengerenyit- kan alisnya keheranan, ia terlihat menahan tawanya.
Aisyah pun demikian, ia berhenti mengunyah makananya dan menatap William dengan perasaan heran.
William segera menyadari kesalahan- nya. "Oh maksudku, aku mau secangkir kopi." Ucap William dengan cepat.
"Baik Pak." Pelayan itu lalu memberi isyarat kepada temannya yang membawa nampan berisi teko kopi dan teh.
Pelayan itu pun datang, lalu menuang- kan secangkir teh dan secangkir kopi, lalu memberikannya kepada William dan Aisyah.
William segera menyeruput kopinya dengan sedikit gugup.
Secangkir cinta?? Yang benar saja! Sepertinya aku mulai meracau dan benar-benar gila.
_____________Bersambung____________
.
.
.
.
.
.
.
.
Terimakasih sudah mampir membaca Novel Ayat Cinta Aisyah.
Ini adalah karya pertama saya,.
Baruu belajar nulis
Beri dukungannya dengan cara
LIKE dan VOTE ya,..
__ADS_1
Tinggalkan salam juga di kolom komentar.
~Rohana Kadirman